Kisah Seorang Feministin
************************

Petra shares rumah dengan teman-teman satu kampus yang
kesemuanya wanita. Jangan salah sangka ia bukan seorang
lesbian, ia adalah seorang feministin. Kalau anda seorang
laki-laki silahkan tertawa mendengar kata feministin.
Tapi jangan coba-coba mentertawakan kelompok feministin
di Uni Tuebingen, if you know what I mean. Mereka adalah
wanita-wanita yang kuat dalam arti segalanya.
 
"Apakah berarti kamu tidak butuh laki-laki" tanyaku polos
kepada Petra. "Well, tentu saja aku butuh laki-laki, namun
aku membutuhkan laki-laki yang menghargai wanita".

Siapa percaya bahwa percakapan ini terjadi di Jerman
pada tahun 90 an; sepertinya terjadi di Jepara pada jaman
Kartini dipingit. Ya pada jaman modern di negara maju
seperti di Jerman pun, wanita merasa martabatnya
direndahkan dan hak-haknya tidak diakui.

"Misalnya saja soal seks" lanjut Petra, "pada dasarnya kaum
lelaki melecehkan hak wanita. Mereka tidak pernah menggubris
bahwa Nein (tidak) berarti Nein". Bukan rahasia lagi bahwa
kasus date rape cukup tinggi diantara mahasiswi di negara
maju.

Saya jadi teringat kultur Indonesia atau Asia pada umumnya
dimana kaum wanita sulit berkata tidak. Bagimana kalau
mereka tertumbuk dengan masyarakat lelaki barat yang
mengartikan Nein sebagai Ya dan diam sebagai Ya wohl!(Ich
moechte gerne). Bagaimana dengan wanita yang dikirim studi
ke Jerman sendirian, tanpa pacar, suami atau orang tua?
Bukankah bagaikan ikan Homa yang masuk kesarang Hiu?
Santapan lezat? That's an X file! The truth is out there.

Petra dan gengnya menuntut wanita punya hak dan jaminan
sama dengan laki-laki. Kalau laki-laki bisa punya happy
time di Kneipen (pubs) sampai dini hari maka wanita juga
mesti bisa pulang dini hari, mabuk, dengan tanpa gangguan
(seperti pagi harinya kemaluan terasa sakit karena
malamnya diperkosa). Maka kelompok feministin menuntut
pemerintah setempat untuk menyediakan taxi khusus untuk
para wanita yang pulang larut malam dari Kneipen. Muncullah
Frauen Taxi. Taxi yang melayani wanita yang beroperasi
setelah angkutan umum selesai. Frauen taxi di Tuebingen
selanjutnya berganti menjadi Collect Taxi, yakni taxi
dengan tarip dan fungsi seperti angkutan umum.

Sebelum jadi feministin, konon Petra adalah aktivis Katolik.
Ia frustasi karena apapun yang diperbuat tidak akan pernah
menjadikannya dia sebagai wanita yang penuh. Gereja memandang
wanita secara unique. Bagi Gereja wanita haruslah seperti
perawan Maria, suci immaculata yang menjadi obyek devosi
tiada tara. Masalahnya, gambaran wanita semacam itu lebih
merupakan fantasi dari pada fact. Dalam kehidupan nyata
hanya ada satu Madonna, yakni biduwan yang suka buka dada.
Bahwa tidak ada wanita seperti Maria dalam kehidupan lebih
merupakan berkah daripada kutukan, sebab Gereja tidak
perlu menghormat, menghargai dan bertanggung jawab terhadap
wanita. 

Dilain pihak Gereja senantiasa membutuhkan wanita yang 
bersedia berkata; "jadilah padaku menurut kehendakmu".
Voila! Gereja senantiasa dikelilingi oleh wanita yang selibat.
Sementara itu tiada satupun wanita dalam Injil yang selibat.
Hagar dan Sara tidak selibat, Maria pun tidak selibat.
Disamping Yesus, dari perkawinanya dengan Yosep, Maria punya
anak laki-laki yang bernama James alias Yakobus. Akhir-2 ini
muncul banyak laporan dari pimpinan konggegrasi biarawati
karena semakin banyak tekanan dari pihak-2 tertentu Gereja
untuk mengirimkan anak buah mereka (suster-2) untuk melayani
kebutuhan syahwat dari priest dan cleric lainnya. Alasannya
antara lain karena biarawati tidak membawa resiko penyakit AIDS.
Jadilah Padaku Menurut Kehendakmu, Romo!

Eko Raharjo

---------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:undip-unsubscribe@;pandawa.com - Seq. #207
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke