Saya rasa betul pak Eko, budaya parcel hanya di Indo krn terbiasa dg upeti. Later on, upeti berkembang pesat jadi korupsi & pungli. Gitu barangkali ya?
Dulu waktu saya bekerja di suatu BUMN di Jakarta, menjelang hari raya Idul Fitri & Natal saya diminta memberikan daftar klien yg "berhak" menerima parcel.
Sekarang di US, saya hanya diberi setumpuk kartu natal utk ditanda-tangani rame-rame sebelum dikirim ke klien. In return, yg saya dapatkan juga kartu natal yg ditandatangani rame-rame juga, kan mereka tidak tahu kalau saya tak merayakan natal. Biar cuma kartu, akan tetap dihargai & dipajang di kantor, krn itu menunjukkan thoughtfulness. Thoughtfulness di US tidak diukur dari $$$$$$-nya.
Kalau kita terbiasa dg budaya parcel, kita pikir perusahaan US itu, kaya-kaya tapi pelit. Setiap institusi di Indo itu, entah profitable, entah merugi, entah duitnya dari utang, entah warisan nenek moyang, tetap generous membagi-bagikan parcel. Saya bilang generous, krn saya takut mengatakan jor-joran. Parcel itu cuma sebagian kecil.
Di US sini saat ramadan banyak permintaan makanan kaleng & baju pantas pakai utk yg tak mampu. Bukan krn Ramadan (krn muslimnya tak sampai seribu di Orlando), tapi krn mendekati Thanksgiving tgl 27 Nov. Betul-betul perfect timing. Tinggal ditaruh di depan rumah pada jam & tgl tertentu, ada yg mengambil & mengurusnya, tanpa rasa kawatir akan jatuh ke tangan yg tak berhak. Jangan dikira tak ada orang miskin di US, tetapi mereka tak perlu berdesak-desak hingga pingsan atau meninggal ketika mengharap sedekah. Ada yg mengorganisirnya dg rapi.
Parcel natal ada dijual. Parcel natal biasanya dikirim ke famili atau kawan baik. Parcel utk relasi bisnis adalah TIDAK WAJAR, krn bisa dikait-kaitkan dg pungli. Kalau mau memberi sesuatu bagi klien, paling hanya pulpen bertuliskan nama perusahaan, topi, mug, T-shirt. Kalau ada pejabat Indo studi banding ke US, pelajari ini dulu, supaya bisa hidup irit, tidak jor-joran, negara bisa bebas dari hutang.
Saya biasanya juga memberikan parcel natal ke famili yg non muslim & kawan baik. Tapi saya bukan termasuk orang Indonesia yg "generous" dalam hal parcel. Parcel dari saya paling-paling hanya berisi lilin & tempatnya, buku bacaan atau bunga. Kalau sdg bokek, ya saya petikkan bunga warna-warni dari halaman yg saya tanam sendiri. They like it. Krn itu tadi, bukan $$$$$-nya yg penting.
novi leigh
| Eko W Raharjo <[EMAIL PROTECTED]>
11/21/03 01:06 PM
|
To: [EMAIL PROTECTED] cc: Subject: Re: [UNDIP] Menunggu Parsel Tiba |
Ibu Crys,
Saya tidak di Amerika (USA) tapi di Kanada
jadi saya tidak tahu mengenai adat istiadat disana
mungkin bu Novi bisa cerita.
