Bicara masalah upeti..... rasanya untuk saya pribadi baru mengerti dan mengalami setelah saya kerja di perusahaannya milik pemerintah. Karena sewaktu saya di swasta dan milik orang bule saya nggak pernah diimingi upeti ... dan saya merasa tidak berbebani apa2.... cuma kalo sekarang ... saya sendiri juga heran kenapa para relasi bisnis itu selalu berusaha untuk memberi upeti... meski saya tidak mau munafik bahwa menerima upeti itu sesuatu yang enak... tapi saya bingung what for dan itu saya tanyakan ke mereka, dan ternyata ada yang merasa tidak enak hati dengan penolakan saya dengan meminta maaf ? saya bilang nggak perlu minta maaf toh saya tidak melakukan apa2 buat mereka.... kalaupun saya membantu mereka ..bukankah that's all my jobs ... tapi akhirnya yang terjadi mereka ganti mengirim parcel.... jadi rupanya yang namanya tradisi kirim-mengirim parcel itu sudah masuk ke urat nadi bisnisnya orang indonesia..... mereka merasa bisnisnya tidak afdol kalo tidak mengikuti irama
bisnis di indonesia dalam hal ini kirim parcel ... I think it's not an easy job untuk meng cut off tradisi ini ... habis enak sih... he he he... mungkin itu PR untuk Bapak2 atau Ibu2 yang sudah banyak belajar cara2 berbisnis secara clean di negri orang untuk memulai bisnis di indonesia dengan cara2 yang kata Ernst & Young menganut azas GCG.
Dan rupanya tradisi yang enggak kalah seru adalah tradisi mudik...... rasanya hampir semua lapisan masyarakat di indonesia merasa kurang sreg kalo nggak mudik pada saat libur lebaran.... buktinya setiap libur lebaran yang namanya jalan macetnya minta ampun mau booking pesawat, kereta api or bis semua penuh dan rasanya bukan hanya orang muslim saja .... saya sendiri ikut2an mudik meski harus rela bermacet-macet ria ..... tapi kata orang itu seninya mudik.... ketemu dengan sanak saudara... makan2 ... dan menghamburkan uang untuk suatu kepuasan sesaat... tapi memang betul habis mudik rasanya pikiran menjadi fresh meski badan capek.... kalo gini inget betul pepatah jawa : Mangan ra mangan asal kumpul.....
Salam,
Cryss
Ibnu Widiyanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>===== Original Message From [EMAIL PROTECTED] =====
>Parcel natal ada dijual. Parcel natal biasanya dikirim ke famili atau
>kawan baik. Parcel utk relasi bisnis adalah TIDAK WAJAR, krn bisa
>dikait-kaitkan dg pungli. Kalau mau memberi sesuatu bagi klien, paling
>hanya pulpen bertuliskan nama perusahaan, topi, mug, T-shirt. Kalau ada
>pejabat Indo studi banding ke US, pelajari ini dulu, supaya bisa hidup
>irit, tidak jor-joran, negara bisa bebas dari hutang.
IW menulis:
Saya jadi inget ketika pertama kali Jean Cretien dan Menkeunya (di tahun 1992)
menerima sebuah pulpen dari perusahaan minyak. Dalam rangka ucapan selamat
dari perusahaan itu, eh ribut deh se Kanada. Samapi pulpennya mau dikembaliin
sama Jean Cretien sang perdana menteri itu.
Itu baru pulpen. Bayangin deh kalau ternyata upeti. Habis deh.
Selamat berlebaran.
Salam,
IW
--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1126
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
Do you Yahoo!?
Free Pop-Up Blocker - Get it now
