Bahkan Dokter Pun Kecolongan

BULIR air menetes dari balik kacamata dr Nadjwa ketika berkisah tentang putrinya yang meninggal karena demam berdarah dengue. Suaranya tercekat memandang foto putrinya di atas bufet di ruang kerjanya: seorang gadis manis berkerudung merah muda berpose bersama kedua orangtua dan kedua abangnya.

ANAKNYA ceria sekali. Kalau malam, kami sering SMS-an antarkamar di rumah," tutur Nadjwa tersenyum pilu.

Nadia Nauli Lubis (Luli) baru 40 hari menginjak usia 17 tahun ketika meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, 21 Juni 2003. "Luli baru lulus SMU. Ia ingin masuk Jurusan Filsafat dan ingin jadi wartawan. Tulisannya beberapa kali dimuat di majalah Gadis dan Cosmogirl," papar Nadjwa.

Dokter Nadjwa Zamalek Dalimoenthe SpPK adalah ahli hematologi (ahli darah) di Laboratorium Patologi Klinis RSHS. Kematian Luli hingga kini masih menyakitkannya. Hanya tiga hari sejak mengeluh pusing, Luli tak sadarkan diri dan lima hari kemudian meninggal.

Tes darah Luli di laboratorium rumah sakit ketika itu menunjukkan hasil negatif DBD.

Nadjwa berkisah, sehari setelah bergembira ria lulus SMU, Luli mengeluh pusing, sakit tenggorokan, dan badannya sedikit panas. Nadjwa memberinya parasetamol dan mengompresnya. Esoknya, suhu tubuh Luli kembali normal.

Namun, lusanya, Luli mengeluh sakit perut dan pandangan matanya kosong. Ia segera dibawa ke RSHS. Namun, hasil tes darah menunjukkan trombositnya masih normal.

Hari berikutnya Luli sudah tidak sadarkan diri. Perdarahan hebat muncul di anus, hidung, mulut, dan telinga. Tiga hari setelah tak sadarkan diri, Luli sempat membuka matanya. Nadjwa senang sekali melihatnya. "Tapi hati saya bilang, Luli sepertinya mau pamit," tutur Nadjwa.

Dua hari kemudian Luli meninggal.

MASIH di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, siang kemarin seorang ibu, Ita Novita (29), berlinangan air mata menyaksikan bayinya berusia enam bulan antara sadar dan tidak. Dokter menduga bayinya, Qurratu Aini Salma Adzkia (Salma), menderita demam berdarah dengue.

Meski telah tiga hari panas, Salma tidak juga menunjukkan gejala klinis DBD, seperti munculnya ruam merah di kulit. Rabu (18/2) lalu Ita sempat membawa Salma ke dokter umum di Kawasan Cinunuk, Bandung, tak jauh dari rumahnya. Dokter bersikukuh Salma Adzkia tidak terkena DBD.

Ketika kemarin dibawa ke RSHS dan dites darah, trombosit Salma telah turun drastis tinggal 29.000. Ia telah sampai tahap renjatan atau DSS (dengue shock syndrome). Hingga sore kemarin, Salma dirawat di ruang unit perawatan intensif (ICU) khusus bayi di RSHS. Ita tak henti-hentinya berzikir di samping Salma.

Melihat bayinya menangis kesakitan saat cairan disuntikkan, Ita tak kuasa menahan tangisnya. Sang Ayah, Asep Wahyudin (33), memilih menunggu di luar ruang perawatan. Ia mengurus pembelian cairan infus.

"Ini pelajaran berharga buat saya untuk tidak mudah percaya kepada satu dokter. Perasaan saya enggak karuan rasanya. Mudah-mudahan yang baca ini nanti pada kirim doa untuk dia ya. Biar cepat sembuh," kata Ita terbata.

Selain Salma, di ICU khusus bayi di RSHS ada juga bayi berusia enam bulan dirawat karena DBD. Bayi laki-laki bernama Moch Fatih Zharfan Atthara itu kini relatif telah melalui masa kritis. Setelah dirawat sejak Selasa lalu di ICU, trombosit darah Fatih berangsur naik menjadi 43.000. Sebelumnya tinggal 24.000.

"Fatih sempat shock, badan dan bibirnya membiru. Sebelum ke RSHS, dokter umum di dekat rumah bilangnya bukan demam berdarah. Malah sempat bilang gejala campak," tutur ibunya, Ida.

Nadjwa, yang juga Kepala Subbagian Hematologi Laboratorium Patologi Klinis RSHS, mengatakan, memang gejala klinis DBD saat ini sangat berbeda dengan yang umum diketahui dokter maupun masyarakat. Tahap kehilangan kesadaran pada pasien DBD seharusnya terjadi di akhir gejala klinis setelah sebelumnya panas, trombosit turun, perdarahan, dan renjatan.

"Namun, sekarang hilangnya kesadaran bisa terjadi di awal. Berbarengan dengan renjatan trombosit turun drastis, disertai perdarahan. Sementara ruam merah di awal-awal tidak muncul-muncul," tutur Nadjwa.

MENURUT Nadjwa, tipe virus dengue yang menimbulkan renjatan hebat hanyalah dengue tipe tiga, dari empat tipe yang ada. Namun, dengue tipe tiga yang selama ini diketahui tetaplah menunjukkan gejala klinis yang "prosedural". Artinya, penderita tidak lantas tiba-tiba shock sekaligus kehilangan kesadaran dan perdarahan.

"Sejauh ini yang banyak terjadi di Indonesia adalah dengue tipe satu dan dua, yang tidak sampai menimbulkan shock," katanya.

Nadjwa sendiri tahun lalu mengirimkan sampel darah putrinya ke Laboratorium CDC (Center for Disease Control and Prevention) di Atlanta, Amerika Serikat. Pemberitahuan dari Atlanta melalui telepon menegaskan, putrinya positif terserang demam berdarah dengue tipe tiga.

"Kami heran, pemeriksaan di sini negatif. Sementara ini saya curiga penyebabnya selain dengue mungkin anak saya ada gangguan imunologis, yang tidak bereaksi terhadap virus itu sehingga hasil tes darah di sini negatif," tuturnya.

Laboratoriumnya saat ini sedang melakukan uji DNA virus dengue yang kini mewabah melalui teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Dana penelitian dibantu US Namru (United States Naval Medical Research Unit), semacam dinas kesehatan Angkatan Laut AS. Penelitian tersebut memakan waktu berbulan-bulan dan mahal. Harga satu mililiter enzim reagen untuk penelitian saja di atas Rp 1 juta.

"Kalau penelitian ini menunggu dana dari pemerintah, rasanya sudah enggak mungkin. Perhatian pemerintah terhadap demam berdarah masih sangat kurang, padahal ini penyakit negara tropis," ujar Nadjwa.

Setelah uji DNA, akan dilihat pola DNA-nya, apakah memang virus dengue tipe tiga kini telah bermutasi. Namun, Nadjwa mengatakan, masih ada kemungkinan bukan virus dengue yang selama ini diketahui, tetapi virus lain yang masih berdekatan familinya dengan dengue. "Masih banyak kemungkinannya sehingga diperlukan penelitian yang lebih mendalam," katanya.

Nadjwa berharap, dengan adanya tragedi demam berdarah saat ini, perhatian pemerintah untuk menyokong penelitian mengenai berbagai penyakit khas negara tropis menjadi lebih besar. "Beban masalah kesehatan negeri ini begitu kompleks dan akan menjadi beban pemerintah sendiri bila tidak diselesaikan satu per satu," katanya. (Sarie Febriane)

Kirim email ke