Lha ya mbak Novi, saya sebetulnya senang-senang saja mengikuti diskusi tentang topik ini kalau saja yang berpendapat itu nggak asal ngomong tanpa referensi. Apalagi wis "podo gede".
Rupanya ada pemahaman keliru di sementara kalangan bahwa demokrasi itu ciptaan yahudi. Padahal kata demos dan kratein (atau kratos) itu sendiri bukan berasala dari bahasa hebrew namun dari bahasa lain. Kalau tidak salah latin. Apakah Islam itu tidak mengajarkan demokrasi? Justru, menurut saya, Islam itu adalah agama yang sangat demokratis. Nabi Muhammad saw sendiri selalu berdiskusi dengan sahabatnya mengenai hal hal sosial kemasyarakatan. Dalam konteks yang lebih luas, saya justru nggak paham kenapa justru orang yang nggak pernah membaca Al Quran yang justru malah lebih menerapkan nilai Islami daripada orang Islam sendiri. Contoh gampang adalah pelaksanaan surat Al Asr yang menyerukan orang untuk lebih menghargai waktunya agar tidak rugi. Sementara banyak orang Islam yang pernah membaca Al Quran justru menyia-nyiakan waktunya. Saya lebih sependapat bahwa sudah waktunya kita jangan terjebak dengan pandangan pemuka agama saja. Kita harus senantiasa menemukan sendiri jawab dari makna kehidupan ini. (Jangan-jangan interpretasi pemuka agama itu nggak pas. Who knows?) Bagi saya, agama itu diajarkan dan diturunkan (Allah swt.)adalah untuk menjadi tuntunan hidup agar memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan dunia dan akhirat (walau sementara orang nggak percaya kehidupan sesudah mati...bagi saya ya biarin saja mereka). Makanya justru saya nggak habis mengerti kenapa agama bisa menumbuhkan rasa sentimen yang berlebihan. Mungkin malah chauvisnistik ya. Punyaku lebih baik daripada punya mu. Makanya benar mas Eko van Calgary, kalau ingin diskusi jangan terus dipatok dulu ke kitab suci entar diskusinya nggak nyambung. Dalam konteks Islam adalah rahmatin Al alamin, saya justru pernah beragumen bahwa semua agama di dunia itu Islam. Entah agama Kristen, Budha, Hindu, Kong Hu Cu, Bahai, Yehova Witness dls. Sebab apa? Sebab arti Islam sendiri adalah penyerahan diri, pasrah, suci, damai dls. Makanya semua agama-agama di dunia ini ya Islam. Kalau demikian kenapa kita sering bertengkar hanya masalah yang kadang sepele sekali. Seperti pertentangan Palestina dan Israel yang kemudian diangkat menjadi pertentangan Islam dan Yahudi. Padahal pertentangan itu khan jauh dari itu. Makanya disini agama hanya dipakai "vehicle" saja deh. Nabi Musa as, Nabi Isa as, Nabi Ibrahim as dsb. itu jelas rasul yang diutus Allah swt untuk menyebarkan ajaran tauhid Ilahi yang notabene juga Islam. Memang benar, baru dijamannya nabi Muhammad saw., Allah Maha Pencipta ikhlas bahwa nama agama yang dibawa dan diajarkan beliau adalah agama Islam. Ingat...dan aku rela Islam menjadi agama kamu...Namun jaman pra Muhammad, tidak bisa terus diklaim jaman bukan Islam. Nabi Yesus as jelas juga mengajarkan ajaran Islam ketika menanamkan ajaran kasih dan tauhid kepada umatnya. Apakah nabi Muhammad saw tidak mengajarkan ajaran kasih sayang dan tauhid? Beliau juga mengajarkannya bahkan menyempurnakannya. Ah masih banyak lagi rasanya..... Yang justru membedakan dari pengikut agama itu adalah ritualisme ibadah mereka. Kalau ini ya terserah saja toh. Wong versinya lain-lain. Diantara Muslim sendiri cara sholatnya lain-lain kok. Ada yang bersedekap ada yang tidak. Ada yang pakai doa Qunut ada yang tidak manakala sholat subuh. Ada yang 5 kali sehari ada yang 3 kali sehari. Kenapa diributkan? Kita nggak tahu mana yang sebenarnya diterima Allah swt. Makanya mau ke Masjid, mau ke Gereja, mau ke Vihara, mau ke Kuil atau mau kemana saja untuk bersembahyang ya terserah..itu urusan kamu...bagimu agamamu bagiku agamaku....(asal nggak punyamu ya punyaku tapi punyaku ya punyaku...itu mah serahkah he...he...he...) Makanya jalan pikir kita mestinya harus dibedakan antara agama ritual dan agama sosial. Bahasa kerennya Hubungan dengan Tuhan (Hablum Minnallah) dan Hubungan antar manusia (hablum minnanas). Konteks Islam salafi adalah tidak menonjolkan kemayoritasannya namun juga menghargai penghargaan minoritas. Menjaga keseimbangan dalam hubungan antar manusia. Inilah yang saat ini hilang, paling tidak di Indonesia (bahkan mungkin di dunia). Orang mulai mencampuradukkan antara agama ritual dan agama sosial. Saya ambil contoh. Seandainya suatu RT merencanakan membeli alat untuk BBQ yang bisa dipakai oleh seluruh warga. Apakah perlu ada aturan khusus untuk itu. Bagi yang umat yang beragama Islam pasti akan minta aturannya adalah alat itu tidak boleh dipakai untuk membakar daging babi sebab daging babi haram. Haramnya daging babi ini khan urusan umat Islam dengan Tuhannya bukan umat Islam dengan umat lainnya. Kalau aturan ini yang dipakai maka jelas umat beragama lain yang kebetulan senang makan daging babi nggak akan pernah menggunakan alat BBQ itu. Inilah yang saya namakan mencampur adukkan antara ritual dan sosial. Kalau demikian, apakah aturan tersebut fair bagi mereka? Jelas tidak toh. Mereka jadi nggak bisa dan mau menggunakan alat itu sebab nggak bisa memasak daging kesukaannya. Bagaimana jalan tengahnya? Inilah yang harus dikompromikan. Kalau di Indonesia ini sudah masalah besar deh. Bagi saya aturan yang dibuat mestinya hanya satu yakni "Sehabis dipakai mohon dibersihkan sebersih bersihnya". Ah masih banyak lagi yang bisa diungkapkan. Yang jelas memang dunia ini sperti berputar ke masa lalu. Coba deh Same Sex Marriage sekarang mendapat legitimasi walau ditentang dimana-mana. What the hell! Itu dulu deh. Mari kita lanjutkan berdiskusi dengan jernih tanpa dipengaruhi rasa ingin menjadi pemenang dan menjatuhkan lawan. Semoga bermanfaat. Lebih dan kurangnya mohon dipahami sendiri. Salam dari Halifax, IW >===== Original Message From "Novi Leigh" <[EMAIL PROTECTED]> ===== >I'm not interested menyoal religions, ikut2an pak Eko, daripada ujung2nya >ugly. Hanya ingin mengoreksi sedikit ttg lahirnya demokrasi. > >Demokrasi tidak diciptakan oleh Yahudi. Demokrasi lahir tidak di abad 18-19. >Demokrasi dimunculkan pertama kali sekitar 500an BC di jaman Yunani Kuno >oleh Cleisthenes yg memperkenalkan electoral system & menggantikan >tyrannical power. Kemudian secara luas dikenalkan oleh filosofer Plato, juga >seorang Yunani, hidup di tahun 500an AD. Cleisthenes & Plato bukan Yahudi. >Bahkan kemudian filosofi Plato digunakan oleh kaum Islam. Ketika jaman >kekalifahan waktu itu memindahkan ibukotanya ke Baghdad, kaum muslim >membangun perpustakaan, menterjemahkan, mendiskusikan & mem-preserve hasil >karya Plato, Aristotles & filosofer Yunani lain. Periode ini dikenal sebagai >jaman keemasan Islam krn kontribusinya yg memberikan added value thd >civilization di jaman itu. >Greek bukan Jews. Americans bukan Jews. Bule bukan Jews. Jews are Jews. >(Saya ingat teman baik saya yg melarang saya dinikahi orang amerika dg >alasan americans are jews). > >Novi Leigh >Kansas City > > >>From: "dr. Thohar" <[EMAIL PROTECTED]> > > >Demokrasi adalah hukum/pemerintahan dari rakyat untuk rakyat, yaitu rakyat >sebagai pemegang mandat kekuasaan. Yang pertama sekali menggunakan istilah >demokrasi ini adalah Plato. > >Demokrasi tidak identik dengan musyawarah dalam Islam. Dan keduanya tidak >akan bertemu, dengan alasan-alasan sebagai berikut: >1.Pencipta demokrasi adalah Yahudi, sedangkan musyawarah dalam Islam yang >mensyariatkan adalah Allah. >6.Musyawarah dalam Islam lahir seiring dengan datangnya Islam sedangkan >system demokrasi lahir abad 18 atau 19. Maka apakah bisa dikatakan bahwa >Rasulullah itu seorang Demokrat? Jawabnya adalah tidak sama sekali. > >_________________________________________________________________ >Find and compare great deals on Broadband access at the MSN High-Speed >Marketplace. http://click.atdmt.com/AVE/go/onm00200360ave/direct/01/ > > >-------------------------------------------------------------------------- >Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id >to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1436 >DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id -------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1447 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
