Menurut saya tulisan pak ibnu dibawah ini sangat bermanfaat. Contoh RT yang beli alat BBQ untuk warga bersama kebetulan saya punya pengalaman pribadi yang mirip. Waktu saya di Jerman saya tinggal di studentwonnheim (dorm) bersama dengan satu orang Indonesia sehingga bisa sharing semua alat-alat masak. Dia Islam saya Katolik (waktu itu). Saya kaget waktu dia bilang tidak mau kalau alat tsb dipakai untuk masak daging babi. Katanya, menurut agamanya alat masak tsb harus dicuci sampai 7 kali untuk bisa dipakai lagi. Coba harus bereaksi bagaimana saya? Apakah saya harus bilang: Fair enough! Saya yang makan dumpling kamu yang asah-asah 7 kali.
Situasi macam begitu memang potential menimbulkan masalah. Namun acap kali maslahnya adalah bukan pada babinya an sich melainkan pada Ego masing-masing. Boleh jadi kalau teman Muslim itu sendirian, tidak ada orang Indenesia lain yang Katolik bersamanya, ia tidak akan pernah perduli dengan pecemaran daging haram. Atau yang Kristen kalau sendirian juga tidak pernah atau sangat jarang masak daging babi. Masalah muncul karena Ego masing mendiktekan untuk tidak mau didominasi (fear of domination). Untunglah saya menyatakan setuju untuk tidak menggunakan alat masak milik bersama untuk masak daging babi dengan pertimbangan saya tidak perduli apakah ini fair atau tidak pokoknya saya tidak mau menukar teman Indoensia satu-satu nya di Uni Ulm dengan sekedar daging babi (toh saya masih bisa makan Haenchen sampai caviar). Pertemanan saya dengan Muslim tsb tidak pernah berkembang pada akhirnya, namun bukan karena daging babi, melainkan karena dia yang tidak pernah bisa independent. Maunya ngintil saya terus (padahal dia laki-laki). Saya sering nglimpe pergi ke Kneipen (pub) bersama cewek Jerman atau pergi ke Tuebingen, mengunjungi teman-teman yang tergabung dalam feministin klub dst. Dia akhirnya membatalkan program studinya dan pulang ke Indonesia. Yahoo! saya bisa bebas makan babi lagi! Namun saya tidak pernah masak daging babi lagi wong memang dasarnya saya tidak begitu suka. Jadi menurut saya kalau orang bisa menyisihkan Egonya banyak masalah pertentangan agama yang tidak perlu bisa dihilangkan. Wassalam Eko Raharjo Calgary Ibnu Widiyanto <[EMAIL PROTECTED]> said: > Lha ya mbak Novi, saya sebetulnya senang-senang saja mengikuti diskusi tentang > topik ini kalau saja yang berpendapat itu nggak asal ngomong tanpa referensi. > Apalagi wis "podo gede". > > Rupanya ada pemahaman keliru di sementara kalangan bahwa demokrasi itu ciptaan > yahudi. Padahal kata demos dan kratein (atau kratos) itu sendiri bukan > berasala dari bahasa hebrew namun dari bahasa lain. Kalau tidak salah latin. > > Apakah Islam itu tidak mengajarkan demokrasi? Justru, menurut saya, Islam itu > adalah agama yang sangat demokratis. Nabi Muhammad saw sendiri selalu > berdiskusi dengan sahabatnya mengenai hal hal sosial kemasyarakatan. > > Dalam konteks yang lebih luas, saya justru nggak paham kenapa justru orang > yang nggak pernah membaca Al Quran yang justru malah lebih menerapkan nilai > Islami daripada orang Islam sendiri. Contoh gampang adalah pelaksanaan surat > Al Asr yang menyerukan orang untuk lebih menghargai waktunya agar tidak rugi. > Sementara banyak orang Islam yang pernah membaca Al Quran justru > menyia-nyiakan waktunya. > > Saya lebih sependapat bahwa sudah waktunya kita jangan terjebak dengan > pandangan pemuka agama saja. Kita harus senantiasa menemukan sendiri jawab > dari makna kehidupan ini. (Jangan-jangan interpretasi pemuka agama itu nggak > pas. Who knows?) Bagi saya, agama itu diajarkan dan diturunkan (Allah > swt.)adalah untuk menjadi tuntunan hidup agar memperoleh kebahagiaan dan > kesejahteraan dunia dan akhirat (walau sementara orang nggak percaya kehidupan > sesudah mati...bagi saya ya biarin saja mereka). Makanya justru saya nggak > habis mengerti kenapa agama bisa menumbuhkan rasa sentimen yang berlebihan. > Mungkin malah chauvisnistik ya. Punyaku lebih baik daripada punya mu. Makanya > benar mas Eko van Calgary, kalau ingin diskusi jangan terus dipatok dulu ke > kitab suci entar diskusinya nggak nyambung. > > Dalam konteks Islam adalah rahmatin Al alamin, saya justru pernah beragumen > bahwa semua agama di dunia itu Islam. Entah agama Kristen, Budha, Hindu, Kong > Hu Cu, Bahai, Yehova Witness dls. Sebab apa? Sebab arti Islam sendiri adalah > penyerahan diri, pasrah, suci, damai dls. Makanya semua agama-agama di dunia > ini ya Islam. Kalau demikian kenapa kita sering bertengkar hanya masalah yang > kadang sepele sekali. Seperti pertentangan Palestina dan Israel yang kemudian > diangkat menjadi pertentangan Islam dan Yahudi. Padahal pertentangan itu khan > jauh dari itu. Makanya disini agama hanya dipakai "vehicle" saja deh. Nabi > Musa as, Nabi Isa as, Nabi Ibrahim as dsb. itu jelas rasul yang diutus Allah > swt untuk menyebarkan ajaran tauhid Ilahi yang notabene juga Islam. Memang > benar, baru dijamannya nabi Muhammad saw., Allah Maha Pencipta ikhlas bahwa > nama agama yang dibawa dan diajarkan beliau adalah agama Islam. Ingat...dan > aku rela Islam menjadi agama kamu...Namun jaman pra Muhammad, tidak bisa terus > diklaim jaman bukan Islam. Nabi Yesus as jelas juga mengajarkan ajaran Islam > ketika menanamkan ajaran kasih dan tauhid kepada umatnya. Apakah nabi Muhammad > saw tidak mengajarkan ajaran kasih sayang dan tauhid? Beliau juga > mengajarkannya bahkan menyempurnakannya. Ah masih banyak lagi rasanya..... > > > Yang justru membedakan dari pengikut agama itu adalah ritualisme ibadah > mereka. Kalau ini ya terserah saja toh. Wong versinya lain-lain. Diantara > Muslim sendiri cara sholatnya lain-lain kok. Ada yang bersedekap ada yang > tidak. Ada yang pakai doa Qunut ada yang tidak manakala sholat subuh. Ada yang > 5 kali sehari ada yang 3 kali sehari. Kenapa diributkan? Kita nggak tahu mana > yang sebenarnya diterima Allah swt. Makanya mau ke Masjid, mau ke Gereja, mau > ke Vihara, mau ke Kuil atau mau kemana saja untuk bersembahyang ya > terserah..itu urusan kamu...bagimu agamamu bagiku agamaku....(asal nggak > punyamu ya punyaku tapi punyaku ya punyaku...itu mah serahkah he...he...he...) > > Makanya jalan pikir kita mestinya harus dibedakan antara agama ritual dan > agama sosial. Bahasa kerennya Hubungan dengan Tuhan (Hablum Minnallah) dan > Hubungan antar manusia (hablum minnanas). Konteks Islam salafi adalah tidak > menonjolkan kemayoritasannya namun juga menghargai penghargaan minoritas. > Menjaga keseimbangan dalam hubungan antar manusia. Inilah yang saat ini > hilang, paling tidak di Indonesia (bahkan mungkin di dunia). > > Orang mulai mencampuradukkan antara agama ritual dan agama sosial. Saya ambil > contoh. Seandainya suatu RT merencanakan membeli alat untuk BBQ yang bisa > dipakai oleh seluruh warga. Apakah perlu ada aturan khusus untuk itu. Bagi > yang umat yang beragama Islam pasti akan minta aturannya adalah alat itu tidak > boleh dipakai untuk membakar daging babi sebab daging babi haram. Haramnya > daging babi ini khan urusan umat Islam dengan Tuhannya bukan umat Islam dengan > umat lainnya. Kalau aturan ini yang dipakai maka jelas umat beragama lain yang > kebetulan senang makan daging babi nggak akan pernah menggunakan alat BBQ itu. > Inilah yang saya namakan mencampur adukkan antara ritual dan sosial. Kalau > demikian, apakah aturan tersebut fair bagi mereka? Jelas tidak toh. Mereka > jadi nggak bisa dan mau menggunakan alat itu sebab nggak bisa memasak daging > kesukaannya. Bagaimana jalan tengahnya? Inilah yang harus dikompromikan. Kalau > di Indonesia ini sudah masalah besar deh. Bagi saya aturan yang dibuat > mestinya hanya satu yakni "Sehabis dipakai mohon dibersihkan sebersih > bersihnya". > > Ah masih banyak lagi yang bisa diungkapkan. Yang jelas memang dunia ini sperti > berputar ke masa lalu. Coba deh Same Sex Marriage sekarang mendapat legitimasi > walau ditentang dimana-mana. What the hell! > > Itu dulu deh. Mari kita lanjutkan berdiskusi dengan jernih tanpa dipengaruhi > rasa ingin menjadi pemenang dan menjatuhkan lawan. > > Semoga bermanfaat. Lebih dan kurangnya mohon dipahami sendiri. > > Salam dari Halifax, > > IW > > > > > > -------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #1448 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
