Menarik memang mas berita ini, saya saja yang dosen FK UNDIP yo rodo geleng geleng.
Masalahnya bukan apa-apa. Saya ini dari bagian anatomy yang terkenal katanya dosennya kiler kiler. Berita ini bahkan sempat  ramai di tingkat univeritas. Kalau tidak salah pernah di ulas di koran Manunggal.
Tulisan ini bukannya untuk klarifikasi atau membela diri, tapi akan saya hubungkan dengan 150 juta tadi.
bagian anatomi memang sejak 10 tahun terakhir mengalami perubahan yang signifikan dalam proses belajar mengajar. Khusunya masalah kredibilitas dalam penilaian. Dimana diciptakan sistem, bagi yang pandai ya tidak terlalu susah bagi yang males belajar ya jadi super repot. Kenapa tidak saya katakan bodo tapi males belajar. Karena menurut pengalaman kami, mahasiswa yang nasakom ( Nasib satu koma) kalo mau stay lebih lama di anatomy untuk sekedar meraba, memegang dan mengiris tubuh manusia biasanya bisa lolos. Artinya kalo temen temenya jam 2 sudah pulang, maka yang Nasakom ini harus stay.... ya berdiskusi dengan dosennya kek....yang memang sok rajin di  kantor atau dosennya lagi nunggu panggilan operasi so masih di kantor sampai sore,  atau nunggu kerja part time atau memang enggak ada kerjaan kaya saya waktu itu.....nah mahasiswa yang mau bersakit sakit dahulu ini bahkan sering dapet nilai A.
 
Tapi yang saya kawatirkan, adalah yang bayar 150 jeti ini... kalo mereka sudah merasa bayar, dan biasanya anaknya BOS... ini yang sering jadi masalah. Orang tuanya nangis nangis minta anaknya di lulusin.... tapi si anak tidak mau berusaha. Maka di bilang lah Anatomy dosennya kiler. padahal kita ini cuman mau objektif.
Sampai sampai ada yang ngirim rajah rajah pada buah untuk menguna guna biar dosennya jadi penurut ...... wah opo tumon. bahkan yang berbuat kriminal pun ada. dengan membobol kunci lemari tempat menyimpan hasil ujian, trus merka mengganti jawabannya dengan kunci jawaban ujian yang biasanya kita keluarkan sehari setelah ujian ( untuk mengoreksi dosen jika ternyata soalnya salah atau tidak sesuai dengan yang diajarkan,,,,, so mahasiswa boleh komplain... dan kita terbuka untuk komplain seperti ini). Kembali ke masalah kecurangan itu, lha kok ndilalahnya konagan..... trus setelah diusut lha kok anaknya bos bos yang terlibat. Jadi mereka bayar pada karyawan
anatomy, untuk membuka lemari tempat nyimpen jawaban. edan.
trus sing nganyelke.... prose kaya begini ini.... karena yang terlibat anaknya bos,... pihak dekanat tidak meprosenya secara serius... jadi bubarah wis.
gara gara 150 juta rusak sistem di Fk.
Kadang harus ganti kurikulum, gara gara ada anaknya bos yang tersendat belajarnya. belum 5 tahun sudah 2 kali ganti ...wis wis.... sabar wae.
 
Repot.
ini masalah pertama.
 
Masalah kedua,
meski duit fk itu miliaran tapi amburadul deh FK UNDIP.
gampang saja indikasinya. buka www.fkundip.or.id mosok dengan sdm yang 250 an staff rata rata s2 kok ngisi konten web aja kacau.
ini belum jaringan yang berharga ratusan juta rupiah di FK UNDIP yang macet.... jaringan dengan fiber optic tapi koneksi yang di pakai servernya  kelas 64 kbps.
sistem administrasi nya belum terkomupterisasi meski komputer di fk undip itu ada ratusan.
Dan ramenya.... ada gap antara yang muda dengan yang tua. yang muda saat ini sedang resah karena sekolah mereka di hambat orang klinik. Jadi masalahnya adalah rejeki .... dikira yang muda muda ini kalau sekolah klinik nanti akan ngerebut rejeki mereka. Edan.
jadi dosen dosen muda FK UNDIP mulai pada resah.... banyak yang mutung kerjaan tidak diselesaikan, seperti kasus jaringan internet, website, komputerisasi data di FK ... wis... kalo ini tidak segera di perbaiki dan disadari oleh pimpinan ( yang kayaknya tidak mau tahu) lambat laun kita bisa kalah sama unisulla.
 
gimana mas eko kapan mau pulang untuk memajukan FK UNDIP?
saya denger bulan desember tahun yang lalu pulang kan, wong saat itu saya juga sedang di indonesia untuk program operasi bersama.
 
 


Agus B Raharjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Masuk FK Undip Tanpa Tes Rp 150 Juta

SEMARANG - Seperti penerimaan mahasiswa baru tahun 2003, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang tahun ini memberlakukan penerimaan mahasiswa baru tanpa tes. Namun mereka disyaratkan memberi sumbangan uang yang diistilahkan dengan dana pengembangan dan kerja sama.

Rektor Undip Prof Ir Eko Budihardjo MSc menyatakan, besar sumbangan yang disyaratkan bagi calon mahasiswa baru melalui program tersebut bervariasi, tergantung pada fakultas dan jurusan yang dikehendaki. Di antaranya, untuk calon mahasiswa Fakultas Kedokteran sedikitnya Rp 150 juta, Fakultas Teknik Rp 50 juta, sedangkan fakultas lainnya Rp 25 juta.

Nominal dana sumbangan itu ada kenaikan dibanding dengan tahun sebelumnya. Misalnya, Fakultas Kedokteran dulu Rp 100 juta, sekarang menjadi Rp 150 juta. ''Ya, karena dulu diminta sumbangan Rp 100 juta saja banyak yang siap memberi Rp 150 juta,'' kata Prof Eko kepada Suara Merdeka, Senin kemarin.

Dia menjelaskan, calon mahasiswa yang dibebani pengeluaran biaya itu hanya 1,5% dari daya tampung 3.540 mahasiswa baru. Mereka ini masuk melalui jalur penerimaan mahasiswa Program Seleksi Siswa Berpotensi (PSSB). Peluang calon mahasiswa yang masuk melalui PSSB itu sendiri sebanyak 25%, terbagi dalam tiga aspek, yaitu potensi akademik, olahraga, dan kesenian.

Untuk aspek akademik ini, lanjut dia, 1,5%-nya terbuka bagi mereka yang bersedia memberikan sumbangan pengembangan dan kerja sama. Kendati demikian, syarat bagi mereka semakin diperketat. Bila dulu diprioritaskan pelajar yang memiliki nilai 10 besar di masing-masing sekolah, kini disyaratkan mereka yang masuk dalam 5 besar.

Sementara itu pada aspek olahraga dan kesenian diutamakan yang pernah menjadi juara tingkat regional dan nasional.

Pendaftaran melalui PSSB ini ditutup pada 1 April mendatang, sedangkan untuk program sumbangan pengembangan dan kerja sama terakhir pada minggu ke empat Maret. Calon mahasiswa yang diterima akan diumumkan pada awal Juni.

Mahasiswa yang masuk melalui jalur reguler atau seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB), tidak ditarik biaya sumbangan sebesar itu. ''Kami akan membahasnya dalam waktu dekat ini.''

Prof Eko mengungkapkan, ide penarikan sumbangan dana calon mahasiswa dari keluarga mampu dan yang berkomitmen membantu Undip, dimaksudkan sebagai subsidi silang. Sebab, tanpa cara itu, biaya SPP mahasiswa akan naik cukup tinggi. ''Insya Allah kalau nanti ada kenaikan SPP, paling besar 20%, yang tadinya Rp 500 ribu menjadi Rp 600 ribu. Meski demikian jumlah pastinya belum kami bahas.'' (H1-73i)

Copyrightゥ 1996 SUARA MERDEKA


Muhamad Thohar Arifin, MD
Dept of Neurosurgery, Hiroshima University Japan
1-2-3 Kasumi Minami-ku Hiroshima Japan 734-8551
81-82-257-5227 fax 81-82-257-5229 home 81-82-264-0502
cell 81-90-6171-6000
[EMAIL PROTECTED]
www.talk.to/thohar or www.thohar.tk


Do you Yahoo!?
Yahoo! Search - Find what you�re looking for faster.

Kirim email ke