Mungkin ini bisa membuka mata hati kita tentang kondisi per-IT-an sebenarnya
di indonesia, khususnya di saat-saat pesta demokrasi sedang berlangsung.
Dari genetika mailing list.--
Achmad Hadi
JB
=========================
Date sent: Mon, 12 Apr 2004 07:01:23 -0400 (EDT)
From: "Onno W. Purbo" <[EMAIL PROTECTED]>
To: ...
Copies to:
Subject: [EMAIL PROTECTED] Perjoeangan IT Untuk Demokrasi Indonesia
...
Perjoeangan IT Untuk Demokrasi Indonesia
Onno W. Purbo
"Abaikan saja segala sorotan dan suara-suara sumbang yang
menyoroti kerja kita semua. Pada saat rekan-rekan operator
bekerja 24 jam, mereka asyik di rumah masing-masing. Pada saat
rekan-rekan supervisor dan simpul dimaki dan dicaci oleh parpol,
mereka asyik bercanda gurau dengan keluarga masing-masing. Pada
saat rekan-rekan teknis berjibaku dengan komputer yang macet dan
koneksi yang ruwet, mereka asyik menonton televisi sambil
berkomentar.
Mari kita laksanakan amanah yang telah diberikan kepada kita,
mari kita buktikan bahwa SMK tidak dapat dipandang sebelah mata.
Untuk seluruh rekan, jadikan setiap kritikan "yang membangun"
sebagai sebuah pelajaran untuk bekerja lebih baik. Ini adalah
momen pendidikan yang amat langka bagi kita semua." Demikian
Khalid Mustafa ([EMAIL PROTECTED]) dari LPMP Sulawesi Selatan
yang termonitor di mailing list [EMAIL PROTECTED] pada
hari Sabtu 10 April 2004 pukul 18:36.
Khalid seorang anak muda berusia 27 tahun-an guru SMK di
Makassar merupakan salah satu dari 17.000 operator IT pemilu
2004 yang bekerja "rodi" untuk mensukseskan pemilu 2004. Minggu
11 April 2004, Khalid harus berkeliling ke semua kecamatan di
bawah tanggung jawabnya.
Berbagai pemasalahan IT Pemilu antara lain di sebabkan
(1) kurangnya sosialisasi KPU ke KPUD, KPUD ke PPK, PPK ke TPS,
TPS ke KPPS tentang bagaimana KPPS mengisi form C1-IT.
(2) Kelambatan pengisian form C1-IT.
(3) terlalu banyak tugas PPK, akhirnya terlalu lelah untuk
melakukan koreksi data.
(4) pihak PPK tidak tahu sama sekali program situng.
Demikian di kemukakan oleh Muhamad Kasmadi
([EMAIL PROTECTED]) pada hari Jumat, 9 April 2004 di
Internet. Jelas delay perhitungan suara terjadi karena proses
perhitungan manual dari TPS ke kecamatan.
Kasmadi adalah salah seorang koordinator subsimpul IT Pemilu
2004 yang merupakan guru SMK di Solo dan aktifis jaringan
informasi sekolah (JIS) yang mengkaitkan beberapa sekolah di
kotanya.
Gila-nya ke 17.000 pejoang IT ini hanya di beri honor sekedarnya
untuk bekerja siang malam dalam shift 24 jam. Pengorbanan yang
luar biasa bahkan sampai menggugurkan kandungan seorang ibu
sukarelawan IT.
Jelas, bukannya kebocoran yang terjadi di lapangan akan tetapi
para pejoeang ini justru memberikan sumbangan tenaga, pikirannya
bagi kesuksesan pemilu 2004, intangible yang tidak terbayarkan
oleh APBN negeri ini di lengkapi hinaan, hujatan dari parpol.
Tanpa ucapan terima kasih, demikiankah profil para pemimpin
partai & politik Indonesia? Tidak tahu terima kasih? Memalukan!
Kunci dari kekuatan IT Indonesia menuju demokrasi di bentuk oleh
mahasiswa, guru SMK maupun siswa SMK. Apa artinya? Investasi
sejak tahun 2000 yang dilakukan oleh DR. Gatot HP direktur
sekolah menengah kejuruan di DIKNAS dengan program revolving
fund-nya untuk menyambungkan ribuan SMK di Indonesia ke Internet
membuahkan hasil yang spektakuler pada hari ini. Padahal
dilakukan di sela-sela sweeping 2.4GHz yang dilakukan oleh
POSTEL terhadap beberapa sekolah / universitas.
Terlepas masalah sweeping 2.4GHz & 5.8GHz yang memalukan oleh
POSTEL, dengan memfokuskan semua sumberdaya Indonesia untuk
meng-IT-kan dunia pendidikan Indonesia yang berjumlah lebih dari
50.000 sekolah di seluruh Indonesia, bukan mustahil akan menjadi
sumberdaya yang bukan main untuk kemajuan Indonesia maupun
pemilu 2009.
Pernahkan kita membayangkan mengkaitkan 4400 kecamatan yang
tidak jelas lokasinya dimana? Kontak person-nya dimana?
Tentunya kita akan berasumasi bahwa data tersebut ada di
DEPDAGRI atau BPS, kenyataannya semua data di DEPDAGRI bersifat
parsial dan sangat terdistribusi tidak terpusat. Akhirnya untuk
pengambilan keputusan di KPU, data yang ada di DEPDAGRI menjadi
percuma. Butuh waktu dua (2) bulan bagi IT KPU untuk melacak,
dan di kumpulkan di server data center KPU secara terpusat.
Setelah berjuang selama satu tahun dan selesai bulan Maret 2004,
pada akhirnya IT KPU memiliki data data 147 juta pemilih secara
terpusat di data center KPU dilengkapi dengan 10 parameter
(variable) per pemilih, termasuk sebetulnya data dari 217 juta
rakyat Indonesia.
Secara tidak kita sadari IT KPU telah merangkap fungsi dari
SIMDAGRI maupun BPS dan dikerjakan dalam waktu yang sangat
singkat. Tentunya hal ini merupakan tantangan bagi SIMDAGRI yang
sudah mengeluarkan dana ratusan milyar.
Dengan data kecamatan yang ada maka pengiriman komputer dapat
dilakukan. Rata-rata dua (2) buah komputer untuk kecamatan di
Jawa, dan satu (1) buah komputer untuk di luar jawa. Bukan
mustahil modal komputer ini dapat digunakan untuk e-government
yang berbasis di tingkat kecamatan untuk di komandani oleh
DEPDAGRI.
Komunikasi data dari tingkat kecamatan ke KPU juga ternyata
membuat pusing kepala karena ternyata hanya 2578 kecamatan yang
dapat dilayani oleh Virtual Private Network (VPN) dari Telkom.
Sedang 1850 kecamatan harus menggunakan telepon satelit byru
yang di berikan oleh Pacific Satelit Nusantara (PSN).
Apa artinya?
Ternyata PT. Telekomunikasi Indonesia yang secara de-facto
memonopoli dunia telekomunikasi di Indonesia selama puluhan
tahun hanya mampu menyambungkan 60% dari kecamatan di Indonesia
ke Internet.
Pertanyaannya, POSTEL, Telkom & Badan Regulasi Telekomunikasi
Indonesia (BRTI) anda kemana saja? Apa hasilnya untuk
meningkatkan penetrasi telepon & internet di tingkat kecamatan?
Program Universal Service Obligation (USO) tampaknya salah
strategi, agak aneh kalau IT KPU harus merangkap fungsi POSTEL.
Yang paling menghambat akses publik pada www.kpu.go.id
adalah pengencangan ikat pinggang yang dilakukan oleh Telkom
mengacu kontrak terhadap kecepatan Internet KPU menjadi hanya
1Mbps.
Sialnya, kontrak kecepatan 1Mbps PT. Telekomunikasi Indonesia
berpatokan pada harga komersial biasa dan bukan harga
pemerintah. Memalukan memang jika kita memperhatikan kelakuan
Telkom serigala berbulu domba yang tidak mempunyai sense urgensi
kepentingan nasional.
Bangsa ini cukup beruntung mempunyai pejoang-pejoeang dari
APJII, PSN, Kabelvision yang dalam waktu 24 jam akhirnya dapat
meningkatkan bandwidth www.kpu.go.id ke Indonesia Internet
Exchange (IIX) menjadi 100Mbps secara gratis! Terima kasih Heru
Nugroho cs. anda semua memang patut memperoleh tanda jasa.
Yang cukup seru adalah penolakan partai terhadap hasil
perhitungan IT KPU. Padahal data sampai tingkat TPS ada di IT
KPU dan dapat di akses melalui Internet di http://www.kpu.go.id.
Koreksi data dan cross check dari partai dapat dilakukan sampai
tingkat TPS terhadap data di KPU.
Yang paling seru adalah komentar para pengamat IT yang sebagian
mengatas namakan komunitas IT. Padahal beberapa rekan mengatakan
bahwa grand design awal dari IT KPU lebih dari 2 Trilyun untuk
mengkaitkan 360 kabupaten di submit oleh beberapa pakar IT.
Tampaknya grand design tersebut terlalu berlebihan sehingga
akhirnya di gunakan lah para pejoeang IT oleh KPU yang berjibaku
dengan dana sekitar Rp. 152 Milyard mengkaitkan 4400 kecamatan.
Sebagian pakar IT bahkan mengklaim audit teknologi informasi di
KPU. Pertanyaannya, apakah ada dasar hukumnya?
Sialnya, para pakar & pengamat IT ini malah mengklam bahwa test
IT KPU hanya 8% yang berjalan. Belum lagi klaim akan gangguan
virus dan hacker.
Padahal kita semua tahu dan dapat dilihat dengan jelas di
www.kpu.go.id bahwa H+5 sudah ada 69 juta suara yang masuk dari
300.000 TPS dari total 585.000 TPS. Jadi siapa yang asbun?
Sebagai akhir kata, saya kutipkan ucapan seorang pejoang Khalid
Mustafa pada tanggal 10 April 2004 di Internet, "Untuk seluruh
rekan, yang selama beberapa hari ini terus menerus bertarung
melawan waktu dalam entri data, saya cuman mengucapkan selamat
bertugas. Apabila ada yang mengkritik, tolong diberikan solusi
yang tepat, jangan cuma asal bunyi. Buktikan bahwa kritikan yang
diberikan adalah kritik yang membangun, dan mari sama-sama
memperbaiki kesalahan yang telah terjadi."
Merdeka!!
_______________________________________________
Genetika mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://groups.or.id/mailman/listinfo/genetika
--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id - Forum: http://forum.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2015
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id