Fyi ti koran PR dinten ayeuna ... mudah-mudahan nambih pangaweruh tokoh sunda sareng pamingpin Sunda ...
 
budhi
oritate permai
 
Sebutan, Tokoh Pemimpin Sunda
Oleh TJETJE H PADMADINATA

AKHIR-akhir ini, dari beberapa ungkapan pendapat baik tertulis maupun lisan, sering terungkap istilah "tokoh pemimpin" Sunda. Terasa ada pencampuradukan (kesimpangsiuran) dalam batasan (defenisi), pengertian, pemahaman, sebutan, julukan bahkan dugaan yang perlu diluruskan. Dan yang paling harus dijernihkan adalah pencampuradukan antara tokoh pemimpin Sunda dengan hanya sekadar (pernah) jadi petinggi pemerintahan negara, terutama posisi politik birokrasi formal, menteri ke atas.

Belakangan ini, sebutan tokoh pemimpin Sunda lebih diartikan (setidaknya dikonotasikan) politis-birokratis formal daripada sosiologis-kultural. Kalau begitu duduk persoalannya, maka terutama tokoh pemimpin lingkungan masyarakat adat Sunda jadi tidak termasuk tokoh pemimpin Sunda. Ini berbahaya, karena tanpa sadar menempatkan etatisme di atas populisme, pemerintahan di atas kemasyarakatan. Dalam kerancuan berpikir tersebut, bagaimana halnya dengan membangun civil society (masyarakat kewargaan) yang sekarang ini terasa urgen imperatif?

Arti tafsir sempit yang hanya terfokus pada posisi politis-birokratis formal (simbol-status?), mungkinkah secara tanpa sadar merupakan akibat dari puluhan tahun feodalisme politik yang korup. Dalam rezim kekuasaan yang otoriter-korup, bukankah Sunda patut berbangga diri justru kalau tidak pernah ada orang Sunda yang terlibat di dalamnya? Sunda boleh berbangga diri, jika selama puluhan tahun berada dalam sarang penyamun tanpa ada orang Sunda yang (ikut terbawa) jadi penyamun. Ikan laut itu tidak asin, meskipun air laut asin. Ikan laut menjadi asin, sesudah dia mati. Bagaimana Sunda bisa bermartabat, kalau (misalnya) dipimpin oleh orang yang menderita geger budaya (cultural shock)? Sunda jangan dijadikan komoditas dalam komersialisasi politik, Sunda padati, Sunda japati, Sunda sajati!

Tokoh pemimpin Sunda belum tentu atau tidak usah (pernah) jadi menteri ke atas, begitu pula menteri ke atas yang (kebetulan) orang Sunda belum tentu tergolong atau mau disebut tokoh pemimpin Sunda. Bahkan konon kabarnya, pernah ada orang Sunda yang jadi menteri berkata, "Jangan sebut saya orang Sunda, saya ini orang Indonesia". Ada juga menteri yang (kebetulan) orang Sunda, selalu menjawab pakai bahasa Indonesia waktu disapa dengan bahasa Sunda. Kedua menteri yang (kebetulan) orang-orang Sunda tersebut, berbuat begitu karena mungkin saja di waktu itu takut dicap "kesukuan-kedaerahan". Lain dulu lain sekarang, yang penting jangan mengacaukan bobot eksistensi sosiologis-kultural seseorang dengan posisi politis-birokratis formal sese-orang lainnya.

Mungkin terutama hanya Otto Iskandar Dinata dan Muharam Wiranatakusumah (Kangjeng Haji), yang memenuhi kualifikasi-kriteria lengkap untuk disebut tokoh pemimpin Sunda yang pernah jadi menteri (pe-tinggi pemerintahan negara). Jadi tokoh pemimpin Sunda dulu, baru kemudian jadi menteri. Jangan dibalik logika-etikanya!

Sekali lagi, apa kaitannya antara bobot ketokohan seseorang dalam masyarakat dengan jabatan/kedudukan resmi sese-orang dalam pemerintahan negara? Sutisna Senjaya (Sutsen) adalah tokoh pemimpin Sunda (keturunan menak Banyumas seperti Dipati Ukur?) yang pernah jadi anggota konstituante produk Pemilu 1955/1956, Emma Bratakusumah adalah juga tokoh pemimpin Sunda yang tidak berambisi jadi menteri. Sukanda Bratamanggala adalah nasionalis-militer yang adalah juga tokoh pemimpin Sunda, bukan hanya karena pernah jadi Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan yang sebatas organisasi pendidikan dan kebudayaan.

Tokoh pemimpin Sunda adalah orang yang secara signifikan (pernah) memimpin gerakan dan/atau organisasi kesundaan. Sekadar (pernah) jadi ketua umum institusi kesundaan, belum tentu atau tidak otomatis adalah juga tokoh pemimpin Sunda. Pemimpin adalah leader, ketua hanyalah sekadar chairman. Ketokohan seseorang mensyaratkan adanya pengakuan umum (social recognition), tidak bisa hanya semata-mata merasa gedhe rumongso (GR) akibat ilusi diri yang berkepanjangan terus-menerus. Kasihan memang, kalau Citrayuda merasa diri (ilusi diri) seolah-olah Gatotkaca!

Selanjutnya pula, Sunda tidak identik dengan Ki Sunda. Ki Sunda sudah pasti adalah Sunda, namun tidak semua Sunda adalah juga Ki Sunda. Ki Sunda adalah Sunda yang berjuang, the fighting Sundanese; bukan Sunda japati yang maju tak gentar membela yang bayar! Tokoh-tokoh militer Siliwangi tidak semuanya orang Sunda, ada juga orang-orang Batak, Minangkabau, Kawanua, Jawa, dll.

Mendiang Kolonel Omon Abdurrachman pernah bilang begini kepada penulis, "Tje, di zaman revolusi di Bandung Selatan (Soreang-Ciwidey) yang paling berani pernah bukan orang Sunda tapi Jawa, Ton (H.R. Dharsono)." Masyarakat Sunda memang dikenal mempunyai tole-ransi tinggi, selain Sunda pituin Sunda mukimin pun bisa saja jadi pemimpin. Selain Daeng Kanduruan Ardiwinata yang keturunan Sulawesi Selatan, bukankah Soekarno yang Jawa itu tumbuh menjadi pemimpin utama di Pasundan?

Elite Sunda yang betul-betul punya akar budaya Sunda (bukan Sunda jadi-jadian dan/atau penuh kepura-puraan), umumnya kurang punya ambisi kekuasaan-kemewahan duniawi. Mereka tidak anti-penguasa, tapi suka menertawakan penguasa yang sok kuasa dan sok kaya.

Orientasi Sunda bukan pada kekuasaan (termasuk ambisi teritorial), tapi pada kepahlawanan dalam menegakkan yang hak. Paralel dengan bangsa Wales di Inggris (United Kingdom), para tokoh pemimpin Sunda sajati sangat menjunjung tinggi nilai-nilai harga diri dan kehormatan (honour) kewajiban (duty), dan pakusarakan (patriotism). Mereka punya sikap dasar tidak asal Sunda (eksklusif-diskriminatif), tapi Sunda yang tidak cacat karakter. Tokoh pemimpin Sunda jelas anti-korupsi, sadom araning baraja sakunang araning geni. Tokoh pemimpin Sunda pasti pro-demokrasi, giri leungsi tanpa hina.

Sebagai salah satu produk dalam kemajuan berpikir, muncul pula nilai-nilai baru di kalangan Ki Sunda, harga diri, percaya diri, mandiri, mawas diri, dan tahu diri. Selain warisan nilai-nilai tradisi yang baik, Sunda perlu akrab dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (science and technology). Hanya dengan begitu, maka Sunda akan punya daya kompetisi yang memadai. Hidup adalah kompetisi, dan jangan berbuat licik dan curang! Sunda wajib selalu eling bahwa musuh-musuh demokrasi di antaranya adalah konspirasi, diskriminasi, korupsi, dan kekerasan.

Dari orang-orang muda Sunda sekarang, diharapkan bukan hanya terbatas sebagai generasi penerus tradisi tapi generasi baru yang menciptakan nilai-nilai baru pula. Watak seseorang, dibentuk oleh produk interaksi antara nilai intrinsik pribadi dengan pengaruh lingkungan: burung sejenis terbang bersama, a bird of one kind flocks together. Khusus dikaitkan dengan perpolitikan yang entah kapan membaiknya bagi rakyat banyak, substansi politik adalah soal pilihan dan keberpihakan. Pilihlah republikanisme demokratik, untuk rakyat yang berdaulat!

Tokoh pemimpin Sunda jangan selalu dikaitkan dengan kedudukan dan kekuasaan dalam pemerintahan, melainkan dengan pengabdian dalam dan untuk masyarakat (bangsa). Terlebih lagi, hati-hati dengan orang yang menderita penyakit post-power syndrome untuk ambisi dan perlindungan diri dari kejaran dosa dan kejahatan. Kalau kepuasan lahiriah itu bisa semu (pura-pura), kepuasan batiniah inner satisfaction) itu murni.

Post veba, verbere; Pok, prak. Hayu urang babarengan, hayu urang meunang...!*** 

Penulis, politikus senior Sunda.



Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke