6,5 Juta Penganggur di Jabar Ironinya, Tenaga Asing Mulai Merambah
BANDUNG, (PR).- Sedikitnya 6,5 juta angkatan kerja di Jawa Barat terpaksa menganggur, akibat tidak sebanding antara kesempatan kerja dengan jumlah pencari kerja. Ironinya, tenaga asing untuk setingkat manajer dan tenaga perawat justru mulai dimasuki orang asing seperti tenaga kerja dari Filipina.
Hal itu diungkapkan Kepala Seksi Kerja Sama dan Pemasaran Tenaga Kerja Drs. Johny Darma, M.M., dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Barat, saat menghadiri acara lokakarya mengenai �Penyusunan Kurikulum Berbasis Kompetensi�, di Unpad, Rabu (2/4).
Johny menjelaskan, 6,5 pengangur itu merupakan komulatif dari angkatan kerja terakhir dengan sebelumnya. Pada 2003, angkatan kerja sebesar 16.375.073 orang, sedangkan lowongan yang tersedia hanya untuk 14.861.502 orang, sisanya sebanyak 1.513.511 (9,24%) menganggur. Kemudian angkatan kerja sebelumnya yang tidak tertampung dan akibat penumpukan dari tahun ketahun sebanyak 5 juta orang. Dengan demikian jumlah keseluruhannya menjadi 6,5 juta orang lebih.
�Nah, angka itu dibagi dalam dua kategori yaitu kategori menganggur penuh dan setengah menganggur,� ungkap Johny.
Dia mengungkapkan, kota/kabupaten di Jabar yang yang paling banyak jumlah penganggurnya adalah Bandung, Bogor, Bekasi, Karawang, dan Cirebon. Kota-kota itu selama ini memang jadi tujuan mencari kerja. Sedangkan di kota/kabupaten lainnya penganggur relatif sedikit.
Menurut Johny, berdasarkan tingkat pendidikan, yang paling dominan mereka yang menganggur lulusan SLTA, diploma, dan PT. Sedangkan para lulusan SLTA sampai S1, menganggur bukan karena tidak mampu, tetapi kurang memiliki inisiatif, bakat, serta kurang berani menanggung risiko kerja.
�Motivasi mereka ini rendah kalau mengetahui risiko kerjanya tinggi. Seperti untuk jabatan sales, karena ditarget harus mencapai angka tertentu, bukannya termotivasi malah mundur. Padahal kalau mencapai target, maka gajinya lebih besar. Kalau soal kemampuan tidak diragukan, tapi itu kalau jadi supervisor,� ujar Johny.
Disnakertrans sendiri, kata Johby, berupaya menanggulangi pengangguran dengan mengadakan pelatihan, program tenaga kerja mandiri, dan penyaluran kerja. Namun itu semua tidak akan berhasil jika tidak didukung semua pihak. Sedangkan berdasarkan catatan, pangsa pasar kerja yang tersedia lebih banyak di sektor pertanian, industri, perdagangan, dan jasa.
Tenaga asing
Johny mengatakan, salah satu faktor menumpuknya pengangguran akibat mulai membanjirnya tenaga asing masuk ke Indonesia, termasuk ke Jawa Barat. Mereka tidak semata memasuki jabatan setingkat manajer tetapi jabatan rendah pun mulai diisi seperti jabatan sekretaris dan perawat. �Sekarang banyak perusahaan kita yang justru mempekerjakan tenaga Filipina untuk dua bidang itu. Sedangkan tenaga kita, dengan alasan demi gengsi tidak dipakai padahal kemampuannya sama,� katanya.
Kondisi itu, menurut Johny, sebagai dampak dari era perdagangan bebas yang sudah barang tentu harus diwaspadai termasuk oleh perguruan tinggi. Sekolah-sekolah dan perguruan tinggi ini sudah harus mereposisi diri untuk bisa menelorkan lulusannya yang handal. Jangan hanya teori semata yang diberikan, tetapi mengaplikasikan teori dengan melakukan simulasi. Misalnya megadakan pemagangan di perusahaan-perusahaan, atau perguruan tinggi memiliki pusat usaha yang bisa dijadikan sebagai wadah penggodokan.
Johny juga mengatakan, perubahan teknologi yang kian pesat harus diikuti dengan menyesuaikan kurikulum yang mengarah kepada kompetensi, seperti persyaratan pengalaman kerja, pelatihan, dan bahasa. Selain itu menciptakan kesempatan kerja mandiri dan meninggalkan ketergantungan kepada orang lain melalui penciptaan kelompok maklon, pemasaran (marketing), dll.(A-113)***
|