Tinjauan Buku

MENGENAL MANUSIA ALA AJIP ROSIDI

Judul buku      : Ucang-ucang Angge
Penulis         : Ajip Rosidi
Tebal           : 260 halaman (index)
Penerbit        : Girimukti (PT Kiblat Buku Utama Bandung), 2001

        TEPAT di usianya yang menginjak 64 tahun, Ajip Rosidi kembali 
meluncurkan buku dalam bahasa Sunda. Judulnya Ucang-ucang Angge 
(UUA), yang memuat beberapa memoar terhadap orang-orang yang pernah 
dikenal dan dekat dalam hidupnya. Judulnya sendiri mengingatkan kita 
pada buku Ajip yang lain, yang diambil dari khazanah lagu-lagu Sunda. 
Semisal Trang-trang Kolentrang (1999) atau Dengkleung Dengdek (1986).
        Namun dari isinya, UUA tidak jauh berbeda dengan buku Ajip 
sebelumnya, Pancakaki (1996) dan Cupu Manik Astagina (1997), yang 
lebih menonjolkan pigur-pigur orang Sunda. Seperti kedua buku 
tersebut, dalam UUA Ajip banyak menulis tentang orang-orang yang 
sempat dikenal maupun yang betul-betul karib, bahkan bersejarah bagai 
hidupnya. Bedanya, jika di kedua buku sebelumnya Ajip tidak hanya 
menulis memoar (karena juga memuat esey dan kritik), dalam UUA 
tampaknya dikhususkan untuk memuat memoar saja. Walaupun ada beberapa 
judul yang tidak langsung menyebut nama orang, seperti Dipecat ku PWI 
dan Munggah Haji.
        Ada tiga belas judul tulisan yang termuat dalam UUA. Sebagian 
tulisan itu sempat dimuat di majalah dan surat kabar, baik dalam 
bahasa Sunda maupun Indonesia. Seperti diterangkan dalam 
pengantarnya, untuk keperluan penerbitan UUA, tulisan-tulisan dalam 
bahasa Indonesia kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda dengan 
perubahan di sana-sini. Sebagian lagi memang sudah ditulis dalam 
bahasa Sunda dan pernah dimuat dalam majalah Mangle. Tetapi ada juga 
tulisan yang diambil dari buku harian dan surat-surat yang pernah 
dibuat Ajip. Seperti tiga surat yang dibuatnya untuk Affandi pada 
1982 (h. 158 � 167).
        Membaca tulisan-tulisan tersebut, kita seperti melihat 
panorama kehidupan Ajip Rosidi di berbagai lapangan kehidupan. Bukan 
hanya di lapangan kebudayaan, tetapi juga di lapangan jurnalistik, 
politik, dan agama. Kita juga bisa melihat bagaimana Ajip membangun 
relasi-relasi hidupnya, bukan saja dengan orang-orang besar, tetapi 
juga dengan orang-orang yang mungkin tidak dikenal sama sekali oleh 
publik yang luas. Bukan hanya dengan pelukis Affandi yang 
dipanggilnya Apih, atau S. Sudjojono, atau dengan diplomat Ilen 
Surianegara yang dipanggilnya Kang Ilen, atau Dajat Hardjakusumah 
(ayah Bimbo bersaudara) yang dikenalnya di lapangan jurnalistik, 
tetapi juga dengan Imih (ibu kandungnya) dan Dodo Cardawi yang 
menjadi teman karibnya di Jatiwangi (membaca memoar tentang Dodo, 
saya ingat memoar Ajip tentang Bang Haji Enur yang termuat dalam Cupu 
Manik Astagina).
        Ajip yang memang sudah dikenal punya nama besar, di dalam UUA 
masih kita kenali sebagai manusia biasa. Memoarnya tentang Imih 
misalnya, menggambarkan bagaimana selama hidupnya Ajip tidak pernah 
bisa bebas memperlakukan ibu kandungnya sendiri yang memang punya 
jarak-jarak psikologis yang sulit dihapus (h. 234 � 242). Persoalan 
kemanusiaan seperti ini muncul juga dalam memoarnya tentang Munggah 
Haji (h. 89 � 109)  dan Dodo Cardawi (h. 9 � 28). Rupa-rupa masalah 
yang dihadapinya selama naik haji pada 1976 via Eropa misalnya, bukan 
cuma masalah Ajip Rosidi yang kita kenal sebagai `orang penting', 
tapi juga masalah manusia biasa. Umpamanya ketika ia selalu ingin 
marah menghadapi salah seorang temannya selama berada di Mekah dan 
Madinah. Bukankah perasaan ingin marah seperti itu banyak pula 
dialami jemaah haji kita karena tekanan-tekanan psikologis, bahkan 
ketika tidak ada sebab yang patut untuk dibuat marah? 
Namun tidak dapat disangakal bahwa setelah kita membaca UUA, dengan 
jelas menyiratkan bahwa Ajip adalah orang besar yang memang sering 
berada di lingkungan yang besar pula. Perkenalannya dengan R.H.M. 
Akil Prawiradiredja, H.B. Jassin, Prof. Dr. Doddy A. Tisnaamidjaja, 
Affandi, Ilen Surianegara, dan S. Sudjojono membuktikan hal itu. Atau 
dengan Ali Sadikin (mantan Gubernur DKI Jakarta) yang namanya 
beberapa kali disebut dalam memoarnya, terutama ketika membicarakan 
H.B. Jassin. Pergaulan Ajip dengan orang-orang penting tersebut bukan 
hanya karena berkaitan dengan kegiatan-kegiatan kebudayaan yang lebih 
banyak digelutinya, tetapi ada juga yang disebabkan oleh hubungan-
hubungan di luar itu, semisal hubungan profesi yang memungkinkan dia 
dekat dengan Dajat Hardjakusumah. 
Dalam dunia jurnalistik kita mengenal little story about big people, 
dan big story about little people. Tampaknya Ajip juga menggunakan 
teknik ini dalam memoar-memoarnya. Ketika membicarakan orang-orang 
biasa, kita merasa bahwa yang ingin diceritakan Ajip bukan cuma 
cerita orang biasa, tetapi cerita besar yang patut menjadi perhatian 
pembaca. Sebaliknya, ketika membicarakan orang-orang besar, tidak 
hanya "kebesarannya" saja yang dibahas, namun hal-hal kecil yang 
mungkin tidak pernah terungkap sebelumnya dalam kehidupan orang besar 
itu, sering dimunculkan Ajip. Bagaimana misalnya hubungan Akil 
Prawiradiredja dengan Amat, yang oleh orang-orang dekat Akil dikenal 
sebagai dukun. Atau hubungan Affandi dengan  Jono, supir dan 
asistennya dalam melukis.
Bagaimanapun, memoar yang ditulis Ajip bisa menjadi cermin bagi siapa 
saja yang membacanya. Bukankah untuk menjadi manusia kita harus bisa 
memahami manusia lain? Dalam UUA, kita bukan saja diajak untuk 
memahami sebagian dari kehidupan orang-orang yang dibicarakan oleh 
Ajip, tetapi juga memahami penulisnya sendiri. Karena, kehidupan 
orang lain yang dibicarakan dalam buku ini, diterawang dari jendela 
Ajip Rosidi yang mungkin lebih lebar, tapi tentu ukurannya tidak sama 
dengan jendela manusia lainnya.
Karena sifatnya yang subyektif inilah, kita mesti menempatkan memoar 
sebagai pengalaman seseorang saja, yang belum tentu sama dengan 
pengalaman orang lain. Dengan kata lain memoar bukanlah pengalaman 
kolektif yang obyektivitasnya lebih bisa diperhitungkan. Walaupun 
memoar yang ditulis Ajip didukung oleh data dan fakta-fakta sejarah, 
namun sikap kritis masih perlu dipelihara selama kita membacanya. 
Gejala subyektivitas itu misalnya muncul ketika Ajip menceritakan 
bagaimana proses Affandi naik haji (h. 136 � 141). Atas saran Ajip,  
Affandi akan didampingi oleh Mang Engkas (Kasman Sudja'i)) sebagai 
mutawif. Namun sampai pulang kembali ke tanah air, Affandi tidak 
pernah memperdulikan Mang Engkas. Padahal mubaligh yang juga dikenal 
sebagai "ahli jin" itu sempat tidur di jalan karena mencari-cari 
Affandi di Mekah. Ajip memang menunjukkan kekesalannya terhadap 
Affandi. Tapi mungkin kita bertanya-tanya, apakah kekesalan Ajip 
seperti ditulis dalam memoarnya sebanding dengan penderitaan Mang 
Engkas selama mencari-cari Affandi (bandingkan misalnya ketika Ajip 
menunjukkan kemarahan terhadap orang-orang yang dianggapnya telah 
membuat "cacat", seperti dalam kasus Mashudi dan Prof. Dr. Achmad 
Sanusi SH).
Sebaiknya memang kita membaca memoar tentang orang yang sama yang 
ditulis oleh orang lain sebagai bahan bandingan. Karena sifatnya yang 
subyektif, tidak mustahil sebuah memoar hanya akan menjadi satu versi 
saja dari kehidupan seseorang. Soal mana yang lebih soheh, tentu saja 
akan sangat tergantung kepada proses sejarah. Namun sayangnya, 
sedikit orang saja yang banyak menulis memoar, terutama mengenai 
orang-orang Sunda seperti yang ditulis Ajip Rosidi dalam UUA.***

(Darpan Ariawinangun)





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke