Ali Sadikin

      Paling Berjasa Membangun Jakarta

      Letnan Jenderal TNI KKO AL (Purn) H Ali Sadikin  (Bang Ali) menerima tanda 
kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana karena dinilai berjasa luar biasa terhadap 
negara dan bangsa, khususnya mengembangkan Kota Jakarta sebagai Kota Metropolitan. 
Presiden Soekarno mengangkat putera bangsa kelahiran Sumedang, 7 Juli 1927 ini sebagai 
Gubernur Jakarta lantaran dianggap kopig alias keras kepala. Dia berhasil sebagai 
pemimpin justru karena pembawaannya yang keras itu. 

      Ia juga termasuk salah seorang penggagas pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, 
Pendiri Taman Ismail Marzuki, Taman Impian Jaya Ancol, Pekan Raya Jakarta, Gelanggang 
Mahasiswa, Gelanggang Remaja, Pusat Perfilman Usmar Ismail serta berbagai bangunan 
bersejarah seperti Museum Fatahillah, Museum Tekstil, Museum Keramik, Museum Wayang 
serta mengembalikan fungsi gedung-gedung bersejarah, seperti Gedung Juang 1945 dan 
Gedung Sumpah Pemuda. 

      Penyematan Bintang Penghargaan dilaksanakan pada Kamis pagi, 14 Agustus 2003 di 
Istana Negara. Peristiwa itu mengingatkannya pada peristiwa 37 tahun lalu. Tahun 1966, 
ia berdiri di depan Presiden Soekarno dalam upacara pelantikan Gubernur Jakarta. Kamis 
kemarin, ia berdiri di depan putri Bung Karno yang bernama Megawati Soekarnoputri 
dalam suatu upacara yang khidmat selama 20 menit untuk menerima Bintang Mahaputra 
Adipradana. Istana Negara adalah tempat yang tidak pernah diinjaknya setelah ia 
dijuluki oleh para pemimpin Orde Baru sebagai pembangkang.

      Ia datang ke Istana Negara bersama istrinya, Linda Mangaan, dan putra bungsunya, 
Yasser Umarsyah (14).

      Setelah upacara, ia menerima ucapan selamat berupa tempel pipi dari Megawati. 
Tempel pipi juga diberikan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja, mantan 
Menteri Negara Peranan Wanita Sulasikin Murpratomo, artis film Christine Hakim, dan 
kelima putranya yang hadir.

      Selama upacara berlangsung, Ali Sadikin disediakan kursi untuk duduk, tetapi ia 
tetap berdiri. Seusai upacara, Megawati mempertanyakan kesehatannya. Ali Sadikin 
mengatakan, kakinya tidak bisa tahan berdiri lama. Puluhan wartawan kemudian 
mengelilinginya. Sekali-sekali istrinya memberikan air putih. Suara Ali Sadikin di 
depan para wartawan masih lantang.

      "Bapak sekarang sudah 77 tahun sehingga sering lupa pada banyak hal. Tapi kalau 
bicara soal negara, Jakarta, dan perjuangan untuk rakyat, masih sangat cemerlang," 
ujar putra sulung Ali Sadikin, Boy Bernadi Sadikin, tentang ayahnya.

      Bang Ali, demikian ia akrab disapa, tidak menyangka mendapat tanda kehormatan 
Bintang Mahaputra Adipradana. Ia mendapat informasi bahwa ia dinilai patut menjadi 
tokoh simbol bagai pembinaan budaya dan pariwisata. "Saya heran karena saya bukan 
budayawan. Tapi, katanya, saya berhasil membangun Jakarta sebagai kota budaya dan kota 
pariwisata," ujar pria kelahiran Sumedang tanggal 7 Juli 1927 itu.

      Gayanya memimpin Bang Ali dinilai cocok dengan kondisi Ibu Kota yang semrawut 
dan memerlukan kedisiplinan. Ternyata pilihan Soekarno tidak salah. Jenderal Angkatan 
Laut ini mampu menyulap Jakarta dari sekadar sebagai pusat pemerintahan menjadi pusat 
perdagangan sekaligus industri.

      Sikap keras orang Sumedang, Jawa Barat, ini bukan cuma ditujukan kepada 
aparatnya yang tidak berdisiplin. Ketika memimpin Jakarta selama 10 tahun, ia juga 
dikenal kuat dalam mempertahankan prinsip. "Sebagai gubernur, saya harus melindungi 
dan menyejahterakan rakyat. Itu prinsip saya," katanya. 

      Caranya? Inilah yang mengundang kontroversi. Ia membuat gebrakan dengan 
melegalisasi perjudian. Untuk mengisi pundi anggaran daerah, Ali juga nekat 
mengizinkan bar dan panti pijat. Yang penting baginya, ada dana untuk membuat mulus 
jalan-jalan di seluruh Jakarta. Kritik keras yang datang dari para ulama tidak 
didengarnya. 

      Soal ijin perjudian tidak terlepas dari minimnya anggaran Pemda dalam upaya 
membangun Jakarta. Pada saat pertama kali menjabat, Bang Ali membuat rencana program 
pembangunan Jakarta. Saat itu dibutuhkan uang banyak untuk melakukan pembangun demi 
kesejahteraan masyarakat. Sedangkan anggaran Jakarta yang tersedia hanya Rp 66 juta, 
sementara jumlah penduduk sekitar 3,4 juta jiwa. Padahal pemerintah kolonial Belanda 
dulu hanya menyiapkan kota ini untuk menampung 600 sampai 800 ribu orang. Lalu, ia 
mengumpulkan seluruh unsur pimpinan daerah dan menjelaskan bahwa Jakarta butuh duit 
sangat besar.

      Bang Ali bertanya ke mereka, "Saudara-saudara ini dapat berapa, sih, penghasilan 
dari judi? Akan saya ganti, malah bisa lebih tinggi." Mereka tidak bisa melawan. 
Sebab, uang dapat, tanggung jawab juga lepas. Nah, waktu itu ada empat tempat judi 
yang dijaga tentara. Lalu staf saya langsung mengatur, semua duit dari judi langsung 
masuk ke rekening bank. Dari judi ini setahun dapat sekitar Rp 40 miliar.

      Selain judi, Ali Sadikin juga membuka tempat hirusan dan melegalisasi pelacuran. 
Namun ia mengatakan upaya itu sebagai bagian dari melayani masyarakat. Karena itu, ia 
berani membuka judi, steam bath, dan klub-klub, terutama untuk orang asing. Kalau 
habis bekerja, mereka biasanya tak mau pulang dulu, tapi pergi ke klub untuk minum 
kopi, setelah itu baru pulang. Pembukaan klub-klub itu dilakukan untuk melayani 
masyarakat kelompok ini.

      Sedangkan pelacuran, karena dulu setiap menjelang malam di Jakarta bertebaran 
"becak komplet". Maksudnya, di dalam ada pelacurnya. Si tukang becak itulah yang 
menjadi makelarnya. Daripada berkeliaran dan meresahkan warga Jakarta, maka dibuatlah 
lokalisasi di Kramat Tunggak. Dulu, tanah yang digunakan untuk tempat pelacuran itu 
sudah dibeli. Anehnya, kok sekarang masyarakat yang datang belakangan menuntut ganti 
rugi. Itu berarti arsip bukti aset-aset Pemda itu lenyap entah ke mana sekarang.

      Ketika Sutiyoso berniat mengikuti langkah yang ditempuh Bang Ali, ternyata 
respon masyarakat berbeda. Banyak masyarakat yang menentang rencana Bang Yos. Menurut 
Bang Ali, situasi sekarang rakyatnya sudah lain. Sekarang kenyataannya sudah rusak 
akibat politik dan segala macam. Sehingga masyarakat makin tidak terkendali. DPRD dulu 
lain dengan sekarang. Sekarang juga ada LSM dan segala macam.

      Wataknya yang keras masih tergambar pada kerutan-kerutan wajah Ali Sadikin, yang 
kini berusia 75 tahun. Kondisi fisiknya mulai lemah. Ia tidak bisa lagi berolahraga 
angkat besi, kegemarannya. Pendengarannya pun mulai menurun. Bahkan sekarang ia perlu 
memakai alat bantu dengar di telinga. Kata dokternya, berkurangnya fungsi 
pendengarannya berkaitan dengan penyakit ginjalnya. 

      Ali Sadikin memang baru saja dirawat di rumah sakit militer di Ghuang Zhou, 
Cina, selama tujuh bulan karena penyakit yang dideritanya. Ia bisa pulang setelah 
mendapat cangkokan ginjal, tapi berat tubuhnya berkurang 25 kilogram. 

      Yang tidak pernah surut adalah semangatnya. Apalagi bila berbicara tentang 
Jakarta. Dia tak lelah menjelaskan dengan runtut dan detail berbagai program yang 
dijalankannya selama dua periode menjabat Gubernur Jakarta. Saat menerima tugas 
sebagai gubemur pada 1966, inflasi mencapai 600 persen. Sarana pendidikan, kesehatan, 
pasar, dan tempat ibadah jumlahnya tidak mencukupi untuk melayani masyarakat Jakarta. 
Sedangkan anggaran yang ada hanya Rp 66 juta. 

      Pada akhir masa jabatannya tahun 1977, dia meninggalkan uang di kas daerah 
sebesar Rp 89,5 miliar. Juga, jalan-jalan yang mulus, penambahan ratusan sarana 
pendidikan dan kesehatan, terminal bus, dan pasar. Ali Sadikin juga mewariskan 
sejumlah bangunan penting seperti Taman Ismail Marzuki bagi para seniman, dan sebuah 
gelanggang mahasiswa di daerah Kuningan. 

      Ketika disinggung ia memiliki andil dalam pembangunan Taman Mini Indonesia 
Indah, Ali Sadikin meluruskan bahwa, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) berdiri karena 
gagasannya bersama dengan Ny Tien Soeharto (almarhumah). "Kalau tidak ada beliau, TMII 
tidak lengkap. Beliau bisa memerintahkan tiap provinsi membangun paviliun di tempat 
itu. Itu jasa Ibu Tien," katanya.

      Sementara kawasan Ancol berasal dari gagasan Bung Karno, orang yang sangat 
dihormati dan disayangi. Taman Ismail Marzuki berdiri untuk mengenang Ismail Marzuki 
yang merupakan seniman dan pahlawan. Kebun Binatang adalah salah satu tempat 
konsentrasi pariwisata.

      Sayang, ketika Kota Jakarta genap berusia 475 tahun, tepatnya pada 22 Juni lalu, 
sebagian besar gedung itu telantar atau berubah fungsi. Sebagian areal gelanggang 
mahasiswa tersebut disulap menjadi pertokoan. Harapan untuk menjadikan Pusat 
Perfiliman Usmar Ismail sebagai Hollywood-nya Indonesia pun tak terwujud.

      Perubahan Jakarta saat ini membuatnya merasa dikhianati. Berbagai fasilitas 
untuk rakyat yang sudah dibangunnya ternyata tidak dipelihara, ada yang rusah, bahkan 
sebagian ditukar-guling (ruilslag). Menurut pandangannya, para penggantinya sebagai 
Gubernur Jakarta tidak ada yang menambah fasilitas untuk rakyat.

      Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro di Jalan H.R.Rasuna Said yang 
dimaksudkan para mahasiswa mempunyai tempat untuk kumpul-kumpul, sekarang malah 
diganti menjadi pertokoan. Lalu gelanggang remaja di Bulungan malah disewakan untuk 
swasta. Gedung Perfilman Usmar Ismail di Kuningan yang diproyeksikan menjadi pusat 
film semacam Hollywood di Amerika Serikat, sekarang tanahnya di-ruilslag. Dulu di tiap 
kecamatan juga ada balai rakyat yang bisa dipakai untuk hajatan, olahraga, dan segala 
macam, tetapi sekarang entah ke mana. 

      Meskipun kecewa terhadap kinerja Gubernur Jakarta sesudahnya, Bang Ali tidak mau 
melakukan penilaian itu sebagai kesalahan pribadi. Sebab, kepemimpinan seorang 
gubernur itu ditunjang oleh perangkat dan aparat pemerintahan.

      Nasib Sutiyoso saat ini dianggapnya hampir sama dengan waktu pertama ia menjadi 
gubernur tahun 1966. Tetapi keadaan sekarang bukan cuma ekonomi yang bangkrut. 
Semuanya hancur, termasuk juga moralnya. Dulu menurutnya, koruptornya masih bisa 
dihitung dengan jari. Sekarang, sudh membengkak berkali lipat.

      Melihat kondisi saat ini, Bang Ali teringat ramalan Ronggowarsito. Sekarang ini 
sudah zaman edan. Kita tidak punya tokoh untuk dicontoh, karena semuanya edan. Di 
samping itu, aparat juga kurang tegas. Hal ini kemungkinan karena gaji pegawai negeri 
itu paling cukup untuk 10 hari. Padahal, pada zaman ia memimpin dulu, gaji anggota 
DPRD ditentukan setidaknya 80 persen dari gaji DPR pusat.

      Menangani Ibu Kota menurutnya perlu penanganan serius dan berkelanjutan. Namun 
hal ini tidak berarti seorang gubernur harus menjabat hingga dua kali masa jabatan. 
Yang penting, menurutnya, harus ada program jangka panjang, misalnya untuk 20 tahun. 
Selain itu, pengganti gubernur yang menjabat itu nantinya tidak sok-sokan dengan terus 
menggagas idenya sendiri, seolah-olah ide gubernur lama itu salah dan hanya ia sendiri 
yang punya ide yang benar. Mereka harus meneruskan program itu. Membina kota itu bukan 
membina keluarga yang bisa beberapa tahun saja. 

      Di tingkat nasional pun sebetulnya juga harus ada program jangka panjang. 
Sehingga siapa pun yang jadi presiden mempunyai pegangan. Masalah yang ada sekarang 
ini adalah tidak adanya program jangka panjang berskala nasional. Program pembangunan 
jangka panjang praktis hancur setelah Indonesia dilanda krisis ekonomi sejak tahun 
1997. Perumusan program jangka panjang masih terus diupayakan dan masih menjadi wacana 
yang belum sampai pada solusi.

      Dulu Bang Ali menjabat Gubernur DKI Jakarta sampai dua periode (1966-1977). Satu 
tahun pertama digunakan untuk menentukan dasar-dasar pembangunan. Baru pada tahun 
kedua bisa menjalankan visi, misi, dan program yang telah dibuat. Kebetulan pada sat 
itu dirinya tidak terbawa intensitas politik nasional, jadi bisa konsentrasi pada 
program. Tokoh-tokoh politik nasional sendiri saat itu perhatiannya sibuk menjatuhkan 
Soekarno dari kursi presiden.

      Selama masa Orde Baru, Gubernur DKI kebanyakan berasal dari militer atau militer 
yang sudah pensiun. Hal ini dijelaskannya karena kekuasaan Orde Baru itu adalah 
kekuasaan tentara dan Golkar. Maka bukan hanya DKI saja melainkan banyak bupati dan 
gubemur di berbagai propinsi di Indonesia berasal dari tentara dan Golkar. Angkatan 
Darat pun menjadi alat kekuasaan. Tapi menurutnya itu bukanlah kesalahan institusi 
Angkatan Darat. Ini adalah masalah politik. Kesalahan ada pada mantan Presiden 
Soeharto.

      Ia juga bertanya, siapa yang melakukan perebutan kekuasaan dari Orde Lama ke 
Orde Baru? Tapi, sekarang apa ada masyarakat yang menuntut Soeharto untuk diadili? 
Yang dituntut hanya korupsi yayasan. Padahal yang dituntut korupsi itu hanya sebesar 
Rp 1,2 triliun. Jumlah itu termasuk kecil jika dibandingkan dengan utang nasional yang 
mencapai ratusan triliun rupiah. Belum lagi utang swasta yang banyak sekali.

      Sebagai ibukota yang dikelilingi kota-kota di sekitarnya, Pemerintah DKI perlu 
melakukan kerja sama dalam mengatasi masalah yang saling berkaitan dengan tetangganya. 
Masalah yang sering muncul di DKI adalah banjir kiriman dari Bogor. Jika DKI terjadi 
banjir, maka gubernur tidak bisa disalahkan begitu saja. Apalagi, banjir tersebut 
bukan karena tingginya curah hujan di Jakarta melainkan kiriman dari wilayah yang 
lebih tinggi dan menyalurkan air sungai ke Jakarta.

      Pada zaman Belanda terdapat sekitar 200 waduk untuk menampung air yang letaknya 
di Bekasi, Bogor, dan Tangerang. Sekarang sebagian besar sudah diuruk untuk 
pembangunan realestat oleh bupati-bupati di wilayah itu. Tidak lagi ada koordinasi 
antar pimpinan daerah.

      Hal tersebut juga berlaku bagi penanganan masalah sampah. Tangerang dan Bekasi 
tidak mau menampung sampah dari Jakarta. Padahal hidupnya Bekasi karena pengaruh dan 
perkembangan Jakarta. Adanya pabrik segala macam itu karena Jakarta telah penuh dengan 
pembangunan, maka terus merembet ke sana. Anggaran pendapatan di Bogor, Bekasi dan 
Tangerang sangat besar, melampaui kota-kota lain. Itu pun karena terimbas perekonomian 
di Jakarta. Kalau malam hari orang Jakarta tinggal di sana dan membayar pajak tanah 
dan rumah untuk ketiga daerah itu.

      Solusinya, antara Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) itu harusnya 
dibuat sebuah lembaga tersendiri, dipimpin oleh seorang yang mungkin setingkat 
menteri. Tugasnya menyelamatkan lingkungan kehidupan. Dulu waktu Bang Ali memimpin 
Jakarta sudah dicoba dilembagakan, tapi baru tahap semacam kantor perwakilan di 
Jakarta.

      Sebagai mantan perwira tinggi marinir, Ali Sadikin mengaku cukup prihatin dengan 
kemampuan dan kondisi Tentara Nasional Indonesia saat ini. Asrama tempat tinggal 
prajurit amat parah. Sementara sumbangan dari Presiden Megawati untuk asrama 
dipersoalkan. Ia menanyakan, apa sih sebenarnya maunya DPR itu. Bukan cuma 
kesejahteraan tentara yang turun, peralatan TNI pun sekarang kurang sekali. Kemampuan 
TNI sekarang sudah tertinggal dari Singapura dan Malaysia. "Apakah kita tidak malu?" 
tanyanya.

      Penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana diperolehnya bukan karena ia sering 
bertemu Megawati. Justru ia terakhir kali bertemu Mega ketika masih menjadi wakil 
presiden. Sedangkan pertemuan dengan suami Mega, Taufiq Kiemas, terjadi ketika Taufik 
datang menjenguknya. Kesempatan itu digunakan untuk membicarakan nasib tahanan politik 
dari Angkatan Laut yang jumlahnya sekitar 300 orang. Sebagai ketua tim advokasi 
tahanan politik Angkatan Laut, Ali minta nama mereka direhabilitasi, karena mereka 
ditahan belasan tahun tanpa diadili.

      Hasil pembicaraan itu dianggapnya ada kemajuan. Ada beberapa nama yang berhasil 
direhabilitasi, tetapi belum semuanya. Mereka itu, menurutnya, bukan PKI. "Tetapi ada 
pengkhianatan dan dibikin-bikin dan memang ada perintah dari atasan saat itu agar 
dihabiskan sejumlah orang sekian banyak. Ini yang saya perhatikan. Saya tidak ingin 
membawa dosa kalau saya mati. Ini kalau tidak diselesaikan, akan sampai ke anak cucu. 
Ini suatu kejahatan yang bukan main," demikian pidato tidak resmi Bang Ali.

      Ia juga berbicara tentang nasib nama Bung Karno yang namanya belum dipulihkan 
karena ada beberapa Ketetapan MPRS XXXIII Tahun 1967 yang tidak dicabut. "Seperti 
nasib Bung Karno sekarang, DPR lepas tangan. Katanya ini enmalig, apa itu enmalig. 
Padahal, dalam Ketetapan MPRS dikatakan pemerintah harus menyelesaikan secara hukum." 

      Menilai kehidupan saat ini yang dianggap mulai stabil, Bang Ali justru 
mempertanyakannya. "Apanya yang stabil? Hidup rakyat itu bukan semata-mata politik, 
tapi ekonominya. Dolar turun, tetapi harga kok naik terus. Orang saling bunuh, 
perampokan segala macam, itu karena mereka lapar."

      Untuk itu, ia meminta pemerintah lebih memperhatikan persoalan rakyat di bawah. 
"Sekarang berat. Negaranya dalam keadaan susah. Para politikus bertengkar terus, tidak 
memikirkan rakyat. Nafsunya untuk mendapatkan kekayaan begitu hebat. Lihat pegawai 
negeri ABRI itu (maksudnya TNI sekarang-Red), gajinya berapa? Mungkin hanya cukup 
untuk makan lima hari, seperti kalian wartawan. Sementara itu, beberapa orang lainnya 
mendapatkan penghasilan puluhan juta," ujarnya.

      Bagaimana hubungan Bang Ali dengan keluarga Bung Kamo? Dengan bangga Bang Ali 
menanyakan, siapa yang membangun rumah untuk Megawati, Guruh, atau Sukmawati? Ia juga 
menjawab pertanyaan itu bahwa Pemda DKI lah yang membuat rumah mereka di Cempaka 
Putih, Jakarta Pusat. Juga izin pemilikan pompa bensin. Semua itu dilakukan ketika ia 
masih menjabat Gubernur DKI. Guruh Soekarnoputra pun mendapat bagian. Pemberian itu 
dimaksudkan sebagai bekal hidup anak mantan presiden. Ia pun membandingkan dengan anak 
mantan Presiden Soeharto yang sekarang punya ratusan perusahaan.

      Meskipun pada waktu Presiden Soeharto berkuasa ia pernah dicekal, namun hal itu 
tak jadi halangan untuk menjalin tali silaturahmi. Misalnya, lebaran tahun 2001 ia 
datang ke rumahnya. Pada saat itu ada Ali Alatas (bekas Menteri Luar Negeri). Karena 
waktu itu Pak Harto sudah tidak bisa bicara, jadinya dua Ali yang ngobrol (Ali Sadikin 
dan Ali Alatas). Setelah itu mereka makan hidangan Lebaran.

      Pencekalan itu ternyata tidak membuatnya sakit hati. Ia ikhlas, malah mengaku 
untung dicekal. Karena pencekalan itu anak, istri, dan dirinya sendiri tidak bisa ke 
luar negeri, malah bisa menghemat. Selama hidupnya, ia belum pernah bersama anak-anak 
rekreasi ke luar negeri. Di dalam negeri pun hanya sekali, itu pun ke Bali.

      Pengalaman, ketokohan, dan kematangannya sebenarnya merupakan modal besar 
baginya untuk dapat mendirikan salah satu partai politik atau bergabung dengan partai 
politik yang sudah ada. Namun, ia tidak mau melakukan itu. Tawaran dari partai politik 
tidak hanya satu tapi beberapa kali datang dari partai berbeda. Namun ia menolak itu 
semua dengan alasan ingin mandiri.

      Lain parpol lain pula dengan Petisi 50, forum diskusi kritis yang dibidaninya 
tahun 1980 yang menyebabkannya dicekal pemerintahan Orde Baru. Sebagai pendiri Petisi 
50, Bang Ali berminat mengadakan diskusi lagi. Menurutnya, misi Petisi 50 adalah 
mengajarkan demokrasi yang sebenarnya yaitu untuk memperbaiki nasib bangsa. Bukan 
untuk jadi presiden.

      Ketika ditanyakan, siapa kira-kira yang pantas menjadi presiden setelah Pemilu 
2004, dengan lugas ia menjawab, "Nurcholish Madjid (sambil mengacungkan jempol)." 
Menurutnya, sosok Cak Nur adalah yang terbersih dan paling memiliki harapan untuk 
perbaikan masa depan bangsa di antara calon presiden lainnya. Bang Ali memandang 
positif ketika Cak Nur mengeluarkan pernyataan pembubarkan HMI (Himpunan Mahasiswa 
Islam). Karena kenyataannya yang korupsi banyak orang HMI.

      Sejak tahun 1959 hingga 1977, Ali Sadikin memegang beberapa jabatan seperti 
Deputi Kepala Staf Angkatan Laut, Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja, Menteri 
Koordinator Kompartemen Maritim/Menteri Perhubungan Laut Kabinet Dwikora dan Kabinet 
Dwikora yang disempurnakan, dan terakhir Gubernur Jakarta selama 11 tahun.

      Setelah tahun 1977, namanya menjadi populer karena menjadi tokoh Petisi 50 yang 
menentang secara terbuka pemerintahan rezim Soeharto. Ia dicekal, tetapi tidak pernah 
dipenjara atau diajukan ke pengadilan.

      Selama empat tahun terakhir ini ia tidak banyak melakukan kegiatan fisik, 
termasuk menghindari datang ke resepsi-resepsi atau ceramah-ceramah. "Ini perintah 
dokter dan saya berdisiplin terhadap menu makanan. Untuk datang ke acara seperti di 
istana ini, sebenarnya saya juga tidak diperbolehkan. Maka sebaiknya saya tidak 
diundang lagi ke sini," ujarnya.

      Kegiatan terakhir yang banyak dilakukan adalah mengkliping koran dan menggarisi 
kalimat-kalimat di artikel koran dengan stabilo. Sampai kini setiap pagi ia masih 
terus membaca paling tidak 30 koran.

      Akan tetapi, kegembiraan yang dimiliki Ali Sadikin ialah kebersamaannya setiap 
saat dengan putra bungsunya, yaitu Yasser Umarsyah Sadikin, murid kelas dua SMP Global 
Bintaro. Ini hadiah dari Tuhan yang tiada taranya.
        

       (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), dari berbagai sumber.
     



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas UrangSunda --> http://www.UrangSunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke