|
Kasus
Amanda
Dear Bapak & Ibu, Sekedar buat bahan renungan demi putra-putri kita nantinya. Minggu, 01 Agt 2004, Mahasiswi Universitas Trisakti yang Dibunuh Kekasihnya Teman Kuliahnya Solider; Hentikan Ujian, lalu Salat Berjamaah Amanda Devina ditemukan tewas mengenaskan. Mahasiswi Universitas Trisakti, Kejam dan sadis. Kata ini pantas diberikan kepada Ronald Johanes P. Ardean, 23, mahasiswa Universitas Trisakti yang tega menghabisi nyawa kekasihnya, Amanda Devina, 22. Pembunuhan itu dilaksanakan di rumah Ronald, Perumahan Untuk menghilangkan jejak, Ronald membuang mayat Amanda di jalanan di Kemarin, mayat Amanda ditemukan warga yang mencium bau busuk dari Nissan Terrano berwarna silver dengan nopol B 1167 QU di Jl Soekarno Hatta, Situ Haur, Ronald kini sudah diamankan polisi. Saat diperiksa polisi kemarin, dia mengaku terus terang telah membunuh Amanda. Tapi, dia membantah sengaja menghabisi nyawa gadis hitam manis itu. "Lehernya hanya saya cekik sedikit. Dan mukanya saya tutup bantal," aku anak dokter itu. Ronald juga menepis tudingan bahwa dia tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan Amanda. Bahkan, yang mengagetkan, Ronald juga mengaku bukan kekasih Amanda. "Sebetulnya, Amanda itu berpacaran dengan Acok. Hubungan mereka memang sedang ada masalah. Kemudian, mulai tahun lalu, dia curhat ke saya mengenai semua masalah. Lama-kelamaan, saya jadi dekat. Tapi, terus terang, belum dikatakan pacaran. Belum ada kata cinta. Soal sayang-sayangan sih memang ya. Orang tua Amanda juga nggak menganggap kami pacaran," aku Ronald yang sedang magang kerja di sebuah BUMN itu. Meski tidak mau disebut pacaran, hubungan Ronald-Amanda semakin akrab saja. Singkatnya, keduanya melakukan hubungan intim layaknya suami-istri pada Februari 2004 lalu. "Seingat saya, kami melakukan hubungan intim tujuh kali. Yang enam kali pakai kondom," ungkapnya. "Kalau hanya sekali tidak pakai kondom, kok bisa jadi?" tanya polisi. Ronald tertunduk sejenak sebelum memberikan jawaban. "Saya yakin janin di perut Amanda bukan dari saya. Sebab, hanya sekali yang tidak pakai kondom. Itu saya lakukan beberapa jam sebelum pembunuhan," paparnya. "Tapi, saya tetap mau bertanggung jawab sebetulnya," sambungnya. "Namun, mengapa Amanda dibunuh?" kejar polisi. Ronald lantas mengisahkan kronologi kematian mahasiswi jurusan teknik elektro itu. Rabu lalu (28 Juli) dia menelepon Amanda. Dia meminta Amanda datang ke rumahnya. "Karena tempat kerja saya di seberang Kantor SCTV (Jalan Gatot Subroto), kami janjian bertemu di dekat SCTV. Saat ke rumah, saya yang pegang kemudi Nissan Terrano milik Amanda. Kebetulan, semua anggota keluarga saya sedang berada di luar rumah. Selanjutnya, kami ngobrol dan sayang-sayangan. Pokoknya, semuanya berlangsung seperti biasa," ujarnya. Sehabis berhubungan badan, mereka mengobrol santai. Amanda sempat menyinggung agar Ronald bertanggung jawab atas kandungannya yang semakin besar. "Saya jawab, pasti bertanggung jawab," utturnya. Ronald mengaku, saat itu sempat ada pembicaraan untuk memudahkan pernikahan sebaiknya salah satu pindah agama. Ronald -beragama Kristen- meminta Amanda (muslimah) pindah agama. Tapi, Amanda menolak. Sebab, sebentar lagi ayahnya mau pergi haji. Jadi, itu tidak mungkin dilakukan. "Tetapi, tetap saya tegaskan, saya akan bertanggung jawab," ungkapnya. "Tapi, Amanda tetap saja kurang yakin. Makanya, saya kesal, lalu membekap mulutnya pakai tangan. Tapi, dia terus meronta-ronta. Akhirnya tangan saya spontan turun ke leher. Otomatis, posisi tangan mencekik." Ronald mengatakan, Amanda terus meronta dan menggigit tangannya. Karena itu, dia terus mencekik dan menutup wajah Amada dengan bantal. "Mendengar jeritannya sebetulnya takut juga. Saya nggak menyangka dia kemudian meninggal," katanya sambil menangis. Mengetahui Amanda meninggal, Ronald panik. Dia memasukkan mayat Amanda ke Nissan Terrano. Rencananya, mayat kekasihnya itu dibuang di kawasan Lenteng Agung, banyak tukang ojek. Dia lalu bergerak mendekati kampus Universitas (UI), Depok. Tapi, lagi-lagi Ronald tidak jadi melaksanakan niatnya. "Sebab, saat itu di UI banyak mahasiswa nongkrong," katanya. Lantas, mobil itu dilarikan ke Ciawi, terus Cianjur, lalu Puncak, Ciranjang, dan akhirnya ke "Di Bandung sebetulnya banyak orang. Tapi, saya pura-pura parkir dan mobil ditinggal begitu saja," jelasnya. Yang menarik, sebelum pergi Ronald meninggalkan pesan di dalam mobil. "Awas Sapto, Anda berikutnya," begitu tulisan tangan Ronald di secarik kertas yang ditinggal di atas dashboard. Sapto Hartoyo adalah bapak Amanda. Ronald sengaja meninggalkan pesan itu untuk mengecoh polisi. Dia berharap, polisi berpikir bahwa pembunuh Amanda adalah orang yang mempunyai dendam dengan Sapto. Ternyata perkiraan Ronald meleset. Sebab, polisi berhasil menangkapnya. Polisi yang menerima laporan Sapto karena putrinya tidak pulang selama dua hari segera memeriksa teman-teman Amanda. Saat itu, polisi mencurigai Ronald yang sering membuat pengakuan tidak konsisten. Pengakuannya sering berubah-ubah. (sor) Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
|
<<attachment: Amanda.jpg>>
<<attachment: Ronald.jpg>>

