Prestasi anu pika-reueuseun ti tatar Sunda. Mungkin masih kulawargina kang mh?
punten teu di-sunda-keun
SUARA PEMBARUAN DAILY
---------------------------------------------------------------------
-----------
Para Siswa SMP pun Mampu Mendeteksi Pencemaran
AFP
Pencemaran di perairan bisa mengakibatkan ikan-ikan mati. Pencemaran
umumnya karena bahan kimia.
DENGAN jaring ikan sederhana, baki, kaca pembesar dan mewawancarai
langsung penduduk di sekitar hulu dan hilir Sungai Cipacing, Garut,
para siswa SMP 1 Cibatu, Garut, Jawa Barat, dapat menarik kesimpulan
bahwa telah terjadi pencemaran di sungai itu.
Fenomena itu bahkan sepanjang hulu dan hilir yang berarti semakin
padat penduduk semakin banyak ditemui adanya sampah, baik itu sampah
plastik maupun sampah detergen. Hal lainnya, keragaman hayati
semakin berkurang bila dibandingkan di hulu sungai.
Penentuan adanya pencemaran di Sungai Cipacing, Garut itu tidak
serumit pencemaran di Teluk Buyat, Minahasa, Sulawesi Utara. Meski
sudah terbukti biota laut seperti ikan mengalami benjol-benjol,
masyarakat sekitar mengalami benjol di berbagai bagian tubuh,
malahan yang terbaru, kadar darah mengandung merkuri di atas ambang
batas dan pemerintah masih belum mengakui telah terjadi pencemaran.
Padahal, menilik hasil penelitian siswa SMP 1 Cibatu, Garut yang
sederhana, dapat diketahui dan didetksi apakah ada pencemaran atau
tidak. Hasil kerja mereka pun bukan berarti tidak layak dipercaya.
Buktinya, para siswa tersebut diundang untuk mempresentasikan hasil
penelitiannya di Aleksandria, Mesir, 11-15 September mendatang dalam
pertemuan tahunan Global Evironment for Youth Conference (GYEC).
Penelitian para siswa SMP itu dianggap berhasil memadukan ilmu
pengetahuan dengan lingkungan sekitar. Penelitian semacam itu
dianggap berhasil mengembangkan sikap kepedulian siswa terhadap
lingkungan, sekaligus memahami ilmu pengetahuan. Sayangnya,
kesuksesan mereka masih belum dapat ditunjukkan pada dunia
internasional. Kendalanya, apalagi kalau bukan dana. "Kami tidak
mempunyai dana untuk memberangkatkan empat siswa itu ke
Aleksandria," kata Deny Suwarja, guru Biologi di SMP 1 Cibatu yang
juga membimbing para siswa dalam melakukan penelitian.
Sejak bulan September 2003, Deny melakukan Science Beyond the
Classroom (SBC) yang membimbing para siswa melakukan penelitian
lingkungan di lingkungan sekitar. SBC ini, merupakan kolaborasi Deny
dengan Chona L Maderal, pengajar Makati Science High School,
Filipina. Selain mendapat kesempatan tampil di ajang GEYC, SBC yang
dilakukan membuat Deny Suwarja berhak mempresentasikan metode
pengajaran sains itu di Asia Europe Classroom International
Conference (AECIC) yang berlangsung di Jerman, September mendatang.
Nasib Deny boleh dikatakan lebih beruntung. Dengan bantuan LIPI, dia
berhasil mendapat bantauan dari dua pengusaha, Ahmad Kalla dan J
Ghopald untuk membeli tiket ke Jerman. Kedua pengusaha itu
memberikan US$1.250 bagi perjalanan Deny ke Jerman.
Langsung ke Lapangan
Sebelum melakukan SBC, metode pengajaran sains dengan terjun
langsung ke lapangan sudah dilakukan Deny sejak tahun 2000. Metode
itu dia pilih setelah selama mengajar biologi dia merasa tidak
mendapat kepuasan. "Saya tidak puas dengan suasana kelas yang kering
dan siswa tidak antusias menerima pelajaran. Sejak tahun 2000,
metode mengajar saya ubah. Anak-anak saya ajak langsung ke
lapangan," tuturnya.
Mereka diajarkan melihat langsung yang namanya tumbuhan biji
terbuka, tumbuhan biji tertutup dan apa saja ciri-ciri tumbuhan
itu. "Dengan cara seperti itu siswa lebih dapat memahami sains dan
lebih peduli lingkungan," katanya.
Setelah itu para siswa bebas mengumpulkan informasi dari mana saja
untuk memperkaya pengetahuan. Dapat dikatakan, metode mengajar yang
dilakukan Deny merupakan langkah maju dalam melakukan proses
pembelajaran. Metode seperti itu akan dilakukan pemerintah melalui
perubahan kurikulum yang belum jelas kapan dilaksanakan.
Sementara Deny telah melakukan hal tersebut bertahun-tahun yang lalu
dan dia mendapat respons yang positif dari para siswa, akhirnya pada
tahun 2003 dalam pertemuan AECIC di Bogor, proposal itu disetujui
untuk dipresentasikan pada pertemuan tahun 2004. Proyek yang dia
kerjakan, dimulai sejak September 2003 hingga Juni 2004. Dia segera
menjaring para siswa yang berminat melakukan penelitian dan
mempunyai concern di bidang lingkungan. Hasilnya, 20 siswa kelas II
dan III tergabung di SBC.
Sepanjang September 2003 hingga Februari 2004, setiap akhir pekan
Deny mengajak para siswa ke Sungai Cipacing untuk melakukan
observasi. Selain itu dia juga rutin mengajak para siswa ke warung
internet (warnet). Dengan begitu para siswa dapat menggali informasi
sebanyak-banyaknya juga berhubungan dengan para siswa dari berbagai
negara.
Mereka juga membuat website yang berisi hasil-hasil penelitian yang
sudah dilakukan. Mereka berada di warnet biasanya 3-4 jam. Warnet
yang mempunyai 4 komputer itu digunakan secara bergantian.
Mengingat minimnya dana, seringkali Deny harus membiayai sendiri
biaya warnet itu. Untungnya, beberapa teman bersimpati ikut
memberikan bantuan. "Lebih dari 80 proposal sudah saya sebarkan
untuk meminta bantuan. Tetapi tidak ada yang berhasil," katanya.
Kerja keras Deny akhirnya membuahkan hasil pada Maret 2004.
Universitas Terbuka bersedia membantu 4 unit komputer dan Kandatel
Garut setuju memasang kabel internet di SMP 1 Cibatu. Dengan begitu,
setiap minggu dia tidak perlu lagi membawa para siswanya ke warnet.
Meski dana serba terbatas, Deny mengaku enggan untuk datang ke dinas
pendidikan, baik kabupaten, kota maupun pemerintah pusat.
"Saya khawatir kalau program saya dijadikan proyek. Nanti saya harus
tanda tangan kuitansi kosong. Teman saya di Jawa Timur pernah
mengalami kejadian seperti itu. Makanya saya memilih lebih baik
menggunakan dana seadanya, dan saya yakin Tuhan itu pemurah,"
katanya yakin.
Doa Deny terkabulkan. Akhirnya dia dapat menginjakkan kaki ke Eropa
September mendatang. "Doakan saja ada donatur yang mau membiayai
anak-anak ke Aleksandria," ujar Deny penuh harap.
- PEMBARUAN/ALFI SYAKILA
---------------------------------------------------------------------
-----------
Para Siswa SMP pun Mampu Mendeteksi Pencemaran
AFP
Pencemaran di perairan bisa mengakibatkan ikan-ikan mati. Pencemaran
umumnya karena bahan kimia.
DENGAN jaring ikan sederhana, baki, kaca pembesar dan mewawancarai
langsung penduduk di sekitar hulu dan hilir Sungai Cipacing, Garut,
para siswa SMP 1 Cibatu, Garut, Jawa Barat, dapat menarik kesimpulan
bahwa telah terjadi pencemaran di sungai itu.
Fenomena itu bahkan sepanjang hulu dan hilir yang berarti semakin
padat penduduk semakin banyak ditemui adanya sampah, baik itu sampah
plastik maupun sampah detergen. Hal lainnya, keragaman hayati
semakin berkurang bila dibandingkan di hulu sungai.
Penentuan adanya pencemaran di Sungai Cipacing, Garut itu tidak
serumit pencemaran di Teluk Buyat, Minahasa, Sulawesi Utara. Meski
sudah terbukti biota laut seperti ikan mengalami benjol-benjol,
masyarakat sekitar mengalami benjol di berbagai bagian tubuh,
malahan yang terbaru, kadar darah mengandung merkuri di atas ambang
batas dan pemerintah masih belum mengakui telah terjadi pencemaran.
Padahal, menilik hasil penelitian siswa SMP 1 Cibatu, Garut yang
sederhana, dapat diketahui dan didetksi apakah ada pencemaran atau
tidak. Hasil kerja mereka pun bukan berarti tidak layak dipercaya.
Buktinya, para siswa tersebut diundang untuk mempresentasikan hasil
penelitiannya di Aleksandria, Mesir, 11-15 September mendatang dalam
pertemuan tahunan Global Evironment for Youth Conference (GYEC).
Penelitian para siswa SMP itu dianggap berhasil memadukan ilmu
pengetahuan dengan lingkungan sekitar. Penelitian semacam itu
dianggap berhasil mengembangkan sikap kepedulian siswa terhadap
lingkungan, sekaligus memahami ilmu pengetahuan. Sayangnya,
kesuksesan mereka masih belum dapat ditunjukkan pada dunia
internasional. Kendalanya, apalagi kalau bukan dana. "Kami tidak
mempunyai dana untuk memberangkatkan empat siswa itu ke
Aleksandria," kata Deny Suwarja, guru Biologi di SMP 1 Cibatu yang
juga membimbing para siswa dalam melakukan penelitian.
Sejak bulan September 2003, Deny melakukan Science Beyond the
Classroom (SBC) yang membimbing para siswa melakukan penelitian
lingkungan di lingkungan sekitar. SBC ini, merupakan kolaborasi Deny
dengan Chona L Maderal, pengajar Makati Science High School,
Filipina. Selain mendapat kesempatan tampil di ajang GEYC, SBC yang
dilakukan membuat Deny Suwarja berhak mempresentasikan metode
pengajaran sains itu di Asia Europe Classroom International
Conference (AECIC) yang berlangsung di Jerman, September mendatang.
Nasib Deny boleh dikatakan lebih beruntung. Dengan bantuan LIPI, dia
berhasil mendapat bantauan dari dua pengusaha, Ahmad Kalla dan J
Ghopald untuk membeli tiket ke Jerman. Kedua pengusaha itu
memberikan US$1.250 bagi perjalanan Deny ke Jerman.
Langsung ke Lapangan
Sebelum melakukan SBC, metode pengajaran sains dengan terjun
langsung ke lapangan sudah dilakukan Deny sejak tahun 2000. Metode
itu dia pilih setelah selama mengajar biologi dia merasa tidak
mendapat kepuasan. "Saya tidak puas dengan suasana kelas yang kering
dan siswa tidak antusias menerima pelajaran. Sejak tahun 2000,
metode mengajar saya ubah. Anak-anak saya ajak langsung ke
lapangan," tuturnya.
Mereka diajarkan melihat langsung yang namanya tumbuhan biji
terbuka, tumbuhan biji tertutup dan apa saja ciri-ciri tumbuhan
itu. "Dengan cara seperti itu siswa lebih dapat memahami sains dan
lebih peduli lingkungan," katanya.
Setelah itu para siswa bebas mengumpulkan informasi dari mana saja
untuk memperkaya pengetahuan. Dapat dikatakan, metode mengajar yang
dilakukan Deny merupakan langkah maju dalam melakukan proses
pembelajaran. Metode seperti itu akan dilakukan pemerintah melalui
perubahan kurikulum yang belum jelas kapan dilaksanakan.
Sementara Deny telah melakukan hal tersebut bertahun-tahun yang lalu
dan dia mendapat respons yang positif dari para siswa, akhirnya pada
tahun 2003 dalam pertemuan AECIC di Bogor, proposal itu disetujui
untuk dipresentasikan pada pertemuan tahun 2004. Proyek yang dia
kerjakan, dimulai sejak September 2003 hingga Juni 2004. Dia segera
menjaring para siswa yang berminat melakukan penelitian dan
mempunyai concern di bidang lingkungan. Hasilnya, 20 siswa kelas II
dan III tergabung di SBC.
Sepanjang September 2003 hingga Februari 2004, setiap akhir pekan
Deny mengajak para siswa ke Sungai Cipacing untuk melakukan
observasi. Selain itu dia juga rutin mengajak para siswa ke warung
internet (warnet). Dengan begitu para siswa dapat menggali informasi
sebanyak-banyaknya juga berhubungan dengan para siswa dari berbagai
negara.
Mereka juga membuat website yang berisi hasil-hasil penelitian yang
sudah dilakukan. Mereka berada di warnet biasanya 3-4 jam. Warnet
yang mempunyai 4 komputer itu digunakan secara bergantian.
Mengingat minimnya dana, seringkali Deny harus membiayai sendiri
biaya warnet itu. Untungnya, beberapa teman bersimpati ikut
memberikan bantuan. "Lebih dari 80 proposal sudah saya sebarkan
untuk meminta bantuan. Tetapi tidak ada yang berhasil," katanya.
Kerja keras Deny akhirnya membuahkan hasil pada Maret 2004.
Universitas Terbuka bersedia membantu 4 unit komputer dan Kandatel
Garut setuju memasang kabel internet di SMP 1 Cibatu. Dengan begitu,
setiap minggu dia tidak perlu lagi membawa para siswanya ke warnet.
Meski dana serba terbatas, Deny mengaku enggan untuk datang ke dinas
pendidikan, baik kabupaten, kota maupun pemerintah pusat.
"Saya khawatir kalau program saya dijadikan proyek. Nanti saya harus
tanda tangan kuitansi kosong. Teman saya di Jawa Timur pernah
mengalami kejadian seperti itu. Makanya saya memilih lebih baik
menggunakan dana seadanya, dan saya yakin Tuhan itu pemurah,"
katanya yakin.
Doa Deny terkabulkan. Akhirnya dia dapat menginjakkan kaki ke Eropa
September mendatang. "Doakan saja ada donatur yang mau membiayai
anak-anak ke Aleksandria," ujar Deny penuh harap.
- PEMBARUAN/ALFI SYAKILA
Do you Yahoo!?
Take Yahoo! Mail with you! Get it on your mobile phone.
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
|
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

