Di Cigugur, Kuningan anu geus diklaim ku inohong setempat sebagai pusat
peradaban Sunda, bahasa Sunda tos dipakai acara resmi gereja. Acarana
ditayangkan ku TV.

nas
----------

----- Original Message -----
From: "Gunawan Yusuf" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <Undisclosed-Recipient:;>
Sent: Sunday, January 19, 2003 10:00 AM
Subject: [Urang Sunda] Gerakan Pemurtadan Pasundan


>
> -----
> > Hancurkan Gerakan Pemurtadan Pasundan
> >
> > Pemurtadan sudah berjalan sejak masa kolonial Belanda. Berdirinya gereja
> di perbatasan kota di Jawa Barat berfungsi untuk memotong jalinan ukhuwah
> umat Islam Pasundan. Benarkah?
> >
> > Jika suatu waktu Anda berkunjung kepesosok tanah Sunda, Jawa Barat, Anda
> akan melihat cahaya Islam memancar dari masyarakatnya. Jika waktunya tiba,
> dengan mengenakan kerudung sambil menenteng al-Qur'an, orang dewasa dan
> anak-anak perempuan Sunda berbondong-bondong menuju langgar-langgar atau
> mushallah-mushallah untuk menegakkan shalat sambil mengaji al-Qur'an.
> Meskipun masih relatif kecil, namun mereka telah fasih membaca bait-bait
> ayat al-Qur'an.
> >
> > Demikian pula dengan para lelakinya. Dengan memakai sarung dan peci,
> mereka pun berduyun-duyun menuju langgar untuk menunaikan kewajiban shalat
> sambil dengan sabar dan tekun menyimak serta mendengar uraian pelajaran
> Islam dari para guru ngaji.
> > Tak hanya saat shalat, cahaya Islam pun nampak dalam kehidupan mereka
> sehari-hari. Prinsip ukhuwah Islamiyah telah mereka jalankan sejak ratusan
> tahun silam. Misalnya, jika ada salah seorang dari tetangganya mengalami
> musibah, maka tanpa harus diperintah, kaum Muslimin lainnya
'berlomba-lomba'
> memberikan bantuannya.
> >
> > Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika tanah Pasundan sering dijuluki
> sebagai Serambi Makkahnya Jawa. Itu disebabkan nilai-nilai Islam telah
> melekat dalam diri masyarakat Sunda dalam kurun waktu yang lama. Ibarat
> darah yang mengalir dalam tubuh, Islam tidak bisa dipisahkan dari
masyarakat
> Parahyangan. Islam telah mendarah daging sekaligus menjadi spirit
perjuangan
> masyarakat Sunda.
> > Namun, cahaya Islam yang telah menerangi masyarakat Sunda sejak ratusan
> tahun lalu itu, kini dihalangi oleh gerakan pemurtadan. Kristenisasi yang
> dijalankan secara sistemik, terencana dan terukur ini telah berubah wujud
> menjadi dracula dan hantu yang setiap saat siap memangsa kaum Muslimin
> Sunda.
> > Hasilnya, tak bisa dianggap enteng atau hanya dipandang sebelelah mata.
> Dengan gerakan kristenisasi yang gencar, tak sedikit masyarakat Sunda yang
> akidahnya goyang, kemudian pindah keyakinan alias murtad. Bahkan ada juga
di
> antara mereka yang selanjutnya aktif sebagai penginjil.
> > Dalam perkembangannya, gerakan penginjilan ini tidak hanya menggerogoti
> akidah masyarakat Sunda, namun juga menjauhkan mereka dari Islam yang
telah
> menjadi keyakinan para leluhurnya. Dengan memakai berbagai cara atau
modus,
> mereka menjadikan Tanah Pasundan sebagai ladang subur pemurtadan.
> > Tengok saja pemurtadan yang terjadi di Desa Gugunungan, Cisewu, Garut
> Selatan. Dari informasi yang diterima SABILI, mahasiswa dari sejumlah
> universitas Kristen, seperti Universitas Kristen Maranatha sering
> membagi-bagikan bantuan, berupa makanan dan uang kepada masyarakat.
> >
> > Hasilnya, sudah ada sebelas Kepala Keluarga (KK) yang menjadi murtad.
> Salah seorang murtadin, yang dulunya pernah mendapat bantuan uang tiga
juta
> rupiah, Solihin, dikabarkan gencar melakukan pemurtadan ke masyarakat
dengan
> mengiming-iming bantuan jika masyarakat mau masuk Kristen.
> > Tak lama setelah berhasil memurtadkan sebelas KK, berdiri pula sebuah
> gereja di tengah-tengah masyarakat. Namun, dibantu Ikatan Pemuda dan
> Mahasiswa Masjid (IMAJID) dan Ustadz Totoh Abdul Fatah, antara tahun
> 1997-2000 situasinya berbalik. Sepuluh KK yang tadinya murtad berhasil
> ditarik ke dalam Islam. Bahkan, karena emosi warga sudah tak terkendali,
> akhirnya gereja tersebut dirobohkan warga.
> > Meski mendapat perlawanan dari warga, usaha kristenisasi terus saja
> berjalan. Setelah IMAJID jarang ke sana, mereka berhasil memurtadkan
kembali
> sedikitnya tujuh KK. Bahkan, empat bulan lalu muncul kembali Gereja
Pasundan
> yang didirikan dekat rumah Solihin. "Padahal, dulu mereka sudah berjanji
> tidak akan mendirikan gereja kembali di sana," kata Ketua Divisi Anti
> Pemurtadan FUUI Erwin Mustofa.
> > Masih di Garut. Jika terhadap masyarakat di Desa Gugunungan Cisewu
mereka
> mengiming-imingi uang dan makanan, lain lagi kepada para tukang becak.
> Klinik Bethesda di Garut menjalankan pemurtadan melalui pengobatan gratis.
> Hal ini menimpa salah seorang tukang becak yang sering mangkal di depan
> rumah sakit Kristen tersebut.
> >
> > Menurut cerita salah seorang temannya, setelah pihak rumah sakit
> membebaskan seluruh biaya rumah sakit salah seorang anggota keluarganya
> tersebut, tukang becak yang semula rajin ke masjid ini tak datang-datang
> lagi ke masjid. Ia dan keluarganya mempunyai kegiatan baru, yakni
mengikuti
> kebaktian di gereja.
> > Setelah kasus tersebut, anehnya hampir seluruh becak yang mangkal di
depan
> Klinik Bethesda tersebut dipasangi simbol Bethesda. Maka spontan saja
muncul
> dugaan bahwa ratusan tukang becak telah dimurtadkan pihak Klinik Bethesda.
> Meskipun kemudian pihak klinik membantah keras tudingan miring tersebut.
> >
> > Tak hanya bagi-bagi uang dan pengobatan gratis, pihak gereja juga gencar
> membeli tanah penduduk untuk memperlancar misi pemurtadannya. Setelah
> mendapatkannya, mereka segera membangunnya, kemudian memakainya untuk
> kebaktian. "Pernah ketika kami shalat suara piano bernyanyi dengan
kencang,"
> aku Akun Rukendar, tokoh agama Garut.
> > Gerakan pemurtadan di Bandung tak kalah serunya. Pusat pemurtadan di
> Bandung terjadi di beberapa titik. Di Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung
> misalnya, modus pemurtadan dilakukan melalui sistem rentenir atau berkedok
> Koperasi Simpan Pinjam (Kosipa). Masyarakat diberi pinjaman sebesar
seratus
> ribu rupiah. Namun yang diberikan hanya sebesar sembilan puluh ribu rupiah
> karena sepuluh ribu dijadikan pembayaran awal.
> > Peminjam diberi kesempatan melunasi selama satu bulan. Bila belum bisa
> melunasinya, ia akan diberi kelonggaran, bahkan diberi pinjaman lagi. Bila
> utangnya menumpuk dan tidak dapat melunasinya, mereka akan membebaskannya
> asal ia pindah ke agama Kristen atau kalau tidak mau bisa ditulis di KTP
> saja untuk keperluan administrasi.
> > Dari laporan yang diterima SABILI, kegiatan pemurtadan melalui sistem
> rentenir tersebut, hingga kini berhasil memurtadkan tujuh orang. Bahkan,
ada
> juga seorang Muslimah yang awalnya dipacari, dihamili, dinikahkan dan
> akhirnya dimurtadkan. "Menyikapi hal ini kami menggadakan program beasiswa
> dan juga berusaha mendirikan koperasi simpan pinjam tanpa bunga kepada
kaum
> Muslimin," kata Erwin.
> > Gerakan penginjilan di Kawasan Punclut, Ciambuleuit, Kota Bandung lain
> lagi. Kaum Salibis gencar melakukan pemurtadan dengan metode pengobatan
> alternatif. Mereka membagi-bagikan brosur pengobatan ala Kristen ini
kepada
> kaum Muslimin.
> > Kali ini di Parongpong, Kabupaten Bandung. Sejumlah universitas Kristen,
> misalnya Universitas Advent Indonesia mencetak para misionaris yang hafal
> al-Qur'an, pandai berbahasa Arab (menguasai nahwu dan sharaf), lihai
> memahami hadits Rasulullah saw dan mencukur kumis memanjangkan jenggot
yang
> menjadi ciri orang Islam.
> >
> > Dengan berbekal ilmu tersebut, mereka gencar mendangkalkan pemahaman
agama
> warga Parongpong. Hasil pelacakan SABILI, sejak beberapa tahun lalu
> Parongpong telah menjadi lahan empuk gerakan kristenisasi. Ironisnya,
banyak
> Muslim Parongpong yang telah berhasil dimurtadkan.
> > Gerakan kristenisasi di Cianjur lebih ngeri lagi. Ciranjang adalah pusat
> pemurtadan di Cianjur. Di daerah ini, pemurtadan boleh dibilang nyaris
> berjalan sempurna. Dari jerih payah para evangelis Kristen, sedikitnya
> masyarakat di lima Rukun Tetangga (RT) sudah berhasil dimurtadkan.
> > Ironisnya, di Ciranjang ini, sudah ada masjid yang berubah menjadi
gereja.
> Bahkan, kaum Nasrani Ciranjang tak lagi menghormati kaum Muslimin. Saat
umat
> Islam menegakkan Shalat Jum'at misalnya, mereka justru sengaja melakukan
> kebaktian dengan pengeras suara yang kencang. "Rencananya, mereka akan
> menjadikan Ciranjang sebagai pusat komunitas Kristen di wilayah Jawa
Barat,"
> kata Erwin.
> > Kristenisasi juga menyeruak di Tasikmalaya. Di kota dengan julukan
seribu
> pesantren ini, sasaran gerakan pemurtadan dilakukan di kawasan penduduk
> miskin, terutama di wilayah Campaka Warna yang kebanyakan penduduknya
memang
> berada di garis kemiskinan.
> > Sumber SABILI menyebutkan, kristenisasi di Tasikmalaya menyeruak pertama
> kali sejak tahun 1997. Awalnya, gerakan pemurtadan ini dilakukan
> sembunyi-sembunyi dengan berkedok lembaga sosial, seperti Yayasan Gamalia
> atau Cinta Kasih yang beroperasi di daerah masyarakat miskin.
> > Banten yang juga dikenal relijius tidak luput dari serangan hantu
> pemurtadan. Di Banten, gerakan pendangkalan akidah umat ini marak
dilakukan
> di sejumlah kampus dan sekolahan. Modus dipacari, dihamili, kemudian
> dimurtadkan adalah andalan mereka untuk menggarap para Muslimah.
> > Seperti terjadi pada Rini (bukan nama sebenarnya), seorang siswi di
sebuah
> universitas Banten. Mulanya, Rini yang aktivis Islam ini dipacari oleh
> seorang mahasiswa beragama Kristen yang bernama Alex (bukan nama aslinya)
> hingga hamil. Dalam pernikahannya, Alex mengaku Islam. Namun, tidak lama
> kemudian ada kabar bahwa keduanya telah kembali berpindah agama menjadi
> Kristen.
> >
> > Gerakan kristenisasi terlihat sekali di sejumlah sekolah Kristen di
> Banten. Di Akademi Perawat Yatna Yuana Rangkas Bitung, Lebak misalnya,
para
> mahasiswa yang mengenakan busana Muslimah diwajibkan menanggalkan
jilbabnya
> jika ingin terus mengikuti perkuliahan.
> > Lembaga pendidikan Kristen ini juga masih mewajiban pelajaran agama
> Kristen kepada para siswinya, termasuk siswi yang beragama selain Kristen.
> Lembaga ini nampaknya tidak pernah jera. Padahal, beberapa waktu lalu,
pihak
> kampus pernah diprotes para aktivis yang tergabung dalam Keluarga
Mahasiswa
> Lebak (KUMALA).
> >
> > Dahsyatnya lagi, gerakan pemurtadan terus bergerak tanpa pernah disadari
> umat. Sepanjang perbukitan dari Bekasi Timur, Cikarang, Karawang, Cikampek
> sampai Purwakarta misalnya, konon telah dibangun beberapa gereja. Padahal,
> selain lokasinya terpencil, persyaratan pendiriannya pun konon bermasalah
> karena tidak memenuhi 'aturan main'.
> > Jelas sudah bahwa pemurtadan Bumi Pasundan Jawa Barat adalah sebuah
proyek
> besar Kristenisasi yang dilakukan secara sistemik, terencana dan
> terorganisir. Organisasi yang terdepan 'menggarap' orang-orang Sunda
adalah
> Doulos World Mission (DWM) dengan program utama Yerikho 2000.
> > Dengan berpegang teguh pada Injil, mereka menargetkan membangun dua ribu
> pos Pengabaran Injil (PI) yang tersebar di seluruh Tanah Pasundan untuk
> memurtadkan masyarakat Sunda. Khusus untuk kristenisasi di Jawa Barat,
> Doulos World Mission mendirikan Forum Observasi dan Komunikasi Suku Sunda
> (FOKUS) (baca: Hantu Yerikho Membayangi Umat).
> > Sadar atau tidak, kristenisasi sudah ada di depan mata. Mereka siap
> menerkam umat Islam yang dasar akidahnya lemah. Namun, ironisnya umat
banyak
> tidak menyadari hal ini, sehingga menganggap gerakan pemurtadan sebagai
> gerakan biasa yang tidak akan menimbulkan dampak berarti bagi perkembangan
> umat.
> >
> > Benarkah? Ketua FAKTA Abu Deedat Syihab menepis. Menurutnya,
menyeruaknya
> kristenisasi di Tanah Pasundan menunjukkan mereka semakin berani dan
gencar
> dalam menjalankan misinya tersebut. "Ini menunjukkan kristenisasi bukan
lagi
> sekadar isu dan sesuatu yang dipandang sebelah mata. Tapi ia sudah semakin
> berani," ujar kang Abud, sapaan akrabnya.
> > Tokoh masyarakat Sunda Ahmad Mansyur Suryanegara membenarkannya.
> Menurutnya, pemurtadan adalah usaha untuk melemahkan atau merenggangkan
> ikatan keluarga orang Sunda yang sudah terikat oleh ajaran Islam. Usaha
> memecah belah umat Islam Sunda, lanjutnya, sudah berjalan sejak zaman
> kolonial Belanda, yakni dengan mendirikan sejumlah gereja di setiap
> perbatasan kota Jawa Barat. "Tujuannya untuk membelah hubungan antar
> kantong-kantong Islam di Pasundan," ujarnya.
> >
> > "Ada ungkapan mata baji, mata baji, yakni membelah Islam dengan Islam.
> Adanya gereja di antara Bogor dan Cianjur, di antara Bandung dan Bogor ada
> gereja di Ciranjang dan antara Cirebon dan Majalengka ada gereja di
> Indramayu adalah kantong-kantong untuk membelah hubungan," ujarnya.
> > Apa yang harus dilakukan umat, khususnya masyarakat Pasundan? "Kita
harus
> tegas dengan mereka. Tidak ada yang namanya toleransi menyangkut masalah
> akidah. Tapi, untuk masalah sosial, tidak ada masalah. Untuk itu, umat
> jangan tertipu dengan pendekatan-pendekatan mereka yang lebih cenderung
> menipu. Yang harus dicermati juga adalah buku-buku yang ditulis kalangan
> mereka sendiri. Dari sini, mereka jelas mempunyai target sendiri," ujar
> Ustadz Abud menjelaskan.
> >
> > Rivai Hutapea
> >
> >
>
>
>
>
> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke