BANDUNG RAYA
Kamis, 13 Nopember 2003
Kerusakan Alam Terkait Bahasa Lokal
BANDUNG, (PR).-
Upaya untuk mencegah terjadinya berbagai bencana alam yang semakin
sering melanda kita, terkait erat dengan pemahaman bahasa lokal yang
berhubungan dengan pengetahuan sosial dan ekologi. Kerusakan
lingkungan alam yang terjadi sekarang ini adalah juga karena kita
telah menyimpang dari pakem kearifan tradisi yang ditunjukkan dengan
berbagai ungkapan karuhun (nenek moyang-red.) dalam bentuk klasifikasi
bahasa.
Demikian disampaikan Guru Besar Antropologi dari Universitas
Padjadjaran (Unpad) Bandung Prof. Dr. Kusnaka Adimihardja, beberapa
waktu lalu, mengomentari terjadinya berbagai bencana alam di
Indonesia, akhir-akhir ini.
"Terjadinya bencana alam seperti banjir, longsor, dan kerusakan alam
lainnya juga berkaitan dengan semakin terpinggirkannya kearifan lokal
yang terwakili dalam bahasa lokal. Padahal, banyak idiom dalam bahasa
lokal yang berhubungan erat dengan pengetahuan sosial dan kelestarian
ekologi dan lingkungan," ungkap Kusnaka Adimihardja.
Kusnaka menyebutkan istilah cai nyusu yang merupakan air yang mengalir
dari sumbernya. "Ci nyusu ini membentuk aliran secara alami di suatu
tempat tertentu yang biasa dimanfaatkan manusia untuk menunjang
kehidupan sehari-hari. Justru, pada era yang katanya modern ini,
manusia secara serempangan menutup sumber cai nyusu itu untuk mencari
jalan sendiri keluar dari perut bumi," katanya.
Selain itu, lanjutnya, dalam konsep tata ruang atau patempatan,
karuhun Sunda mengenal istilah jarian. "Yakni suatu tempat di suatu
lembah yang tidak boleh 'disentuh' tangan manusia. "Pada kondisi
sekarang ruang itu malah dibangun untuk bersawah, perkampungan, dan
aktivitas sosial lainnya, sehingga berakibat longsornya tanah di
sekitar jarian itu," ujarnya.
Kusnaka menambahkan semua orang sunda mestinya tahu apa yang disebut
"Ranca (ekek)", "Ranca (kalong)" atau di daerah Banjar disebut "Rawa
(lakbok)". "Ranca atau rawa adalah suatu ruang yang rendah yang
berfungsi sebagai daerah resapan pada musim hujan, sedangkan pada
musim kemarau air surut, subur untuk pesawahan. Kebodohan manusia
sekarang, daerah seperti justru dijadikan kawasan industri dan
pemukiman," ucapnya.
Akibat semua ini, lanjut Kusnaka, setiap musim hujan, selain menjadi
kubangan, air yang tidak tertampung di kawasan itu melupa ke daerah
lain. "Hal semacam ini terjadi ketika kita menyikapi banjir yang kerap
melanda wilayah Kabupaten Bandung," ujarnya. (A-64)***
--
kumi
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/