aya berita ti ahli geologi ITB yeuh, sugan we janten Peringatan dini kanggo urang, margi ayana di sekitar pulau mentawai, luhureun pulo jawa yeuh.........

Punten teu disundakeun....

Innalillahi wa inna lillahi rojiun..

Turut berduka atas kejadian yang menimpa
Saudara-saudara kita di Aceh & Medan.

Just curious, katanya Hawaii Univ. telah mendeteksi dan melaporkan
ttg kemungkinan terjadinya tsunami ke pemerintahan Indonesia, sayang
saja tidak di sebarkanluaskan di TV/radio. Di Jepang, beberapa menit
setelah ada gempa biasanya ada pengumuman di TV/radio: awas gempa &
tsunami! plus penjelasan info ttg gempa/tsunami tsb dan kemungkinan
adanya gempa susulan, kapan/dimana tsunami datang dan berapa
tingginya. Sebagai negara yg maju di bidang gempa, Jepang masih saja
kewalahan dalam memprediksi gempa besar seperti gempa di Nigata
beberapa waktu lalu. Korban gempa mencapai ratusan ribuan orang yg
kehilangan rumah dll.

Beberapa tsunami telah terjadi di kawasan timur Indonesia.
Indonesia sebagai negara maritim yg rawan gempa, seharusnya
mempopulerkan informasi tsunami mulai TK/SD, sehingga tidak ada yg
memungut ikan dipantai setelah gelombang ke-1 surut, yg akhirnya
tersapu gelombang ke-2 dan menjadi korban sia-sia.
Sudah saatnya kita punya sistem terpadu ttg gempa/tsunami, apalagi
kita sudah didukung oleh ahli-ahli seismologi,geology,oseanography
yang sudah dapat memprediksi daerah rawan terjadinya tsunami. Remote
sensing dan GIS adalah salah satu tool terbaik.

Silahkan simak kembali artikel 1 tahun lalu..sepertinya ahli
seismologi/geologi kita sebenarnya sudah dapat memprediksi gempa
Sumatra, cuma tidak ada kelanjutannya ??? wallahuallam...
semoga pemerintah lebih memperhatikan hasil penelitian.

wass,

yessy Arvelyna
Tokyo Univ. of Marine Science and Tech.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0310/02/daerah/598730.htm
Kamis, 02 Oktober 2003 

Waspadai Gempa Besar dari Zona Subduksi Mentawai

Bandung, Kompas - Berdasarkan sejarah penelitian geologi dan catatan
siklus seismik gempa berskala 9,0 skala richter sekitar zona subduksi
di lepas pantai Barat pulau Sumatera, khususnya sekitar Kepulauan
Mentawai, saat ini berada di ujung siklus seismik tersebut. Oleh
karena itulah perlu dilakukan persiapan, membuat simulasi, sehingga
siap menghadapi kemungkinan gempa bumi berkekuatan besar.

Hal itu disampaikan pakar geologi gempa bumi Dr Danny H Natawidjaja,
dalam diskusi kondisi Geologi Selat Sunda, Rabu (1/10), di Auditorium
Museum Geologi, Bandung.

Pembicara lain adalah Dr Surono, Kepala Subdirektorat Vulkanologi dan
Mitigasi, dan Dr Hamzah Latief, geolog dari Institut Teknologi
Bandung.

Ketiganya sependapat, minimnya data-data geologi mengenai berbagai
tempat di Indonesia menjadi kendala utama memperkirakan kemungkinan
terjadinya bencana geologi berupa gempa bumi, letusan gunung api,
atau tsunami. Oleh karena itu, penelitian geologi di berbagai tempat
lebih banyak dilakukan, sehingga terkumpul data-data geologi yang
memadai.

Berdasarkan sejarah penelitian geologi di sekitar Mentawai, Danny
menjelaskan, didapatkan siklus seismik gempa bumi besar tahun 1381,
tahun 1608, dan yang terakhir tahun 1833. Aktivitas seismik di zona
subduksi itu mengangkat naik pulau-pulau di Mentawai sekitar dua
meter. Melihat siklus itu, kita sekarang berada di ujung siklus
seismik tersebut, cuma sulit mengetahui persis kapan gempa
berkekuatan 9,0 skala richter itu akan terjadi.

Dia menguraikan, di Pulau Mentawai dipasang enam stasiun GPS (global
positioning satelite). "Setelah dipasang alat di Mentawai, kita tahu
pulau-pulau di Mentawai itu bergerak sekitar tiga sampai empat
sentimeter ke arah Pulau Sumatera per tahun. Jadi, daerah di bawah
muka laut itu terus mengumpulkan energi, nanti suatu saat ketika
sudah tidak bisa ditahan lagi, akan dilepas sehingga terjadi gempa,"
ujarnya sambil menjelaskan data-data seismik menunjukkan gempa di
zona subduksi sekitar Mentawai adalah gempa berulang.

Dari data pergerakan itu, lanjut Danny, bisa dilakukan perhitungan.
Jika pergerakannya sekitar 3-4 cm, sedangkan pengangkatan Pulau
Mentawai sekitar dua meter, dengan kondisi zona di bawahnya yang
landai, untuk mengangkat dua meter itu dibutuhkan pergerakan di zona
subduksi sekitar 10-12 meter. Artinya, bisa dihitung kemungkinan
terjadi lagi gempa 250-300 tahunan. (oki)


Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 250MB free storage. Do more. Manage less.

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke