Otong Kartiman, Penyelamat Batik Ciamisan
WARGA Ciamis, kini terancam kehilangan salah satu
warisan seni budaya dari leluhurnya. Warisan bernilai
tinggi dimaksud, yaitu batik tradisional Ciamisan.
Saat ini, hampir tidak ada lagi orang yang membuat
batik Ciamis yang dibuat dengan cara batik tulis.
LEBIH dari 26 pekerja perempuan sedang melipat batik
di perusahaan batik khas Ciamisan yang kini tinggal
satu-satunya di Imbanagara Ciamis, Rabu (7/7).*UNDANG
SUDRAJAT/"PR"
Saat ini pebatik Ciamis yang tersisa yaitu H. Otong
Kartiman, tidak lagi memproduksi batik tulis, tetapi
batik Ciamis dengan printing atau dicap. Kalaupun
batik tulis dibuat, jika ada pesanan khusus, tentunya
dengan harga lumayan tinggi.
Padahal di era tahun 60-an, tidak kurang ada 1.200
perajin batik tulis khas Ciamisan. Namun satu persatu
para pebatik itu, gulung tikar. Terakhir pada 1997
masih ada 400 pebatik, namun akhirnya tidak mampu
bertahan dengan terpaan krisis ekonomi yang
berkepanjangan. Sampai akhirnya Otong Kartiman yang
masih berusaha bertahan, hingga sekarang.
Kalau mengingat ke belakang, batik Ciamis ini banyak
dipesan dari berbagai daerah. Bahkan, mereka mesti
antre untuk bisa mendapatkannya. Pesanan itu datang,
tidak hanya dari Jawa, melainkan dari Makassar hingga
Pontianak.
Batik Ciamisan memang memiliki khas atau motif
tersendiri yang telah lama dikenal oleh pencinta batik
tradisional. Cirinya, warna dasar putih, dan warga
hitam serta soga cokelat. Atau dinamakan batik sarian,
yang terdiri dari tiga macam warna tadi.
Tiga warna yang dominan dalam batik Ciamisan,
memberikan arti yang sederhana. Hal itu, menunjukkan
bahwa warga Ciamis ini, dalam keseharian sederhana dan
ramah tidak berbelit-belit. Dengan kesederhanaan,
orang Ciamis tetap ingin mempesona, demikian kira-kira
filosofinya.
Putih menggambarkan hati bersih, sedangkan hitam dan
cokelat adalah ketegasan. Batik Ciamisan ini, banyak
juga mengiblat ke batik Yogya yaitu dari pemilihan
warna juga banyak putih dan hitam.
Dibandingkan dengan batik Garutan dan Tasikmalaya,
batik ini memiliki perbedaan. Batik Garutan warna
dasar adalah krem (Ciamisan putih), dan lebih banyak
gambar lereng. Sedangkan batik Tasikan, lebih banyak
gambar natural, burung, kupu-kupu dengan warna dasar
mewah bata. Garutan banyak berkiblat ke Solo,
sedangkan Tasikan ke Pekalongan, Jateng.
Lain dengan Indramayu sendiri yaitu motif cochan, dan
Cirebon dengan kondang variasi coraknya. Sementara
batik Rembang bercirikan dua nuansa warna dengan corak
lebih tua. Untuk batik Lasem, warna merahnya lebih
tajam dan khas. Untuk batik Pekalongan istilahnya
jlamprangan, natural dan ragam hias. Kudus khasnya
batik dengan corak parang, Banyuwangi gambar gajah.
Hal lain yang membedakan dengan batik Tuban, yaitu
warna dasar sama putih, tapi warna lainnya corak biru.
Sedangkan Yogya, warna dasar putih dan lainya hitam
serta cokelat. Tapi gambarnya banyak dipengaruhi oleh
tradisi yang ada di keraton, sedangkan Ciamisan ambil
gambar natural.
Dengan memiliki kekhasan itu, batik Ciamisan punya
pangsa pasar yang tinggi atau luas. Beberapa tokoh
batik waktu zaman "beheula", seperti H. Abdul Majid,
H. Gandaatmada, Sasmita, Suganda, D. Tamim dan lainnya
merupakan pelopor yang bergerak dalam batik Ciamisan.
Sebagai simbol keberhasilan usaha batik di daerah ini
ada kelompok yang namanya Rukun Batik Ciamis. Rukun
Batik ini merupakan koperasi yang menampung para
perajin batik. Rukun Batik Ciamis ini berdiri sebelum
kemerdekaan dan sekali lagi di era 60 an. Itulah
puncak dari kejayaan dari para pembatik, termasuk
Rukun Batiknya.
Namun bergulirnya waktu dan berkembanganya usaha
pakain jadi berdampak juga pada usaha batik
tradisional. Gerak batik tulis, khususnya di Ciamis
memasuki akhir 70-an, mulai mengalami penurunan untuk
pemesanan. Akhirnya pada tahun 80-an, para perajin
batik di Ciamis ini beralih yang semula di batik tulis
dan cap ke printing. Namun, usaha batik printing-pun
terus berkurang. Devaluasi yang terjadi pada tahun
80-an, berdampak hebat kepada usaha batik di Ciamis.
Jumlah perajin terus menyusut hingga kurang lebih 434
orang.
Dalam acara temu bisnis yang digelar awal bulan ini
(1/7) di Kantor Penanaman Modal dan Promosi Pemkab
Ciamis, terungkap bahwa kehancuran usaha batik di
Ciamis juga terjadi karena krisis ekonomi pada 1997
lalu. Para perajin yang 434 orang itu, akhirnya
berhenti total dalam usaha perbatikan.
Pukulan hebat dialami oleh perajin yaitu harga
obat-obatan yang diimpor dari luar negeri menjadi
berlipat-lipat seiring anjloknya mata uang rupiah
terhadap dollar AS. Belum lagi peralatan untuk proses
pedding yang juga naik.
Sekda Ciamis Dedi Ahmad Riswandi mengaku prihatin
menyaksikan hancurnya salah satu potensi Ciamis ini.
Padahal usaha batik ini menampung banyak tenaga kerja
banyak dan juga memiliki kekhasan yang membuat nama
Ciamis terkenal. Pemkab ingin agar usaha batik bisa
bangkit lagi.
Di antara 434 perajin batik Ciamisan yang kini tersisa
tinggal seorang yaitu H. Otong Kartiman (68) warga
Ciwahangan, Desa Imbanegara, Kab Ciamis. Ayah dari
empat anak ini, termasuk penyelamat batik Ciamisan.
Kalau saja ia juga ikut banting setir seperti perajin
lainnya mungkin nama batik Ciamisan sekarang tinggal
kenangan.
Otong Kartiman mengaku bertahan dalam usaha batik,
karena rasa cintanya akan seni batik Ciamisan. Sejak
usia 20-an, Otong sudah bergelut dengan usaha batik.
Bahkan di lingkungan keluarga H Abdul Madjid (ayah
Otong-red), termasuk pembatik yang bagus. Menurut dia
ketika tahun 60-an, keluarganya sempat memiliki
pegawai sekitar 200 orang. Namun jumlah ini terus
menyusut hingga akhirnya tinggal 30 orang. "Tahun
80-an usaha batik saya juga beralih dari tulis ke
printing, karena waktu itu sudah sulit bergerak di
tulis," katanya.
Pebatik yang masih bertahan ini sangat jarang membuat
lagi batik tulis khas Ciamis. Karena dengan modifikasi
mesin dan lainnya, Otong lebih fokus dengan batik
printing-nya atau cap. Kalaupun ada yang pesan batik
tradisional tulis Ciamisan, itu sangat jarang sekali.
Sekalipun dengan batik printing, Otong tetap tidak
melepaskan motif khas Ciamisan. Motif batik yang ia
kembangkan hingga sekarang yaitu sarian. "Tidak
mungkin melepaskan batik Ciamisan, karena ini
kebanggaan Ciamis. Bahkan pada saat konvensi batik
Jabar, kita dapat juara pertama," tutur penyuluh batik
tradisional di koperasi batik nasional ini.
Selama dalam usaha batik ini, Otong bukan berarti
tidak rugi. Ia beberapakali harus jungkir balik dan
merintis dari nol agar bisa bertahan. Misalkan saja,
pada tahun 1986 dia mengalami kerugian. Paling parah
1997 ketika krisis ekonomi. Pada waktu itu, seperti
biasa ia mengirim barang ke pesanannya.
Pada saat itu, Otong benar-benar bingung dan hampir
putus asa. Tapi ia sendiri tidak ingin menghentikan
produksi sama sekali. "Produksi saya turun drastis,
tapi tetap sekuat tenaga untuk jalan. Jika dulu 60
kodi seminggu, akhirnya jadi enam kodi. Kita bicara
juga dengan para pelanggan atau toko-toko yang biasa
menampung batik di berbagai daerah. Kita jelaskan,
pengiriman tidak akan seperti biasa dan juga ada
masalah harga. Mereka juga akhirnya mengerti,"
paparnya.
Dengan terjadinya penurunan drastis dari produksi,
juga berdampak pada pengurangan pegawai. Banyak
pegawai terpaksa dilemburkan. Namun para pegawai juga
bisa memahami permasalahannya kenapa sampai demikian,
karena Otong berusaha bicara secara baik-baik dengan
mereka.
Tahun 2004 ini, usaha batik Ciamisan yang ditekuni
oleh Otong mulai cerah. Karena keuletan dan kemampuan
membaca pasar, akhirnya pemasaran terbuka lagi.
Ditemui di pabriknya Rabu pekan lalu, Otong mengaku
saat ini setiap hari memproduksi 150 kodi kain batik
(satu kode 20 lembar). Harga setiap kodinya dari yang
paling murah Rp 250 ribu hingga Rp 4 juta.
Pemasarannya sampai ke Surabaya, Jakarta, Bandung
hingga Makassar.
Ia juga telah memodifikasi mesinnya dengan yang
terbaru, dan para pegawai yang dulu diliburkan
sekarang bekerja lagi. "Kurang lebih ada 75 pekerja
sekarang ini," katanya. Bahkan, ia sedang berusaha
untuk memperluas pabriknya ke bagian belakang.
Kiatnya untuk mempertahankan pemasaran, Otong setiap
dua minggu sekali datang ke pasar. Baik ke pasar
Senen, Tanah Abang Jakarta, ke Surabaya hingga ke
Makassar. Di kota-kota ini dia menanyakan
kecenderungan selera konsumen batik. Kalau dia tahu
apa yang digemari pasar, batik yang dibuatnya juga
mengikuti pasar. "Bukan berarti batik Ciamisan
ditinggal, tapi kita juga harus bisa membaca keinginan
konsumen. Jadi batik secara umum juga kita produksi,"
jelasnya.
Hal lain pihaknya juga telah diminta untuk mengajukan
hak cipta untuk batik khas Ciamisan ini. "Tentunya
agar tidak diambil alih oleh orang lain,"
jelasnya.(Undang/pr)***
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - 250MB free storage. Do more. Manage less.
http://info.mail.yahoo.com/mail_250
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/