Didukung kang.....leres urang tong calik wae. Komo eta tos ngalecehkeun kultur sareng deuih tos ngalecehkeun ka istri.
Neng Iva
Waluya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Waluya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Baraya KUSNET sareng kisunda, kuring sabisa-bisa rek nyanggah
artikel dina Majalah "Male Emporium" (= Karajaan Jalu?") nu
judulna "Di Balik Kecantikan Wanita Sunda". Di ME online aya
forum keur ngadiskusikeun eusi majalah ME. Ku kuring rek
dipostingkeun kadinya. Tapi sateuacanana punten tulisan sanggahan
sim kuring dikoreksi atanapi ditambahan heula ku baraya. Kuring
nyebut heula "saya" henteu "kami", margi bilih baraya anu sanes
henteu sapagodos jeung eusi sanggahan sim kuring.
Kanggo baraya member kisunda, artikelna ku kuring dilampirkeun
panghandapna.
Baktos,
WALUYA
===========================================
yth
Redaksi
Male Emporium
Dengan Hormat,
Setelah membaca artikel "Di Balik Kecantikan Wanita Sunda" di
Majalah saudara, betapa terkejutnya saya, karena isi dari artikel
itu sangat melecehkan kultur etnik sunda, khususnya perempuan
Sunda. Di jaman dimana persatuan Indonesia sudah bukan masalah
lagi, artikel ini malah mengungkit-ngungkit sentimen antar etnik,
terutama sentimen kepada etnik Sunda dari etnik lain, sehingga
bukan tidak mungkin artikel ini, jika tersebar luas, akan memicu
keberangan orang sunda. Kenapa saya berpendapat demikian? karena
kalau kita tinjau isi artikel ini dengan teliti, ternyata banyak
yang ngawurnya daripada benarnya (walaupun berusaha sok -
ilmiah).
Kalimat-kalimat yang menyebutkan bahwa perempuan Sunda pemalas,
suka berdandan dan dalam berinteraksi dengan pria hanya
mengandalkan keindahan fisik, sangat-sangat melecehkan. Saya kira
perempuan dari etnik lainpun akan tersinggung kalau dirinya
disebut demikian. Dalam menilai perempuan atau manusia jenis
apapun, bukan dilihat dari etniknya, tapi individunya
masing-masing.
Yang paling ngawur adalah kutipan-kutipan dari oarng yang mengaku
Cendikiawan, yaitu sdr Agus Wiyanto. Mohon maaf kepada sdr Agus
Wiyanto apabila sebenarnya dia tidak mengucapkan hal-hal yang
akan saya bahas disini.
Yang pertama Sdr Agus Wiyanto menyebutkan
bahwa budaya Sunda adalah mengandung sisi erotisme tinggi dengan
conntoh tari jaipongan yang banyak mengandalkan goyang tubuh. Hal
ini berlainan dengan kultur jawa yang dalam berkesenian tari,
menunjukkan tarian-tarian bermakna tinggi.
Disini ngawurnya pendapat ini, bagaimana mungkin menilai suatu
kultur penuh erotisme hanya dari tari-tarian? dan betulkan kultur
jawa terbebaskan dari erotisme?. Saya tidak menyangkal bahwa tari
jaipong itu penuh dengan goyang tubuh, tetapi harus diingat
tarian jaipong itu sebenarnya kreasi baru (sekitar awal tahun
1970). Jaipong, bagi saya, adalah phenomena serupa dengan
yang mucul belakang ini, joged-joged menggoyangkan tubuh dalam
musik dangdut, campur sari atau organ tunggal. Dan itu bukan
milik orang Sunda saja. Bukankah Inul itu orang Jawa? dan
bukankah lagu "cucakrawa" yang dinyanyikan dengan gaya erotisme
tinggi itu berbahasa Jawa?. Maaf saya agak menyinggung kesenian
Jawa, karena Agus Wiyanto membandingkan kesenian Sunda dengan
kesenian Jawa. Agus Wiyanto lupa bahwa di Sunda pun tarian
semacam tari kraton di Jawa pun ada, di Sundapun ada seni suara
yang diakui bermutu tinggi yaitu Cianjuran. Maka jika ingin
membandingkan harus dengan yang sebanding. Tari pergaulan seperti
jaipong, ketuk tilu dsb di daerah Sunda bisa dibandingkan dengan
Tayub di Jawa. Baik di Jawa maupun sunda ada "ronggeng",
perempuan yang menari dalam acara kesenian rakyat seperti ini.
Bukankan ada novel "Ronggeng dari Dukuh Paruk" karya M. Tohari
yang menceritakan kehidupan seorang ronggeng di pedukuhan di
Jawa.
Yang kedua adalah pendapat Agus Wiyanto yang menyatakan perempuan
sunda hanya dirumah, cukup suaminya saja yang bekerja disawah dan
di ladang, juga pendapat yang sangat ngawur. Nampaknya Agus
Wiyanto itu belum pernah pergi ke Jawa Barat, buktinya dia belum
pernah melihat perempuan-perempuan sunda yang bekerja di Sawah
dan di ladang, yang sangat jelas terlihat dari jalan Raya ataupun
waktu naik kereta-api.
Dan banyak sekali tulisan di artikel ini yang kacau balau, Bogor
disebutkan tempat peristirahatan bangsawan Belanda. Baru tahu
saya kalau ada "menak" belanda suka beristirahat di Bogor. Kalau
pejabat Belanda/VOC yang bekerja di Batavia beristirahat di
Bogor, memang betul, tapi pejabat Hindia Belanda/VOC itu belum
tentu bangsawan Belanda.
Daerah di Jawa Barat yang banyak jandanya hanya Indramayu, tidak
termasuk Karawang. Dan Indramayu itu adalah daerah yang sangat
kuat dipengaruhi kultur jawa, buktinya bahasanya bahasa Jawa
(atau mirip bahasa Jawa). Jadi kalau bicara kultur indramayu,
jangan hanya kultur sundanya saja, tapi juga kultur jawa!
Terimakasih,
WALUYA
==========================================================
Ieu Artikelnna :
Di Balik Kecantikan Wanita Sunda
Ada kesan umum, bahwa wanita Sunda pemalas dan suka berdandan.
Benarkah demikian?
Memang susah mencari pasangan atau istri ideal. Cantik, pintar
bekerja, beretika, setia, jujur relegius
dan feminim. Akan sempurna hidup seorang pria, bila mendapatkan
istri
seperti ini. Barangkali pula itu hanya padangan utopis saja.
Tapi,
Amir Hamzah, seorang general manager perusahaan asuransi, selalu
berusaha untuk mendapatkannya.
Akibatnya, Amir Hamzah sering gontaganti pasangan. Sekarang dia
mempunyai dua kekasih. Pertama, keturunan )awa, bekerja sebagai
coordinator public relations di perusahaan elektronik. Secara
karier
wanita ini cukup bagus, namun secara fisik kurang cantik.
Kulitnya
sedikit hitam dan tubuhnya biasa-biasa saja, pokoknya bukan tipe
Amir.
Pacar kedua, perempuan Sunda. Cantik, kulit halus bak bengkuang
dan
pintar pula berdandan. Tapi secara karier dan intelektual,
biasa-biasa
saja, dan hanya sebagai karyawan biasa.
Amir bingung, mana yang harus dipilih, sementara usia dan
orangtua
terus mendesak. Diakuinya, bahwa kedua pacarnya itu mempunyai
kekurangan dan kelebihan masing-masing. Sebagai pria normal, ia
ingin
memiliki istri cantik. Masalahnya, kecantikan belum menjamin
apakah si
wanita akan menjadi mitra hidup yang baik nantinya.
Lingkungan & Alam
Sudah menjadi pengetahuan bagi sebagian orang, bahwa wanita Sunda
cantikcantik. Alamnya yang elok memberikan andil dalam hal ini,
terutama untuk kehalusan kulit. Tapi, di balik keindahan dan
kecantikan yang dimiliki wanita Sunda, terdapat unsur buruk,
yaitu
pemalas, dengan hobi berdandan dan bergaya seperti orang kaya.
Tidak
itu saja, dipercayai pula oleh sebagian orang, bahwa dalam
berumah
tangga, wanita Sunda selalu mengandalkan pendapatan suami. Tentu
saja
ini hanya pandangan sebagian orang. Sebab bukan berarti semua
perempuan Sunda seperti itu.
Secara antropologis, banyak faktor yang menyebabkan wanita Sunda
setiap berinteraksi dengan pria selalu mengandalkan keindahan
fisik.
Bukan kemampuan intelektual dan kepribadian yang kuat seperti
wanita
Sumatera Utara, Jawa dan Bali, yang tegar dalam kehidupan.
Wanita-wanita Jawa, Bali dan Sumatera Utara, terkenal sebagai
wanita
ulet. Mereka tidak memilih-milih pekerjaan, yang penting halal.
Ini
bisa dilihat di terminal-terminal, pasar, dan ladang.
Menurut Agus Wiyanto, budaya Sunda adalah budaya yang memiliki
sisi
erotisme tinggi, yang bisa dilihat dari kesenian tarinya, seperti
tarian Jaipong. Jaipong kental dengan goyangan tubuh, yang
menonjolkan
bagian-bagian tubuh yang seksi. Berbeda dengan tarian-tarian Jawa
yang
lebih sarat dengan simbol dan makna kehidupan.
"Alam yang subur meninabobokan wanita Sunda sampai terlena,
hingga
tidak perlu bekerja keras. Alam sudah menjamin kelangsungan.
kehidupan
mereka. Cukup suami yang bekerja di ladang atau sawah, sementara
istri
di rumah mengurus dan merawat anak, mempercantik diri, melayani
suami
dan membersihkan rumah," tutur anggota Persatuan Cendekiawan
Nasional
Indonesia ini.
Agus menambahkan, keindahan dan kesuburan alam (dan kecantikan
wanita)
Jawa Barat ini sampai ke wilayah bagian pantai Jawa Barat, Banten
(sebelum menjadi propinsi sendiri), yang termasuk bagi dari kota
Paris
in Java. Tidak jauh beda dengan Bogor yang pada zaman VOC
dijadikan
tempat peristirahatan kaum bangsawan Belanda.
Malah di sebagian daerah jawa Barat, ada pula wanita yang bangga
menjadi janda. Ini terjadi karena adanya anggapan, bahwa wanita
yang
mampu menikah tiga atau empat kali, berarti wanita tersebut lebih
bagus dibandingkan wanita lain yang hanya kawin satu kali. "Ini
terjadi di Karawang, wilayah Pantai Utara dan Indramayu," kata
Agus.
Bila kondisi sosial seperti ini dibiarkan, tentu saja akan
berpengaruh
pada generasi berikutnya. Secara tidak langsung mereka akan
melakukan
apa yang telah diperbuat generasi sebelumnya. Akibatnya,
pandangan
orang terhadap wanita Sunda bisa semakin buruk.
Berbeda dengan wanita Jawa yang dikesankan suka bekerja keras.
Bagi
mereka, bekerja merupakan kehormatan. Lebih baik bekerja walau
hasilnya kecil, daripada menjual diri tapi tidak halal. Agus
menjelaskan, kelemahan wanita jawa adalah tidak mempuyai ambisi
dan
rencana matang. Akibatnya, mereka selalu marjinal, menjadi
pembantu
rumah tangga, pedagang sayuran di pasar, dan perjual jamu. Ini
akibat
rendahnya pendidikan yang membuat pola pikir dan pengembangan
hidup
menjadi rendah.
Dosen IISIP ini menambahkan, ada pula pandangan di kalangan
orangtua
yang mengatakan, bahwa tidak ada gunanya wanita bersekolah sampai
ke
perguruan tinggi. Pasalnya, wanita tetap akan kembali ke dapur
mengurus dan merawat anak serta melayani suami. Pola pikir ini
hanya
bisa dihapus melalui pendidikan dan kesadaran akan fakta. Bahwa
di era
global kini, yang dibutuhkan dari wanita manapun (tidak hanya
wanita
Sunda) - bukan hanya kecantikan fisik - tapi juga kemampuan
intelektual dan kemauan kerja yang tinggi. � Ajo
Sumber: Male Emporium
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Celebrate Yahoo!'s 10th Birthday!
Yahoo! Netrospective: 100 Moments of the Web
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
|
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

