Ti kamari sim kuring mindeng manggihan
kecap 'Munafik' di milist ieu. Sayah cobaan milari email nu ditampi sangges
tanggal 21 maret kuring mendakan aya 26 email nu di lebetna aya kecap 'munafik'.
Tangtu kaasup reply nu teu dihapus.
Naon ari munafikteh? Sanes bade mapatahan ieumah
mung hoyong sharing informasi wungkul;
"Orang-orang munafik lelaki dan orang-orang munafik
perempuan adalah sama satu sama lain; mereka menyuruh pada kemungkaran dan
melarang daripada yang baik, dan mereka menggenggamkan tangan-tangan mereka
(berlaku kikir) ; mereka melupakan Allah, dan Dia melupakan mereka. Sesungguhnya
orang-orang munafik, mereka adalah orang-orang fasiq (tidak mempedulikan
perintah Tuhan)." (9:67)
Leuwih lengkap ngeunaan MUNA, ieu aya tulisanana AA Gym ti koran PR onlien;
----<cut>---
Bagaimanakah sifat orang munafik
itu? Berikut ini kita kutip tulisan dari Imam Al Ghazali yang menuturkan ucapan
Imam Hatim Al Ashom, seorang ulama yang salih ketika mengupas perbedaan antara
orang mukmim dengan orang munafik.
"Seorang mukmin senantiasa disibukkan dengan
bertafakur, merenung, mengambil pelajaran dari aneka kejadian apapun di muka
bumi ini, sementara orang munafik disibukkan dengan ketamakan
dan angan-angan kosong terhadap dunia ini.
Seorang mukmin berputus asa dari siapa saja dan
kepada siapa saja kecuali hanya kepada Allah, sementara orang
munafik mengharap dari siapa saja kecuali dari mengharap kepada
Allah. Seorang mukmin merasa aman, tidak gentar, tidak takut oleh ancaman siapa
pun kecuali takut hanya kepada Allah karena dia yakin bahwa apapun yang
mengancam dia ada dalam genggaman Allah, di lain pihak orang
munafik justru takut kepada siapa saja kecuali takut kepada
Allah, naudzhubilah, yang tidak dia takuti malah Allah SWT.
Seorang mukmin menawarkan hartanya demi
mempertahankan agamanya, sementara seorang munafik menawarkan
agamanya demi mempertahankan hartanya. Seorang mukmin menangis karena malunya
kepada Allah meskipun dia berbuat kebajikan, sementara seorang
munafik tetap tertawa meskipun dia berbuat keburukan.
Seorang mukmin senang berkhalwat dengan menyendiri
bermunajat kepada Allah, sementara seorang munafik senang
berkumpul dengan bersukaria bercampur baur dengan khalayak yang tidak ingat
kepada Allah.
Seorang mukmin ketika menanam merasa takut jikalau
merusak, sedangkan seorang munafik mencabuti seraya
mengharapkan panen. Seorang mukmin memerintahkan dan melarang sebagai siasat dan
cara sehingga berhasil memperbaiki, larangan dan perintah seorang mukmin adalah
upaya untuk memperbaiki sementara seorang munafik memerintah
dan melarang demi meraih jabatan dan kedudukan sehingga dia malah merusak,
naudzhubillah.
Ah, Sahabat. Tampak demikian jauh beda akhlak
antara seorang mukmin dengan seorang munafik. Oleh karenanya
kita harus benar-benar berusaha menjauhi perilaku-perilaku
munafik seperti diuraikan di atas. Kita harus benar-benar
mencegah diri kita untuk meyakini adanya penguasa yang menandingi kebesaran dan
keagungan Allah. Kita harus yakin siapa pun yang punya jabatan di dunia ini
hanyalah sekedar makhluk yang hidup sebentar dan bakal mati, seperti halnya kita
juga. Jangan terperangah dan terpesona dengan kedudukan, pangkat, dan jabatan,
sebab itu cuma tempelan sebentar saja, yang kalau tidak hati-hati justru itulah
yang akan menghinakan dirinya.
Sayangnya kalau kita simak di media massa sekarang,
sepertinya ada sesuatu yang menyedihkan ketika cara menyampaikan pendapat,
kritik, dan saran serta koreksi dilakukan dengan akhlak yang kurang terpuji,
kotor, kasar, dan nista. Saling memukul, saling menjatuhkan, saling mencemarkan,
dan saling membeberkan aib. Apa yang dicari? Padahal kalaulah didapat
jabatannya, baik presiden, menteri, gubernur, wali kota, rektor, atau dekan di
kampus, asal tahu saja bahwa jabatan yang disandang itu tidak akan lama, hanya
beberapa tahun saja dan kalau tidak hati-hati justru aibnya tetap melekat lama.
Harusnya kita anggap semuanya biasa-biasa saja, anggap sebagai hiburan yang
justru kalau tidak hati-hati, pangkat dan jabatan itulah yang akan mencemarkan,
menjatuhkan, dan menghinakan kedudukan dunia dan akhirat kita.
Karenanya jangan terperangah melihat orang punya
kedudukan, sebab itu cuma tempelan ringan yang berat tanggung jawabnya. Jangan
pula mendatangi orang yang dianggap memiliki kekuatan dahsyat sehingga kita
merasa aman. Para dukun, ahli klenik, tukang sihir, atau paranormal, mereka sama
saja dengan kita yaitu makhluk yang pasti binasa. Mereka hanya orang lapar yang
mencari makan dengan menjadi dukun atau yang sejenisnya.
Seharusnya kalau mereka hebat, tidak usah mencari
nafkah dengan seperti itu. Pernah suatu ketika ada seseorang yang mengaku ahli
pengobatan yang ternyata hanya menjual kata-kata, pengobatan yang dia maksudkan
ternyata berasal dari obat yang dia beli di apotek dan dijual kembali dengan
harga berpuluh dan beratus kali lipat dari harga aslinya.
Makanya jangan yakini kekuatan dukun atau kekuatan
paranormal, untuk apa? Mereka hanya sekedar makhluk yang hidup sebentar dan
lama-lama akan binasa. Bagi kita, hidup di dunia hanya mampir sebentar, sehingga
yang paling patut harus kita lakukan adalah mempersiapkan bekal untuk kepulangan
kita nanti. Oleh karenanya ketika kita memandang manusia adalah hal yang
biasa-biasa saja. Hanya Allah-lah segala-galanya, Dia penguasa tunggal, Dia
Pemilik, Penggenggam, Penentu satu-satunya tiada yang lain selain Allah Azza wa
Jalla.
Bulatkan dan bersihkan hati kita hanya kepada Allah
dengan dibuktikan oleh kesungguhan ibadah dan amal kita. Sehingga tidak usah
menyimpan keris sekecil apapun di rumah kita hanya untuk menjadi penolak bala.
Allah yang Mahaagung dan Mahakuasa dapat menolong kita tanpa harus kita
menyimpan jimat. Tidak usah pakai susuk, untuk apa? Susuk itu katanya nama
sejenis keluarga jin, yaitu Shuk-shuk. Tidak usah pula memelihara tuyul untuk
mendatangkan rezeki. Allah Mahakaya untuk menjamin makhluk-makhluknya sekalipun
tanpa bantuan makhluk jin atau yang sejenisnya. Insya Allah orang yang bersih
keyakinannya tiada yang akan dituju selain Allah.
Nah, Sahabat. Tiadalah yang dituju selain Allah,
tiadalah yang diharap selain harap dari Allah, tiadalah yang ditakuti selain
hanya Allah, tiadalah yang dimaksud selain Allah, tiadalah yang bulat mencuri
hati selain Allah. Orang yang bersih tauhidnya, itulah yang benar akhlaknya,
insya Allah. Sebab baik amalnya, ramah, dan dermawan orangnya tetapi dia
termasuk orang yang menyekutukan Allah, maka dia tidak termasuk orang yang
berakhak mulia. Wallahua'lam.***
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
|
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

