Nuhun Kang Irfan, kana kintunan artikelna. Rada taram
yeuh ayeuna mah. Geuning aya komunitasna sagala. Upama
ya hasil padungdengan perkawis HHM, sae upama dikintun
ka milis Kang.

Salam,
MH
 
--- irfanamalee <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> simkuring salahsaurang pengagum kyai nyentrik hhm.
> simkuring terang 
> HHM ti HHM society, kumpulan dosen IAIN nu ngabahas
> HHM, pimpinan 
> Kang Ahmad Gibson Al-Bustomi, dosen filsafat IAIN
> Bdg. kang Gibson 
> oge ngabahas HHM dina Tesisna. ieu aya artikel
> ngeunaan HHM nu kantos 
> dimuat di koran PR. manawi kaangge. 
> 
> NB. kanggo Wa Sas sareng Mang jamal, kumaha abdi
> tiasa kenging buku-
> buku HHM, tiasa ngagaleuh potocopianna kitu? da
> milari di toko mah 
> tos rada sesah. nuhun
> 
> irfan amaLee
> 
> "Tungkul ka Jukut, Tanggah ka Sadapan"
> Oleh AHMAD GIBSON AL-BUSTOMI 
> PROSES internalisasi suatu budaya pada individu
> anggota masyarakat 
> senantiasa mensyaratkan adanya entitas internal
> budaya untuk 
> menerimanya. Entitas sebagai identitas yang
> menghubungkan dirinya 
> dengan sejarah primordial dari sejarah psikologis
> bangsanya. Dalam 
> konteks ini, masuknya suatu budaya asing atau budaya
> baru, bukan 
> hanya berelasi dengan individu anggota
> masyarakatnya, tetapi dengan 
> seluruh entitas yang membangunnya; benang-benang
> yang menghubungkan 
> setiap entitas pembentuknya, yaitu perjalanan
> sejarah psikologis 
> masyarakat tersebut. Dalam hal ini termasuk proses
> penerimaan 
> masyarakat masyarakat Sunda terhadap Islam, yang
> notabene berasal 
> dari luar sejarah primordial masyarakat Sunda.
> Terdapat sejumlah fase dari proses internalisasi
> Islam dalam 
> masyarakat Sunda yang pasti dilewati. Antara lain,
> "penyamaan" simbol-
> simbol dan term budaya, hal yang sama dilakukan oleh
> para filosof 
> muslim awal ketika menjadikan filsafat sebagai
> bagian dari kehidupan 
> Dunia Islam. Sistem nilai budaya lokal suatu
> masyarakat bisa diterima 
> secara apriori oleh masyarakatnya, tetapi tidak
> demikian halnya 
> dengan sistem budaya lain, asing. Setiap masyarakat,
> bahkan 
> masyarakat primitif sekalipun, akan lebih bersikap
> kritis terhadap 
> budaya lain, kecuali masyarakat yang telah
> kehilangan identitas 
> dirinya yang autentik. Karena, sistem nilai budaya
> asli itulah yang 
> menentukan apakah suatu nilai budaya dan kebudayaan
> asing mesti 
> diterima atau ditolak.
> Bila dilihat secara saksama, setiap masyarakat
> memiliki unsur yang 
> secara umum dimiliki, yaitu bahwa dalam suatu
> masyarakat terdapat 
> dalam dirinya kekuatan untuk menolak dan sekaligus
> kekuatan untuk 
> menerima budaya lainnya, unsur yang secara internal
> bersifat 
> paradoks. Kekuatan inilah secara bersamaan menjadi
> unsur diamis dan 
> sekaligus sebagai unsur yang menjadi penentu
> kelangsungan masyarakat 
> dan kebudayaannya.
> Dalam konteks inilah Hasan Mustapa bermaksud
> menyatakan bahwa secara 
> kultural masyarakat Sunda telah memiliki "modal"
> atau entitas 
> kultural sebagai prasyarat yang mesti dimiliki untuk
> bisa menerima 
> Islam sebagai bagian integral dari sistem nilai
> budayanya karena 
> dalam diri masyarakat Sunda telah memiliki unsur
> penting yang 
> terdapat dalam 105 ayat Alquran, yang dalam hitungan
> Ajip Rosidi 
> sebanyak 352 ayat. Ayat-ayat tersebut merupakan
> unsur-unsur dasar 
> dalam ajaran Islam, yaitu ayat-ayat yang berkenaan
> dengan akidah.
> Pemilihan ayat-ayat akidah tersebut didasarkan pada
> "kesadaran" atau 
> lebih tepatnya didasarkan pada asumsi bahwa Islam
> bagi masyarakat 
> Sunda merupakan suatu sistem "budaya" asing, yang
> secara formal bukan 
> bagian dari sejarah primordial masyarakat Sunda.
> Dengan demikian, 
> harus dilakukan "penyamaan" atau mempertemukan
> simbol-simbol dan 
> terma-terma kultural antara masyarakat Sunda dengan
> Islam. Betul, 
> bahwa ayat-ayat lain dianggapnya terlalu "tinggi"
> bagi masyarakat 
> Sunda-Islam ketika itu. Akan tetapi, apabila
> berpijak pada asumsi 
> dasar Hasan Mustapa bahwa ayat-ayat akidahlah yang
> bisa diterima oleh 
> umat Islam-Sunda, sesunguhnya pernyataan tersebut
> mengungkapkan 
> konsistensi proses internalisasi budaya dan sistem
> nilai budaya 
> termasuk agama. Untuk apa mempelajari ayat-ayat
> lainnya apabila aspek-
> aspek esensial dan mendasar belum dipertemukan dalam
> kesadaran 
> primordial masyarakatnya.
> **
> AYAT-AYAT lainnya, selain ayat akidah, hanyalah
> untuk orang yang 
> telah memiliki pengetahuan, pemahaman yang lengkap,
> dan telah 
> memiliki ketersambungan antara Islam dengan sistem
> nilai budayanya. 
> Masyarakat Sunda, yang secara umum baru mengenal
> Islam kurang lebih 
> pada abad XIII/XIV Masehi (8 abad setelah Islam
> lahir). Masuknya 
> Islam ke Indonesia, khususnya tatar Sunda, setelah
> sebelumnya dunia 
> Islam mengalami masa kejayaan atau masa keemasan
> yang luar biasa, 
> yang belum pernah dicapai oleh bangsa lain
> sebelumnya, tentunya telah 
> mengalami pergesekan-pergesekan dengan sejumlah
> ruang budaya yang 
> lebih kompleks. Kompleksitas yang akan semakin
> mempersulit masuknya 
> Islam dalam pengalaman batin yang paling murni dari
> suatu masyarakat.
> Aspek-aspek dalam ajaran Islam selain ayat akidah,
> khususnya adalah 
> ayat-ayat yang berkenaan dengan ekspresi keyakinan
> dalam bentuk 
> ritual dan ekspresi sosial. Sebagai ekspresi, kedua
> unsur ini sangat 
> memiliki kemungkinan untuk berbeda, ikhtilafi.
> Aspek-aspek permukaan 
> dari suatu agama. Aspek yang paling rentan terhadap
> perubahan dan 
> interpretasi kultural.
> Strategi Hasan Mustapa dengan "mengambil" dan
> menafsirkan sebagian 
> ayat Quran, yaitu ayat tentang akidah, bila
> menggunakan teorema 
> Foucault atau Arkoun, dimaksudkan untuk "membedah" 
> dan "mengeliminasi" kuasa yang melingkupi wacana
> keislaman yang 
> berpengaruh pada pola beragama umat Islam pada
> umumnya, yaitu pola 
> keberagamaan yang mendahulukan aspek-aspek furu
> (cabang, ekspresi) 
> daripada aspek-aspek ushuli, dasar.
> Dengan kata lain, dengan pemilihan ayat-ayat akidah,
> Hasan Mustapa 
> bermaksud untuk membuat atau membangun relasi
> terminologis dan relasi 
> simbolis antara terma dan simbol kultural yang
> paling mendasar. 
> Yaitu, relasi terminologi serta simbol antara akidah
> atau keyakinan 
> Islam (asumsi kebenaran primordial yang bersifat
> apriori, imani), 
> dengan terma dan simbol yang dikenal dalam sejarah
> kebudayaan 
> primordial masyarakat Sunda yang terkristalisasi
> dalam pandangan-
> pandangan kosmologis masyarakat Sunda. Pandangan
> kosmologis yang 
> diungkap dalam gendre "wawangsalan, sindiran, dan
> kirata".
> Dengan cara ini pula, Hasan Mustapa bermaksud untuk
> meminimalisasi 
> terhadap tradisi Islam-pesantren ketika itu yang
> memijakkan pemahaman 
> dan wacana keislaman di atas kultur Jawa. "Ajaran
> Islam" yang paling 
> memiliki kemungkinan untuk terpengaruh oleh kuasa
> budaya lain adalah 
> aspek furu atau syariat. Syariat dalam pengertian
> yang sangat sempit 
> (konotatif), fiqh. Unsur ajaran Islam yang paling
> banyak 
> mengalami "perubahan", perkembangan.
> Masyarakat Sunda menjadi masyarakat yang sundek,
> karena mereka 
> senantiasa berpijak pada identitas dirinya yang
> autentik 
=== message truncated ===


=====
Situs: http://free.angeltowns.com/studio579/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]


                
__________________________________ 
Do you Yahoo!? 
Yahoo! Sports - Sign up for Fantasy Baseball. 
http://baseball.fantasysports.yahoo.com/


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke