1001 Cara Kristenisasi
Oleh :
Fakta 24 Jul, 03 - 8:32
am
Berbagai cara
ditempuh untuk melancarkan proyek kristenisasi. Ada yang
memalsukan Al-Quran, pendeta mengaku haji, sampai upaya memurtadkan kiai
ternama. Ada
pula tokoh Muslim yang "mendukung" kristenisasi
Kawin antar-agama
hanyalah salah satu cara kristenisasi. Lainnya, banyak. Menurut kristolog Abu
Deedat Shihab, kaum misionaris dan zending perlu menempuh berbagai macam cara
karena selama ini merasa gagal. Kini, kristenisasi lebih diprioritaskan untuk
menjauhkan ummat Islam dari agama, baru kemudian memurtadkannya. Abu Deedat
merujuk pada Al-Quran Surat Al-Baqarah: 109, "Sebagian besar Ahli Kitab
menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu
beriman..." Juga Al-Baqarah: 120, "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan
senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka."
Sinyalemen
Al-Quran itu memang benar. Dalam Konferensi Misionaris di kota Quds (1935), Samuel
Zweimer, seorang Yahudi yang menjabat direktur organisasi misi Kristen,
menyatakan, "Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslimin sebagai seorang
Kristen, namun mengeluarkan seorang Muslim dari Islam agar jadi orang yang tidak
berakhlaq sebagaimana seorang Muslim. Tujuan kalian adalah mempersiapkan
generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum
penjajah, generasi malas dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsu."
Plesetan Al-Quran
Al-Quran,
sebagai tuntunan hidup ummat Islam, kini dimanfaatkan sebagai sarana
kristenisasi. Tentu saja bukan Al-Quran sungguhan, tapi palsu. Salah satunya
adalah The True Furqan, yang sempat beredar di internet dan menggegerkan publik
Jawa Timur, awal Mei lalu. Dalam Al-Quran buatan Evangelis (Ev) Anis Shorrosh
itu, ada surat
bernama Al-Iman, At-Tajassud, Al-Muslimun, dan Al-Washaya yang isinya
memuji-muji Yesus.
Selain ada Al-Quran palsu, juga bertebaran buku-buku
plesetan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits. "Cara ini yang sekarang paling banyak
terjadi. Pemberian Supermie atau bantuan uang sudah tidak manjur lagi," tutur
Abu Deedat.
Kenapa cara itu ditempuh? Dalam wawancara dengan majalah
Jemaat Indonesia (edisi 4 Juni 2001), Pdt R
Muhamad Nurdin �Muslim murtad� menyebut trik itu sebagai cerdik seperti ular dan
tulus seperti merpati. "Saya membuat buku agar dibaca umat Kristen, kemudian
disalurkan kepada umat beragama lain. Saya tulis untuk kalangan sendiri, untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Demikian bagi orang Yahudi aku
seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang Yahudi. Itu cara yang
hati-hati dalam merebut hati kaum Muslimin. Jangan sampai ada vonis mati seperti
untuk Suradi dan Poernama," ujarnya. Dua nama terakhir adalah pendeta yang
divonis mati oleh Forum Ulama Ummat (FUU) Bandung karena menghina agama Islam.
Buku-buku Nurdin laku keras. Dalam tiga tahun, 5000 eksemplar ludes.
Hasilnya, menurut penuturan Wakil Gembala Gereja Kristen Maranatha Indonesia
(GKMI) Rawamangun Jakarta ini, banyak orang Islam yang akhirnya menerima Yesus
alias murtad. "Bahkan ada yang menjadi penginjil."
Contoh buku karangan
Nurdin adalah Ash-Shadiqul Masdhuq (Kebenaran yang Benar), As-Sirrullahil Akbar
(Rahasia Allah yang Paling Besar), dan Ayat-ayat Penting dalam Al-Quran.
Selain buku, juga bermunculan brosur atau pamflet sejenis lembar Jumat.
Judul yang dipilih pun seolah-olah Islami. Misalnya "Allahu Akbar Maulid Nabi
Isa as", "Kesaksian Al-Quran tentang Keabsahan Taurat dan Injil", dan "Siapakah
yang Bernama Allah itu?" Bertebaran pula stiker kaligrafi Arab yang isinya
pujian kepada Yesus.
Buku dan brosur itu diterbitkan oleh Yayasan Jalan
Al-Rachmat, Yayasan Christian Center Nehemia Jakarta, Yayasan Pusat Penginjilan
Alkitabiah (YPPA), Dakwah Ukhuwah, dan Iman Taat kepada Shiraathal Mustaqiim.
Anak-anak sekolah juga menjadi sasaran empuk. Siti Muflikhah, santri
Pesantren At-Taqwa Bekasi, pernah mendapat surat berisi komik anak-anak dari sebuah
lembaga yang menamakan diri Klab17. Di bagian awal, komik itu berisi cerita
keseharian anak-anak. Namun di bagian akhir ada pernyataan, "Saya percaya akan
Engkau, Yesus sebagai juruselamat saya."
Mengaku Mantan Haji
Bidang
kesehatan juga dibidik. Ini antara lain dialami keluarga Hartono, warga Kupang,
Surabaya.
Istrinya, Jam'iyah, sakit dan dirawat di RS RKZ Surabaya. Biaya yang harus dikeluarkan
selangit sehingga Hartono yang cuma bekerja sebagai mandor kontraktor
kebingungan.
Datang misionaris menawarkan bantuan biaya pengobatan.
Namun ada syaratnya: masuk Kristen. Hartono terpikat. Suami istri itupun
akhirnya menjadi penganut Kristen.
Cara yang cukup sulit diidentifikasi
adalah tipu daya dengan meniru adat atau kebiasaan komunitas Muslim. Di Cirebon,
ada kelompok qasidah yang menyanyikan puji-pujian kepada Yesus. Hal serupa juga
dilakukan jemaat Kanisah (Kristen) Ortodoks Syiria (KOS) yang menyelenggarakan
tilawatul Injil, memakai peci, ibadahnya mengamalkan shalat 7 waktu, memakai
sajadah, dan mendendangkan qasidah.
Duta-duta Injil (begitu kalangan
Kristen menyebutnya �red) juga berani mengaku sebagai mantan ustadz, bertitel
haji atau hajjah, atau anak kiai terkenal. Pengakuan-pengakuan seperti itu
direkam dalam kaset dan diedarkan di tengah masyarakat.
Misalnya di
Cirebon, murtadin Ev Danu Kholil Dinata alias Theofilus Daniel alias Amin
Al-Barokah, mengaku sebagai sarjana agama Islam, yang pindah menjadi pemeluk
Kristen setelah mempelajari Nabi Isa versi Islam di STAI Cirebon. Ternyata
ijazah sarjana yang dipakai untuk kesaksian itu palsu.
Ada lagi Ev Hj Christina Fatimah alias Tin Rustini alias
Sutini alias Bu Nonot, pemberita Injil dengan memperalat Al-Quran di Gereja
Bethel Pasir Koja, Bandung. Mengaku pernah
berkali-kali menunaikan ibadah haji. Menurut penuturan Sumarsono, mantan
suaminya, Sutini tidak pernah belajar di pesantren. Selama berkeluarga tidak
pernah shalat. Memang dia pernah pergi ke Arab Saudi, bukan untuk ibadah haji
tetapi menjadi TKW.
Banyak lagi kaset-kaset yang berisi rekaman
kesaksian palsu, misalnya kesaksian HA Poernama Winangun alias H Amos, Pdt R
Muhamad Nurdin, Pdt M Mathius, Pdt Akmal Sani, Niang Dewi Ratu Epon Irma F Intan
Duana, dan Ev Paulus Marsudi.
Sekolah dan Tawaran
Kerja
Biaya sekolah
yang kian mahal juga dimanfaatkan untuk menjerumuskan kaum Muslimin. Mereka
mendirikan sekolah (yang seolah-olah) Islam, seperti Institut Teologi
Kalimatullah Jakarta yang dikelola Yayasan Misi Global Kalimatullah. Juga ada
Sekolah Tinggi Teologi (STT) Apostolos Jakarta, yang mempunyai kurikulum
Islamologi bermuatan 40 sks.
Lapangan kerja juga menjadi lahan subur.
Ini misalnya dilakukan pasangan misionaris Robert Antony Adam dan Traccy Carffer
di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Warga Amerika Serikat yang
terang-terangan mengaku utusan Yesus itu berhasil memurtadkan 123 orang Minang,
dengan bekal jabatan konsultan kehutanan Global Partners Forestry Unit (GPFU).
Robert-Traccy yang masuk Pesisir Selatan sejak Desember tahun silam,
menawarkan rekayasa teknologi tepat guna pemberdayaan jati emas, pala super, dan
kapas transgenik. Robert lantas menjual bibit jati mas, pala, dan kapas dengan
harga 50% lebih murah daripada harga pasaran. Kalau mau dapat gratisan, bisa
saja. "Asal masuk Kristen," ujar Masrizal, aktivis dakwah di Pesisir Selatan.
Banyak warga yang tergiur dan akhirnya menjual keyakinan karena
terobsesi keuntungan jutaan rupiah. Untung misionaris ini segera dideportasi
karena pelanggaran visa, pertengahan bulan lalu.
Kasus serupa terjadi di
Bekasi. Bulan April lalu terbongkar praktik kristenisasi berbungkus lapangan
kerja. Sekitar 50 orang Muslim asal Gorontalo dibawa ke Bekasi dengan janji akan
dipekerjakan dan diberi beasiswa oleh Yayasan Dian Kaki Emas. "Tapi setelah
sampai di sini, mereka dididik dan dipaksa pindah agama Kristen oleh Pendeta Edi
Sapto," ungkap Hamdi, Ketua Divisi Khusus Forum Bersama Ummat Islam, dalam acara
konferensi pers di Masjid Al Azhar, Klender Jakarta Timur.
Warga Muslim
itu disekap, didoktrin ajaran Kristen, disuruh ikut kebaktian, dan dilarang
shalat. Mereka juga diwajibkan memelihara babi-babi yang ada di kompleks yang
berdiri di atas tanah seluas 5 hektar itu. Akhirnya kompleks kristenisasi
terselubung itu digerebeg warga dan aparat.
"Dukungan" Tokoh
Muslim Liberal
Proyek
kristenisasi ternyata mendapat `dukungan' dari beberapa orang yang sering
disebut cendekiawan Muslim. Tokoh-tokoh ini memperkenalkan paham liberalisme dan
pluralisme yang kerap mengusung slogan `membangun dunia baru', dengan penyatuan
agama dan melepaskan fanatisme agama.
Salah satunya adalah Prof DR Said
Agil Siradj, MA. Gagasan pluralnya antara lain tampak dalam pengantar buku
Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam. Buku ini dikarang oleh Bambang Noorsena,
pendiri Kanisah Ortodoks Syiria (KOS) di Indonesia.
Di situ Said Agil
menulis bahwa KOS tidak berbeda dengan Islam.
Secara al-rububiyyah, KOS mengakui bahwa Allah
adalah Tuhan sekalian alam yang harus disembah. Secara al'uluhiyyah, telah
mengikrarkan Laa ilaha ilallah (Tiada Ilah selain Allah) sebagai ungkapan
ketauhidannya. Jadi dari tauhid sifat dan asma Allah secara substansial tidak
jauh berbeda dengan Islam.
Perbedaannya, menurut Said Agil, hanya
sedikit. Jika dalam Islam (Sunni) kalam Tuhan yang Qadim itu turun kepada
manusia (melalui Muhammad) dalam bentuk Al-Quran, maka dalam KOS kalam Tuhan
turun menjelma (tajassud) dengan Ruh al-Quddus dan perawan Maryam menjadi
Manusia (Yesus). Perbedaan ini tentu saja sangat wajar dalam dunia teologi,
termasuk dalam teologi Islam. "Pandangan seperti itu merupakan salah satu bentuk
penghancuran aqidah," timpal Abu Deedat.
Tokoh lainnya adalah DR
Nurcholis Madjid. Dalam buku Pluralitas Agama, Kerukunan dalam Keragaman, Cak
Nur menjelaskan bahwa pengikut Isa Almasih menyebut kitab Injil sebagai
Perjanjian Baru berdampingan dengan kitab Taurat yang mereka sebut sebagai
Perjanjian Lama. Kaum Yahudi tidak mengakui Isa Almasih dengan kitab Injil-nya,
menolak ide Perjanjian Lama ataupun Perjanjian Baru itu, namun Al-Quran mengakui
keabsahan keduanya sekaligus.
Dengan nada agak tinggi, Abu Deedat
menyebut pendapat Cak Nur itu sebagai upaya pendangkalan aqidah. "Para pengikut Nabi Isa as (kaum Hawariyun) tidak pernah
menyebut Injil sebagai kitab Perjanjian Baru. Nabi Isa sendiri tidak pernah
menerima atau mengetahui kitab Perjanjian Baru karena Injil yang diturunkan
Allah kepada Nabi Isa bukanlah Perjanjian Baru yang isinya kebanyakan
surat-surat Paulus yang sangat bertentangan dengan ajaran Nabi Isa itu sendiri,"
katanya.
Selain kedua tokoh di atas, Abu Deedat juga memasukkan Alwi
Shihab sebagai tokoh pluralis. Sementara Adian Husaini dalam Islam Liberal
menunjuk beberapa nama seperti dosen-dosen Universitas Paramadina (Komaruddin
Hidayat, Budhy Munawar Rahman, Luthfi As-Syaukanie), dosen UIN Syarif
Hidayatullah (Azyumardi Azra, Muhammad Ali, Nasaruddin Umar), dan beberapa nama
lain yang menjadi kontributor Jaringan Islam Liberal.
Menurut Adian yang
juga anggota Komisi Kerukunan antarumat Beragama MUI, melalui pluralisme, ummat
Islam diprovokasi agar melapaskan aqidahnya. Tidak lagi meyakini agamanya saja
yang benar, dan kemudian diajak untuk mengakui bahwa agama Kristen juga benar.
"Teologi pluralis sebenarnya adalah pembuka pintu bagi misi Kristen dan sejalan
dengan imbauan Paus Yohanes Paulus II agar misi Kristen terus dijalankan,"
ujarnya.
Kaum Kristen juga tak segan-segan "menyerang" tokoh-tokoh
Muslim yang dikenal sebagai pejuang tegaknya syariat Islam. Misalnya KH Kholil
Ridwan (Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia) dan KH Abdul Rasyid Abdullah Syafii
(Pimpinan As-Syafiiyah, Jakarta).
Sekitar 5 bulan lalu,
keduanya mendapat kiriman brosur dari STT Apostolos. "Isinya tidak secara
langsung mengajak kepada agama Kristen, namun mengajak saya agar masuk ke dalam
Apostolos. Itu artinya Apostolos mengajak saya untuk masuk ke dalam agama
Kristen," kata Abdul Rasyid.
Abdul Rasyid segera melaporkan kejadian itu
kepada aparat, sebab cara itu sudah melanggar ketentuan hukum, yakni larangan
mengajak ummat suatu agama untuk masuk ke agama lain. Kemudian ada pemberitahuan
dari aparat bahwa pihak Apostolos melalui Pdt Yusuf Roni membantah telah
mengirim surat
dan brosur itu.
"Terlepas dari benar tidaknya bantahan itu, yang jelas
apa yang saya alami merupakan indikasi bahwa sasaran kristenisasi tidak hanya
kalangan akar rumput, tapi juga ulama dan tokoh masyarakat," ujar Abdul Rasyid.
Yerikho 2000 dan
Doa 2002
Misi Kristen
di Indonesia didukung oleh kekuatan dana yang sangat besar, di antaranya
melibatkan konglomerat keturunan Cina, James T Riady (bos Grup Lippo). Seperti
terungkap di majalah Fortune (16 Juli 2001), James berencana membangun seribu
sekolah di desa-desa miskin di Indonesia. James bekerjasama dengan
Pat Robinson (misionaris dunia) juga akan mendirikan organisasi jaringan umat
Kristiani.
Hebatnya, ummat Islam secara tidak sadar turut mendukung
cita-cita besar James T Riady. Antara lain dengan menjadi nasabah Bank Lippo,
belanja di Mal Lippo, membeli rumah di Lippo Karawaci dan Cikarang, berobat ke
RS Siloam, pelanggan Lippo Shop, Link Net, Lippo Star, Kabel Vision, dan
Asuransi Lippo.
Indonesia memang akan dijadikan
pusat perkembangan Kristen di Asia Pasifik. Demikian kata Pdt George Anatorae
dari The Lord Familly Church Singapore dalam seminar kerjasama Global Mission
Singapore dan Galilea Ministry Indonesia, di Hotel Shangrila Jakarta (9-12 Juni
1998). Sejauh mana keberhasilan program itu, perlu diteliti lebih lanjut. Yang
pasti, data tahun 1999 menunjukkan jumlah umat Islam di Indonesia anjlok dari
90% menjadi 75% (Siar No 43, 18-24 November 1999). Keberhasilan itu berkat kerja
keras 38 agen kristenisasi, 1573 misionaris pribumi, 62 misionaris asing, dan
421 misionaris lintas kultural (data dari Operation World 2001 yang dihimpun
India Missions Association, Japan Evangelical Assocation, dan Korea Research
Institute for Missions).
Salah satu lembaga yang gencar melaksanakan
kristenisasi adalah Doulos World Mission (DWM). Saat ini DWM sedang melaksanakan
Proyek Yerikho 2000, yaitu program pengkristenan wilayah Jawa Barat, dengan
sentra kegiatan digerakkan di kawasan pinggiran Jakarta.
Proyek ini bertujuan
"mewujudkan Kerajaan Allah di bumi Parahyangan menyongsong abad XXI". Menurut
Hendrik Kraemer, peneliti dan penginjil dari Belanda, Jawa Barat adalah wilayah
"paling gelap" di Indonesia dan sangat tertutup bagi Injil. Karena itu aktivis
DWM bertekad, "Kita harus merebut tanah Pasundan bagi Kristus."
Yerikho
2000 juga digerakkan di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung,
Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Pusat kegiatan DWM berada di kawasan
Rawamangun (Jakarta Timur) dan Tangerang (Banten).
Program lainnya
adalah Doa 2002, yang dilaksanakan sejak tanggal 19 Oktober 2001 sampai 6
Desember 2002. Secara khusus program ini menyebut beberapa komunitas Muslim
sebagai objek kristenisasi. Di antaranya adalah suku Kaili Ledo (Sulawesi
Tengah), Melayu Riau, Betawi, Aceh, Melayu Kalimantan, Tenggarong Kutai, Bima,
Maluku, Banda, dan Papua. Rencana program Doa 2002 tertuang dalam buku 40 Hari
Doa Bangsa-Bangsa yang telah diterjemahkan ke dalam 35 bahasa di dunia.
Muslim Betawi misalnya, harus didoakan oleh segenap orang Kristen pada
tanggal 9 November 2001 lalu. Itu perlu dilakukan agar hati Bapa mengasihi dan
merindukan orang Betawi. Selain itu, agar Bapa mengutus duta-duta kerajaan-Nya
untuk mengembangkan pelayanan kesenian Betawi, literatur, dan radio dalam bahasa
Betawi. Juga, agar Tuhan mencurahkan kuasa-Nya dan mengubah kehidupan
orang-orang yang berpengaruh dalam suku Betawi, baik para penyanyi, penari,
tokoh agama, masyarakat, pemuda, dan wanita.
Secara khusus, orang
Kristen mendoakan Presiden Megawati dan beberapa pemimpin dunia. Harapannya,
agar Megawati (dan para pemimpin) mendapat pewahyuan tentang Ketuhanan Yesus dan
keluarganya datang mengenal Kristus.
Duta-duta Injil juga sedang
menggencarkan ritual Doa 5 Patok. Yakni meningkatkan doa 5 kali sehari dengan
pelaksanaan minimal 30 menit lebih awal sebelum waktu shalat (bagi orang Islam).
Tujuannya adalah untuk mengadakan penghadangan ruhani sekaligus pembersihan
atmosfir ruhani agar kaum Muslimin dapat menerima Yesus.
Ritualnya
dilaksanakan sebelum waktu shalat ummat Islam, yakni subuh (mulai
03.15-selesai), pagi (10.30-selesai), siang (14.00-selesai), sore
(17.00-selesai), dan malam (18.00-selesai). Pada Kamis malam, dilakukan doa
semalaman dan peperangan ruhani sambil berkeliling kota/lokasi tertentu. Awas,
hati-hati!� (ahmad, dodi nurja, amz, pam/Hidayatullah)