"Dua Kalimat Syahadat
Membisik di Telingaku"
Sebagai seorang mantan pendeta Pantekosta, aku dulu
sangat membenci Islam,
hingga aku senantiasa berusaha merusak akidah umat
nabi Muhammad SAW,
melalui ekabaran Injil kepada umat yang beragama Islam
khususnya. Sering
aku mengatakan bahwa agama Islam adalah agama
penyesat, dan sungguh tidak
bisa dijadikan pedoman atau dasar iman bagi kehidupan
manusia.

Pada suatu hari, aku harus membaptis satu keluarga
muslim. Sebelumnya, aku
sudah banyak memberikan bantuan materi untuk hidup
mereka sehari-hari.
Tentu saja bantuan itu tidak kuberikan secara
cuma-cuma, tetapi dengan
imbalan, keluarga ini harus masuk kristen.

Ketika aku bertanya kepada keluarga ini, apakah mereka
sungguh menerima
yesus sebagai Tuhan dan juruselamat? Mereka akhirnya
mengangguk setuju,
hingga seminggu kemudian, aku membaptis seluruh
keluarga ini, dan menyuruh
mereka membakar semua atribut yang berbau Islam. Saat
itu mataku tiba-tiba
tertuju pada satu tulisan kaligrafi AlQuran yang
ditempel didinding. Aku
bertanya pada si pemilik rumah yang hendak kubaptis,
tulisan apa itu ?.

Ia menjawab kalau itu
adalah tulisan dua kalimat syahadat, yang artinya
"Tiada Tuhan Selain
Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah".

Tiba-tiba dadaku terasa bergemuruh saat mendengar
makna dari tulisan Arab
itu. Niatku yang ingin merobek kertas itu mendadak
lenyap. Dalam perjalanan
kembali ke rumah, ada satu peristiwa yang sungguh di
luar jangkauan
manusia, karena saat itu kurasakan di telingaku
berbisik sebutan dalam
bahasa Indonesia "Tiada Tuhan Selain Allah, dan
Muhammad utusan Allah".

Lama aku termenung memikirkan bisikan itu. Pikiranku
tertuju pada kalimat
"Tiada Tuhan Selain Allah". Kalimat itu dimulai dengan
kata tidak, suatu
makna yang menandakan penolakan terhadap Tuhan-tuhan
lain selain Allah.

Sejak itulah, aku mulai tertarik pada Islam. Dan
otomatis, ketertarikanku
pada Islam sangat mempengaruhi aktivitasku sebagai
pendeta.

Istriku yang juga penginjil, ternyata tanggap dengan
perubahan yang terjadi
dalam diriku, dan mempertanyakannya padaku. Kupikir,
alangkah baiknya kalau
kuceritakan saja mengenai kegelisahanku ini, dan
mengajaknya berdoa bersama
sebagai seorang pendeta. Namun anehnya, saat berdoa
bersama itu
konsentrasiku hilang, saat kalimat itu kembali
terngiang ditelingaku. 

Akhirnya, aku sadar kalau batinku menuntut untuk
mencari kebenaran yang ada
pada Islam, salah satunya dengan membeli buku-buku
bacaan tentang Islam,
yang berhasil kutemukan di daerah Senen, Jakarta.

Dari beberapa buku yang kupilih, ada satu buku yang
menarik minatku, yaitu
buku berjudul "Hidup Sesudah Mati" karangan almarhum
Bey Arifin. Setiap
buku yang kubaca, pasti didukung oleh referensi
ayat-ayat AlQuran, yang
sungguh kukagumi karena semuanya tidak bertentangan
dengan fitrah manusia.

Sementara asyik dengan buku-buku mengenai Islam,
kegiatanku berkhotbah di
gereja tetap kujalani, meski otomatis jadi sedikit
ngawur. Materi ceramahku
tidak lagi bicara mengenai Yesus, melainkan lebih
kepada hubungan antar
manusia.

Selain itu, rapat-rapat kependetaan pun perlahan-lahan
mulai kutinggalkan.
Melihat semua ini, rekan-rekanku yang lain tentu saja
mulai curiga, dan
memanggilku dalam pertemuan khusus para pendeta.
Singkat cerita, aku
dipecat dari kedudukan sebagai seorang pendeta, dan
resikonyaadalah
meninggalkan kemewahan.

Di daerah Depok I, Jawa barat, tempatku menginap saat
usia senja ini
terdapat masjid yang letaknya persis di depan rumah.

Ketika kulihat masjid hanya penuh pada saat sholat
Jumat, aku sempat jadi
bimbang, apa bedanya dengan agama Kristen yang
gerejanya penuh jamaat hanya
pada hari Minggu. Namun setelah kukaji Al Quran,
ternyata perintah sholat
telah jelas diwajibkan, hanya saja manusianya saja
yang senantiasa
melalaikan kewajiban itu. Akupun tenang kembali.

Semula istriku tidak setuju dengan keinginanku menjadi
seorang muslim.
Bahkan ketika malam hari sebelum aku mengucapkan dua
kalimat syahadat,
kukatakan keinginanku padanya, ia malah menghardikku
sebagai pengkhianat.
Aku tak peduli. Bahkan aku cuma bisa berharap istri
dankedua anak-anakku
ikut jejakku masuk Islam.


Akhirnya pada tanggal 13
Februari 1994, di Beji, Depok, aku resmi menjadi
muslim. Dan namaku pun
berganti menjadi Rudi Mulyadi Foorste, yang semula
bernama Rudy Rudolf Otto
Foorste. (beliau keturunan Belanda, orang tuanya
berasal dari Galela,
Halmahera Utara - red).

Selang tiga bulan kemudian, istri dan kedua anakku pun
mengikuti jejakku,
masuk Islam. Ternyata Allah SWT kembali memberikan
taufik dan hidayah
kepadaku dengan berkumpulnya kami sekeluarga, dalam
naungan Islam. Dan yang
paling aku syukuri adalah kerelaan istri dan
anak-anakku untuk hidup
sederhana, jauh dari kemewahan seperti yang dulu
pernah kami alami.

Islam telah memberiku jalan, kebenaran dan kehidupan
yang sesungguhnya. Dan
kebahagiaan seperti ini, tidak kuperoleh dari Yesus
Kristus.

Karena hanya melalui agama Islam, aku dapat memperoleh
keselamatan di dunia
dan akhirat nanti. Kepada mereka yang pernah kubaptis,
aku mohon dibukakan
pintu maaf sedalam-dalamnya. Dan mari kembali pada
Islam.

Sumber: [EMAIL PROTECTED]





 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/MCfFmA/SOnJAA/E2hLAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke