From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of nunung nurhayati
Sent: Wednesday, May 11, 2005 10:37 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [om_bajak] [Pertashipmuslim] Orang Malang yang Malang
Orang Malang yang Malang
A. Mustofa Bisri
APA yang tidak bisa terjadi di negeri ini? Presiden ditipu raja gadungan
atau dukun, bisa. Melihat gerhana matahari diharamkan, bisa. Mengimpor
sampah, bisa. Mati tertimbun sampah, bisa. Mengekspor TKI, bisa. Ibu
membunuh anak, bisa. Ayah atau guru mencabuli anak atau muridnya, bisa.
Ustad jadi polisi, bisa. Preman menjadi hakim atau ustad, bisa. Polisi
mendekengi bandar judi, bisa.
Copet beberapa rupiah dibakar hidup-hidup, bisa. Koruptor miliaran rupiah
bebas merdeka, bisa. Majelis ulama berjualan label dan ngurusi logo kaset,
bisa. Pelawak jadi dai atau anggota DPR, bisa. Dai atau anggota DPR jadi
pelawak, bisa. Wakil rakyat yang terhormat mewakili tawuran, bisa.
Musyawarah untuk perpecahan, bisa. Politisi minta bantuan Tuhan untuk
memenangkan partainya dalam pemilu, bisa.
Jamaah yang hendak berpuasa Ramadan, minta bantuan pedagang-pedagang
warung agar menutup warungnya di siang hari, bisa. Kiai berkelahi dengan
politisi, bisa. Ustad bertengkar dengan pemusik, bisa. Alumni pesantren
mendirikan sasana tinju, bisa. Mantan petinju mendirikan pesantren, bisa.
Puluhan ribu orang meninggal dalam sekejap, bisa. Apalagi?
Anda bisa memperpanjang daftar hal-hal ganjil, bahkan musykil, yang
mungkin dan sudah pernah terjadi di negeri ini. Jadi masih herankah Anda
jika ada yang punya odo-odo bersembahyang menggunakan bahasa negeri
ini, negeri ganjil ini?
Bangsa negeri ini agaknya memang perlu diruwat (baca: tobat). Banyak orang
di negeri ini yang tak tahu diri, lupa diri, dan atau tidak tahu mengukur
diri sendiri, umumnya gara-gara kepentingan sendiri yang terlalu tinggi. Ada
yang tak punya ijazah sekolah, ingin menjadi pejabat formal. Ada yang hanya
bermodalkan ingin dan dukungan kawan-kawan, mencalonkan diri menjadi
kepala pemerintahan.
Ada yang belum tamat ibtidaiyah sudah mengustadkan diri. Ada yang punya
hafalan satu-dua ayat dan satu-dua hadis, sudah memubaligkan diri. Ada
yang mengerti sedikit ilmu klenik, sudah mewalikan diri. Dan sebagainya, dan
seterusnya. Boleh jadi ini merupakan sumber, paling tidak salah satu sumber
kekacauan dalam pergaulan hidup kita bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.
Supaya tidak ngombro-ngombro, berlarut-larut, dan bertele-tele, kita ambil
saja beberapa contoh, yaitu beberapa kasus yang lagi hangat dibicarakan.
Pertama, kericuhan hampir di setiap kongres atau muktamar. Di sini jelas
sekali kepentingan -masing-masing yang bertikai- terlalu tinggi dibanding
penguasaan mereka terhadap makna demokrasi, politik, dan tujuan mulia
berdemokrasi dan berpolitik. Kepentingan sesaat membuat mereka lupa
akan kepentingan yang lebih besar dan kekal.
Contoh lain yang sepele dan dibesar-besarkan adalah soal logo grup musik
Dewa yang melibatkan beberapa ustad, bahkan majelis ulama. Di sini
tampak sekali masing-masing terlalu tinggi menghargai diri mereka. Masing-
masing merasa sudah -dan mungkin paling- dekat dengan Allah karena
merasa memiliki kelebihan: seni dan ilmu fikih.
Yang paling lucu mungkin orang Malang yang malang itu. Orang 'nasionalis'
yang mengimami sembahyang dengan diterjemahkan ke dalam bahasa
nasional.
Imam ini terlalu tinggi mengukur dirinya, gara-gara dipanggil ustad dan ada
yang mau menjadi makmumnya. Reaksi terhadap perilakunya ini pun melebihi
ukuran. Dengan semangat membela agama, orang-orang pun 'menyerbu'
tempat tinggalnya. Padahal, dia -paling tidak menurut saya- seperti banyak
orang yang lain, hanyalah orang awam yang kemaruk, terlalu bersemangat,
untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya.
Seandainya dia -dan banyak pemeluk agama lainnya di negeri ini- mau agak
berendah diri, terus belajar tentang Allah dan aturan-aturannya, tentu
ceritanya akan lain. Ada dhawuh: "Seseorang akan tetap pintar selama masih
mau terus belajar. Sekali orang berhenti belajar karena merasa sudah pintar,
mulailah dia bodoh."
Kata Rasulullah: Maa halaka umru-un 'arafa qadarahu, tidak akan celaka
orang yang tahu ukuran dirinya. Dan ternyata, orang yang tidak tahu
mengukur diri -apalagi yang tak tahu diri atau lupa diri- tidak hanya
merugikan dirinya sendiri, tapi lebih dari itu dapat merepotkan orang lain.
Kalau orang lain itu banyak dan kerepotan itu mengganggu pergaulan hidup
bermasyarakat, lalu bagaimana mengatasinya?
Setiap masyarakat - kecuali mungkin masyarakat hutan- tentu mempunyai
aturan-aturan yang disepakati dan dipercayai untuk mengatur ketertiban
hidup dan pergaulan hidup mereka. Dalam kaitan berbangsa dan bernegara,
ada undang-undang dan peraturan-peraturan lainnya. Dalam kaitan
berorganisasi ada AD/ART. Dalam hubungan antara hamba dengan Tuhan,
ada kitab suci dan sunah nabi.
Nah, tinggal masyarakat itu sendiri; mau tidak mengikuti, mematuhi, dan
menegakkan aturan-aturan tersebut dan tidak mendahulukan nafsu maupun
kepentingan sendiri?
fwd by Redaksi from Jawa Pos, 08 Mei 2005
Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! Download Messenger Now
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

