Punten teu di Sunda keun

Segenggam Gundah
> selamat hari ayah !
> 
> Renungan diakhir minggu ....
> Semoga bermanfaat ....
> 
> 
> Segenggam Gundah (ode untuk para Ayah)
> 
> Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari
rumah saya dan
> melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai
pagar depan
> rumah. "Yah, beras sudah habis loh..." ujar
isterinya. Suaminya hanya
> tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya
terhenti oleh
> panggilan anaknya dari dalam rumah, "Ayah..., besok
Agus harus bayar
> uang praktek".
> 
> "Iya..." jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga
saya, apalah
> lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya
semakin berat.
> 
> Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya
semalam, "besok
> beliin lengkeng ya" dan saya hanya menjawabnya
dengan "Insya Allah"
> sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam
nanti tangan ini tak
> berjinjing buah kesukaannya itu.
> 
> Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar,
"jangan lupa, pulang
> beliin susu Nadia ya". Kontan saja SMS itu membuat
teman saya bingung
> dan sedikit berkelakar, "ini, anak siapa minta
susunya ke siapa".
> Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu
benar-benar sampai ke
> nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang
bersemayam. Kalau
> tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah.
Bagaimana jika
> sebaliknya?
> 
> Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah
mereka, mengiringi
> setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri
semalam tentang uang
> belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang
tertunggak sejak
> bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok
terakhir, bayar
> tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang
mulai sering
> mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang
kerap membuatnya
> terlamun.
> 
> Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat
isterinya
> tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan
satu kalimat, "Iya,
> nanti semua Ayah bereskan" meski dadanya bergemuruh
kencang dan
> otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya
membereskan semua
> gundah yang ia genggam.
> 
> Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang
berakhir di tali
> gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang
semakin menjerat cekat
> lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan
jeratan hutang
> dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia
sanggupi. Sama-sama
> menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih
cepat dan tidak
> perlahan-lahan.
> 
> Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya
berlumuran darah
> sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak
orang lain demi
> menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus
berakhir di dalam
> penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di
rumahnya, karena susu
> yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.
> 
> Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan
keimanannya, menipu
> rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi
angka-angka,
> atau berbuat curang di balik meja teman sekerja.
Isteri dan anak-
> anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari
mana uang yang
> didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting
teredam sudah gundah
> hari itu.
> 
> Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia
menunggu
> kepulangan Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak
juga kembali.
> Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan
anak-anaknya setia
> menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur
meregang nyawa,
> menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar
massa yang geram
> oleh aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi,
ada yang rela
> menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang
mesti ia tuntaskan.
> 
> Sungguh, diantara sekian banyak Ayah itu, saya
teramat salut dengan
> sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam
gundahnya, membawanya
> kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi,
mengadukannya dalam
> setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga
membawanya
> kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah
berikan hari
> itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia
genggam. Ayah yang
> ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan
hamba-Nya berada
> dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah
usai.
> 
> Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua
gundahnya tanpa harus
> menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia
takkan
> menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau
dengan tangan
> berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji
pengap, atau bahkan
> membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk
tentang dirinya
> yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah
mencopet.
> 
> Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam
gundah saya dengan
> senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang
yang tersenyum
> dan ringan melangkah di balik semua keluh dan
gundahnya. Semoga.
> 
>disaat ini janganlah menambah gundah suami dengan
tuntutan2 yang tidak masuk akal,,,,, 
> untuk para suami hadapilah segala gundah dengan
pikiran yang dingin & tawakal kepada Allah agar segala
gundah terlewati dengan senyuman...........
> 







                
__________________________________ 
Discover Yahoo! 
Get on-the-go sports scores, stock quotes, news and more. Check it out! 
http://discover.yahoo.com/mobile.html


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke