Title: Message
Wilujeng enjing baraya sadaya.
 
Nyanggakeun artikel di Tribun Jabar dinten sabtu
kaping 2 Juli 2005.
 
Punten teu di Sunda keun.....
 
Catatan dari Kongres Basa Sunda VIII
 
Orang Sunda dan Bahasanya di Dunia Maya
 
Dari seabreg makalah di arena Kongres Basa Sunda VIII di Subang selama
tiga hari (28-31/6), yaris semua makalah mengungkapkan persoalan yang
sudah usang--bahwa bahasa dan sastra Sunda, makin merosot keberadaannya.
___________________________________________________________
 
Meski demikian, ada satu makalah yang cukup menggembirakan, bahkan
mengejutkan. Kusnet, alias komunitas urang Sunda di Internet, diam-diam
telah melakukan beberapa upaya pengembangan bahasa dan satra Sunda,
yang selama ini justru sering dikeluhkan oleh sarjana bahasa Sunda.
 
Domisili para aktivitas Kusnet menyebar. ada yang dipedesaan, kota-kota
besar se-Indonesia hingga kota-kota di luar negeri seperti Jerman, Amerika
Serikat dan Korea Selatan
 
Yayat Rukayadi, misalnya. Ia adalah warga Sumedang yang jadi Doktor
Mikrobiologi dan mengajar di Yong Sei, Seoul Korea Selatan. Kemudian
Dr. Suhermanto Duliman, warga Talaga Majalengka yang kecebur jadi ahli
nuklir Wina, Austria. Bahkan Suhermanto termasuk salah satu anggota tim
nuklir PBB yang tugasnya memonitor nuklir di Korea Utara. Lies Parish,
orang Tasik yang mengembara di Inggris karena dinikahi pria Inggris. Kemudian
Singgih Nata alias Abah Joe yang berusia 60 tahun, warga Cicalengka yang sudah
mengembara di New York sebagai pengusaha taksi.
 
Mereka semua membangun komunikasi di internet dengan menggunakan bahasa
Sunda. Mungkin berawal dari rasa sono (rindu) terhadap kampung halaman
serta yaah (menyayangi) kerabat di lembur (kampung halaman), akhirnya
terbangun persepsi untuk saling membantu. Anggota Kusnet membentuk sebuah
yayasan, yang dinamakan Yayasan Perceka.
 
Salah satu upaya untuk membantu kerabatnya yang ada di kampung halamannya,
dilakukan anggota Kusnet dengan memberi beasiswa terhadap siswa tidak mampu
yang ada di pedesaan secara rereongan (patungan). Beasiswa tersebut berupa
SPP tahunan.
 
"Hingga kini sudah ada 40 siswa SD di Ciamis yang menerima beasiswa dari
warga Kusnet," kata Mamat B. Sasmita, yang akrab dipanggil Wa Sas. Wa Sas
ini sebagai sesepuh Kusnet karena bertugas menjaga situs bersama Mang Jamal,
Dosen Itenas. Selain memberi beasiswa, warga Kusnet juga mengumpulkan dana
untuk membantu warga tidak mampu di kampung-kampung di tatar Sunda yang
terkena musibah.
 
Aktivitas Kusnet juga tidak melupakan bahasa dan budayanya. Mereka membangun
perpustakaan di pedesaan tempat asal mereka. Hingga sekarang terbangun 13
perpustakaan, berisi buku-buku bacaan.
 
"Hampir 25 persen dipenuhi buku-buku Sunda," kata Wa Sas. Yang paling
menakjubkan, Kusnet membangun Wikipedia dalam bahasa Sunda, yaitu kamus basa
Sunda di internet yang bisa diakses siapa pun.
 
Apa yang dikerjakan aktivitas Kusnet memperlihatkan bahwa orang Sunda ternyata
cerdas memanfaatkan teknologi internet dengan sentuhan manusiawi dan budaya, yakni
untuk menolong sesama dan menegakkan kebudayaannya. Dalam soal memajukan
bahasa dan sastra, langkah kusnet ini seribu kali lebih jauh dari Lembaga Basa dan Sastra
Sunda yang kemampuannya sekedar menyelenggarakan kongres bahasa Sunda
(cecep burdansyah)
 
 
 
Kusman Suwitapradja


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke