Laporan: ant/pur
Garut-RoL -- Deddy Effendie (50), pelukis terkecil pertama dunia, kini tengah berobsesi mewujudkan museum pertama lukisan terkecil dunia di Kabupaten Garut, dengan memanfaatkan Studio Proklamasi miliknya yang telah dibangun di atas tanah seluas 512 m2, namun untuk mewujudkan impiannya yang spektrakuler itu selalu terganjal biaya karena sekurang-kurangnya diperlukan dana sebesar Rp500 juta.
Karena itu dia memberi peluang kepada siapapun calon investor, termasuk Pemkab setempat, untuk menanamkan modal masa depannya, ujar ayah dua anak yang beristerikan Yulia Sugiarti(48) kepada Antara di Studionya Jl. Proklamasi Garut, Rabu.
Sebanyak 40 buah Koleksi lukisan kecilnya bernilai tak terhingga, dengan ukuran paling kecil 0,4 mm X 0,45 mm berjudul "Sensasi Kucing" hanya bisa dilihat dengan kaca pembesar dibuat tahun 1996, sedangkan pertama memproduk lukisan kecil pada tahun 1990 berukuran 7 cm X 13 cm diatas kanvas kain blue jeans bertajuk "dua orang bersampan", diapun memiliki koleksi sebanyak 13 lukisan supermini hasil goresan keterampilan jemari tangannya itu.
Pelukis beraliran "Surealisme" tersebut mengaku bukan pelukis pesanan, meski sebuah lukisannya "Rama dan Sinta" yang bermotifkan ornamen Bali sejak 1978 dikoleksi seorang warga Perancis Rene Gunghug, bahkan hingga kini Deddy Effendie masih menyimpan lukisan mini wajah Ibu Tien Soeharto yang dibuat selama 30 menit pada pukul 09.00 WIB tahun 1996, tepat 40 hari pasca ibu negara itu wafat.
Koleksi lukisan berukuran 1 cm2 tersebut akan dikeluarkan jika ada yang mau membelinya seharga Rp 1 miliar atau sekitar 100.000 USD, ujar Eddy Effendie yang juga telah menulis lima judul novel terakhir novel tahun 2003 berjudul "Gadis Permata Bunda" terbitan Gramedia Widia Sarana Indonesia (Grasindo), novel yang mewakili era Indonesia sebelum merdeka hingga era reformasi ini bertutur seputar tatar Garut dengan menokohkan nama "John".
Sedangkan empat novel berbahasa Indonesia lainnya terdiri, Tembang Cinta Maharaja, Dongeng kakek tentang Kakek, Ceriteraku Ceritera Kalian Juga serta Kijang dan Harimau, dia-pun selama ini produktif telah membuahkan sebanyak 10 karya novel berbahasa Sunda, sementara buku pelajaran untuk SMP yang dibidaninya antara lain Reneka Sastra Sunda dan sebagai editor pelajaran Ekonomi dan Koperasi.
Seniman pengagum berat "Chairil Anwar" tersebut memiliki visi hidup "Sekali Berarti Sesudah itu Mati", namun dia menyebutkan meski mengagumi Chairil Anwar atas semangatnya, namun tidak menyukai gaya hidup Chairil Anwar yang dinilainya terlampau "urakan", katanya.
Pelukis Deddy Effendie ayah dari Pujia Pernami(22) dan Widia Gustini(18) itu, selama tiga kali karyanya telah tercatat pada Museum Rekor Indonesia (MURI) dan kini tengah berupaya keras mewujudkan angannya yang mulia membangun Museum lukisan terkecil dunia di Kabupaten Garut, yang akan dilengkapinya dengan pondok baca, cafetaria serta laboratorium seni budaya, pertanyaannya adakah yang peduli atas gagasan orsinil tersebut untuk mengangkat nama Garut ditengah masyarakat dunia, walaualam bi sawab.
Sebanyak 40 buah Koleksi lukisan kecilnya bernilai tak terhingga, dengan ukuran paling kecil 0,4 mm X 0,45 mm berjudul "Sensasi Kucing" hanya bisa dilihat dengan kaca pembesar dibuat tahun 1996, sedangkan pertama memproduk lukisan kecil pada tahun 1990 berukuran 7 cm X 13 cm diatas kanvas kain blue jeans bertajuk "dua orang bersampan", diapun memiliki koleksi sebanyak 13 lukisan supermini hasil goresan keterampilan jemari tangannya itu.
Pelukis beraliran "Surealisme" tersebut mengaku bukan pelukis pesanan, meski sebuah lukisannya "Rama dan Sinta" yang bermotifkan ornamen Bali sejak 1978 dikoleksi seorang warga Perancis Rene Gunghug, bahkan hingga kini Deddy Effendie masih menyimpan lukisan mini wajah Ibu Tien Soeharto yang dibuat selama 30 menit pada pukul 09.00 WIB tahun 1996, tepat 40 hari pasca ibu negara itu wafat.
Koleksi lukisan berukuran 1 cm2 tersebut akan dikeluarkan jika ada yang mau membelinya seharga Rp 1 miliar atau sekitar 100.000 USD, ujar Eddy Effendie yang juga telah menulis lima judul novel terakhir novel tahun 2003 berjudul "Gadis Permata Bunda" terbitan Gramedia Widia Sarana Indonesia (Grasindo), novel yang mewakili era Indonesia sebelum merdeka hingga era reformasi ini bertutur seputar tatar Garut dengan menokohkan nama "John".
Sedangkan empat novel berbahasa Indonesia lainnya terdiri, Tembang Cinta Maharaja, Dongeng kakek tentang Kakek, Ceriteraku Ceritera Kalian Juga serta Kijang dan Harimau, dia-pun selama ini produktif telah membuahkan sebanyak 10 karya novel berbahasa Sunda, sementara buku pelajaran untuk SMP yang dibidaninya antara lain Reneka Sastra Sunda dan sebagai editor pelajaran Ekonomi dan Koperasi.
Seniman pengagum berat "Chairil Anwar" tersebut memiliki visi hidup "Sekali Berarti Sesudah itu Mati", namun dia menyebutkan meski mengagumi Chairil Anwar atas semangatnya, namun tidak menyukai gaya hidup Chairil Anwar yang dinilainya terlampau "urakan", katanya.
Pelukis Deddy Effendie ayah dari Pujia Pernami(22) dan Widia Gustini(18) itu, selama tiga kali karyanya telah tercatat pada Museum Rekor Indonesia (MURI) dan kini tengah berupaya keras mewujudkan angannya yang mulia membangun Museum lukisan terkecil dunia di Kabupaten Garut, yang akan dilengkapinya dengan pondok baca, cafetaria serta laboratorium seni budaya, pertanyaannya adakah yang peduli atas gagasan orsinil tersebut untuk mengangkat nama Garut ditengah masyarakat dunia, walaualam bi sawab.
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "urangsunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

