Naha nagri urang bet jadi kieu ateuh? geus luntur rasa kamanusaanana?
beu!!!!. punten lah teu disundakeun

Tragedi Fifi, Tragedi Kaum Miskin!

UNTUK kesekian kalinya siswa sekolah di Republik ini mengakhiri hidupnya
secara tragis karena kemiskinan. Fifi Kusrini, siswi SMP Negeri 10
Bekasi yang baru saja naik kelas II, nekat menggantung diri Jumat (15/7)
sore karena kemiskinan orang tuanya.

Warga Kelurahan Cikiwul, Bantar Gebang, Bekasi, itu malu karena
menunggak sisa uang gedung, buku rapor, dan BP3 yang jumlahnya hampir
Rp300.000. Namun, yang membuat gadis berusia 14 tahun itu memilih jalan
kematian, karena ejekan kawan-kawannya. Fifi tidak lagi punya kekuatan
mental ketika kawan-kawannya mengejeknya sebagai anak tukang bubur.

Jika benar ejekan itu menjadi penyebab jalan kematian Fifi, ini sungguh
persoalan amat serius bagi kita. Serius karena pertama, anak-anak
sekolah, sesama kawan Fifi, tidak tahu bagaimana menghargai mereka yang
mencari nafkah secara halal. Kedua, mereka juga tidak mempunyai empati
dan solidaritas sosial.

Para guru, orang tua murid, dan kita semua ikut bertanggung jawab atas
cara pandang siswa yang sempit seperti itu. Bagaimana orang yang bekerja
mencari nafkah secara halal justru menjadi olok-olok. Bukankah jumlah
orang miskin di negeri ini sangat besar? Sekitar 35 juta dari 220 juta
penduduk Indonesia. Karena itu, kita semua perlu memberi pemahaman dan
keteladanan terhadap anak-anak kita bagaimana melakukan
kebajikan-kebajikan sosial yang konkret.

Kita harus mempunyai pemahaman kemiskinan bukanlah sebuah pilihan.
Bahkan, dalam konteks keadilan, orang-orang miskin itu adalah korban.
Korban akibat gagal negara yang terjadi berkali-kali di negeri ini.
Gagal negara terjadi karena para elite tidak memahami makna hakiki
membangun bangsa.

Kaum miskin juga korban dari orang-orang loba yang mengeruk kekayaan
semena-mena. Korban dari sistem ekonomi pasar (kapitalisme) yang sama
sekali tidak memberi proteksi terhadap mereka yang tidak punya kapital
dan akses.

Karena itu, kita semua, khususnya pemerintah, jangan menyikapi fenomena
bunuh diri siswa tidak punya sebagai hal biasa. Ia sudah terjadi
berkali-kali. Bahkan, kasus lebih banyak dialami anak-anak sekolah
dasar. Kita masih ingat kasus Haryanto di Sanding, Garut, Jawa Barat,
pada 2003 dan Eko Haryanto di Tegal, Jawa Tengah, pada 2004?

Kisah tragis yang menimpa Fifi dan anak-anak yang lain, sekali lagi,
harus dilihat sebagai korban orang-orang kalah. Kasus seperti ini harus
menjadi pelajaran serius, khususnya para elite dan kaum berpunya, untuk
tidak hidup bermewah-mewah di tengah-tengah saudara-saudara kita yang
papa.


Wassalam
Aa Dicky
Moalboros Los Teu Maksa



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h5lbrki/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705013556:TM/Y=YAHOO/EXP=1122693852/A=2896110/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com
">Help save the life of a child. Support St. Jude Children¿s Research 
Hospital</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke