sok we der lah ngarana ge milist, moal aya nu ngadenda ieuh, alus-alus di baca ku pejabat, kumaha rek mere perubahan lamun masih sieunan keneh mah, lain jamanna deui ti kotok dilebuan.....baraya.....
 

 
On 10/4/05, Om TEDDY <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Hampura, Baraya...!!
Sakali deui hampura... Tapi mudah-mudahan uneg-uneg kuring bisa kaharti...
 
Mangga...
 
Baktos,
Om TEDDY
----- Original Message -----
Sent: Saturday, October 01, 2005 8:27 PM
Subject: Re: [Urang Sunda] BBM = BeBan Masyarakat

 
Emailna ku basa sunda atuh. Teu maci make basa dengen mah.
 
wass. Iman

 
On 10/2/05, Om TEDDY <[EMAIL PROTECTED] > wrote:

Selamat menunaikan ibadah puasa di Bulan Ramadhan. Semoga amal Ibadah kita mendapat balasan yang lebih baik dari Allah SWT.

 

Dengan kenaikan BBM di bulan Oktober 2005 merupakan moment penting bagi kita untuk menguji kekuatan hidup kita yang memang udah pas-pasan. Penulis termasuk orang yang sangat tidak setuju dengan kenaikan BBM yang secara mencolok. Terutama BBM yang banyak dikonsumsi. Misal Minyak tanah (Rp 700 jadi Rp 2000), Premium (Rp 2.400 jadi Rp 4.500).

Kebanggaan sebagai negeri yang kaya akan minyak udah nggak laku lagi dimata penulis. Kita negara miskin, pejabat gila, DPR sableng... Lalu rakyat? Rakyat ya sengsara, dong..!! Eh... tapi kita masih punya Allah SWT, kan?

OK saya teruskan lagi pelampiasan uneg-uneg saya biar pada tahu...!!

 

Beberapa anggota DPR mengatakan kenaikan BBM harus diimbangi dengan subsidi yang jelas. Dari dulu subsidi emang udah bener? Banyak digarong oleh pejabat yang gila.... Tolong ini difikirkan dengan cermat. Kalau bener mau menerapkan subsidi kenapa tidak dari dulu diterapkan dengan bener. Justru melalui BBM subsidi itu lebih terasa. Kalau melalui pendidikan, kesehatan, atau pengangguran suka diumpetin ama garong-garong berseragam. Ini terbukti dari liputan yang menggambarkan betapa masih banyak rakyat yang tidak mengetahui adanya program subsidi dari pemerintah. Nah pada kemana tuh dana?

 

Kenaikan minyak dunia harusnya memberikan manfaat pada rakyatnya, dong. Kurang bijak bila kita membandingkan dengan negara Eropa yang harga minyaknya mencapai Rp 10.000 – Rp 12.000 per liter. Terang aja mahal lha wong minyak mereka impor/beli dari penghasil minyak seperti negara kita yang tercinta. Makanya negara di Eropa itu kebanyakan penjajah. Jangan bandingkan dengan penjajah! Coba bandingkan dengan negara Arab! Buktinya sebagai negara pengahsil minyak rata-rata per liternya nggak lebih dari Rp 2.500. Kenapa bukan negara ini yang dijadikan contoh? Ada yang salah? Nah ini perlu difikirkan. Jangan sampai karena terlalu mengikuti tekanan penjajah, lalu hilanglah keberpihakan pada rakyat dan kesejahteraan.

 

Beberapa yang lalu ada yang mengusulkan untuk menaikan cukai rokok hingga 300%. Konon dengan menaikan cukai pada level tersebut akan cukup menutup defisit anggaran negara. Pertama kali membaca ide ini penulis anggap cukup gila juga. "Mentang-mentang anti rokok", pikir penulis. Tapi setelah penulis pikir dan hitung-hitung ada benernya. Contoh untuk sebungkus rokok yang biasa penulis hisap pada pita cukainya tertulis harga Rp 8.900 dengan nilai pajak 40%. Kalau dinaikan 300% harganya mungkin akan mencapai sekitar Rp 14.100. Nah kalau hitungan penulis ini bener, nggak akan terlalu memberatkan. Soalnya berapa pun naiknya harga rokok, jarang yang protes. Kenapa, ya? Wallahu 'alam.


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




SPONSORED LINKS
Corporate culture Business culture of china Organizational culture
Organizational culture change Organizational culture assessment Jewish culture


YAHOO! GROUPS LINKS






Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




SPONSORED LINKS
Corporate culture Business culture of china Organizational culture
Organizational culture change Organizational culture assessment Jewish culture


YAHOO! GROUPS LINKS






--
Wassalam Mualaikum Wr Wb

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




SPONSORED LINKS
Corporate culture Business culture of china Organizational culture
Organizational culture change Organizational culture assessment Jewish culture


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke