Om Tedi, tiga ratus rebu (300.000) perak teh sanes sabulan tapi tilu bulaneun sampe ka Desember.
Cenah aya pangalaman dina angkot anu panumpangna teh bapa-bapa anu tas ti kantor POS nyokot nyarokot duit subsidi tea. Ari carakatak teh  teh saleuseurian bari pok "ayeuna mah urang sarare bae lumayan da geus meunang duit teu kudu digawe" cenah.
Tah kumaha atuh nya sigana mah leuwih hade dibere useup batan laukna mah.

 

Salam baktos,

WAG



Om TEDDY <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Apaan, sih maksud Subsidi, teh??
Tiga ratus rebu (300.000) perak sabulan.
Supaya efeketif dan menghasilkan bagusnya digimanain, ya??
 
Kalo diinvestasikan dengan profit 30% per bulan. Berarti akhir bulan dapet sabaraha?
yap... 390.000 (tilu ratus salapan puluh rebu). Eta oge mun teu dicoceng (baca: di kompas ama panitia atau seperti Ketua RW di Tangerang).
 
Coba DPD PK Sejahtera Kabupaten Tangerang buat tim penyelidikan untuk menuntut secara hukum. Tuman kalo dibiarin..!! Ini buat pembelajaran ama yang lain yang coba-coba mainin duit rakyat. Secara hukum pihak masyarakat udah ada harapan menang, tuh. Bukankah bukti tertulis bukan satu-satunya alat untuk menuntut? Kesaksian korban juga bisa dijadikan alat. Apalagi ini korbannya lebih dari 2 orang. Biar si Ketua RW ngerasain sahur di Penjara.
Kalo nggak salah PK Sejahtera itu punya departemen hukumnya. Daya gunain, dong..!! Tong ukur jadi papaes doang...!!
 
Mangga ieu yeuh beritana:
 
Dana Kompensasi BBM Dipotong Ketua RW
http://www.mediaindo.co.id/    *Penulis:
Nerma Ginting*

*TANGERANG--MIOL:* Penyaluran dana bantuan langsung tunai atau kompensasi
BBM di Tangerang, tidak utuh. Sejumlah warga RW.013, Kampung Buaran Betung,
Kecamatan Tangerang, Kelurahan Cikokol, Kota Tangerang mengaku hanya
menerima Rp250.000 dari seharusnya Rp300.000.

Mereka menceritakan, Ketua RT/RW memotong Rp50.000 sebagai uang transport
saat mengambil dana itu di kantor pos Tangerang, Rabu (5/10).

Menurut salah seorang warga RT.06/013 berinisial SD, 36, mereka telah
diberitahu jauh hari sebelum berangkat bersama-sama ke kantor pos naik mobil
carteran. Untuk itu, mereka juga diberitahu untuk membayar uang transportasi
dan administrasi Rp50.000.

"Jauh hari kami memang diberitahu untuk bersama-sama ke kantor pos dan
membayar Rp50.000. Kami diminta berkumpul di rumah Pak RW, lalu dengan mobil
angkutan yang dicarter kami berangkat ke kantor pos. Setiba kembali dari
kantor pos, kami diminta membayar ongkos dan uang administrasi Rp50.000.
Tapi kami nggak ngerti administrasi apa dan tidak ada tanda bukti. Yang
pasti untuk berikutnya, kami boleh mengambil sendiri uang kompensasi
berikutnya dan tidak ada potongan," ujar SD, 36, bapak beranak tiga yang
ketiga anaknya putus sekolah ini.

Pengakuan SD itu dibenarkan oleh SL, 20, dan beberapa warga lain yang
mengalami hal serupa dengan SD. Meski mengaku bingung, mereka tidak berani
menolak saat uang mereka dipotong oleh RT. Padahal mereka mengaku berani
kalau harus pergi sendiri ke kantor pos. Mereka terpaksa mengikuti rombongan
RW karena mengaku diancam tidak akan menerima dana kompensasi BBM lagi bila
tidak memberi.

"Dibilangnya memang uang suka rela jadi nggak ada tanda bukti. Tapi kalau

seiklasnya kok dipatokin lima puluh ribu, kami juga tidak ngerti. Kami nggak
berani nolak karena katanya kami tidak akan didaftarkan lagi untuk menerima
dana bantuan. Kami pun ikhlas saja, apalagi, uang itu katanya hanya dibayar
sekali saja karena untuk selanjutnya kami boleh mengambil sendiri ke kantor
pos tanpa ada potongan lagi," ujar SD saat dijumpai dirumahnya, Rabu.

Saat dikonfirmasi Maktub, Ketua RW. 013 mengaku tidak memaksa warganya untuk
memberi Rp50.000. Ia hanya meminta uang sukarela sebagai ongkos angkutan
yang dicarter untuk membawa sekitar 80 penduduk. "Karena banyak penduduk
yang mengaku tidak tahu letak kantor pos. Maka, kami berinisiatif mengantar
mereka, apalagi banyak warga yang sudah jompo. Kalau diantar naik ojek kan
repot, jadi kami menyewa 6 angkot untuk membawa 80 warga. Untuk membayar
uang carteran itu kan perlu biaya, karena itu kami meminta dana sukarela dan
mereka juga nggak mengeluh kok."

*Kantor pos terdekat*

Sementara itu, suasana di kantor pos Tangerang, Rabu terlihat ramai oleh
warga yang ingin mengambil dana kompensasi BBM. Meski pihak kantor pos telah
menyiapkan sebelas kantor pos cabang dan dua kecamatan untuk mengantisipasi
lonjakan, warga tetap tidak tahu kalau bisa mengambil di dekat rumah mereka.
Banyak yang jauh-jauh datang ke kantor pos tangerang.

Menurut Ida Royani, salah seorang petugas kantor pos Tangerang, ada
22.000warga Kota Tangerang yang tercatat menerima dana. Mereka bisa
mengambilnya
di 11 cabang kantor pos dan dua kantor kecamatan mulai 5 Oktober 2005 sampai
13 Oktober 2005.

Untuk 158.982 warga Kabupaten Tangerang yang tercatat menerima dana baru
bisa mengambilnya pada 11-15 Oktober.(NG/OL-02)

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke