----- Original Message -----
Sent: Thursday, October 13, 2005 9:05
AM
Subject: [Urang Sunda] Berita PR dinten
ieu.. > Ngiring Reueus tur bagja
Pembuatannya Ditenun Secara Tradisional
Tikar
Tasik dari Lidi Tembus Pasar Ekspor
TASIKMALAYA, (PR).-
Perajin asal Margaluyu, Kec. Manonjaya, Kab.
Tasikmalaya, Ujang (47) tidak menduga kalau tikar dari lidi bisa laku dijual
ke luar negeri. Padahal dua tahun lalu, Ujang hanya iseng atau sekadar
coba-coba membuat tikar dengan memanfaatkan lidi dan jerami padi yang sudah
dikeringkan.
![]() PEKERJA sedang membuat anyaman
tikar dengan bahan baku lidi di Ds. Margaluyu Kec. Manonjaya Kab.
Tasikmalaya, Selasa (11/10). buruh tenun tikar ini setiap hari rata-rata
mendapatkan upah Rp 10 ribu.* UNDANG
SUDRAJAT/"PR" |
"Ketika hasil karya saya berupa tikar lidi ditawarkan ke perajin lain di
Rajapolah, ternyata mereka tertarik. Akhirnya, hingga sekarang tikar lidi
memiliki nilai jual, sampai tembus ke pasaran dunia," kata Ujang, ditemui di
kediamannya, Selasa (11/10) di Manonjaya.
Setiap bulannya, ayah dua anak ini bisa menjual 12 ribu lembar tikar lidi.
Untuk pekerjaan itu, ia memiliki lebih dari 40 pegawai yang menenun tikar
lidi. Proses pembuatannya tidak jauh berbeda dengan cara membuat tikar yaitu
ditenun tradisional atau lebih dikenal tustel. "Hanya mengganti mendong dengan
lidi," tambahnya.
Lebar tikar yang dibuat hanya 50 cm, dengan panjang 10 meter untuk setiap
lembarnya. Untuk setiap lembar, dijual seharga Rp 35.000,00. Rekan Ujang di
Rajapolah, mengolah kembali tikar tadi, dengan dibuat berbagai kebutuhan atau
pesanan dari luar negeri. Ada yang dijadikan tempat penyimpanan VCD, taplak
meja, atau alas meja makan dalam ukuran yang kecil.
Bahan baku tikarnya diperoleh Ujang dari daerah Kec. Banjarsari, Kec.
Cidolog, Kec. Padaherang, kesemuanya masuk daerah Ciamis. Pada awalnya, Ujang
sendiri yang mengambil lidi yang sudah kering itu ke masyarakat. Namun,
sekarang ini bahan baku tersebut diantar langsung ke tempat kerja Ujang oleh
pengumpul. Satu ikat lidi ukuran sebesar pergelangan tangan pria dewasa,
dibeli oleh Ujang Rp 500,00.
Usaha Ujang ini sudah berlangsung selama dua tahun terakhir. Ia merasa
beruntung dengan temuan ini, karena perkembangannya cu-kup bagus dibandingkan
dengan kerajinan lain. Bahkan, kini jejaknya, telah diikuti oleh para perajin
lainnya, di daerah Manonjaya.
Sebelum terjun ke dunia kerajinan, Ujang adalah buruh biasa. Setelah
bekerja keras serta mencari te-robosan dalam dunia kerajinan, kehidupan
ekonomi keluarganya terus membaik.
"Yah, dibandingkan sebagai buruh, lebih enak sekarang membuat tikar lidi
ini," katanya, tapi masih enggan menyebutkan penghasilan bersihnya dari usaha
ini untuk setiap lembarnya.
Biaya produksi termasuk upah, benang, dan bahan baku, diperkirakan mencapai
Rp 30.000,00. Sedangkan ia menjual ke penampung Rp 35.000,00. Selanjutnya,
oleh perusahaan IKEA yang berpusat di Hong kong, dipasarkan ke berbagai
belahan dunia. Ia sendiri bangga karena apa yang dihasilkannya, bisa diterima
oleh masyarakat internasional.(A-97)***
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
YAHOO! GROUPS LINKS
The information transmitted is intended only for the person or the entity to which it is addressed and may contain confidential and/or privileged material. If you have received it by mistake please notify the sender by return e-mail and delete this message including any of its attachments from your system. Any use, review, reliance or dissemination of this message in whole or in part is strictly prohibited. Please note that e-mails are susceptible to change. The views expressed herein do not necessarily represent those of PT Astra International Tbk and should not be construed as the views, offers or acceptances of PT Astra International Tbk.
|