meunang ngorowot ti
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/10/Buku/1671288.htm

Semangat Miki


Judul: Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda
Abad ke-19 (A New Spirit: Sundanese Publishing and the Changing
Configuration of Writing in Nineteenth Century West Java)
Penulis: Mikihiro Moriyama
Penerjemah: Suryadi
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Cetakan: I, Januari 2005
Tebal: xxvi + 335 halaman (termasuk indeks)

SAYA ingin menulis buku yang bisa dibaca paling tidak selama seratus
tahun, kata Mikihiro Moriyama.

MIKIHIRO mengungkapkan keinginannya itu dalam sebuah diskusi kecil di
sekretariat Pusat Studi Sunda, Bandung, tahun lalu. Ketika itu Miki,
panggilan Mikihiro, belum lama menamatkan studi doktoralnya di
Rijkuniversiteit Leiden. Awal tahun ini buku yang diinginkannya itu
terbitlah sudah. Judulnya, Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan
Kesastraan Sunda Abad ke-19. Inilah terjemahan dari disertasi yang
dipertahankannya di Leiden. Uniknya, versi Indonesianya ini lebih dulu
terbit ketimbang versi Inggris.

Dari judulnya, kita bisa membayangkan isinya. Inilah buku yang
menggambarkan bagaimana kegiatan cetak-mencetak dan menyebarluaskan buku
memengaruhi sikap dan perilaku masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu.
Gambaran tentang perkara itu dibentangkan dalam bingkai sejarah
kolonialisme. Persisnya, dalam bingkai sejarah kolonialisme di Hindia
Belanda, Miki mengambil periode amatannya dari awal hingga akhir abad
ke-19. Pokok persoalan yang ditelaah berkaitan dengan proses terbentuknya
apa yang disebut bahasa dan sastra Sunda sebagai buah kebijakan penguasa
kolonial, khususnya di bidang penerbitan dan pendidikan, yang sejalan
dengan kesadaran modern.

Sebagai kasus yang dijadikan pijakan pengamatannya, Miki mengemukakan
contoh kreativitas RH Moehamad Moesa (1822-1886), penghulu besar di
Limbangan Garut, yang bersahabat dengan KF Holle (1829-1896), bekas
juragan kebun yang banyak memberi masukan kepada penguasa kolonial, dalam
hubungannya dengan penyediaan bahan-bahan bacaan berbahasa Sunda. Atas
saran-saran Holle, Moesa menulis sejumlah buku, terutama karya sastra
berbahasa Sunda, yang isinya sejalan dengan kesadaran modern. Upaya Moesa
dan Holle dilihat sebagai transisi dari pola kesastraan Sunda tradisional
ke arah pola kesastraan Sunda yang modern.

Proses itu, dalam gambaran Miki, diawali dengan tersusunnya pengetahuan
orang Eropa mengenai masyarakat di negeri jajahan. Pengetahuan mereka
mengenai soal-soal kesundaan tidak muncul begitu saja, melainkan melalui
perdebatan, kebingungan, dan pencarian. Dengan kata lain, pengetahuan
mereka mengalami sejenis metamorfosis. Tadinya, mereka hanya melihat
adanya orang Jawa pegunungan (bergjavaan) dan bahasanya mereka sangka
hanya varian dari bahasa Jawa. Lambat laun mereka melihat orang-orang
gunung itu sebagai orang Sunda yang memiliki bahasa tersendiri, yakni
bahasa Sunda, bahkan akhirnya dianggap memiliki kesastraan tersendiri.

Pengetahuan itu pada gilirannya dijadikan pijakan untuk menjalankan
serangkaian kebijakan untuk memodernisasi masyarakat jajahan, yang tentu
sejalan dengan kepentingan kolonialisme itu sendiri. Pencetakan bahan
bacaan dalam bahasa Sunda dan distribusinya adalah bagian dari kebijakan
tersebut.

DALAM buku ini digambarkan betapa pencetakan bahan bacaan yang kemudian
didistribusikan kepada masyarakat jajahan telah menggeser pola kesastraan
tradisional. Ditunjukkan, misalnya, supremasi kisah bersanjak yang disebut
wawacan (juga puisi lama yang terikat banyak aturan yang disebut dangding)
lambat laun tersisih oleh pola kesastraan modern, terutama dengan
datangnya roman atau novel. Resepsi sastra, yang semula terwujud melalui
kebiasaan juru kisah mendaraskan cerita kepada sejumlah orang, lambat laun
digantikan oleh kebiasaan membaca dalam hati (silent reading) yang
bersifat pribadi dan menyendiri. Dengan kata lain, kelisanan digantikan
oleh keberaksaraan.

Begitu pula pikiran yang sarat takhayul digantikan oleh akal sehat yang
sangat menghargai bukti empiris. Realisme dalam sastra lalu mendapat
tempat utama. Dan yang amat penting, timbullah rasa keakuan alias
kesadaran sebagai subyek dalam diri intelektual Sunda dan masyarakat Sunda
umumnya.

Sebetulnya, bagian-bagian tertentu dari disertasi Miki pernah diumumkan
dalam beberapa media khusus seperti jurnal atau media sejenisnya.
Misalnya, telaahnya mengenai proses formasi bahasa dan sastra Sunda yang
menjadi bab pertama buku ini, pernah diumumkan dalam jurnal South East
Asian Studies (Vol 34 No 1, Juni 1996), yang versi Indonesianya pernah
dimuat dalam jurnal Dangiang (No 2, 2001) yang berumur pendek. Begitu pula
telaahnya mengenai munculnya keberaksaraan (print literacy) di Jawa Barat
pernah diumumkan dalam jurnal Indonesia and the Malay World (Vol 28, No
80, 2000). Tentu saja, dengan terbitnya buku ini, telaah Miki selain bisa
dibaca secara lebih utuh dan menyeluruh, juga akan mendapat pembaca yang
jauh lebih luas.

Data dalam buku ini sangat kaya, yang menunjukkan ketekunan penulisnya.
Spekulasi cenderung dihindari, mungkin untuk menekankan kejernihan
analisis dan uraian. Jargon teknis tak begitu banyak sehingga mudah
diikuti khalayak umum. Salah cetak juga tidak banyak, hanya satu dua
(perosalan di hal 150 seharusnya persoalan; harya di hal 195 seharusnya
karya). Sudah pasti, hingga batas tertentu, peran penerjemah menentukan
juga. Secara umum penerjemahannya berhasil. Sayang, kosakata Sunda sonagar
diterjemahkan menjadi angkuh dan bangga diri (hal 150). Padahal, kosakata
itu sama sekali tidak mengandung konotasi negatif atau buruk. Sonagar
berarti percaya diri, tidak canggung, tidak rendah diri. Menurut
Sundanese-English Dictionary (2003) susunan Rabin Hardjadibrata, sonagar
berarti (appropriately) frank, free, candid, outspoken, bold, unabashed,
undaunted. Begitu pula kosakata Sunda ama diterjemahkan menjadi ayah kami
(hal 154). Kiranya lebih tepat jika terjemahannya adalah bapak sebab yang
menuturkannya adalah seorang istri ketika ia mengisahkan pengalaman
bersama suaminya.

Miki adalah orang Jepang, yang pernah tinggal di Indonesia dan menelaah
bahasa serta sastra Sunda di Belanda. Mungkin juga, dalam hal ini, sarjana
asal Kyoto itu tak ubahnya dengan Trejago dalam cerita pendek Beyond the
Pale karya Rudyard Kipling. Trejago melintasi perbatasan dan jatuh cinta
kepada gadis setempat, tetapi ia tidak bisa melepaskan diri dari dunianya
sendiri. Seakan-akan perbatasan itu dilintasi dengan cara menyamar.
Barangkali kesan serupa itu yang tertangkap oleh Edi S Ekadjati, sejarawan
dan filolog Sunda terkemuka. Studi Mikihiro Moriyama bertitik tolak dari
pandangan kaum kolonial dan berakhir pada kreativitas dan kebijakan kaum
kolonial pula, sedangkan kaum Bumiputra menjadi obyeknya saja, tulis Edi
dalam pengantar buku ini.

Memang kurang enak untuk mengatakan bahwa bahasa dan sastra Sunda adalah
warisan Belanda. Paling tidak, jauh sebelum tuan-tuan kolonial berdatangan
ke Tatar Sunda, orang Sunda rasa-rasanya sudah ada. Miki, sesuai dengan
batas-batas permasalahan yang ditelaahnya, tidak menengok daerah yang
lebih gelap, semisal tradisi lisan Sunda atau naskah-naskah Sunda kuno
yang selama ini ditelaah para filolog dan sejarawan. Dengan begitu, kita
masih harus bertanya, apakah pemodernan kesastraan melalui kolonialisme
itu merupakan transisi ataukah konfrontasi?

DALAM kajiannya Miki juga hanya sambil lalu menyinggung bahan-bahan bacaan
yang lahir di luar kerangka ortodoksi Balai Pustaka. Dengan kata lain,
pelukisan modernisasi kesastraan yang dikemukakannya cenderung lebih
banyak berkisar di daerah tengah dan tidak begitu banyak menyentuh
daerah-daerah pinggirannya. Manakah sesungguhnya yang lebih berpengaruh
bagi atau lebih akrab dengan masyarakat Sunda: karya yang direstui
penguasa kolonial seperti yang ditulis Moehamad Moesa ataukah karya yang
dianggap bacaan liar semisal yang dikarang Joehana?

Miki sendiri tampaknya menyadari keterbatasan studinya. Lagi pula setiap
studi dibatasi oleh pendekatannya sendiri dan data yang tersedia baginya.
Dalam bagian penutup buku ini, misalnya, ia seakan masih tak terlalu yakin
apakah modernisasi bahasa dan sastra Sunda yang diupayakan penguasa
kolonial pada abad ke-19 itu betul-betul merupakan akar kesastraan Sunda
sekarang? Kata Miki pula, apa yang dianggap sebagai akar kesastraan itu
sebenarnya bukan akar, tetapi salah satu unsur belaka.

Bagaimanapun, bagi para penutur bahasa Sunda, khususnya pembaca sastra
Sunda, buku ini mungkin terlihat sebagai realisasi tersendiri dari
kearifan masa silam yang dulu suka disampaikan oleh penutur carita pantun.
Bunyinya, diteundeun di jalan ged/dibuka ku nu ngaliwat (diletakkan di
jalan raya/dibuka oleh orang yang lalu lalang). Dengan kata lain, sejak
dulu ada harapan yang menghendaki agar bahasa dan sastra Sunda bisa
dihubungkan dengan keluasan dunia.

Miki adalah salah seorang yang lalu lalang di jalan raya itu dan menemukan
serta membuka bahasa serta sastra Sunda di sana. Dengan caranya sendiri
Miki pun telah ikut membawa bahasa dan sastra Sunda ke jalan yang lebih
raya lagi sehingga telaahnya bisa diperbandingkan dengan telaah sejenis
menyangkut kekayaan budaya di tempat lain. Paling tidak, dalam kerangka
studi mengenai keberaksaraan dan dampak-dampak sosialnya, buku ini kiranya
termasuk salah satu bahan bacaan yang penting. Seberapa penting? Tentu,
Miki dan para pembaca bukunya masih harus menunggu waktu, paling tidak
hingga tahun 2105 kelak. Pada tahun itulah akan terbukti, apakah kenyataan
tidak mengkhianati harapan Miki. Ayo, Miki-san, kita hidup seratus tahun
lagi!

Hawe Setiawan Aktivis Pusat Studi Sunda

mj

http://geocities.com/mangjamal






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke