Kanggo informasi formalin
Bade tumaros, ari pormalin the sanes air
keras kanggo mengeringkeun sasatoan nu di pajang sepertos
Hulu macan, oray sareng kalebet rengrengan
alcohol kuat?
Punten bilih aya ahli kimia pang walerkeun
kapanasaran simkuring
-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, January 19, 2006
1:01 PM
To: [email protected];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Urang Sunda] Gegentos
Formalin
Mugia aya mangpaatna,
punten pisan teu disunda keun.
To: [EMAIL PROTECTED]
From: biRU-IPB
Date: Sat, 14 Jan 2006 03:23:28 -0800 (PST)
Subject: Re: [IPB-Fisheries] Thx Vika ---- Re: formalin
Sekedar info buat seluruh
alumni semuanya, bahwasanya IPB bekerjasama dengan CV.Dinar memproduksi
chitosan sebagai bahan pengawet pengganti formalin. CV.Dinar ini, baru
bisa memproduksi chitosan dengan kapasitas antara 100-300 kg/hari,
dan chitosan produk mereka akan dipasarkan dalam bentuk larutan bukan
serbuk. Bahan baku yang dgunakan, adalah limbah ranjungan atau kerang. CV
Dinar, dimiliki oleh drh. R. Dody Timur Wahjuadi, dan berlokasi di Kosambi,
Tangerang.
Dengan pemakaian antara 1.5 % -2 %
larutan pengawet chitosan yang dapat disediakan sekitar 15.000 liter/hari
yang siap digunakan untuk bahan pengawet bakso, mie basah dan ikan asin. Proses
pembuatan chitosan melalui beberapa tahapan yakni pengeringan bahan baku mentah
chitosan (ranjungan), pengilingan, penyaringan, deproteinasi, pencucian dan
penyaringan, deminarisasi (penghilangan mineral Ca), pencucian,
deasilitilisasi, pengeringan dan akhirnya terbentuklah produk akhir berupa
chitosan.
Selain chitosan, sejak tahun
2003 CV. Dinar bekerjasama dengan IPB telah menghasilkan produk olahan
rumput laut yang disebut karagenan, yang mampu membuat mie basah dan bakso kenyal, dan
dihasilkan dari rumput laut Euchema sp yang telah dibudidayakan di
berbagai perairan Indonesia.
Setiap 1 kilogram bakso
dibutuhkan 0.5-1.5 gram karagenan untuk mengenyalkannya. Di pasaran 0.5-1.5 gra
m karagenan dijual dengan harga Rp 750 – Rp 900,-.
Soal Formalin di makanan,
kami mendapatkan penjelasan bahwasanya keberadaan formalin di makanan
itu tidak berbahaya, selama masih berada di bawah ambang batas dari
WHO, yakni sebesar 6 gram. Padahal rata-rata kandungan formalin yang
terdapat pada mie basah 20 mg/kg mie. Selain itu, formalin yang masuk ke tubuh
manusia akan diurai dalam waktu 1,5 menit menjadi CO2.
Formalin alami juga dapat ditemukan dalam buah-buahan dan sayuran, sebagai
hasil proses biologis alami. Daging sapi mengandung formalin kira-kira 30 mg,
dan kerang laut mengandung formalin 100 mg per kg. Para peternak, bahkan
sengaja membubuhkan formalin dalam makanan ternaknya, dengan tujuan untuk
membunuh bakteri. Kandungan formalin, baru akan menimbulkan bahaya jika
dihirup oleh alat pernapasan. Ini berarti, para perokok juga
berpotensi menghirup for malin dari setiap
batang rokok yang dikonsumsinya. Ketika setiap hari menghisap 20 batang rokok,
sama saja setiap hari menghirup 10 mg formalin.
Proses metabolisme formalin yang masuk ke tubuh manusia, akan menjadi Co2 dan
air seni dalam waktu 1,5 menit. Secara alami, setiap liter darah manusia
mengandung formalin 3 mililiter.
an. Redaksi biRU
Gara2 dibikin kaget via phone
oleh Vika di suatu siang, dan akhirnya Kamis sore kemarin sempat ngobrol
langsung, saya jadi inget lagi pernah jadi member di milis ini....
Setuju apa yang disampaikan Vika, bagaimana
sensasi saja yang
ditonjol2kan media... solusinya? Masih jauh.
By the way, gimana ttg chitosan yang sempat
dikembangkan Dr Linawati Hardjito? Apakah daya awetnya bisa sedahsyat formalin?
Ataukah, instead of n yoba ngawet2in, pola bisnisnya yang diubah? Apakah
ikan asin memang pilihan dibanding ikan segar? dst dst...
Salam dari Bogor,
Imam
--- In [EMAIL PROTECTED],
wrote:
Btw, ikut nimbrung..kemaren aku sempet ngobrolin
soal formalin ama seorang temen. Menurut dia..sekarang publikasi penggunaan
formalin terlalu dilebih-lebihkan, tapi jarang sekali dibarengin dengan dampak
sesungguhnya dari formalin itu apa. Menurut dia lagi, formalin itu akan menguap
jika makanan yg mengandung formalin tsb dipanaskan dan mencapai suhu lebih dari
50 derajar celcius (CMIIW).
Seharusnya pihak yang terkait tidak sekedar
melarang penggunaan formalin, tapi mencari juga alternatif lain yang tidak
berbahaya dan kampanyenya dibarengi dengan kampanye pelarangan formalin, - jadi
imbang -...
Berita yang menyebar sekarang tanpa disadari malah
memicu produk impor, tahu dari jepang, mi dari cina atau makanan-makanan eropa
yang selama ini diyakini selalu lebih hieginis. Iya kan ?? Gimana gak tambah
parah nasib nelayan dan kerabatnya.. ??
Cheers!
AS
zaenal muhtadi
Tayang : Rabu, 21 Desember 2005 Pukul 12.00 Wib
Reporter : Ninok Hariyani - Sisca Tiur Gurning
Juru Kamera : Joni Suryadi - Warsam Aji
indosiar.com,
Jakarta - Pembuatan ikan asin di Muara Angke, Jakarta Utara masih tradisional.
Pengeringan sangat tergantung cuaca. Sejak merebaknya isu pemakaian
formalin, omset penjualan ikan asin menurun tajam.
Dan seiring gencarnya sosialisasi bahaya formalin
sebagian pengolah ikan asin kini mulai memperbaiki cara
produksi. Kekayaan laut Indonesia, sun gguh kaya dengan aneka jenis
ikan yang dapat diperoleh dengan mudah. Seperti
ikan teri, tongkol, jambal, cumi hingga ikan
pari.
Dikawasan pengolahan ikan Muara Angke, Jakarta
Utara, ikan segar ini diolah menjadi ikan asin. Seperti ikan pari.
Bagian yang dibuang lebih dulu adalah ekor.
Ekornya yang panjang menjuntai ini mengandung tiga
duri beracun. Kemudian bagian kulit. Usai
dibersihkan
dari duri dan kulit, daging ikan yang telah
disayat-sayat dengan ukuran sedang kemudian
dimasukkan
kedalam tempayan berisi larutan garam.
Takarannya, satu karung garam untuk setiap gram
ikan.
Perendaman memakan waktu 12 jam. Bahkan hingga
semalam suntuk.
Setelah larutan garam meresap, ikan kemudian
dijemur dibawah sinar matahari. Cara produksinya memang masih manual.
Karena itu, pengeringan ikan sangat tergantung dari cuaca. Jika musim
hujan, pengeringan bisa berhari-hari. Ikan-ikan ini dipastikan harus
benar-benar kering. Sebab jika proses penjemuran kurang sempurna,
bahan makanan akan muda ditumbuhi jamur dan mudah hancur.
Sarana pengolahan ikan asin Muara Angke berdiri
sejak tahun 1984. Menempati areal seluas 4,5 hektar. Produksi ikan
asin Muara Angke mencapai 30 hingga 40 ton perhari.
Namun sejak beberapa bulan belakangan, omset
penjualan mereka menurun akibat penggunaan formalin.
Mereka sengaja membubukan formalin bahan
pengawet, agar ikan yang telah kering ini tidak cepat ditumbuhi jamur
dan lebih awet.
Seiring gencarnya sosialisasi bahaya formalin
bagi keamanan bahan pangan, sebagian pengolah sebenarnya mulai
memperbaiki kebersihan produksi. Pengasin di Muara Angke tercatat
berjumlah 200 orang.
Hasil pengasinan biasanya dikirim ke Pulau
Sumatera seperti Lampung, Jambi, Padang dan Medan. Dan gurihnya ikan
asin sebagai menu pelengkap makanan yang telah bebas formalin dapat
dinikmati ke mbali tanpa rasa khawatir. (Sup)
--
::ri_1::
Hompage : http://inawan.blogspot.com
http://inawan.blogs.friendster.com
Mobile : +62-818-109410
www.urang-sunda.or.id
www.su.wikipedia.org
[email protected]
[EMAIL PROTECTED]
www.urangtasik.multiply.com
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
YAHOO! GROUPS LINKS
|