Nu kieuu taah namina balad abdi...satuju pisan eta anu di pedar the kang
Waluya..satujuuuu..
Bet satuju wae...ieu the..teu pararuguh..hehe

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of waluya56
Sent: Wednesday, January 25, 2006 4:38 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [Urang Sunda] Imperialisme = Neolibs

Ari kuring mah, sok tambah bingung upami merhatoskeun pandangan-
pandangan ti 
pengamat. Ceuk ieu kieu, ceuk itu kitu, bringung ....... weh jadina. 
Teu rek 
bingung kumaha, sabab keur jaman Suharto jaya mah, apan jadi 
kareueus upama 
"dipercaya" dibere nginjeum gede ku Bank Dunia, ADB, IMF atawa ti 
nagara-nagara maju teh. Der weh krismon, hutang ngabugbrug, teu 
kabayar 
.............kalawah-keuleuweuh, neangan "embe hideung", salahkeun 
we kanu 
mere nginjeum .....beres sanes? urang Indonesia mah teu gaduh dosa, 
nu gaduh 
dosa mah tuh itu Bank dunya, ADB, Amerika jeung kronina, imperialis 
....................hehehehe

Meureun enya nagara-nagara maju teh kapitalis jeung imperialis. Tapi 
da 
geuning umumna urang Indonesia raresep produk-produk nagara maju 
teh.  Ti 
mimiti produk teknologi tinggi tepi ka kacang kedele ( keur tahu 
jeung 
tempe) sadayana di"supply" ti nagara-nagara maju ieu. Teu rek 
ngagantung 
kumaha urang ka nagara-nagara "imperialis" ieu?. Naek bengsin, urang 
awong-awongan, barang elektronik naek, urang hanjelu. Nu tadina teu 
perlu 
jadina perlu: Handphone, internet, TV cable jjrd, jadi kaperluan. 
Urang geus 
"dijajah" ku kahayang urang sorangan.  Sabenerna Imperialisme modern 
dibere 
lolongkrang ku urang sorangan!

Nu hebat mah  bangsa-bangsa di Asia Timur (Jepan, Korsel, Taiwan) nu 
sacara 
politik mah ngaheueuhan we ka Juragan Amerika, tapi dina urusan 
dagang, 
Amrik ripuh, diserebu barang-barang ti nagara-nagara eta. Malah 
kungsi 
Amerika, nyembah-nyembah ka pamarentah jepang supaya barang Amerika 
dibareulian ku urang Jepang, ulah barang Jepang wae nu dibeulian ku 
urang 
Amerika. Kira-kirana bangsa urang, bisaeun henteu nurutan 
bangsa "sipit" 
ieu?

Baktos,
WALUYA




REFLEKSI : APA ITU IMPERIALISME?

REPUBLIKA

Senin, 23 Januari 2006

Sekali Lagi Utang dan Imperialisme

Oleh : Revrisond Baswir


Kritik terhadap utang luar negeri belakangan ini
cenderung semakin meningkat. Kritik tak hanya muncul
sehubungan dengan efektivitas serta implikasi sosial
dan politiknya, namun meluas hingga mencakup sisi
kelembagaan dan ideologinya.

Pada sisi efektivitasnya, secara internal, utang luar
negeri tidak hanya dipandang tela! h menjadi penghambat
tumbuhnya kemandirian ekonomi negara-negara Dunia
Ketiga. Ia juga diyakini menjadi pemicu terjadinya
kontraksi belanja sosial, merosotnya kesejahteraan
rakyat, dan melebarnya kesenjangan ekonomi (Pearson,
1969; Kindleberger dan Herrick, 1977; Todaro, 1987).

Sedangkan secara eksternal, utang luar negeri diyakini
menjadi pemicu meningkatnya ketergantungan
negara-negara Dunia Ketiga pada pasar luar negeri,
arus masuk modal asing, dan terjadinya ketergantungan
pada utang luar negeri secara berkesinambungan (Payer,
1974; Gelinas, 1998).

Pada sisi implikasi sosial dan politik, utang luar
negeri tidak hanya dipandang sebagai sarana yang
sengaja dikembangkan oleh negara-negara pemberi
pinjaman, untuk mengintervensi negara-negara penerima
pinjaman. Secara tidak langsung ia juga diyakini turut
bertanggungjawab terhadap munculnya rezim diktator,
kerusakan lingkungan, meningkatnya tekanan migrasi dan
perdagangan obat-obat terlarang, serta terhadap
terjadinya konflik dan peperangan (Gilpin, 1987;
Goerge, 1992; Hanlon, 2000).

Pada sisi kelembagaan, lembaga-lembaga keuangan
multilateral yang berperan sebagai penyalur utang luar
negeri, seperti Bank Dunia dan IMF, tidak hanya
dipandang telah bersikap tidak transparan dan tidak
akuntabel, keduanya diyakini telah bekerja sebagai
kepanjangan tangan negara-negara Dunia Pertama yang
menjadi pemegang saham utama mereka (Rich, 1999;
Stiglitz, 2002; Pincus dan Winters, 2004).

Sedangkan pada sisi ideologi, utang luar negeri
diyakini telah dipakai oleh negara-negara pemberi
pinjaman, terutama Amerika Serikat (AS), sebagai
sarana untuk menyebarluaskan kapitalisme neoliberal ke
seluruh penjuru dunia. Dengan dipakainya utang luar
negeri sebagai sarana untuk menyebarluaskan
kapitalisme neoliberal, berarti utang luar negeri
telah dengan sengaja dipakai oleh negara-negara
pemberi pinjama! n sebagai sarana untuk mengeruk
keuntungan sebesar-besarnya dari seluruh penjuru dunia
(Erler, 1989).

Menyimak berbagai kritik tersebut, mudah dimengerti
bila berkembang pemikiran yang mencoba melusuri jejak
utang luar negeri sebagai sarana imperialisme
negara-negara Dunia Pertama. Studi pertama yang secara
khusus melakukan hal itu adalah yang dilakukan oleh
Teresa Hayter. Berangkat dari hasil penelitiannya yang
dibiayai oleh Bank Dunia di empat negara Amerika
Latin, Columbia, Chile, Brasil, dan Peru, tahun 1971,
Hayter kemudian menerbitkan sebuah buku dengan judul
Aid as Imperialism. Dalam buku setebal 222 halaman
tersebut, Hayter secara tegas menyimpulkan bahwa,
''Uang luar negeri bukanlah transfer sumberdaya yang
bebas persyaratan.''

Menurut Hayter, hal-hal yang dipersyaratkan dalam
pemberian utang luar negeri biasanya adalah: (a)
pembelian barang dan jasa dari negara pemberi
pinjaman; (b) peniadaan kebebasan dalam melakukan
kebijakan ekonomi tertentu, misalnya, nasionalisasi
perusahaan asing (khususnya yang dilakukan tanpa
kompensasi); (c) permintaan untuk melakukan
kebijakan-kebijakan ekonomi ''yang dikehendaki'' --
terutama peningkatan peran sektor swasta dan
pembatasan campur tangan langsung pemerintah dalam
bidang ekonomi.

Berdasarkan ketiga persyaratan tersebut, menurut
Hayter, ''Aid is, in general, available to those
countries whose internal political arrangements,
foreign policy alignments, treatment of foreign
private investment, debt-servicing record, export
policies, and so on, are considered desirable,
potentiallly desirable, or at least acceptable, by
countries or institution providing aid, and which do
not appear to threaten their interest.''

Selanjutnya, ketika berbicara mengenai IMF, Bank
Dunia, dan USAID, Hayter secara jelas menyatakan bahwa
sudut pandang ketiga lembaga tersebut dalam menetapkan
krite! ria dan syarat pemberian pinjaman cenderung
seragam. Fokus kebijakan ketiganya, terutama IMF dan
Bank Dunia, senantiasa mengarah pada pengendalian
inflasi serta perintah untuk memotong investasi publik
dan belanja kesejahteraan.

Menurut Hayter, faktor utama di balik kecenderungan
tersebut adalah posisi dominan AS pada ketiga lembaga
itu. Implikasinya, walaupun tidak dinyatakan secara
terbuka, dalam memberikan pinjaman, ketiga lembaga
tersebut tidak hanya mengevaluasi proyek yang akan
mereka biayai, tetapi juga negara yang akan menerima
pinjaman tersebut.

Kesimpulan Hayter yang mengkonfirmasikan keberadaan
utang luar negeri sebagai sarana imperialisme itu
belakangan dipertegas oleh Hudson. Menurut Hudson
(2003), tujuan pemberian pinjaman oleh AS sejak 1960
bukanlah untuk membantu negara-negara penerima
pinjaman, melainkan untuk meringankan tekanan terhadap
neraca pembayaran negara tersebut. Kebijakan itu erat
kaitannya! dengan upaya pemerintah AS untuk mensubsidi
peningkatan ekspor berbagai produknya ke seluruh
penjuru dunia.

Dalam rangka itu, sebagaimana diakui Perkins (2004),
AS tidak hanya bekerja melalui mekanisme hubungan
politik dan ekonomi biasa. AS secara terstruktur
mengembangkan sebuah profesi yang dikenal sebagai
preman ekonomi (economic hit man), yang bernaung di
bawah Badan Keamanan Nasional (NSA), yaitu yang secara
khusus bertugas membangkrutkan negara-negara Dunia
Ketiga dengan sarana utang luar negeri.

Sebagai sebuah negara yang terpuruk di bawah himpitan
utang luar negeri sebesar 80 miliar dolar AS, dengan
angsuran pokok dan bunga utang dalam dan luar negeri
mencapai sepertiga APBN, Indonesia patut dicatat
sebagai sebuah negara Dunia Ketiga yang menjadi korban
para preman ekonomi seperti Perkins. Hal itu tidak
hanya dikonfirmasikan oleh Perkins, tetapi diperkuat
oleh berbagai fakta lain seperti keterlibatan
lembaga-! lembaga pemberi pinjaman dalam menyusun
berbagai produk perundang-undangan di Indonesia.

Masalahnya, elit ekonomi dan politik Indonesia
tampaknya telanjur dipenuhi oleh para kaki tangan kaum
imperialis, sehingga penderitaan rakyat di bawah
himpitan beban utang sama sekali tidak menjadi
halangan bagi mereka untuk terus membuat utang luar
negeri baru. Jangan-jangan selama 60 tahun ini
penjajahan hanya sekedar berganti gaya, tetapi secara
substansial masih terus berlanjut di Indonesia?






Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links



 




Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke