Baraya .....ieu aya dongeng "nikmatna" nyandung, tina PR dinten ieu .....hehehhe
Asyiknya ke "Bandar Poligami" PESAWAT yang ditumpangi "PR" mendarat di Bandara Internasional Kuala Lumpur, Sabtu (14/1), sekira pukul 12.05 waktu setempat. Iseng- iseng, "PR" bertanya kepada beberapa sopir taksi tentang alamat tujuan yang tertulis di kertas undangan. "O, this is islamic village," tutur seorang sopir yang akhirnya diketahui berasal dari keturunan India. "I am sorry. I don't understand," ungkap "PR" dengan nada menyelidik. "Islamic village is...." Belum sempat sopir keturunan India itu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba datang rekannya yang berasal dari Malaysia. Dia membaca alamat yang tertulis di kertas undangan warna hijau yang dibawa "PR", termasuk amplop luar yang tertera tulisan dalam bahasa Indonesia. Seraya mengangguk-anggukkan kepalanya, dia bertanya kepada "PR" dengan kalimat, "You Indon...". Karena khawatir salah menjawab, "PR" diam saja. Sejenak kemudian, dia melengkapi pertanyaannya, "From Indonesia." "Yes," jawab "PR" sambil tersenyum. "Saya Melayu, dari sini (Malaysia-pen.). Ini address adalah kampung Islam. Namanya Islamic Village. Ada juga yang sebut itu punya nama Kampung Poligami atau Bandar Poligami. Karena, di kampung itu banyak bilik (ruangan kamar tidur- pen.) yang di tempati keluarga-keluarga poligami. Syariat Islam tumbuh di sana, diamalkan sehari-hari. Mereka punya kehidupan islami. Di sana, ada pimpinan mereka, Abuya Ashaari namanya. Dulu, polis (maksudnya polisi Diraja Malaysia-pen.) menahan Abuya (Ashaari) di salah satu bilik di bandar itu. Kemudian, jadilah 'Kampung Poligami' karena banyak keluarga poligami menetap di bandar itu," ujar sopir yang minta dipanggil dengan nama Yusuf. Obrolan tersebut terpotong, ketika "PR" ada yang menjemput. Kertas undangan yang bertuliskan alamat tujuan Bandar Country Homes (BCH) Rawang Selangor Darul Ehsan Malaysia, segera "PR" ambil kembali dari tangan sopir asal Malaysia tersebut. * * MENJELANG masuk ke kawasan "Bandar Poligami" BCH Rawang, "PR" menyaksikan sejumlah perumahan real estate dengan taman-tamannya yang asri. Waktu tempuh dari Bandara Kuala Lumpur ke "Bandar Poligami" BCH Rawang sekira satu setengah jam. Suasana di pintu masuk "Bandar Poligami" BCH Rawang tampak meriah. Sejumlah pernak-pernik hiasan, serta bendera kecil warna-warni, dan kain spanduk tampak dari kejauhan. Begitu dekat, terlihat jelas tulisan di kain spanduk, "Ahlan wa sahlan, Wellcome,..Selamat Datang,..Tamu Pernikahan Ummu Athiah binti Ustaz Abuya Imam Haji Ashaari Muhammad At Tamimi dengan Dr. Mahmood bin Abdul Rauf Al Husaini." Ya, kehadiran "PR" di tempat itu memang antara lain menghadiri undangan pernikahan. Mengapa "PR" tertarik untuk memenuhi undangan tersebut? Karena, pasangan mempelai yang menikah itu berasal dari keluarga besar tarekat--yang bergairah mewujudkan izzul Islam wal Muslimin-- yakni tarekat Syadziliyah asal Madinah dan tarekat Aurad Muhammadiah (jemaah Rufaqa') pimpinan Abuya Ashaari Muhammad At Tamimi. Selain itu, "PR" juga ingin mengetahui apakah benar di daerah Rawang Selangor Malaysia itu ada lingkungan yang bernuansa Islami. Pasalnya, ketika awal Ramadan 1426 H/2005, "PR" pun sempat mengunjungi bandar sejenis yang dikelola jemaah Ruafaqa' di daerah Bukit Sentul Bogor. Sebutan "Bandar Poligami" sebenarnya sempat "PR" ketahui--namun hanya sepintas--ketika saat itu ngobrol dengan warga Bukit Sentul Bogor. Suasana "Bandar Poligami" di Bukit Sentul Bogor maupun di BCH Rawang Selangor Malaysia, boleh dibilang tak jauh berbeda. Ya, meski tidak bermakna, orang-orang yang mengunjungi bandar itu adalah keluarga poligami. Karena, baik di Bukit Sentul Bogor maupun di BCH Rawang, para pengunjung bandar terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. * * KETIKA "PR" datang ke "Bandar Poligami" BCH Rawang, saat itu sedang berlangsung pernikahan antara Dr. Mahmood dari Madinah dengan Ummu Athiah (Malaysia). Jangan salah terka, Ummu Athian yang berusia sekira 20 tahun ini, dinikahi oleh Dr. Mahmood (usia sekira 40 tahun) dalam status istri kedua. Mereka menikah dengan disaksikan oleh keluarga istri pertama, dan ratusan "madu" dari keluarga-keluarga poligami. Dalam suasana pernikahan poligami itu, tidak ada ketegangan. Yang terjadi, justru sebaliknya, suasana riang-gembira seperti ada tabuhan rebana khas jemaah Rufaqa' dan ada pentas seni nasyid sejak pagi hingga malam hari. Tatkala malam hari, kedua mempelai ini duduk di "singgasana" pengantinnya. Sementara tak jauh dari mereka, duduk ratusan pasangan keluarga poligami. Sesama "madu" pun saling bercengkerama, bertukar pikiran, dan bahkan membagi program kerja dakwah untuk membantu suaminya dalam rangka membentuk keluarga sakinah mawaddah wa rahmah dan izzul Islam wal Muslimin (kejayaan Islam dan umatnya). Di lokasi "Bandar Poligami" BCH Rawang, terdapat pula asrama yang ditempati anak-anak dari keluarga poligami. Sedangkan di sekelilingnya, ada 47 ruko jemaah Rufaqa' yang membuka usaha berbagai keperluan hidup sehari-hari, mulai dari sembako, sarana pendidikan, pakaian, kesehatan, sampai bengkel kendaraan, kedai makan-minum, agen pariwisata, dan tempat penginapan gratis bagi para tamu. Menurut Ustaz Hasyim bin Ja'far (50)--salah seorang pengurus jemaah Ruafaqa'--, anak-anak keluarga poligami Rufaqa' disekolahkan sebagaimana anak-anak lainnya. Bila pagi hari, mereka belajar di sekolah umum. Pada siang hingga malam hari, mereka dididik oleh para ustaz dan ustazah Rufaqa' di dalam asrama. "Keperluan anak-anak ini, mulai dari sembako, pakaian, kesehatan, dan lainnya, dipenuhi oleh jemaah. Anak-anak keluarga poligami Rufaqa' menjadi tanggungjawab jemaah. Orang tuanya diberi kesempatan seluas- luasnya untuk berdakwah. Jika ada orang tua yang juga bekerja di luar lingkungan Rufaqa', biasanya secara ikhlas mereka menyisihkan sebagian penghasilannya kepada jemaah. Bahkan, ada yang menyerahkan seluruh gajinya untuk jemaah. Mereka menyadari pembentukan tatanan kehidupan yang islami, harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, baru kemudian masyarakat dan negara," ujar Ustaz Hasyim, yang berpoligami 4 istri dengan 19 anak dan 1 cucu. Menyinggung tentang manajemen poligami yang diterapkannya, Ustaz Hasyim menuturkan, para istrinya memperoleh amal soleh untuk berdakwah di lingkungan bandar serta mengikuti berbagai kursus pengkajian agama Islam. "Istri ketiga saya, Kausar Sarlim berusia 39 tahun adalah dokter gigi lulusan FKG Unpad. Dia berasal dari Jakarta Timur. Dua istri saya lainnya berasal dari Kedah Malaysia, dan satu istri asal Penang Malaysia," katanya. (Achmad Setiyaji/"PR")*** Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

