BARAT Ide Megapolitan Menuai Kecaman Banyak Kalangan CIANJUR,
(PR).-
Konsep pembangunan kawasan megapolitan yang diusulkan Gubernur DKI Jakarta
Sutiyoso dengan menyatukan Jakarta dengan daerah sekitarnya termasuk Kabupaten
Cianjur, mendapat kecaman dan penolakan dari berbagai kalangan di Kabupaten
Cianjur.
KAWASAN Puncak Cianjur yang menjadi salah satu kawasan wisata khas
Jawa Barat. Konsep pembangunan kawasan megapolitan yang diusulkan Gubernur DKI
Jakarta Sutiyoso dengan menyatukan Jakarta dengan daerah sekitarnya termasuk
Kabupaten Cianjur, mendapat kecaman dan penolakan dari berbagai kalangan di
Kabupaten Cianjur.*DUDI SUGANDI/"PR" Menurut Bupati Cianjur Ir. Wasidi
Swastomo, M.Si., konsep pembangunan kawasan megapolitan bisa saja
direalisasikan tanpa harus mengubah struktur pemerintahan dengan menarik daerah
yang ada di Provinsi Jawa Barat termasuk Cianjur ke dalam pemerintahan Provinsi
DKI Jakarta.
"Tanpa harus melakukan perubahan pemerintahan, sebenarnya kawasan megapolitan
bisa saja terwujud dengan menjadikannya sebagai konsep pembangunan daerah dan
bukan pembentukan pemerintahan yang baru," ujar Wasidi yang dihubungi, Jumat
(3/2).
Hal senada diungkapkan pula Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
Kabupaten Cianjur, Drs. Ade Barkah Surahman. menurut Ade, kalau pembangunan
kawasan megapolitan bisa membawa daerah dan masyarakat Cianjur kearah yang
lebih baik maka pihaknya akan menyambut baik. Tapi pembangunan kawasan
megapolitan sendiri menurut Ade jangan dijadikan alasan untuk membentuk
pemerintahan baru, dengan menarik beberapa daerah di Jawa Barat.
"Kalau untuk membawa Cianjur kearah yang lebih baik kami akan mendukung, tapi
kalau hanya ingin menjadikan Cianjur sebagai tempat pembuangan sampah dari
Jakarta itu saja jelas-jelas kami akan tolak," kata Ade.
Sementara itu, Wali Kota Bogor H. Diani Budiarto menyatakan sependapat dengan
Gubernur Jabar. "Saya sependapat dengan Pak Gubernur. Kalau konsep megapolitan
itu tidak akan mengubah wilayah administrasi, bisa saja kita pahami," kata
Diani singkat.
Sedangkan Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten Bogor H. Pery Soeparman S.H.,
M.H. menyatakan akan membahas masalah tersebut.
Kenapa ditolak
Pakar Otonomi Daerah Prof. Dr. Ryaas Rasyid, Jumat (3/2) kemarin mengatakan,
pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso soal rencananya untuk membangun
konsep megapolitan itu sulit dibantah oleh DPR. Jadi eksistensinya ketiga
daerah itu dilebur jadi satu dengan DKI. Namun, penyelenggaraan pembangunan
tetap menjadi bagian dari pemerintah daerah. Demikian pula kedudukan DPRD,
bupati dan wali kota tetap menjadi bagian dari pemerintah daerah.
"Saya yakin tidak ada daerah yang akan menolak masuk dalam pembentukan
megapolitan ini, sekarang ini yang penting masyarakat bukan pemerintahnya,
apalagi APBD DKI sangat besar mencapai Rp18 triliun, sedangkan Jawa Barat hanya
Rp 8 triliun, jadi kalau tiga wilayah itu masuk ke DKI maka kesejahteraan
masyarakat akan lebih terjamin, kalau memang penggabungan itu bermanfaat untuk
rakyat kenapa harus ditolak," tutur Ryaas seraya mengatakan konsep megapolitan
itu tidak akan bertentangan dengan Perda Nomor 32 tahun 2004 tentang Otonomi
Daerah. Karena DKI Jakarta daerah khusus, maka bisa saja dibuat undang-undang
khusus.(A
dek kumaha deui ieu teh....
indonesia teh luas pan, atuh ulah ngotok ngowo....narikan daerah jabar...
lautan indonesia ge luas... kulantaran meh kakontrol nagar indonesia nu
sakitu luasna... nyieun megapolitanna di lluar jawa...
lingkungan geus teu saimbang euy...
ke titeleum geura...di jkt geus loba maksiat, bangsa urang geus mak2 mek2...
balik deui2 ka paniatan, kumaha pejabatna... ulah ngarugikeun rahayat...
..kesejahteraan? apa lo kesejahteraan?... di jakrta ge loba nu miskin teu..
cicing di kolong jembatan..
konsepna biasa.... nguliat deui kawas kapitalis....dihakan kabeh...
aya duit, rahayat dirugikeun, cukong, wajah calo, preman, jsb..
rencanana mikir ka hareup, ulah mikir jang urang cianjur wungkul....
meh rata pembangunana , makana jig ka kalimantan....
pulau jawa geus padedet, padedet maksiat, padedet ngagarong duit, jeung
tempat cikal bakal konsep nu salah....ah loba deui lah...
....
aya ahli geus ahli geus nerekab kana atawa nyumput dina "kesejahtraan
sosial"...ah bahaya....
pamarentah daerah ge boga konsep dina pangwangunan....
naha ahayang di jabar, puguh weh da jabar mah alus alamna atuh...
makana nyieun tuh di kalimantan, oge mun geus jadi "pamarentahan" di
kalimantan geura pek amun nyarios kedah ngangge bahasa indonesia yg baik dan
benar, lain ieu mah pejabat teh ngomongna gue-elu ...kawas di terminal wae.
---------------------------------
Relax. Yahoo! Mail virus scanning helps detect nasty viruses!
[Non-text portions of this message have been removed]
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/