Baraya, Tah di handap ieu pamairan ti si kuring di milist sejen anu ngobrolkeun perkara Basa Sunda. Nyanggakeun.
baktos, manAR ---------- Forwarded message ---------- From: oman abdurahman <[EMAIL PROTECTED]> Date: Feb 15, 2006 11:21 AM Subject: Re: [wanita-muslimah] Bahasa Sunda To: [email protected] Komentar singkat saja Mbak Aisha, ma'lum sedang sibuk nyusun Renstra dan Blue Print kerjaan di kantor. Tampaknya diskusi mengenai ilmu yang (potensial) menambah keimanan ini berlanjut ke soal bahasa ya. Saya setuju saja, karena salah satu kunci artikulasi ilmu itu adalah bahasa (dan keduanya adalah unsur budaya).Selain itu, bulan Pebruari ini pas sekali kita gunakan untuk diskusi mengenai bahasa daerah (bahasa ibu), karena Unesco telah menetapkan tanggal 21 Pebruari sebagai hari bahasa ibu seluruh dunia. Mengenai mengapa Unesco sampai pada kesimpulan pentingnya bahasa ibu (bahasa daerah), mungkin perlu pembahasan tersendiri, Insya Alloh lain waktu. Bahasa Sunda, sebagaimana umumnya bahasa daerah lainnya adalah sesuatu yang dinamis. Terutama jika ia masih merupakan bahasa yang aktif digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga bahasa Sunda, saat ini telah mengalami perubahan cukup besar sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman. Bahasa Sunda menurut historisnya (berdasarkan prasastinaskah kuno, pantun dan cerita rakyat) tidak lah mengenal tingkatan-tingkatan (dalam bahasa daerah disebut "undak-usuk", sehingga kita akan menggunakan istilah "UUBS = Undak-usuk Basa Sunda" dalam konteks tulisan ini selanjutnya) sebagaimana dituturkan Mbak Aisha. Bahasa Sunda yang sekarang mengandung UUBS itu baru berkembang kira-kira abad ke-16-17 M setelah Tatar Sunda (TS) mengalami pengaruh Matgaram. Basa Sunda awal sangatlah egalitarian, dalam arti antara raja dan rahayatnya biasa saja menggunakan basa sunda yang sama. Kami menyebutnya "Basa Sunda anu merenah" (bahasa Sunda yang pas). Sesuai dengan tuntutan keadaan jaman, masyarakat Sunda saat ini terus menerus merevisi dan memformulasikan kembali bahasanya. Terutama untuk memecahkan kendala kalangan muda yang enggan berbasa Sunda disebabkan adanya UUBS tsb. Kongres Basa Sunda rutin diadakan dan hingga saat ini telah 8 kali dilaksanakan. Salah satu kesimpulan kongres Basa Sunda ke-7 di Garut adalah: "untuk mengimbangi perkembangan jaman, maka undak-usuk Bahasa Sunda perlu ditata kembali (dalam BS: "pikeun ngigelan pajamanan, wanda tatakrama/ undak-usuk basa Sunda kudu dibebenah deui"). Berdasarkan kajian salah seorang ahli Basa Sunda, saat ini hanya tinggal 30 kata yang apabila undak-usuknya salah dalam penggunaan maka akan menyebabkan miskomunikasi atau salah tangkap, atau...ujung-ujungnga...dianggap tak mengenal basa Sunda. Insya Alloh, jika diperlukan, ke depan dapat saya postingkan ketiga puluh kata ini (total 90 lebih sedikit kata karena x3 dengann UUBS-nya/kasar, loma/sedang dan halusnya). Ketiga puluh kata ini kedepan tidak tertutup kemungkinan menjadi hilang atau tidak memiliki lagi UUBS (nya). Keputusan ini saya kira juga merupakan keputusan Kongres Basa Sunda terakhir (ke-8) di Subang (sampai sekarang saya belum memperoleh hasilnya/proceedingnya). Erat kaitannya dengan bahasa daerah adalah aksara daerah. Aksara Sunda saat ini telah dirumuskan dan ternyata bukan "Hanacaraka". Aksara Sunda disebut "Aksara Ngalagena" atau "Aksara Kaganga" atau (saya lebih suka menyebutnya sebagai) "Aksara Ratu Pakuan". Agak berbeda sedikit dibanding "Hanacaraka" atau "Carakan". Perumusan aksara Sunda berdasarkan naskah kuno (diantaranya naskah carita ratu pakuan karya Bujanggamanik, sejarawan pengembara yang hidup di masa akhir kerajaan Pajajaran Sribaduga Maharaja-masyhur dengan julukan Prabu Siliwangi) dan prasasti (diantaranya: Prasasti Kawali (Prabu Wastukancana, abad 13-14 M) dan Prasasti Citatih Srijayabuphati, semasa dengan Raja besar Airlangga). Dalam kaitan antara aksara daerah dengan teknologi kita akan bicarakan tentang Unicode. Saat ini status aksara nusantara yang telah tercantum dalam Unicode adalah sebagai berikut: yang telah benar-benar diakui dan listing dalam unicode adalah aksara Bugis; yang sedang dalam peroses promosi listing di Unicode: Aksara Jawa dan Aksara Bali; yang sudah mendapat "space" di Unicode: Aksara Sunda dan Aksara Batak. Kawan-kawan yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang Unicode, aksara Bugis, aksara kaganga (sebagai dasar aksara-aksara di Asia Selatan), Michael Everson-salah seorang tokoh konsosrsium Unicode Internasional yang memperjuangkan aksara-aksara Nusantara terdaftar di Unicode dan pedaran singkat ttg Aksara Sunda Kaganga, silahkan periksa alamat-alamat di bawah ini: http://en.wikipedia.org/wiki/Unicode http://www.unicode.org/standard/WhatIsUnicode.html http://www.unicode.org/ http://www.omniglot.com/writing/redjang.htm http://www.ancientscripts.com/bugis.html http://en.wikipedia.org/wiki/Michael_Everson http://www.sundanet.com/artikel.php?id=233 http://www.sundanet.com/artikel.php?id=235 http://www.sundanet.com/artikel.php?id=236 http://www.sundanet.com/artikel.php?id=237 http://www.sundanet.com/artikel.php?id=238 Sekian saja komentar singkat ini, mudah-mudahan ada manfaatnya. Salam, manAR kembali "numpi" sambil merenungkan kenyataan bahwa kedamaian di dunia ini selalu mendapat cobaan, bisa jadi awalnya hanya curat-coret gambar karikatur, dst, misalnya. On 2/15/06, Aisha <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bahasa Sunda itu ada 3 tingkatan, halus - sedang dan kasar. Yang halus > digunakan jika bicara ke orang yang lebih tua atau bangsawan > (menak). Yang > sedang digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Yang kasar digunakan > misalnya > di lingkungan terminal, preman, dll. Mungkin karena dulunya ada kerajaan, > feodal banget jadi ada kasta2, kasta bangsawan dan rakyat biasa yang > bahasanya juga lain. > > Daerah yang dianggap bahasa Sundanya halus itu Tasik, Ciamis, Garut, > Banten, > dll. Yang bahasa Sundanya campuran seperti Cirebon (campuran bahasa Sunda > & > Jawa), Indramayu juga ya (?). > > Khusus Bandung, ini kan ibukota Jabar yang masyarakatnya kosmopolitan > dengan > komunitas sosialnya lintas agama, lintas suku, lintas bangsa, dll - bahasa > Sundanya yang muncul sering kasar. Tapi di daerah yang dianggap sunda > halus > juga generasi mudanya sekarang memang sudah memakai sunda kasar seperti > yang > diceritakan mas He-Man. Ralat - bukan singkuring tapi simkuring. Kadang2 > di > beberapa lembaga bahasa sundanya lucu, misalnya di ITB - > mahasiswa/dosen/pegawainya yang non sunda bicara sunda juga (umumnya sunda > sedang atau kasar), terasa lucu di telinga. Biasanya yang non sunda > bicara > sunda ini adalah mereka2 yang nikah dengan gadis sunda (mojang > Parahyangan). > > Silahkan yang ahli sunda seperti kang Waluya & pak Oman cerita lebih > lanjuta > karena saya belajar bahasa Sunda hanya di SD saja dan di rumah bahasanya > campuran. > > salam > Aisha > ---------- > [Non-text portions of this message have been removed] Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

