Ayeuna mah sok tingali Bandung nu ibukotana urang sunda, sabaraha potensi urang sunda nu berpengaruh, dina dagang tos kadeuseuh jeung urang padang, angkot disepak ku batak, patani geus puguh ditincak komo deui lamun sabagian jawa barat jadi megapolitan, keur mah urang sunda teh sok acuh ka lingkungan sorangan, ditambahan ku loba-na datang ti seler lain nu teu saeutik mere pangaruh awon. Contona bae di Bogor danget ieu angkot jurusan br-siang-laladon loloba na urang batak, tah kumaha supir angkot nu urang sunda-na ?, kuring sok ningali panumpang supir urang sunda direbut ku urang batak, ngan anehna supir nu urang sunda cicing wae (sieueun), ieu conto kasus nu pang simple-na, padahal urang sunda teh loba keneh, kunaon teu bisa walakaya ?, geus puguh dina mawa mobil eta si supir urang batak teu kira-kira, malihan mun panumpangna saeutik sok diturunkeun, dina ngadagoan panumpang (ngetem) teu kira-kira lilana, punten sim kuring sanes bade nitah perang antar etnis, da ieu mah lain penyelesaian, tapi urang sunda salaku tuan rumah tos sakedahna kudu dihormati. Mangga urang ningali perbedaan budaya, cara gawe, supir urang batak, keur mangsa 10 taun katukang, harita ongkos pesawat terbang masih keneh mahal (teu siga ayeuna tos mirah), lamun aya dulur/kulawargi urang batak di lemburna meunang kasusahan sapertos gering, atanapi maot, maranehna bisa balik ka lemburna (di sumatra)make kapal terbang, padahal panghasilan maranehna dina sapopoe teu pati gede, kumaha urang sunda ?, nu puguh di lembur sorangan oge loba icalan sayur nu diudag-udag ku kamtib, leres si tukang sayur eta salah margina icalan di tempat salah, da bongan harga sewa di kios pasar-na mahal teuing, tah ieu salah sahiji sipat urang sunda anu sok acuh ka lingkungan nyalira, komo dina prestasi gawe sapopoe. --- "Agus K \"PAKUSARAKAN\"" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> nuhun teh katerangan eta alus pisan jeng simkuring > panuju kana pamadegan gubernur > ngan kurang heras lah... nu puguh mah niat > sutiyoso jeng fb nu hayang ngancurkeun sunda tah > iyeu nu kudu di fikiran.... > > > ika mardiah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kahatur: > Baraya > Nyanggakeun tanggapan Gubernur Jawa Barat > perkawis RUU Revisi UU No.34/1999 nu didugikeun > dinten ayeuna Rebo, di Pansus DPR-RI. > > Paparan Gubernur Jawa Barat > > Pandangan Jawa Barat Terhadap Rancangan Revisi > UU No. 34 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Provinsi > Daerah Khusus > Ibukota Republik Indonesia Jakarta > Disampaikan Pada Rapat Dengar Pendapat dengan > Pansus DPR RI > Mengenai Rancangan Revisi UU No. 34 Tahun 1999 > > > > > Pasal-pasal di dalam rancangan Revisi UU no. 34 > Tahun 1999 yang terkait dengan konsep Megapolitan > Jabodetabekjur > > Pasal 9 > > (1) Ibukota Negara Republik Indonesia memiliki > rencana umum tata ruang ibukota negara dengan > mengacu kepada tata ruang nasional. > (2) Rencana umum tata ruang ibukota negara > sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi wilayah > Provinsi DKI Jakarta, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, > Kabupaten Tanggerang, Kota Tanggerang, Kabupaten > Bekasi, Kota Bekasi, Kota Depok dan Kabupaten > Cianjur yang dinyatakan sebagai kawasan > Megapolitan. > (3) Rencana umum tata ruang ibukota negara > sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan > peraturan pemerintah > > Pasal 10 > Rencana umum tata ruang ibukota negara > sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (2) > dijadikan dasar dalam penyusunan Rencana Umum Tata > Ruang Provinsi DKI Jakarta, Kabupaten Bogor, Kota > Bogor, Kabupaten Tanggerang, Kota Tanggerang, > Kabupaten Bekasi, Kota Bekasi, Kota Depok dan > Kabupaten Cianjur > > Catatan terhadap rancangan Revisi UU No. 34 > Tahun 1999 > Sejak awal penyusunan RUU Revisi UU > No. 34 Tahun 1999 yang dalam beberapa substansinya > terkait dengan kepentingan Jabar dalam pembahasannya > samasekali tidak melibatkan Pemerintah Provinsi > Jabar. > Pada dasarnya Pemerintah Provinsi > Jawa Barat sangatlah mengerti kalau penanganan DKI > Jakarta itu penting dan prioritas karena menyangkut > kepentingan Ibukota Negara Republik Indonesia. > Bahkan dalam Visi Jawa Barat secara > eksplisit disebutkan bahwa Jawa Barat Ingin Menjadi > Provinsi Termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan > Ibukota Negara Tahun 2010. > Oleh karena itu sepanjang dimaksudkan > untuk lebih mengintegrasikan penataan ruang Ibukota > Negara Indonesia Jakarta dengan daerah sekitarnya, > konsep penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah > Jabodetabekjur dapat diterima. > Namun jika penerapan gagasan tersebut > berimplikasi pada pelepasan sebagian wilayah Jabar > seperti wacana yang berkembang saat ini, maka dengan > tegas pemerintah provinsi dan masyarakat jabar akan > menolak. > > Beberapa pertanyaan mendasar terhadap konsep > Megapolitan Jabodetabekjur > Apakah yang dimaksud dengan > terminologi megapolitan menurut RUU Revisi UU No. 34 > Tahun 1999 ? > Apakah penanganan dan pemecahan > seluruh persoalan di kawasan Jabodetabekjur harus > ditangani dengan pembentukan kawasan Megapolitan? > Apakah tidak lebih baik dengan upaya > memacu pembangunan di hinterland DKI Jakarta atau > bahkan pembangunan di kawasan lain untuk menciptakan > counter magnet bagi Jakarta ? > Apakah kawasan Jabodetabekjur > benar-benar memenuhi syarat untuk menjadi kawasan > Megapolitan ? > > Sebelum kita menyepakati gagasan pembentukan > kawasan megapolitan jabodetabekjur, maka sebaiknya > terlebih dahulu dilakukan analisis akar masalahnya > secara cermat. Kalau sudah terumuskan akar > masalahnya telusuri sampai kepada strukturnya, > sehingga dapat diperoleh masukan penting dan akurat > bagi proses pengambilan keputusan > > Beberapa contoh akar permasalahan kawasan > Jabodetabekjur > > 1. Pertambahan penduduk yang tidak > terkendali > § Jumlah penduduk di kawasan tersebut > saat ini telah mencapai 11,2 juta jiwa dengan laju > pertambahan penduduk periode 1995-2005 rata-rata > sebesar 3,6%, dengan angka migrasi masuk rata-rata > 1,6 juta jiwa per tahun. > § Laju pertambahan penduduk dan migrasi > masuk setinggi itu tidak diimbangi oleh pemenuhan > kebutuhan penduduk dalam berbagai aspek, seperti > kesempatan kerja, fasilitas dan utilitas kota, dan > lain-lain. > § Selama belum ada konsep yang jelas > dan upaya yang efektif dalam mengendalikan > pertambahan penduduk dan migrasi masuk serta konsep > penyediaan lapangan kerja, fasilitas dan utilitas > kota yang memadai, maka konsep apapun untuk menata > Jabodetabekjur tidak menjamin akan menjadi solusi > bagi segala persoalan yang saat ini terjadi. > > 2. Fungsi dan peran DKI Jakarta ke depan : > § Sebagai ibukota negara dengan > multifungsinya, atau akan difokuskan hanya pada > satu atau dua fungsi saja. > melihat pengalaman di negara-negara lain fungsi > ibukota negara difokuskan di satu kota khusus > seperti Amerika Serikat (dari New York ke > Washington DC.), Australia (dari Sydney ke > Canberra), Malaysia (dari Kualalumpur ke > Putrajaya), India (dari New Delhi ke Srinagar), > Kanada (dari Vancouver ke Ottawa) dan Belanda (dari > Amsterdam ke Denhaag). > § Melihat stadia perkembangan kawasan > Metropolitan Jabodetabek sekarang ini, nampak bahwa > yang terjadi adalah semakin meluasnya daerah > terbangun (urban conurbation) tapi belum membentuk > suatu hubungan fungsional yang kuat satu sama lain > atau tidak tersistem > > 3. Kinerja infrastruktur wilayah yang tidak > bersistem : > § Hal ini antara lain disebabkan oleh > keberadaan infrastruktur wilayah yang masih > didominasi di DKI Jakarta dan tidak jelasnya sistem > infrastruktur wilayah di dki jakarta dan > sekitarnya, sehingga daerah-daerah hinterland sulit > untuk memerankan fungsinya secara baik dalam > pengembangan dan penataan wilayah : > § Masalah ekonomi biaya tinggi dan > pemusatan investasi di wilayah Jabodetabek karena > tingginya ketergantungan aktivitas ekonomi kepada > pelayanan pelabuhan Tanjung Priok dan Bandara > Soekarno-Hatta. > § Kemacetan lalulintas, polusi dan > lain-lain akibat rendahnya penyediaan infrastruktur > jalan, terutama sistem jalan arteri yang berfungsi > memperlancar pergerakan orang dan barang, serta > belum optimalnya penyediaan angkutan umum massal. > § Masalah banjir tahunan akibat tidak > tersistemnya infrastruktur sumber daya air > (sungai, drainase, dan sebagainya). > § Selain dari itu sinergitas > pengelolaan infrastruktur wilayah masih belum > optimal dan penanganannya cenderung parsial. > > 4. Hubungan kemitraan antara dki dengan > wilayah sekitarnya : > Tidak terjalinnya hubungan kesetaraan > (yang bersifat take & give) antara DKI Jakarta dan > wilayah sekitarnya, bahkan tidak saling > menguntungkan (win-win solution) dan terkesan yang > kuat mengeksploitasi yang lemah. > Meskipun kawasan hinterland banyak > mendapat limpahan (spill over) dari perkembangan > ekonomi di DKI Jakarta, namun daerah-daerah tersebut > juga harus menanggung dampak lingkungan yang berat, > dampak sosial, serta beban pelayanan umum dan > sebagainya. > Banyak kegiatan yang tumbuh di > sekitar dki jakarta, seperti halnya industri > ternyata belum memberikan nilai tambah yang tinggi, > bahkan beberapa potensi pendapatan yang seharusnya > didapatkan dari kegiatan tersebut tidak sepenuhnya > diterima oleh wilayah sekitarnya. > Sementara itu sharing dari pemerintah > DKI Jakarta bagi wilayah sekitarnya untuk mengatasi > persoalan di kawasan ini tidak cukup signifikan. > Demikian juga pendanaan dari pemerintah pusat di > kawasan ini masih relatif kecil, di lain pihak APBD > Provinsi Jawa Barat dan kabupaten/kota yang > bersangkutan sangatlah tidak mencukupi untuk > mengatasi permasalahan yang sangat besar di wilayah > Bodebekjur. > === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

