Tah ieu salah sahiji conto keur palajaran urang sunda,
urang sunda nu sohor ngaranna dina tungtung taun
1970-an, mun seug jalma bener mah reueus...

Kegagalan di Pilkades Mendorongnya Membunuh
”Ari Sugan Teh Tos Maot....” 

 
SERMA Eddy Maulana Sampak, 1979.*DOK."PR" 
UNGKAPAN rasa kaget itu terucap dari Ny. Suwangsih,
saat mendengar kabar Eddy Maulana Sampak tertangkap
kembali, setelah buron hampir 22 tahun. Ny. Suwangsih
adalah janda Serma Sutarjat, yang menjadi salah satu
korban pembunuhan Serma Eddy Sampak, yang terjadi
hampir 28 tahun lalu.

Saat dihubungi via telefon, Jumat (10/2), Ny.
Suwangsih mengatakan dirinya sudah banyak lupa
mengenai kejadian saat itu. Yang masih segar dalam
ingatannya, peristiwa pembunuhan itu terjadi di bulan
Ramadan menjelang perayaan Idulfitri.

Saat itu, Senin, 20 Agustus 1979. Tidak biasanya
hingga menjelang magrib, Sutarjat, belum pulang. Saat
magrib, bukan suaminya yang datang, tapi beberapa
petugas dari Kodim 0608 Cianjur.

Setelah berbasi-basi sebentar, petugas memberi tahu
bahwa Sutarjat telah wafat, menjadi korban pembunuhan
rekannya, Eddy Sampak.

"Yang pasti saat itu saya merasa terpukul, apalagi
kejadiannya sat menjelang lebaran," ujar Suwangsih.

Dia bertutur, suaminya memang bertugas sebagai pembawa
uang untuk gaji pegawai Kodim 0608. Kejadian
pembunuhan dan perampokan uang gaji itu telah membuat
masyarakat geger.

**

PEMBUNUHAN terhadap Serma Sutarjat dirancang oleh Eddy
Sampak, karena dia merasa dendam terhadap rekannya
itu. Pasalnya, karena Sutarjat, ambisi Eddy untuk
menjadi Kepala Desa Nagrak, Kabupaten Cianjur, gagal
total. 

Berdasarkan dokumentasi pemberitaan "PR", sejak
Agustus-September 1979, diketahui Eddy Sampak sudah
berkorban banyak untuk menjadi Kepala Desa Nagrak.

Dia gagal memenuhi kuorum pada pemilihan Kepala Desa
Nagrak, 22 November 1978. Eddy hanya mendapat 786
suara dari jumlah pemilih dua ribu orang. Sisanya
menumpuk di bumbung tak bertuan.

Karena kondisi itu, Eddy tidak bisa menjadi kepala
desa. Yang membuat dia semakin marah, Dandim 0608
Letkol Kahya, malah menawarkan jabatan kepala desa
sementara kepada Serma Sutarjat, rekan Eddy yang
sama-sama bertugas di Kodim Cianjur. 

Akan tetapi, menurut Suwangsih, saat itu Sutarjat
menolak permintaan itu. Suwangsih mengatakan, almarhum
suaminya pernah menceritakan "penugasan" atasannya itu
kepadanya. 

Kecewa dengan kekalahannya, Eddy menuduh panitia
pemilihan melakukan permainan. Dia juga merasa
Sutarjat dan Kahya telah menghalangi niatnya. Dia pun
berniat membunuh keduanya.

Dari berbagai informasi yang diperoleh "PR" saat itu,
beberapa minggu menjelang aksinya, Eddy sempat akan
menyogok petugas jaga gudang senjata. Dia meminta
petugas untuk mengeluarkan 250 butir peluru Carl
Gustaf dan lima buah granat. Tapi petugas jaga itu
menolak permintaan itu.

Namun, tampaknya dia berhasil mencuri senjata Carl
Gustav dan pelurunya. Senjata itu yang dipersiapkannya
untuk membunuh orang-orang yang dianggap menghalangi
ambisinya, yaitu Sutarjat, Kahya, dan Bupati Cianjur
saat itu Ir. Adjat Sudradjat.

Tampaknya, membunuh Kahya dan Bupati bukanlah hal
mudah. Karena itu, dia susun sebuah rencana pembunuhan
dan perampokan terhadap Sutarjat lebih dulu. 

**

SAAT itu siang hari, tanggal 20 Agutus 1979. Serma
Sutarjat bersama tiga rekannya pergi ke Bank Karya
Pembangunan Cianjur. Ini merupakan tugas rutinnya
sebagai juru bayar, mencairkan uang untuk gaji pegawai
Kodim 0608.

Sesudah mencairkan uang, tiba-tiba saja Eddy Sampak
sudah ada di tempat itu. Tapi, Sutarjat tidak curiga.
Bahkan Eddy diizinkan untuk ikut menumpang ke atas
mobil Colt bernomor D 5791 G, yang digunakan Sutarjat
dan rekannya untuk mengambil gaji. Ikut bersama mereka
beberapa orang sipil.

Di tengah perjalanan, saat mobil itu memasuki Desa
Gekbrong, Kecamatan Warungkondang, Eddy menembakkan
peluru ke arah Sutarjat dan empat orang lainnya dalam
mobil itu. Dalam aksinya, Eddy dibantu seorang
laki-laki bernama Ojeng.

Setelah itu, Eddy memerintahkan Ojeng untuk membakar
mobil Colt itu. Eddy mengira semua penumpang mobil itu
tewas. Dia tidak tahu ada seorang yang selamat, Kopral
Sumpena.

Sumpenalah yang melaporkan kejadian ini kepada aparat.
Saat itu juga aparat langsung mengejar komplotan
perampok yang menyimpan dendam kepada rekannya itu.

Selama satu minggu, Eddy melarikan diri. Dirinya
bersembunyi di kebun karet dan di rumah-rumah
penduduk. Dia merencanakan untuk kabur dengan pesawat
terbang.

Itu sebabnya, saat ditangkap, aparat juga menemukan
guntingan-guntingan koran "PR" yang berisi jadwal
penerbangan pesawat, berita tentang suami istri yang
hidup di gua selama 21 tahun dan berita tentang
pembunuhan 21 pejabat Irak.

Eddy berhasil ditangkap 28 Agustus 1979, setelah
terlibat baku tembak dengan aparat yang mengepungnya.
Saat pemeriksaan, Eddy mengakui sudah merampas uang
sebesar Rp 21,3 juta dari Sutarjat. Uang itu tadinya
akan digunakan untuk membayar utang-utangnya yang
sebanyak Rp 3 juta. Uang Rp 3 juta itu pernah
dipakainya untuk membiayai pencalonannya sebagai
kepala desa.

Namun, seperti diberitakan oleh "PR" tanggal 1
September 1979, uang rampasan Eddy Sampak berhasil
ditemukan kembali sebesar Rp 20,5 juta.

Hakim pengadilan militer menjatuhinya hukuman mati.
Tapi eksekusi tidak segera dilaksanakan. Eddy Sampak
sempat mengajukan grasi, tapi ditolak. 

Setelah hampir lima tahun di dalam tahanan, Eddy
berbuat nekat. Pada 24 Desember 1984 Eddy Sampak
berhasil meloloskan diri dari INHERAB POM-ABRI Cimahi.
Dia buron selama nyaris 22 tahun.

Karena itu, ketika diberi kabar bahwa Eddy Sampak
tertangkap kembali, Suwangsih kaget. Selama ini
dikiranya Eddy Sampak sudah lama mati. Sekarang
Suwangsih bersyukur karena pembunuh suaminya kembali
tertangkap. 

Berita mengenai Eddy Sampak begitu menggegerkan saat
itu. Sejak sehari setelah aksi pembunuhan dan
perampokan itu terjadi, "PR" selalu memuat beritanya. 

Saking menghebohkannya peristiwa itu, pada 2 September
1979, "PR" menurunkan berita dengan menyebutkan
sebagai perampok dan pembunuh terbesar tahun ini.(Zaky
Yamani/"PR")***


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke