Dihandap ieu salah sahiji conto “padungdengan” masalah
paminyakan anu janten wacana, anu poko masalahna mah
ngabandingkeun wawanen para ahli minyak bangsa urang
jeung bangsa Malaysia. Kumargi seueur kadangwargi US
anu ancrub dina widang minyak, teu aya lepatna kanggo
eunteung urang sadaya.

Anu langkung poko mah kumaha “model” wacana kieu teh,
tiasa janten conto padungdengan di KUSnet, anu muarana
tiasa ngahasilkeun  hiji rekomendasi atawa “cecekelan”
pikeun urang sadaya, dina ningali hiji masalah.

Baktos,

Mrachmatrawyani



Dari milis temu eropa:

Ini sebagian diskusi di kalangan profesional migas
Indonesia:

YS: Kalau kita hanya bicara seputar dunia minyak saja,
memang sudah jelas jawabannya ialah berikan kpd Exxon
supaya lebih efisien.  Tetapi kan dunia minyak di
tanah air (khususnya Pertamina) bisa jadi begini krn
kait-berkait dng dunia lainnya.  Penegakkan hukum yg
tidak pernah jelas, pengumpulan data adminsitrasi
dihampir segala bidang tdk pernah rapi, dan banyak hal
lainnya.  Jadi, prescription apa yg paling baik?  Saya
sendiri nggak tahu, saya hanya bisa merasakan kalau
badan saya sumeng, sakit panas dingin, ttp sang dokter
yg mengobati saya.  nakh, sang dokter yg terbaik ini
siapa? 

Legowo: Yang dimaksud efisien itu apa? Kalau yang
dimaksud adalah gali secepatnya, produksi, angkut,
kilang, distribusi, dst. Yah, tentu Exxon bisa lebih
efisien. Tapi kalau pakai visi yang lain, misalnya
"Cepu dijadikan kampus lapangan profesional migas
Indonesia selama 25 tahun," ya itu bisa berarti sangat
efisien juga. 

Ibaratkan tabungan rumah tangga kita sendiri. Bisa
sangat efisien dibelikan stock yang naiknya konstan
30-an% setahun. Tapi bisa dianggap sangat efisien juga
kalau dipakai menyekolahkan anak-anak, kan? Jadi
tergantung bagaimana kita lihat lumbung Cepu itu.
Apakah cuma komoditas yang bisa dijual cepat, atau
modal yang bisa dipakai untuk membangun bangsa?

AB: Saya berpendapat bahwa Pertamina bukannya tidak
mampu secara teknis, tetapi management (dan staff)
Pertamina dimasa lalu selalu korupsi luar biasa
besarnya. Soal blow-out dan lain-2 problem teknis
kalau diteliti problemnya mungkin sumbernya juga
karena korupsi. Ada bekas pejabat Pertamina yang
korupsi dan kelakuannya dibikin joke oleh staff
Pertamina sendiri, tapi toh kariernya bisa nanjak
terus sampai diawal 1990'an bisa jadi Pimpinan Umum
Pertamina Unit II (Sumatra Selatan). Tentu karena dia
pinter bagi-2 "rezeki"-nya. Tidak tahu bagaimana
management Pertamina sekarang bersih tidaknya, tetapi
bagaimana meyakinkan masyarakat tentang kredibilitas
Pertamina sekarang adalah problem besar.

Legowo: Lagu ini, "teknis mampu tapi mental nggak
siap. Kita korup," itu sudah sering kita dengar dan
sepertinya kita mengutuk diri sendiri. Banyak jalan
membereskan management suatu perusahaan. Perusahaan
dipaksa untuk melakukan transparani karena dilepas di
pasar modal, itu salah satu jalan yang efektif. Selama
Pertamina itu tertutup dari kontrol luar, tertutup
dari kontrol masyarakat pemodal, akan sukar sekali
membenahi manajemennya. 

Jalan lain adalah membentuk divisi baru atau anak
perusahaan baru. Ini seringkali dilakukan oleh
perusahaan migas yang besar. Birokrasi diperkecil,
prosedur dilancarkan, kontrol bisa ditingkatkan. Arco
ke Indonesia bikin Arco Indonesia, Arco Indonesia
menemukan Kangean, bikin unit usaha yang baru, Arco
Bali North. Di Encana perusahaan raksasa itu
diorganisasi begitu rupa sehingga menjadi sekumpulan
'Bisnis Unit' yang mengelola dirinya sendiri. Itu satu
cara juga.

Di RRT Pertaminanya sudah dipecah-pecah menjadi
beberapa perusahaan yang berdiri sendiri: CNPC, CNOOC,
Sinopec, dll. Antara mereka bisa bekerjasama dan bisa
terus menerus mengintip karena mereka bersaing. CNOOC
menemukan 100 juta barel itu berita besar, lalu iintip
terus apa rahasianya. Ketika CNPC menemukan cadangan
besar di Venezuela, diintip terus. Antara mereka
sendiri banyak kooperasi dan sekaligus selalu ada
kompetisi. Termasuk dalam managementnya.

Apa Pertamina bisa melakukan itu? Bisa!

AR: Sebagai orang awam di dunia minyak saya bilang
tergantung kemampuan dan visi Pertamina sih. Kalau
hutang seabreg tapi pimpinan bervisi bagus dan
kemampuan teknis ada, jadi operator Cepu bisa
mengurangi hutang ini. Masalahnya meyakinkan pihak
lain kalau Pertamina memang bisa dan harus dilakukan
sekarang untuk maju. Tapi jika pimpinan Pertamina
nggak pecus dan/atau kemampuan teknis tidak ada, ya
riskan untuk jadi operator Cepu. 

Legowo: Yang ngomong "punya utang" ini dengan sengaja
mau membelokkan masalah. Cepu itu bagian kecil sekali
dari seluruh operasi Pertamina. Bahwa banyak operasi
besar Pertamina yang kalang kabut, banyak utang, itu
betul. Tapi lalu kenapa? Apa kaitannya dengan Cepu?
Untuk skala Pertamina, mengembangkan lapangan Cepu itu
urusan kecil sekali, Broer! Yang bikin itu kelihatan
besar, dahsyat, muskil, luar biasa sukar, dsb itu
Public Relation-nya Exxon. 

Misalnya serahkan ke tiga orang senior proefsional
migas dalam forum kecil ini.  ACS (geologist), EH
(reservoir engineer), Legowo (Geophysics), beri semua
data. Dalam 1 bulan kami bisa susun FDP (Field
Development Plan) untuk Cepu. FDP yang disesuaikan
dengan kemampuan pengelolaan Pertamina. FDP yang
memikirkan kebutuhan jangka panjang, dst. Bukan FDP
untuk nyedot migas secepat mungkin dan sebanyak
mungkin dan karena itu jadi rumit sekali dan mahal
sekali.

Karena memang sebenarnya nggak ada masalah yang
complicated untuk mengembangkan Cepu. Apa masalahnya?
Logistik nggak ada masalah. Bandingkan dengan masalah
logistik di pedalaman Papua atau Kalimantan, atau
muara Mahakam, atau lepas pantai Serawak.
Seabrek-abrek masalah logistiknya. 

Di Cepu sudah ada jalan besar, ada jalan Kereta Api,
Rumah Sakit, lapangan terbang, pelabuhan, dst. Masalah
penambangannya sendiri (ngebor, ngetest, bangun
anjungan, jaringan pipa, dsb), nggak ada masalah yang
saya denger dari teman-teman yang pernah ikut
mengerjakan Cepu. Masalah biasa sajalah yang selalu
ditemukan dalam semua operasi pengembangan lapangan.

ACS: Kalau baca penjelasan Legowo memang kelihatannya
simpel sekali, but believe me, ngurus lapangan itu
nggak se simpel itu, perlu management yang bagus
sekali supaya semua aspek bisa berjalan bersinerji. 
Saya baru pulang dari Yaman, lihat lapangan perusahaan
saya yang besarnya cuma 1/10 Cepu, itu saja sudah
complicated luar biasa.  

Legowo: Ya, kalau akan menjalankan skenario
pengembangan lapangan seperti yang sudah dirancang
Exxon - mula-mula bgebor 20 lobang, produksi tahun
pertama 100 ribu, lalu drill lagi dan genjot terus
produksi sampai 200-an ribu bopd -- itu memang akan
jadi proyek raksasa yang complicated. Karena target
Exxon itu dalam 10 tahun Cepu harus sudah bisa disedot
habis.

Tapi Pertamina bisa bikin alternative FDP (Field
Development Plan) atau POD (Plan of Development). Bisa
dibuat produksinya 10 ribu bopd dulu. Bisa langsung
dikilang di Cepu sendiri, keluarnya sudah jadi solar,
bensin, avtur, dst. Selama beberapa tahun latih
timnya, pahami betul sifat-sifat reservoirnya, setelah
beberapa tahun modal kerjanya sudah pasti kembali.
Cash flow mulai lancar -> baru ekpansi lagi.
"Development in stages" itu kan konsep yang umum
diterapkan. Puncak produksi Cepu mungkin bisa
dirancang 10 tahun kedepan ketika harga minyak sudah
U$200/barel.

Bung ACS baru pertama kali kerja dengan perusahaan
yang relatif kecil. Saya sudah berulang kali mengalami
penemuan dan pengembangan lapangan dengan perusahaan
kecil. Mula-mula di Mesir dengan AP, lalu di Thailand
dengan SI, di Bangladesh dengan NK, di Yemen dengan
CVI (yang sekarang dikerjakan ACS),  dan sekarang di
Serawak dengan Petronas. Memang benar setiap lapangan
itu masalahnya rumit. 

Sebagai gambaran umum, kerumitan pertama adalah
volumetriknya. Berapa persisnya jumlah cadangan itu
kita harus tahu betul untuk bisa menyusun strateginya.
Satu penemuan harus dibor 3-4 kali lagi (appraisal
drilling) untuk tahu persis berapa jumlah cadangannya.
Dengan jumlah cadangan yang sudah diverifikasi oleh
lembaga independent, kita sudah bisa pergi ke bank
untuk minjem duit. Kita bisa bikin road trip untuk
fund rising. 

Kedua, unsur politik dan keamanan. Bagaimana kemampuan
pemerintah setempat menjamin investasi itu. Ketiga,
logistik. Ketemu 100 juta barrel di pedalaman Papua
bisa tidak ekonomis karena masalah logistik yang mahal
sekali. Tapi ketemu 10 juta barrel di Purwakarta itu
seperti ketiban durian runtuh. Ketemu 2 juta barrel di
Alberta itu kita bisa jadi jutawan baru. 

Kalau jumlah cadangan cukup, keamanan terjamin,
logistik bisa diatasi, modal pasti datang. Pasti! Yang
lain itu soal teknis. Dan di Indonesia banyak sekali
yang paham betul seluk-beluk segi teknisnya. Konsultan
untuk bantu menyelesaikan soal teknis itu juga
seabrek-abrek.

ACS: Bola Cepu ini memang bener2 panas, sampai
dilempar kemana-mana, nggak ada yang berani ambil
keputusan. Yang saya dengar, bahkan SBY aja ngak
berani ambil keputusan.

Legowo: Banyak kepentingan politik (kekuasaan besar di
luar, pertarungan kekuatan di dalam negeri). Banyak
kepentingan ekonomi lokal (para konglomerat migas
dalam negeri). Tapi saya duga akhirnya industri migas
Indonesia yang akan dikalahkan karena elite kita nggak
punya nyali.

Di KL saya masuk dalam team yang ditugaskan
mengembangkan 10 lapangan gas di lepas pantai Serawak.
Total recoverable reservenya sekitar 2 TCF, kira-kira
sebesar Cepu. Pesan langsung dari CEO Petronas, "We
want Carigali in the driving seat." Mereka mau jadi
sopir, bukannya jadi kenek. Pesan itu terus
diulang-ulang setiap kali pertemuan. Mereka tidak
ingin Shell yang terus menguasai industri migas di
Serawak. Proyek kami masuk ranking nomor 2 untuk
seluruh Petronas (proyek nomor 1 Petronas itu di
Turkmenistan). Proyek ini dimonitor langsung oleh
CEOnya. Setiap laporan rapat langsung dikirim ke meja
CEOnya.

Siapa yang diberi tugas besar dan berat ini? Tulang
punggungnya adalah profesional muda Petronas umur
30-an tahun. Memang kami, para konsultan, itu jadi
otaknya. Tapi yang jadi motornya, ya anak-anak muda
itu. Head of Facilities itu memang senior umur 60-an.
Tapi motornya itu kader muda Petronas, wanita lagi,
umurnya baru 30-an tahun. Dia yang mengkoordinir
facilities (membangun anjungan, ratusan km jaringan
pipa, underwater facilities, dst) seharga U$500 juta,
dalam waktu 2 tahun ke depan. Pada peak production
nanti facilities yang dibangun di lepas pantai itu
total harganya akan lebih dari U$1 miliar.

Di Indonesia, lapangan Cepu yang begitu gampang
mengembangkannya malah diserahkan ke Exxon. Yang beda
itu nyali, Bung! Kader-kader migas Petronas ini merasa
mampu. Kalau kurang paham mereka bisa tanya konsultan.
Tapi mereka sendiri merasa mampu. Senior-seniornya
selalu mendorong mereka. Membesarkan hatinya. Karena
itu tidak sedikitpun ada keraguan bahwa mereka mampu.

Setiap kali saya ikut rapat untuk menyusun FDP, setiap
kali saya jadi sakit hati pada elite migas Indonesia.
Bener-bener ngak punya nyali. Begitu banyak jalan ke
Cepu. Mereka pilih jalan yang paling gampang, jadi
kenek.

ACS: Kenapa ente tidak mau mempertimbangkan joint
company?  

Legowo: Saya nggak tahu persis tawaran Exxon itu
seperti apa dan jawaban Pertamina seperti apa. Seperti
biasa, ini semua di bawah meja, tidak transparan.
Kepada teman-teman di Pertamina saya cuma mengusulkan
ide yang lama, Pertamina harus punya FDP (atau POD)
tandingan yang dilandasi pemikiran membangun bangsa.
Bukan mencari untung.

Saya tidak melihat apa keuntungan joint company dengan
45% saham dipegang Exxon. Dengan FDP tandingan kita
bisa bikin 100% dikelola Pertamina. Tidak ada hal-hal
yang bisa dilakukan Exxon dan tidak bisa dilakukan
Pertamina. Tapi kalau yang dipakai itu FDPnya Exxon,
yang bisa mengerjakan ya cuma Exxon.

Yang sedang saya kerjakan di Petronas itu menarik
sekali. Shell sudah begitu lama menguasai industri
migas di lepas pantai Serawak dari hulu (eksplorasi &
produksi), menengah (transportasi) sampai ke hilir
(penjualan, distribusi). Petronas ingin keluar dari
cengkraman Shell itu dan mereka menyusun FDP sendiri. 

Sekarang yang blingsatan itu Shell. Mereka betul-betul
kalang kabut kalau membayangkan Petronas bisa
melakukan eksplorasi sendiri, bisa menyusun program
appraisal sendiri, lalu bisa bangun anjungan, bangun
ratusan km jaringan pipa, bangun central processing
center (CPP) di lepas pantai dengan
compresor-compresor segede lapangan basket itu dan
kemudian bisa memasokkan sendiri gas ke Bintulu. 

Yang sangat menarik itu tidak ada satupun boss
Petronas yang menyangsikan kemampuannya sendiri.
Kader-kadernya dididik, ditraining, dikritik, dibebani
tugas-tugas yang luar biasa berat sambil disupport
oleh para konsultan. "Can do spirit" itu luar biasa
menonjol.

YS: Kalau boleh tambah sedikit.  Saya pikir SBY pun
nggak bisa buat keputusan bukan karena dia nggak tahu
betul ttg minyak Cepu ini, kemungkinan besar dia juga
takut kalau ambil keputusan supaya Cepu dikelola
sendiri, nanti dia nggak bakal jadi presiden lagi di
pemilu y.a.d.

Legowo: SBY pernah jadi Mentabem, jadi dia cukup paham
seluk beluk industri migas. Saya sendiri lebih melihat
kasus Cepu ini sebagai ketidak berdayaan para
profesional migas Indonesia. Mereka nggak percaya
diri, nggak punya nyali, dsb. 

Kalau mereka benar-benar percaya diri, bisa disusun
satu rangkaian tulisan di media massa. Dalam sektor
eksplorasi kita bisa melakukan ini, kemampuan itu
sudah terbukti di lapangan ini, ini, ini, dsb. Dalam
sektor produksi kita bisa melakukan ini, terlihat
dalam pengembangan beberapa lapangan ini. Dalam sektor
pengilangan, distribusi, dst kita pernah melakukan
disini- disitu, dsb. 

Lalu mereka bisa maju ke DPR, persentasi yang bagus,
penuh percaya diri, dst. Ajukan "compare and contrast"
antara FDPnya Exxon dengan FDPnya Pertamina. Secara
transparan, tidak pakai kasak-kusuk jalan belakang.
Yakinkan para pengambil keputusan dan juga masyarakat
luas bahwa FDPnya Pertamina itu lebih menguntungkan
bagi bangsa Indonesia.



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke