Assalamu'alaikum wr, wb.
Haturan baraua US....!
nembe sim abdi maca na koran PR edisi poe (15/03/06)ieu aya beja/warta
anu rada narik, naha bener ieu pamanggih H.A. Chaedar Alwasilah,
M.A.salah sawios Pembantu Rektor UPI ngenaan US, ngahaja ku sim abdi
di copy paste sabagean eusi makalah anjeuna dihandap ieu : (punten teu
disundakeun)

BANDUNG, (PR).-
Sudah lama suku Sunda mengalami kemiskinan personal. Hal itu akibat
sikapnya yang terlalu rendah hati dan cenderung menyembunyikan
kemampuannya. Bagi orang Sunda, menepuk dada sendiri itu pantang.
Akibatnya, tidak banyak orang Sunda yang menjadi pemimpin.
SENIMAN Sunda Tan De Seng memimpin Rampak Sekar Pasundan Asih dan
Pasundan Istri pada rangkaian acara pembukaan saresehan di Aula Kampus
Unpad Jalan Dipati Ukur Bandung, Selasa (14/3). Acara pembukaan
"Saresehan Peran Seni dan Budaya Masyarakat Jawa Barat Sebagai
Kontribusi dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara" ini
dihadiri Gubernur Jabar Danny Setiawan.*ANDRI GURNITA/"PR"

"Dalam pemerintahan misalnya, orang Sunda jarang menduduki posisi
penting. Jika ada, terbilang jarang," ujar Pembantu Rektor Bidang
Penelitian dan Pengembangan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI),
Prof. Dr. H.A. Chaedar Alwasilah, M.A. pada acara sarasehan yang
digelar di Aula Universitas Padjadjaran (Unpad), Jln. Dipati Ukur,
Kota Bandung, Selasa (14/3).

Menurut Chaedar, ketika ingin bersaing dengan orang lain, seharusnya
bisa menunjukkan kemampuan, bukan menyerahkannya kepada 0rang lain.
"Nah, sikap terlalu mengalah inilah sebagai salah satu penyebab
kemiskinan personal dan dialami orang Sunda," ujarnya.

Menurut Chaedar, orang Sunda memilih mengalah sehingga jiwa
kepemimpinannya kurang. Mereka takut disangka menyombongkan diri
ketika memperlihatkan kemampuan dan prestasi mereka. "Padahal,
kehebatan harus dikomunikasikan agar semakin banyak orang Jawa Barat
yang menjadi pemimpin," ujar Chaedar.

Akibat yang lebih luas dari sikapnya itu, kata Chaedar, sejarah dan
budaya Sunda jarang dikenal. Karena tidak mau menonjolkan diri,
kemauan mendokumentasikan budaya dalam bentuk naskah sastra dan seni
pun kurang. "Padahal, dokumentasi inilah yang menyebabkan potensi kita
dikenal oleh orang lain," tutur Chaedar.

Dia juga menjelaskan, selain kemiskinan personal, norma Sunda jarang
memberikan kontribusi dalam kehidupan sehari-hari. Mayoritas
masyarakat Jawa Barat telah terpengaruh budaya luar, yang belum tentu
cocok dengan nilai budaya Sunda.

kumaha tah nurutkeun pamangih urang..., naha leres kitu bin  akur
sakumaha anu ditepikeun ku pak Chaedar...??? 
ceuk pamikir sim abdi bisa bener oge lamun ningali kaayaan mangsa
ayeuna, dimana US saeutik anu bisa nyekel/diuk posisi penting dina
kakawasaan pamarentahan nu ayeuna tapi lamun geus nyekel/diuk dina
posisi penting kadang sok poho ka sarakan sok sanajan teu
kabeh...(punten ah)
prung....ah...!!!

Cag...ah, nuhun.

"kkbm'69"









Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke