*ieu artikel tadi dikirim ka kompas jabar. duka dimuat duka moal. mun teu
dimuat, rek ditambahan heula, rencana mah dikirim ka PR, mun teu dimuat oge
di PR, nya di KUSnet we. hehe.*
**
**
*Krisis Kepemimpinan Orang Sunda: *
*Rekonstruksi Sikap Mental Mangga Ngiringan*
Oleh: Mang Jamal
Karakter orang Sunda yang dianggap penyebab tidak ada yang muncul sebagai
figur politik nasional yang disegani, konon tercermin dalam sikap *mangga
(abdi mah) ngiringan *(ikut saja bagaimana baiknya). Sebuah sikap yang
sepertinya tidak menunjukkan ambisi atau tidak punya keinginan untuk naik ke
dalam kekuasaan atau menjadi pemimpin. Tanpa memahami akar budayanya, sikap
ini lalu dituding menjadi penyebab lemahnya mental kepemimpinan orang Sunda
dalam berbagai bidang.
Pemahaman sekarang yang lebih melihat permukaan, menganggap
sikap *mangga ngiringan* itu berarti menolak, tidak percaya diri atau merasa
tidak layak. Pemahaman yang salah kaprah mengenai *mangga ngiringan* itu
harus dirubah dengan cara kembali menilai kedalaman, bukan hanya permukaan.
Sikap *mangga ngiringan* ini adalah cermin karakter *low profile
*(rendah hati) orang Sunda dalam melihat peluang jabatan atau kekuasaan.
Tidak ada urusan dengan soal percaya diri sebab persoalan percaya diri itu
terkait langsung dengan kemampuan atau kualitas seseorang. Dalam lingkup
internal budaya Sunda tradisional, sejatinya sikap ini bukanlah penolakan
atau keengganan tetapi semata etika yang masih harus ditindaklanjuti dengan
sikap *surti *(memahami di balik apa yang tampak seperti pertanda atau
isyarat) oleh orang yang menawarkan peluang itu untuk menilai kapasitas
orang yang diminta. Sikap ini* *sesungguhnya adalah prosedur tradisional
yang mirip *gentleman agreement* dari apa yang sekarang dikenal dengan
istilah uji kelayakan dan kepatutan (*fit & proper test)*.
*Someah Hade ka Semah*
Sejak republik berdiri, tatar Sunda menjadi tempat sebagian besar segala
kecamuk perang dan politik. Tapi orang Sunda yang tampil di pentas nasional
tidak sebanyak orang Jawa atau Sumatera. Salah satu penyebabnya adalah sikap
orang Sunda sendiri yang merasa sebagai tuan rumah hingga bersikap standar
terhadap tamu: *someah hade ka semah *(ramah dan berbuat baik terhadap
tamu). Sepertinya tidaklah elok bila selaku tuan rumah lantas mendominasi
semuanya. Cara terbaik bagi tuan rumah adalah memberi kesempatan pada
semuanya untuk tampil berperan dan orang Sunda bersiap untuk ambil bagian
pada kondisi terburuk. Bagian terburuk ini diurus serdadunya, Siliwangi.
Seleksi kualitas berlangsung ketat dalam masyarakat Sunda. Hanya
yang terbaik yang muncul. Dahulu kualitas orang Sunda itu tidak ada yang
muncul dengan kualitas tanggung atau setengah-tengah. Meskipun sering
berujung pada kondisi tragis (seperti nasib Otto Iskandardinata). Terhadap
saudaranya sendiri, orang Sunda memegang prinsip *bisi ngerakeun* (takut
bikin malu). Dengan demikian, bila ada orang Sunda yang muncul ke permukaan,
ia hanya muncul sendirian.
Di luar habitatnya, orang Sunda dapat tampil berperan penting
dalam situasi darurat. Mr. Syafruddin Prawiranagara mendirikan Pemerintah
Darurat Republik Indonesia di Bukittinggi ketika Sukarno-Hatta ditawan
Belanda. Itupun setelah didesak Hidayat Kartadjumena orang pribumi pertama
yang bersama R. Didi Kartasasmita mendapat pendidikan militer akademis di
Breda.
*Antik-konflik?*
*Mangga ngiringan* juga dituding sebagai cermin orang Sunda yang tidak suka
ribut atau anti-konflik. Benarkah demikian? Bila benar, tentu Prabu
Linggabuwana dan puterinya Dyah Pitaloka tidak akan sampai tewas di Bubat.
Mereka akan menerima perlakuan apapun. Tidak perlu membela kehormatan diri
dan kerajaan. Syafruddin Prawiranagara tidak perlu bergabung dengan PRRI
karena kecewa terhadap kebijakan Sukarno, Front Pemuda Sunda (FPS) tidak
perlu mengadakan kongres dan Ali Sadikin tidak perlu hidup susah demi
membela prinsipnya menentang kebijakan Suharto.
Sikap anti-konflik orang Jawa Barat yang suka
*heureuy*menemukan bentuk yang khas pada jaman perang dan di bidang
militer. Serdadu
Siliwangi ditugasi negara menumpas semua pemberontakan dan menjaga
perdamaian. Mulai dari Darul Islam di *lembur sorangan,* PKI Madiun, Kahar
Muzakkar di Makassar sampai RMS Ventje Sumual di Maluku Selatan, GAM sampai
Timur Tengah dan Afrika (Kongo). Artinya konflik diterima sebagai bagian
dari kenyataan hidup, tapi hanya dalam bentuk formal kelembagaan, tidak
bersifat pribadi. Perlu kondisi yang jelas atau hitam-putih bagi orang Sunda
melihat suatu konflik. Setelah itu, maju ke medan perang dan *esa hilang dua
terbilang.* *Teuneung ludeung* ini sesungguhnya adalah darah daging orang
Sunda. Anti-konflik bagi Siliwangi (yang adalah rakyat Jawa Barat)
diterjemahkan pada bentuk meredam konflik nasional. Dengan cetak biru
sejarah demikian, apa jadinya republik bila justeru orang Sunda tidak
bersikap *mangga ngiringan.*
* *Mang Jamal
Moderator KUSnet, milis [email protected]
Dosen Desain Itenas
On 3/15/06, kang_boim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalamu'alaikum wr, wb.
> Haturan baraua US....!
> nembe sim abdi maca na koran PR edisi poe (15/03/06)ieu aya beja/warta
> anu rada narik, naha bener ieu pamanggih H.A. Chaedar Alwasilah,
> M.A.salah sawios Pembantu Rektor UPI ngenaan US, ngahaja ku sim abdi
> di copy paste sabagean eusi makalah anjeuna dihandap ieu : (punten teu
> disundakeun)
>
> BANDUNG, (PR).-
> Sudah lama suku Sunda mengalami kemiskinan personal. Hal itu akibat
> sikapnya yang terlalu rendah hati dan cenderung menyembunyikan
> kemampuannya. Bagi orang Sunda, menepuk dada sendiri itu pantang.
> Akibatnya, tidak banyak orang Sunda yang menjadi pemimpin.
> SENIMAN Sunda Tan De Seng memimpin Rampak Sekar Pasundan Asih dan
> Pasundan Istri pada rangkaian acara pembukaan saresehan di Aula Kampus
> Unpad Jalan Dipati Ukur Bandung, Selasa (14/3). Acara pembukaan
> "Saresehan Peran Seni dan Budaya Masyarakat Jawa Barat Sebagai
> Kontribusi dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara" ini
> dihadiri Gubernur Jabar Danny Setiawan.*ANDRI GURNITA/"PR"
>
> "Dalam pemerintahan misalnya, orang Sunda jarang menduduki posisi
> penting. Jika ada, terbilang jarang," ujar Pembantu Rektor Bidang
> Penelitian dan Pengembangan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI),
> Prof. Dr. H.A. Chaedar Alwasilah, M.A. pada acara sarasehan yang
> digelar di Aula Universitas Padjadjaran (Unpad), Jln. Dipati Ukur,
> Kota Bandung, Selasa (14/3).
>
> Menurut Chaedar, ketika ingin bersaing dengan orang lain, seharusnya
> bisa menunjukkan kemampuan, bukan menyerahkannya kepada 0rang lain.
> "Nah, sikap terlalu mengalah inilah sebagai salah satu penyebab
> kemiskinan personal dan dialami orang Sunda," ujarnya.
>
> Menurut Chaedar, orang Sunda memilih mengalah sehingga jiwa
> kepemimpinannya kurang. Mereka takut disangka menyombongkan diri
> ketika memperlihatkan kemampuan dan prestasi mereka. "Padahal,
> kehebatan harus dikomunikasikan agar semakin banyak orang Jawa Barat
> yang menjadi pemimpin," ujar Chaedar.
>
> Akibat yang lebih luas dari sikapnya itu, kata Chaedar, sejarah dan
> budaya Sunda jarang dikenal. Karena tidak mau menonjolkan diri,
> kemauan mendokumentasikan budaya dalam bentuk naskah sastra dan seni
> pun kurang. "Padahal, dokumentasi inilah yang menyebabkan potensi kita
> dikenal oleh orang lain," tutur Chaedar.
>
> Dia juga menjelaskan, selain kemiskinan personal, norma Sunda jarang
> memberikan kontribusi dalam kehidupan sehari-hari. Mayoritas
> masyarakat Jawa Barat telah terpengaruh budaya luar, yang belum tentu
> cocok dengan nilai budaya Sunda.
>
> kumaha tah nurutkeun pamangih urang..., naha leres kitu bin akur
> sakumaha anu ditepikeun ku pak Chaedar...???
> ceuk pamikir sim abdi bisa bener oge lamun ningali kaayaan mangsa
> ayeuna, dimana US saeutik anu bisa nyekel/diuk posisi penting dina
> kakawasaan pamarentahan nu ayeuna tapi lamun geus nyekel/diuk dina
> posisi penting kadang sok poho ka sarakan sok sanajan teu
> kabeh...(punten ah)
> prung....ah...!!!
>
> Cag...ah, nuhun.
>
> "kkbm'69"
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
--
geocities.com/mangjamal
[Non-text portions of this message have been removed]
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/