Ari nu disebut "era" teh nu kumaha? katempo antara handapeun bujal 
jeung saluhureun tuur, atawa "era" teh jiga nu ditulis ku Usep Romli 
dina PR kamari (2/4/2006)?

Tulisanana nyanggakeun, kanggo lenyepaneun ..... 

Habis Sudah Rasa Malu

Oleh H. USEP ROMLI H.M

ADA sebuah kisah pada zaman Alexander The Great, sekian ribu tahun 
sebelum Masehi. Seorang anggota pasukan Alexander yang gagah perkasa, 
merampas sebuah kendi dari tangan seorang petani tua yang akan 
mereguk airnya. Hari sedang panas terik, sehingga sangat menyiksa 
tubuh dan menimbulkan kehausan amat sangat. Tak ada sumur atau sungai 
di dekat situ. Hanya kendi air milik petani tua tadi.

Petani tua tak berdaya. Tapi sempat bertanya.

Apakah Anda tak punya air, wahai prajurit?

Tidak. Airku sudah habis sejak dua hari yang lalu. 

Tapi Anda masih punya rasa malu, bukan? tanya petani itu lagi.

Apa maksudmu? Sang prajurit keheranan, hingga tak jadi mengangkat 
kendi ke bibirnya.

Rasa malu telah merebut seteguk air dari seorang petani tua yang 
lemah tak berdaya. Padahal Anda masih punya kuda dan kekuatan untuk 
mencari sumber air yang isinya lebih dari isi kendi ini.

Prajurit terhenyak. Meminta maaf sambil menyerahkan kembali kendi 
yang cuma berisi setetes air itu kepada petani tua. Rasa malu telah 
menghadangnya dari berbuat zalim. Oleh Alexander, pengalaman prajurit 
itu ditorehkan dalam sebuah prasasti yang di Kota Epheseus (wilayah 
Turki sekarang), berbunyi, "Memiliki rasa malu adalah bukti 
keperwiraan para prajurit. Para perwira yang tak punya rasa malu, 
nilai pangkatnya lebih rendah dari para prajurit".

Nabi Muhammad saw. menegaskan, malu sebagian dari iman. Al haya-u 
misful iman. Tegasnya, orang yang tak malu, imannya tak utuh lagi. 
Sedangkan filsuf ahli ilmu jiwa perkembangan termasyhur abad ke-9, 
Ibnu Tufail, menyatakan, rasa malu menyertai kodrat manusia. Manusia 
yang tak punya rasa malu kehilangan kodratnya sebagai manusia. 

Tapi zaman sekarang, rasa malu sudah lenyap sama sekali. Dalam kata 
lain, banyak manusia sudah kehilangan nilai keperwiraan seperti kata 
Alexander The Great. Kehilangan sebagian iman, menurut rumusan 
Rasulullah saw. Kehilangan kodrat manusia " sehingga turun ke taraf 
binatang" sebagaimana pendapat Ibnu Tufail, penulis novel psikologi 
Hayy bin Yaqzan yang amat populer di dunia Barat itu.

Contoh nyata, dalam kasus penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil 
(CPNS). Banyak perbuatan tak tahu malu dan memalukan mewarnai "pesta" 
harapan para pegawai honorer, tenaga kontrak, dan guru bantu. 
Berbagai peristiwa yang memilukan, terjadi di mana-mana. Honorer yang 
sudah bekerja belasan tahun, kalah mujur oleh orang baru masuk 
sebulan dua bulan. Guru bantu yang terbungkuk-bungkuk mengajar murid-
murid, tersingkir oleh berbagai alasan yang tak dimengerti orang.

Koran Priangan terbitan Tasikmalaya, edisi No.687. Kamis-Jumat, 23-24 
Maret 2006, hlm.1, memuat nama-nama orang yang lulus CPNS di luar 
kewajaran. Mereka antara lain, adik Bupati Garut yang bermasa kerja 8 
(delapan) bulan, anggota keluarga Sekda Kab.Garut (masa kerja 2,7 
tahun), dan adik Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dengan masa 
kerja 2 tahun. Itu hanya tiga orang. Masih banyak nama lainnya, yang 
melibatkan sosok pejabat yang membuat mereka lulus dengan mulus. 
Pengumuman yang penuh kejanggalan itu, praktis mengundang kericuhan, 
protes, dan tanda tanya CPNS lain yang tak lulus. CPNS yang sudah 
punya jam terbang memadai sesuai PP No.48 Tahun 2005. Kejadian 
serupa, tidak hanya di Garut dan Jawa Barat. Tapi juga di daerah lain 
di seluruh Indonesia. Kiranya tentang proses kelulusan atau 
ketidaklulusan tak perlu diutak-atik lagi. Sudah banyak pejabat 
berwenang yang konon siap bertanggung jawab. Siap melakukan koreksi 
dan lain sebagainya. Padahal daripada repot-repot begitu, mengapa 
sejak semula tidak melakukan pekerjaaan dengan benar, sesuai aturan 
yang berlaku, menjauhi KKN dan "kongkalikong". 

Kalau sejak awal, para penyelenggara tes CPNS punya rasa malu, kasus 
seperti itu tak akan terjadi. Seperti prajurit anak buah Alexander, 
mereka tak mungkin berani merebut setetes air yang akan diminum 
petani. Mereka punya rasa malu. Setetes air itu, atau sesuap nasi, 
sepetak lahan, dan macam-macam lagi, ibaratnya adalah hak milik para 
sukwan, para honorer, para guru bantu, dan para tenaga kontrak yang 
akan mereka masukkan ke mulut melalui tes CPNS. Tapi tiba-tiba embrio 
suapan itu direnggut oleh orang lain yang tak punya hak. Orang lain 
yang tak punya malu, bersama kelompok pendukungnya yang tak punya 
rasa malu pula. *** 

Penulis, wartawan senior.






Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke