Tah nu kieu namina tawakal..... hebat euy....   punten teu di sundakeun....
 
*eh*
 
=============================================================
 
 
Senin, 08 Mei 2006

Amrizal, Modal Awal Cuma Rp 120.000


      Jika Anda hanya punya uang Rp 120.000, apa yang dapat Anda lakukan dengan modal sejumlah itu? Di tangan Amrizal (36), lelaki kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, modal tersebut dibelikannya lima liter beras, setengah kilogram ikan kembung, tiga ayam, satu kilogram daging sapi, dan lima butir telur ayam.

      Bersama istrinya, Amrizal mengolahnya menjadi masakan padang dan dijual di kios kaki lima berukuran 2 x 2 m di Pusat Jajan Golden Road, di seberang pusat perbelanjaan ITC Bumi Serpong Damai, Tangerang. Hari pertama berjualan, 24 Januari 2005, ia memperoleh pendapatan Rp 175.000 dari menjual nasi padang seharga Rp 5.000 per porsi. Pada hari itu bahan bakunya masih tersisa, 20 potong daging rendang.

      Dalam waktu tiga bulan, omzet dagangan nasi padang yang dia beri nama Ombak Muaro ini rata-rata Rp 600.000 per hari. Dan sejak ITC dibuka pada Mei 2005, omzetnya naik lebih dua kali lipat, menjadi rata-rata Rp 1,5 juta per hari! Hingga kini omzetnya tetap stabil pada kisaran angka itu.

      Sebelum membuka warung nasi padang, Amrizal dan istrinya pusing tujuh keliling mencari pinjaman uang, mengingat rumah kontrakannya di Serua Permai sudah harus dibayar, sedangkan tabungannya nol. Satu-satunya hartanya adalah Honda GL 1995. "Tadinya mau saya gadaikan, tapi tak ada yang mau memberi pinjaman," tutur Amrizal, yang pernah bekerja menjadi kernet dan sopir angkot di Pulo Gadung, Jakarta Timur. Istrinya bahkan sempat menangis akibat sulitnya mencari pinjaman.

      Akhirnya, motor Honda GL itu laku dijual Rp 5 juta. Dari jumlah itu, Amrizal dapat membayar rumah kontrakan Rp 2 juta setahun, membeli etalase kios Rp 1 juta, dan perabotannya seharga Rp 380.000. Ia masih memiliki sisa untuk pembayaran uang muka membeli motor Honda Supra X Rp 1,5 juta. "Sisa Rp 120.000 itulah yang saya jadikan modal awal membeli bahan baku makanan," papar Amrizal kepada Kompas.

      Dalam waktu 11 bulan sejak dia memulai usaha, pada Desember 2005 ia sudah mampu membeli mobil Toyota Kijang tahun 1988 seharga Rp 43 juta dari hasil berjualan nasi padang itu. "Saya punya target, dalam satu bulan harus dapat menabung sedikitnya sepuluh juta rupiah," ungkapnya sambil tertawa riang.

      Pernah kuliah

      Lelaki yang pernah kuliah di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan Fakultas Olahraga di Padang tapi tidak tamat ini mengenang masa-masa sulitnya. "Saya pernah jadi pengojek di Ciputat. Tetapi, karena saya membawa Honda GL dan mungkin tampang saya seram, banyak yang takut kalau menumpang ojek saya. Hanya pada saat-saat hujan orang menggunakan jasa ojek saya," kenang Amrizal, yang selama lima bulan sempat menjadi pengojek.

      Lalu dia punya tekad kuat untuk mengubah nasibnya. "Tuhan tak akan mengubah nasib manusia jika kita tak mengubah nasib kita sendiri," ungkapnya. Berbekal kesabaran, keuletan, kerendahhatian, Amrizal yang bermental baja ini pun memutar otak dan akhirnya memutuskan untuk berdagang masakan padang, yang menjadi keahlian turun-temurun keluarganya di Pariaman, Sumatera Barat.

      Kini harga masakan padangnya Rp 7.000 per porsi, sudah termasuk tambah nasi. "Yang sering dicari adalah ikan bakar karena racikan bumbunya asli dari kampung saya di dekat laut," tuturnya.

      Amrizal selalu menegur sapa siapa saja yang lewat di pusat jajan kaki lima itu, walaupun yang dipesan adalah makanan lain. Ia memberi potongan harga Rp 1.000 untuk anggota satpam dan semua pedagang di pusat jajan itu. Ia juga sering memberi insentif kepada orang yang memesan makanan kepadanya. Selain itu, ia juga menerima layanan jasa pesan-antar dalam radius 3 kilometer tanpa tambahan biaya. Ia rajin mendatangi para pedagang toko emas dan telepon seluler di ITC, dan mempromosikan masakannya.

      Jika pada masa awalnya Amrizal dan istri harus membeli sendiri semua bahan baku ke Pasar Ciputat, kini justru ada yang mengantarkan semuanya ke rumahnya dengan harga diskon pula. "Sekarang saya tak punya utang kepada siapa pun," ungkap Amrizal yang berputra satu ini dengan nada bangga.

      Ia menambahkan, "Hidup ini merupakan ibadah. Apa pun yang kita kerjakan adalah ibadah, karena itu harus dilakukan dengan ikhlas demi kebahagiaan di dunia dan di akhirat." (ksp)

 


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




SPONSORED LINKS
Corporate culture Business culture of china Organizational culture
Organizational culture change Organizational culture assessment Jewish culture


YAHOO! GROUPS LINKS




IMPORTANT NOTICE:


The information in this email (and any attachments) is confidential.

If you are not the intended recipient, you must not use or disseminate the information.

If you have received this email in error, please immediately notify me by "Reply" command

and permanently delete the original and any copies or printouts thereof.

Although this email and any attachments are believed to be free of any virus or

other defect that might affect any computer system into which it is received and opened,

it is the responsibility of the recipient to ensure that it is virus free and no responsibility

is accepted by American International Group, Inc. or its subsidiaries or affiliates either

jointly or severally, for any loss or damage arising in any way from its use.

Kirim email ke