Saat Barcelona Menyatukan Spanyol



Tujuh puluh lima menit itu telah membuat Barcelona
laiknya kota hantu. Jalanan lengang, pusat kota sunyi.
Seolah mengulang peristiwa 31 Oktober 1938, ketika
masyarakat kota-kota di Pantai Timur Amerika terpatok
di depan radio yang menyiarkan War of The World,
begitu pula sekian juta warga Barcelona Rabu (17/5)
malam lalu, dipaku di depan televisi.

Kecemasannya juga serupa. Di layar televisi yang
menyiarkan langsung pertandingan dari Stade de France,
Prancis, itu Barca telah tertinggal 0-1 dari Arsenal,
lawannya di final Liga Champions. Semua kontan
berbalik pada menit ke-76. Kala hanya 14 menit tersisa
dari pertandingan itu, kaki Samuel Eto'o mengubah
sunyi yang lampus itu menjadi ledakan mahadahsyat.
Gol! Dan jutaan orang Katalan pun terlonjak dari kursi
mereka. Masih 14 menit, tapi mereka yakin, Barca akan
jadi juara.

Benar saja. Pemain pengganti, Juliano Belleti,
menuntaskan keyakinan itu, hanya lima menit kemudian.
Sementara kiper Arsenal, Manuel Almunia, masih
terlongong menyaksikan gawangnya bobol, berjuta warga
Barcelona sudah tumplek memenuhi jalanan kota. Mereka
tahu, lawan takkan lagi mampu mengejar. Dan kota-kota
Spanyol pun -- tak hanya Barcelona -- larut dalam
pesta.

Tak ada lagi yang duduk menghadapi televisi. Kota pun
berubah ingar, gila kemenangan. Teriakan, raung
sirene, cempreng klakson mobil, mengubah kota tak lagi
sekadar hidup, melainkan larut dalam ekstasi juara.
''Campeones! Campeones! Ole .... Ole!'' ''Setelah
menit ke-76 itu, tubuh saya dijalari keyakinan, Barca
pasti menang,'' kata Xenia Fabregas. Tubuhnya basah
oleh keringat. Sekejap, mata mahasiswi 19 tahun itu
berbinar, meski tubuhnya sedikit oleng dalam huru-hara
minuman anggur. ''Lupakan kuliah esok. Tidak setiap
malam Barca meraih Champions,'' kata dia.

''Mereka benar-benar juara sejati,'' kata Guillermo
Martin, salah seorang warga Barcelona. Kebanggaan akan
kota dan klubnya itu dibayarnya lunas dalam pesta
semalam suntuk. Malam itu, setiap orang di Barcelona
larut dalam gembira. Tanpa saling kenal, semua orang
berangkulan. Mereka yang turun ke jalan dengan
skuternya, melambai-lambaikan bendera Barca. La Ramba,
boulevard panjang yang membelah pusat kota, sesak oleh
manusia. Pengendara skuter yang tak mampu melangkah ke
manapun, melambai-lambaikan bendera. Akhirnya, jendela
mobil-mobil pun dibuka, memberi kesempatan untuk
saling memberikan ciuman kemenangan.

Keriaan itu tak hanya terjadi di Barcelona. Di Madrid,
musuh bebuyutan Barcelona, warga kota pun turut turun
ke jalan merayakan kemenangan. ''OK, kami tidak suka
Barca. Tapi ini pengecualian. Kami merayakannya
sebagai kemenangan lain bagi Spanyol,'' kata Adrian
Torres, warga Madrid. Memang, kemenangan Barca kali
ini menggenapkan kemenangan klub Spanyol lainnya,
Sevilla, yang tahun ini menyabet Piala UEFA.

Asal tahu saja, Spanyol memang masih terpecah pada
berbagai sentimen regional. Entah mengapa, warga
Spanyol lebih suka menyebut diri sesuai identitas
budaya mereka; Basque, Katalan, Andalusia, ataupun
Galician. Setiap entitas budaya memiliki tim sepak
bola, yang dipuja melebihi bendera nasional. Praktis,
terhadap tim kota -- sekaligus entitas budaya lain --
kebencian jadi lumrah saja.

Masih ingat kasus Oleguer Presas, defender Barcelona,
yang lebih senang menyebut diri sebagai bangsa Katalan
dan menolak masuk timnas Spanyol? Atau, soal Asier Del
Horno, pemain Chelsea dari etnis Basque, yang
keberatan difoto di samping bendera Spanyol, saat
terpilih menjadi anggota timnas? Itulah sepak bola
Spanyol.

Barcelona, setidaknya Rabu malam itu, mengalahkan
semua itu.@

>


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id




SPONSORED LINKS
Corporate culture Business culture of china Organizational culture
Organizational culture change Organizational culture assessment Jewish culture


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke