Baraya, aya artikel sae yeuh...punten teu diSundakeun margi seueur pisan kecap nu sesah, sanes kunanaon bilih lepat...ke siga "Pasar Dadakan janten Pasar Reuwas"...heheh.
 
ro2
 
Sekolah   Dirancang Untuk Menghasilkan Orang-orang Gagal
 
Judul di atas terkesan   sangat provokatif, bukan? Saya sengaja membuka tulisan ini dengan statement yang   keras dan menggugat. Namun jangan salah mengerti. Saya bukan tipe orang yang   anti pendidikan formal. Saya sendiri adalah seorang pendidik, lebih tepatnya   Re-Educator, yang sangat concern dengan kondisi pendidikan di tanah air. Apa   yang saya tulis di bawah ini merupakan kristalisasi hasil belajar saya atas   pemikiran para pakar pendidikan seperti Paulo Freire, Ivan Illich, Drost,   Everett Reimer, John Holt, Alfie Kohn, Neil Postman, dan William Glasser,   ditambah dengan perenungan dan pengalaman pribadi.

Proses pendidikan atau   lebih tepatnya pembelajaran yang terjadi di sekolah selama ini sangat jauh dari   praktik pembelajaran yang manusiawi, yang sesuai dengan cara belajar alamiah   kita. Konsep "belajar" yang diterapkan telah sangat usang dan merupakan warisan   dari jaman agraria dan industri.

Kembali saya ulangi, masalah utama yang ada   dalam sistem pendidikan kita adalah sekolah memang dirancang untuk menghasilkan   anak gagal. Ini semua sebagai akibat dari sistem pengujian kita yang menggunakan   referensi norma, yang sangat mengagungkan penggunaan kurva distribusi normal   atau kurva lonceng (Bell Curve). Kurva distribusi normal ini mengharuskan ada   10% anak yang prestasinya rendah, 80% rata-rata, dan 10% yang berprestasi   cemerlang.

Bulan lalu dalam dua kesempatan yang berbeda saya memberikan   pelatihan untuk para kepala sekolah SD Negeri dan Pengawas (tingkat TK dan SD)   sekabupaten/kota Jawa Timur. Saat bertanya, "Bapak/Ibu, jika anda punya 40   orang murid dalam satu kelas, dan saat ujian semua dapat nilai 100, anda sukses   atau gagal?" Bak paduan suara yang sangat kompak, serentak mereka menjawab,   "Gagal..." "Lho, koq gagal?" tanya saya. "Ya Pak, kalau semua dapat 100 maka   pasti soalnya terlalu mudah, atau gurunya yang tidak bisa membuat soal," jawab   mereka kompak.

Saya lalu mengejar dengan pertanyaan, "Bapak dan Ibu,   misalnya anda diminta mengajar 40 orang anak memasak nasi goreng sea-food   spesial. Kalau semua belum bisa (saya tidak menggunakan kata "tidak bisa" )   memasak nasi goreng seperti yang anda inginkan, apa yang akan anda lakukan?"   "Ya, kita akan mengulangi lagi sampai si anak benar-benar bisa," jawab mereka.   "Sekarang, kalau semuanya berhasil memasak nasi goreng yang sangat enak, anda   berhasil atau gagal?" tanya saya lagi. "Wah, kalau semuanya bisa, ini berarti   kita sangat berhasil Pak", jawab mereka. "Kalau begitu apa bedanya antara   mengajar anak memasak nasi goreng dengan mengajar anak suatu pelajaran, misalnya   matematika atau bahasa Inggris?" kejar saya lagi. Kali ini semuanya diam dan   tidak bisa berkomentar.
 
Saya lalu menjelaskan mengenai kurva distribusi   normal yang sebenarnya, kalau menurut pendapat saya pribadi, tidak normal.   Mendapat penjelasan ini para peserta akhirnya bisa memahami apa yang saya   sampaikan. Saat break saya menemukan satu hal yang sangat menarik. Para kepala   sekolah dan pengawas ini sadar bahwa apa yang saya sampaikan itu memang benar   dan memang seharusnya demikian cara kita mendidik murid. Namun mereka terikat   pada aturan main (baca: sistem pendidikan). Mereka merasa tak berdaya karena   bila mereka bersikeras untuk tidak mau mengikuti arus maka mereka akan mendapat   kesulitan.
Saya lalu menceritakan keberhasilan kawan saya, Bpk. Danang   Prijadi saat mengajar mata kuliah Dasar Filsafat di satu universitas ternama di   Surabaya. Ada 3 kelas pararel, masing-masing berisi 40-an mahasiswa, dengan   dosen yang berbeda. Saat ujian, 95% dari murid di kelas Pak Danang mendapatkan   nilai A, sisanya yang 5% dapat nilai B dan C. Hal ini sangat mengejutkan pihak   universitas dan dosen lainnya. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Bukankah   ini menyalahi kurva distribusi normal? Dan yang lebih ciamik lagi, soal yang   diujikan bukan disusun oleh Bpk Danang, tapi disusun oleh tim tersendiri.  

Tujuan kita mengajar anak adalah agar anak bisa menguasai apa yang   diajarkan, tidak peduli apa cara yang digunakan. Yang penting ujung-ujungnya   anak bisa menguasai dengan baik apa yang diajarkan. Kalau cara mengajar yang   digunakan di sekolah kita terapkan untuk mengajar anak kita, yang masih kecil,   belajar bicara atau berjalan, maka pasti kita akan " shocked" karena ternyata,   dengan sistem penilaian yang digunakan di sekolah, anak-anak kita akan masuk   kategori anak yang "idiot". Mengapa masuk kategori "idiot"? Karena anak-anak   kita "gagal" terus. Nilai mereka selalu Do - Re - Mi alias 1 , 2, atau 3.  

Dalam hampir setiap kasus yang pernah saya temui, bila ada timbul masalah   belajar biasanya kita hanya melihat pada sisi anak. Jarang sekali kita melihat   dan mencari tahu peran yang dimainkan oleh sekolah dan sistem pendidikan kita   hingga masalah muncul. Anak yang dianggap bermasalah biasanya akan diterapi   melalui BK (bimbingan konseling) dan kalau masih tidak bisa menjadi anak yang   "baik" , anak ini dikeluarkan. Di sini terlihat bahwa sebenarnya anak tidak   "Drop Out" tapi "Pushed Out".

Lalu, apa sih sebenarnya ujian itu? Untuk   kondisi saat ini, ujian adalah suatu cara untuk mengetahui kecepatan mengingat   kembali (recall), suatu informasi yang telah dihapal sebelumnya (register), dan   menggunakan (apply) informasi yang telah diingat kembali untuk menjawab soal   ujian, bukan menjawab persoalan hidup. Singkatnya, ujian saat ini hanyalah   menguji kemampuan menghapal. Celakanya, sekolah tidak pernah mengajarkan anak   didik teknik, cara, metode, atau strategi menghapal yang baik dan benar, yang   sesuai dengan cara kerja otak dan pikiran dalam menyerap informasi.

Sistem   ujian kita menggunakan sistem closed-book atau buku tertutup. Praktek ini   didasari oleh asumsi bahwa kemampuan mengingat suatu pengetahuan jauh lebih   berharga dari pada kemampuan untuk mencari sumber pengetahuan. Ujian closed-book   ditambah lagi murid tidak boleh kerja sama akhirnya sangat membebani anak   didik.Tolong jangan salah mengerti. Saya juga tidak setuju bila anak nyontek.   Tapi kalau memang bisa mengapa kita tidak mengajarkan cara belajar kolaborasi?   Sistem closed-book mempunyai beberapa keburukan lainnya. Cara menguji seperti   ini memberikan beban ekstra bagi anak. Anak yang sangat pintar dalam hal   aplikasi akan mendapat nilai jelek bila ia lupa rumus atau definisi. Bila kita   mengacu pada hirarki kognisi seseorang, sesuai dengan taksonomi Bloom, maka cara   ujian seperti ini hanya mengajarkan anak untuk berpikir pada level yang rendah,   level menghapal saja. Kita tidak mengajar anak berpikir pada level yang lebih   tinggi yaitu analisa,
 sintesa
dan evaluasi.
 
Jadi, bila kita berbicara   mengenai sistem pengujian, kebanyakan yang anak lakukan adalah suatu permainan   yang tidak bermutu. Anak hanya belajar menghapal dan membeo. Anak tidak   dibenarkan untuk berpikir kreatif dan inovatif. Agar lulus dan selamat, anak   harus menjawab seperti yang diajarkan oleh guru dan harus sesuai dengan kunci   jawaban yang dimiliki guru. Para pendidik saat ini telah merendahkan martabat   dan kemampuan mahluk ciptaan Tuhan. Otak kita, yang memiliki kemampuan yang   sangat luar biasa, dirancang untuk berpikir namun sistem pendidikan telah   mereduksi fungsi otak hanya sebagai mesin foto kopi.
Setiap kegagalan yang   dialami oleh anak di sekolah akan mengakibatkan konsep diri yang buruk. Padahal   kita tahu bahwa konsep diri merupakan pondasi untuk keberhasilan di bidang apa   saja dalam hidup. Dari pengalaman saya memberikan konseling, saya menemukan   bahwa konsep diri yang buruk ini selalu berhubungan dengan berbagai kegagalan   yang telah atau pernah dialami saat sekolah. Dan satu hal yang penting yang saya   temukan adalah bahwa untuk bisa memperbaiki konsep diri yang sudah terlanjur   negatip atau buruk kita perlu mencari dan mengingat kembali berbagai   keberhasilan yang pernah kita capai (kisah sukses). Mengutip apa yang Glasser   katakan, "Tidak peduli berapa banyak kegagalan yang pernah dilakukan oleh   seseorang di masa lalu, tidak masalah apa latar belakang, budaya, warna kulit,   latar belakang sosial ekonomi, atau apapun itu, ia tidak akan bisa berhasil   hingga ia, melalui suatu kesempatan, mulai mencapai keberhasilan dalam salah   satu aspek kehidupanmereka."

Saya percaya jika seorang anak, tidak   peduli apapun latar belakangnya, dapat berhasil di sekolah, maka ia mempunyai   kemungkinan besar untuk berhasil dalam hidupnya. Jika ia merasakan kegagalan   dalam proses pendidikannya, baik itu pada tingkat SD, SMP, dan SMA, atau di   PT/Universitas, maka kesempatannya untuk berhasil dalam hidup menurun drastis.   Kalau kita hubungkan dengan proses pemrograman pikiran, maka semuanya akan   tampak sangat gamblang. Anak yang telah terlanjur (diprogram untuk) percaya   bahwa ia adalah seorang pecundang, bodoh, tidak bisa, dan selalu gagal, pasti   akan menjadi seperti yang ia yakini. It's a self-fulfilling prophecy.

Sudah   saatnya kita mengubah sistem pendidikan kita menjadi suatu sistem yang   benar-benar mampu memberdayakan anak kita. Merupakan tanggung jawab kita bersama   untuk bisa membantu mengembangkan semua potensi yang dimiliki olah anak-anak   kita, melalui proses pendidikan yang memanusiakan anak manusia.

Lalu   bagaimana cara kita untuk bisa membantu anak berkembang? Ada dua hal dasar,   menurut Glasser, yang perlu diperhatikan berkenaan dengan kebutuhan anak. Yang   pertama, kebutuhan akan cinta dan mencintai. Yang ke dua adalah kebutuhan akan   rasa diri berharga.
 
Kebutuhan akan cinta dan mencintai ini merupakan hal   yang paling mendasar yang perlu didapat oleh anak, dan berlaku sebagai pondasi   untuk mencapai sukses. Jika seseorang mampu memberikan dan menerima cinta, dan   mampu melakukannya secara konsisten dalam hidupnya, maka sampai pada tingkat   tertentu ia bisa dikatakan berhasil.

Sering kali kita berpikir bahwa   pemenuhan kebutuhan cinta dan mencintai ini hanya bisa dilakukan di rumah saja.   Ternyata keyakinan ini salah. Banyak masalah yang timbul di sekolah, baik itu   dalam bentuk murid yang tidak kooperatif, tidak ada motivasi belajar, masalah   disiplin, murid yang nakal, dan masalah lainnya, semua berawal dari tidak   terpenuhinya kebutuhan mendasar seorang anak yaitu cinta dan mencintai. Anak   membutuhkan cinta tidak hanya dari rumah, tetapi juga di sekolah, baik itu dari   gurunya maupun dari kawan-kawannya.

Sekolah lebih banyak memperhatikan   kebutuhan dasar yang ke dua yaitu rasa diri berharga. Bagaimana sekolah bisa   memenuhi kebutuhan rasa diri berharga? Untuk bisa mencapai rasa diri berharga   dibutuhkan pengetahuan dan kemampuan untuk berpikir. Jika seorang anak masuk   sekolah dan gagal dalam upaya memperoleh pengetahuan, belajar cara belajar,   belajar berpikir yang benar - berpikir level tinggi, belajar memecahkan masalah,   maka kegagalan ini akan terus terbawa hingga anak menjadi manusia dewasa.   Orangtua, lingkungan, dan masyarakat tampaknya tidak mampu memperbaiki kegagalan   ini.
Dalam proses mengembangkan rasa diri berharga, dengan memiliki   pengetahuan, mampu berpikir benar dan memecahkan masalah yang dia hadapi,   seorang anak akan mempunyai rasa percaya diri yang kuat untuk belajar memberi   dan menerima cinta. Paling tidak seorang anak mempunyai peluang yang lebih besar   untuk mendapatkan cinta, saat ia merasa dirinya berharga, sehingga ia dapat   bertahan dalam menghadapi penolakkan.

Melalui cinta seorang anak akan   mengembangkan motivasi untuk berhasil dan merasa diri berharga. Jika anak tidak   belajar untuk bisa memberikan cinta maka anak akan menjadi anak yang sering   merasa gagal. Hal ini terlihat pada anak yang terlalu dimanja dan terlalu   dilindungi.
Cinta dan rasa diri berharga ini merupakan satu kesatuan yang   sering kita hubungkan dengan identitas pribadi. Cinta dan rasa diri berharga   dapat dipandang sebagai dua jalan untuk mencapai identitas pribadi yang   berhasil. Bagi kebanyakan anak hanya ada dua tempat di mana mereka bisa   mendapatkan identitas diri sebagai pribadi yang sukses yaitu di rumah dan   sekolah.
Dalam konteks sekolah, cinta dapat diwujudkan dalam bentuk tanggung   jawab sosial. Bila anak tidak belajar untuk bertanggung jawab terhadap sesama,   peduli dengan sesama, dan membantu sesama, maka cinta akan menjadi konsep yang   lemah dan terbatas.
   
* Adi W.   Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara   publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar   negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning   Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?,   dan Hypnosis - The Art of Subcsoncsious
Communication.  
__._,_.___

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id





SPONSORED LINKS
Corporate culture Business culture of china Organizational culture
Organizational culture change Organizational culture assessment Jewish culture


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke