Ti heula jeung Kang Ayip, terus jeung Kang Ali Anwar,
ayeuna geus Ceu Nina deui wae nya. Kunaon nya?

mh
=======
Mencermati Tulisan Nina H. Lubis
Kompilasi atau Karya Mandiri?
Oleh MOHAMMAD ISKANDAR

    Sebenarnya, secara akademik, berapa persenkah
kata-kata atau kalimat dari satu artikel atau buku
boleh dikutip langsung? Dapatkah satu karya (artikel
atau buku) dikatakan sebagai karya orisinal atau karya
asli, jika lebih dari lima puluh persen isinya adalah
kutipan asli dari artikel atau buku lain?

BELUM lama ini Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa
Barat meluncurkan sebuah buku berjudul 100 Tahun Pers
Jawa Barat. Sesuai judulnya, buku itu diterbitkan
dalam rangka memperingati usia keseratus tahun pers
yang terbit di Jawa Barat. Sebagai catatan, pada 1906
belum dibentuk provinsi Jawa Barat atau West Java.
Wilayah administratif Jawa Barat, yang meliputi DKI
Jakarta dan Provinsi Banten, baru ditetapkan pada
September 1925. Buku tersebut dibagi lima bab ditambah
satu bab berisi daftar pustaka.

Seperti umumnya "gedenkboek" atau buku "jubileum",
buku 100 Tahun Pers Jawa Barat menampilkan sejarahnya,
pengalaman para pelaku serta beberapa tinjauan dari
para pengamat. Bagian yang paling menarik bagi penulis
adalah "Bab II" buku itu yang berjudul "Sekilas
Perkembangan Surat Kabar dan Majalah di Jawa Barat".

Sebagai peminat sejarah yang kebetulan tinggal di
wilayah Jawa Barat, saya tergelitik oleh tulisan
tersebut. Penulisnya, Prof. Dr. Nina Herlina Lubis,
M.S. adalah sejarawan yang sangat kompeten di
bidangnya. Saya bayangkan, tentulah isi tulisannya
akan mencerminkan semua kepandaian serta kearifannya.
Saya pikir pasti ada informasi baru yang, paling
tidak, akan melengkapi kekurangan dari artikel atau
buku yang pernah saya baca, seperti buku Beberapa Segi
Perkembangaan Sejarah Pers di Indonesia yang
diterbitkan oleh Deppen RI-LIPI, yang redakturnya
adalah Abdurrachman Surjomihardjo.

Akan tetapi, setelah membaca satu dua halaman, saya
mulai bertanya-tanya, apakah ini tulisan Dr. Nina
Herlina Lubis, M.S. ataukah tulisan orang lain yang
nyasar masuk ke dalam tulisannya. Kita maklum,
kesalahan teknis dalam cetak mencetak bukanlah hal
yang luar biasa. Kesalaham semacam itu di mana pun
sering terjadi. Oleh karena itu saya tidak terlalu
mempersoalkan kesalahan-kesalahan teknis semacam itu.
Di halaman tiga misalnya, terdapat beberapa kata yang
salah ketik, seperti Vendu Nieuws seharusnya Het Vendu
Nieuws; Nieuws van den Dag voor Nederlandsche-Indie
seharusnya Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indik;
Tjerimai seharusnya Tjiremai, dan Karel Vijbrands
seharusnya Karel Wijbrands.

Mengapa saya sampai kepada pemikiran ada tulisan yang
nyasar masuk ke dalam tulisan Dr. Nina Herlina Lubis
M.S.. Pertama, karena alur tulisannya kurang
mencerminkan karya pakar sejarah, yang konseptual dan
kritis meskipun tulisannya deskriptif saja. Sementara
tulisan ini kurang menyejarah dan proses perubahan
selama seratus tahun tidak nampak. Seakan-akan setiap
koran atau majalah itu berjalan begitu saja bagaikan
air mengalir, tanpa riak dan tanpa makna.

Pada masa kolonial misalnya, tidak selamanya koran
yang dikategorikan sebagai corong pemerintah
menyuarakan suara pemerintah dan tidak berani
mengkritik pemerintah. Sebagai contoh koran Java Bode
yang dikategorikan sebagai corong pemerintah, justru
pada tahun 1885 sempat beberapa bulan dilarang terbit
oleh pemerintah karena beberapa pemberitaannya dinilai
merugikan pemerintah. Peristiwa itu sempat
menggemparkan masyarakat Eropa di Hindia Belanda,
karena dinilai bertentangan dengan semangat
liberalisme yang sedang berkembang waktu itu.

"Sekilas Perkembangan Surat Kabar Dan Majalah di Jawa
Barat" karya Dr. Nina Herlina Lubis, M.S. ini lebih
banyak merupakan kompilasi dari berbagai tulisan yang
sudah dipublikasikan sebelumnya daripada karya
orisinal.

Alasan kedua, saya heran karena kalimat-kalimat dalam
tulisan Dr. Nina Herlina Lubis itu tidak terlalu asing
bagi saya. Padahal sumber acuan yang dipergunakannya
cukup banyak dan beragam. Dan saya yakin
seyakin-yakinnya bahwa sumber-sumber yang dipergunakan
Dr. Nina Herlina Lubis, M.S. sebagian besar belum
pernah saya baca.

Untuk menghilangkan rasa penasaran, saya membuka-buka
kembali dua buku yang kebetulan berada di atas meja
kerja, yaitu Ensiklopedi Sunda karya Ajip Rosidi dan
kawan-kawan, serta buku Beberapa Segi Perkembangan
Sejarah Pers di Indonesia karya Abdurrachman
Surjomihardjo.

Rasa penasaran pun sebagian besar akhirnya terjawab.
Pantas saja saya merasa tidak asing dengan
kalimat-kalimat itu, karena memang benar kata-kata dan
kalimat yang dipergunakan oleh Dr. Nina Herlina Lubis,
M.S. banyak "mengutip" dari kedua buku itu tanpa
banyak perubahan (semacam kompilasi). Uraian mengenai
Pers dan Majalah yang berbahasa Belanda, Melayu
(Indonesia), dan Tionghoa banyak mengutip dari karya
Abdurrachman Surjomihardjo, sedangkan yang berbahasa
Sunda banyak mengutip dari Ensiklopedi Sunda.

Selain terlalu banyaknya kutipan, yang lebih
mengherankan, ada beberapa bagian dari kutipan itu
yang disamarkan. Entah disengaja atau tidak, kutipan
itu seolah-olah bukan dari karya Abdurrachman,
melainkan dari sumber lain. Padahal susunan
kata-katanya persis sama dengan kata-kata yang ada
dalam buku karya Abdurrachman. Misalnya, pada halaman
3 buku 100 Tahun Pers Jawa Barat, alinea 2, Dr. Nina
mencantumkan sumber datanya dari Koch (Koch, 1956:
42). Padahal dalam alinea itu, mulai dari kata-kata
"Pada tahun 1907, ..." sampai dengan kata-kata
"kesan-kesan dengan segera", kata-katanya "nyaris"
sama dengan kata-kata yang tertera dalam buku karya
Abdurrachman itu, halaman 28 alinea terakhir, yang
memang penulisnya mengutip dari Koch (Koch, op.cit.
hal. 42). Bahkan kalau dicermati lebih jauh, bukan
hanya alinea itu saja, dapat dikatakan mulai dari
alinea terakhir halaman 2 sampai dengan awal halaman 4
(...majalah De Zweep.), semuanya diambil dari karya
Abdurrachman Surjomihardjo halaman 28-29, 33-34, dan
67.

Demikian juga pada akhir alinea pertama halaman 8, Dr.
Nina Herlina Lubis, M.S. mencantumkan sumber datanya,
Sin Tit Po (Sin Tit Po, 1932). Kalimat-kalimat pada
alinea itu persis sama dengan kalimat-kalimat yang ada
pada alinea 1 halaman 51 dalam buku karya Abdurrachman
Surjomihardjo. Bedanya dalam alinea itu Abdurrachman
menggunakan dua sumber, yaitu tulisan S.Tj.S, "Pers
Tionghoa di Tengah-tengah Revolusi" (1953, hlm. 47) di
samping Sin Tit Po (29 September 1932).

Bagaimana mungkin kalau sumber tulisan Dr. Nina mulai
dari "Siang Po kemudian..." (di halaman 7) sampai
dengan "...Indonesia Merdika" (pada halaman 8) berasal
dari Sin Tit Po (1932) bisa persis sama dengan tulisan
Abdurrachman Surjomihardjo halaman 51 alinea 1, yang
mempunyai dua acuan? Tentu yang bisa menjawab secara
tepat hanyalah Dr. Nina Herlina Lubis, M.S..

Sebenarnya, masih banyak hal yang ingin dipertanyakan
tentang isi tulisan itu, misalnya apakah betul "Nicork
Express" itu terbit pada tahun 1914 dalam bahasa
Belanda? Kemudian tentang "Parahiangan" yang
diterbitkan oleh Balai Pustaka, apakah betul media itu
termasuk surat kabar dan gratis pula? Barangkali hal
ini masih perlu diteliti lagi mengingat beberapa
sumber menyebutkan bahwa media itu dapat diperoleh
secara berlangganan.

Pada bagian akhir tulisan ini saya ingin menanyakan
kepada para akademisi, termasuk Dr. Nina Herlina Lubis
M.S., berkaitan dengan karya asli (orisinal) dan karya
plagiat atau bajakan. Sebenarnya, secara akademik,
berapa persenkah kata-kata atau kalimat dari satu
artikel atau buku boleh dikutip langsung? Dapatkah
satu karya (artikel atau buku) dikatakan sebagai karya
orisinal atau karya asli, jika lebih dari lima puluh
persen isinya adalah kutipan asli dari artikel atau
buku lain?

Pertanyaan ini cukup penting untuk diajukan
(syukur-syukur dijawab), karena baru-baru ini,
tepatnya pada bulan Mei yang lalu, dalam Koran Tempo
dan Tempointeraktif, muncul tulisan dari penulis
biografi Kiai Noer Ali, yaitu Ali Anwar, yang
menggugat Prof. Dr. Nina Lubis, M.S. yang dianggap
telah meringkas karya Ali Anwar menjadi seratus
halaman dengan mencantumkan nama Dr. Nina Lubis
sebagai edistornya, tanpa izin dari Ali Anwar
sendiri.*** 

Penulis, Pengamat sejarah, mengajar di Fakultas Ilmu
Budaya, Universitas Indonesia.

Sumber:
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/072006/08/khazanah/lain.htm


=====
Situs: http://www.urang-sunda.or.id/
[Pupuh17, Wawacan, Roesdi Misnem, Al-Quran, Koropak]

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/XISQkA/lOaOAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke