Baraya Kusnet,

Info karya barudak ngora urang Indonesia

1. Ti markasna di Brussell, Kanggo nunjang industri sareng 
ekonomina, dina 10 taun kapayun MEE (Masyrakat Ekonomi Eropah)  
meryogikeun tanagi kerja di bidang IT sekitar 200 rebu jalmi; Jumlah 
ieu teu badanan ku sakola2 di MEE;jalan kaluarna MEE bakal ngabuka 
seueur lowongan padamelan ka pihak dunia ketiga termasuk warga 
Indonesia (termasuk urang sunda)tiasa bersaing sareng kandidat ti 
negara raksasa softwares sapertos India. Padamel IT anu dibutuhkeun 
di inustri IT ieu sanes jalmi anu gaduh ijazah Doctor /Phd / MSc / 
Insinyur tapi profesional IT dibidang na anu gaduh elmu (sanes gaduh 
ijazah) sareng ngagaduhan pangalaman (maksadna buktos karyana).

2. Industri IT ngarupakeun industri anu meryogikeun modal keuangan 
paling sakedik dibandingkeun sareng industri anu sanesna. Kanggo 
industri IT mah modal anu paling ageung nya mung elmu IT sareng 
kreativitas.

Sakaterang kuring urang Indonesia (oge urang Sunda seueur pisan anu 
palinter) tapi anu tiasa kabagean kueh IT dunia (kenging padamelan 
subcotrak atanapi didamel diperusahaan IT skala dunia masih keneh 
sakedik pisan). Dinten ieu kuring bingah pisan ngaos di koran tempo 
interaktif (ditangkodkeun) keberhasilan barudak ngora anu ngantor di 
ruko ditengah pasar tapi hasil karyana ngagaduhan qualitas anu tiasa 
bersaing dipasar global/internasional,...        

RN

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Jika Birokrat Belum Kreatif

Sejumlah negara berpacu mengembangkan industri kreatif. Pemerintah 
Indonesia masih adem-ayem.  


DI sebuah "kastil" bergaya Eropa, seratusan anak muda asyik berkutat 
di muka layar kompu-ter. Dari tangan-tangan terampil mereka, 
sejumlah karya film animasi lahir dan menembus pasar Amerika dan 
Eropa. Dua di antaranya bahkan diganjar penghargaan internasional.


Carlos Adventure dinobatkan sebagai film serial animasi anak-anak 
terbaik dalam Festival Animasi Internasional di Tenerife, Spanyol, 
pada 2002. Satu film lagi, Jim Elliot Story, menyabet Gol-den Remi 
Awards 2006 dalam ajang festival film internasional di Houston, 
Texas, Amerika Serikat.


Mungkin Anda tak percaya, ke-dua film itu bukan lahir dari raja film 
di Ame-rika atau Eropa, melainkan dari tangan anak-anak muda kreatif 
ber-usia 20-30 tahun. Mereka pun hanya berkantor di sebuah ruko 
berlantai lima di kawasan Pasar Baru, Jakarta, yang le-bih dike-nal 
sebagai pusat belanja tekstil dan se-patu.


Di sanalah Castle Production, yang ber-diri sejak 1998, bermarkas. 
Menurut Ar-dian Elkana, pemilik sekaligus pemimpin perusahaan 
animasi terbesar di Indonesia ini, dalam setahun per-usahaannya 
memproduksi 13 episode film animasi dua dimensi (2D) dan 13 e-pisode 
tiga dimensi (3D). Semua filmnya itu, sejak enam tahun silam, di-
ekspor dan didanai lembaga asing.


Pembiayaan datang dari sejumlah negara Eropa seperti Spanyol, 
Prancis, Inggris, Jerman, dan Swiss. Produser dan penulis 
skenarionya dari Amerika. "Kalau di dalam negeri, tak ada yang 
sanggup bayar," ujar master of bu-siness administration Universitas 
Chicago, Amerika Serikat itu. Mudah dipa-ha-mi, ta-rif per episode 
dipatok US$ 40 ribu (sekitar Rp 370 juta).


Tarif ini sesungguhnya terbilang kecil bila dibandingkan dengan 
patokan tarif raksasa animasi Amerika, Disney, yang mencapai US$ 300 
ribu. Namun, berkat tarif murah itulah, Indonesia ikut dilirik para 
pemodal yang mulai mengalihkan pesanannya dari Korea dan Taiwan—yang 
dinilai sudah terlalu mahal—ke I-ndia, Cina, atau Filipina.


Sayang, Indonesia tak mampu menggarap maksimal ceruk rezeki nomplok 
ini. Satu di antara kendalanya adalah keterbatasan sumber daya 
manusia di bidang animasi. Bandingkan dengan India. Sedikitnya 400 
animator bekerja di perusahaan animasi terbesar di sana. Tak 
mengherankan, ratusan film anima-si bisa dipasoknya setiap tahun ke 
MGM, Disney, ataupun Universal.


Besarnya peluang mendulang rezeki dari industri kreatif juga datang 
dari bidang multimedia dan desain grafis. PT Elasitas, yang 
didirikan Calvin Kizana, 32 tahun, termasuk yang berkibar lewat 
pembuatan situs (website) Nokia di telepon genggam asal Finlandia 
itu.


Desain bookmark Nokia ciptaan prog-rammer yang pernah bekerja di 
Singapura dan Amerika Serikat ini pun kini telah diterjemahkan ke 17 
bahasa dan dipakai di 35 negara. Berkat keberha-silanya itulah, 
perusahaannya terus berkembang. Dari semula hanya berbe-kal satu 
perangkat komputer dan satu karyawan, kini telah ada 60 pekerja.


Lahan subur lainnya adalah desain kemasan produk. Di bidang ini, 
prestasi Indonesia sebetulnya cukup mencorong. Buktinya, desain 
kemasan es krim Wall's karya PT AdMire diekspor ke Thailand. Untuk 
soal harga, pemilik AdMire, Andi S. Boediman, mengakui karya-nya 
dibayar jauh lebih murah ketimbang produk perusahaan asing. Di 
Indonesia, satu karya desain hanya dihargai Rp 10-25 juta, sedangkan 
untuk satu desain ka-leng margarin Blue Band di Inggris, ta-rifnya 
mencapai Rp 800 juta.


Ketua Forum Grafika Digital ini mengingatkan, Indonesia harus segera 
berbenah agar bisa bersaing dalam kancah industri kreatif dunia. 
Sebab, kata pembuat animasi pertama logo siaran Seputar Indonesia di 
stasiun televisi RCTI 10 tahun silam ini, "Dibandingkan dengan 
Thailand dan Malaysia saja, kita sudah tertinggal lima-sepuluh 
tahun." 



l l l


INDUSTRI kreatif pada dasarnya merupakan industri berbasiskan 
kreativitas, keahlian, dan bakat individual, yang berpotensi 
mendatangkan kemakmuran dan penciptaan lapangan kerja. Dari hasil 
pemetaan di Inggris, yang dimulai pada 1998, diketahui bahwa i-
ndustri ini terbilang paling cepat pertumbuhannya. 


Pada 2002, sektor berbasis aset keka-yan intelektual (intellectual 
pro-perty) ini menyumbang 7,9 persen dari produk domestik bruto 
(GDP) Inggris. Dalam rentang 1997-2000, sektor ini tu-mbuh rata-rata 
9 persen per tahun—jauh di atas pertumbuhan ekonomi Inggris yang 
hanya 2,8 persen. Sebanyak 1,9 juta tenaga kerja terserap setiap 
tahunnya.


Menurut Andi, inilah tahap keempat dalam proses perkembangan ekonomi 
suatu negara, setelah melewati periode ekonomi berbasis pertanian, 
industri, dan informasi. Di Inggris, ada 13 sektor yang masuk 
kategori industri ini. Di antaranya advertising, arsitektur, desain, 
film, musik, seni pertunjukan, televisi dan radio, serta jasa 
komputer dan peranti lunak.


Dalam perkembangannya, industri krea-tif tumbuh sangat 
mencengangkan. Lihat saja nilai pasar IBM, Intel, dan Microsoft. 
Nilainya 2,3 kali lebih besar dari industri otomotif. Lihat pula 
raksasa film Disney, yang nilai per-usahaan-nya membengkak dari US$ 
2 mi-liar menjadi US$ 22 miliar hanya dalam sepuluh tahun.


Lebih dahsyat lagi jika melihat potensi ekonomi yang dihasilkan 
industri games dunia. Nilai pasarnya pada 2004 saja sudah mencapai 
US$ 20 miliar (sekitar Rp 186 triliun). Yang fantastis, pencapaian 
ini cuma butuh waktu 20 tahun—lebih cepat tiga kali lipat dari 
industri film Hollywood.


Pesatnya pertumbuhan industri games merupakan berkah tersendiri buat 
Eropa. Dari biaya unduh (download) saja, kawasan ini diperkirakan 
bakal meraup US$ 2 miliar (sekitar Rp 18,6 tri-liun) pada 2007, 
dengan tingkat pertumbuhan 25 persen per tahun.


Sejumlah negara di Asia yang giat me-ngembangkan industri informasi 
tek-nologi dan digital, seperti India, Jepang, Korea, Hong Kong, dan 
Taiwan, juga bakal ketiban rezeki nomplok. Di India, misalnya, 
industri animasi tahun lalu sudah mencapai US$ 1,5 miliar (sekitar 
Rp 14 triliun), dan bakal tumbuh 30 persen per tahun. Belum lagi 
perolehan dari 700-800 film yang dihasilkannya dalam setahun.


Sadar akan potensi besar ini, Singapura terus berbenah. Mereka 
menggelar sebuah program terencana pengembang-an sentra industri 
kreatif, yang dikenal dengan sebutan creative cluster. Tiga kluster 
industri kreatif yang dikembang-kan adalah media (kluster Media 21), 
desain (Design Singapore), dan seni-budaya (Renaissance City).


Lewat program inilah basis perekonomian Singapura akan bergerak dari 
ekonomi informasi ke ekonomi kreatif, dengan memadukan kreativitas 
teknologi, ekonomi, dan seni-budaya. Targetnya, sumbangan industri 
kreatif terhadap PDB Singapura yang kini masih di kisaran 3 persen, 
pada 2012 nanti sudah mencapai 6-7 persen. "Singapura pun bercita-
cita menjadi Kota Kebangkitan (Renaissance City) yang menjadi pusat 
peradaban Asia modern," kata Linda Hoemar Abidin, Ketua Dewan 
Pelaksana Yayasan Kelola. 


Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Industri kreatif ternyata belum 
cukup mendapat perhatian serius pemerintah. "Selama ini, birokrat 
hanya terpaku pada basis sumber daya ekonomi," kata pengamat bisnis 
Kafi Kurnia. Padahal potensi kreativitas yang banyak dimi-liki 
Indonesia bisa mendatangkan nilai tambah bagi perekonomian.


Sebut saja potensi industri batik, me-bel, lukisan, dan patung, yang 
berserak di sepanjang Jawa-Bali. Selama ini, ba-nyak industri rakyat 
ini mati suri. Ka-lau-pun jalan, seadanya. Akibatnya, nilai tambah 
yang tercipta kebanyakan dinikmati para pebisnis asing. Kafi 
mencontohkan, di sebuah butik di Las V-egas, Amerika, sepotong kain 
kebaya asal Indo-nesia dijual dengan bandrol Rp 200 juta!


Di bidang film, kontribusinya dalam perekonomian juga terbilang 
tidak kecil. Banyak tenaga kerja diserap dalam proses produksi film 
lokal, yang tahun lalu mencapai 50 buah. Pemerintah pun kecipratan 
rezeki. Sebab, sekitar 20 persen dari hasil penjualan tiket harus 
disetorkan sebagai pajak.


Ini berarti, dari film Ada Apa dengan Cin-ta saja, misalnya, yang 
mendatangkan pemasukan Rp 24 miliar, sekitar Rp 5 miliar mengalir ke 
kas negara. Belum lagi jika pembuatan film dilakukan di da-
erah. "Setengah dari biaya itu diserap da-erah," kata Mira Lesmana, 
produser. "Ini yang tidak disadari pemerintah daerah."


Berangkat dari kenyataan itu, British Council kini mulai melakukan 
pendataan industri kreatif di Indonesia. Dari sini, kata Yudhi 
Soerjoatmodjo, Art Manager British Council, "Akan diketahui seberapa 
penting kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia."











------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/0EHolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke