Tulisa pribados di Sinar harapan, 1 agustus 2006. Mudah-mudahan aya manfaatna.
Modal Asing dengan Kawasan Ekonomi Khusus
Oleh
Ukay Karyadi
Melalui kesepakatan pada 25 Juni 2006 antara pemerintah Indonesia dan Singapura, Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) akhirnya ditetapkan sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK). Lahirnya KEK di Riau Kepulauan itu tidak bisa dilepaskan dari sejarah kawasan tersebut yang senantiasa mendapat keistimewaan.
Batam sudah ditetapkan sebagai kawasan pergudangan (bonded warehouse) dan kemudian bonded zone (kawasan berikat) dengan cakupan wilayahnya diperluas sampai Pulau Rempang dan Galang.
Ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi,
pemerintah membuat kebijakan mencabut keistimewaan yang dimiliki Batam, yaitu melalui PP 39/1998 tentang Pengenaan PPN dan PPn-BM di Batam. Keputusan tersebut mendapat reaksi masyarakat dan pengusaha Batam.
Akhirnya, pemerintah menerbitkan penundaan lewat PP 45/2000. Selang tiga tahun kemudian pemerintah kembali mengeluarkan PP 63/2003 tentang Pengenaan PPN dan PPn-BM di Batam, sekaligus mencabut PP 39/1998. Kebijakan tersebut membuat iklim usaha di Batam dan sekitarnya mengalami degradasi. Selama 2004-2005 terjadi sejumlah penutupan dan relokasi pabrik di sektor manufaktur.
Kini, setelah BBK ditetapkan sebagai KEK, iklim investasi di kawasan tersebut memberikan sinyal yang menggembirakan. Menurut Gubernur Kepri Ismeth Abdullah, sedikitnya delapan perusahaan asal Singapura akan menanamkan modal di Batam dan Bintan dengan nilai investasi sekitar US$ 31,6 juta dengan rencana penyerapan tenaga kerja 2.000 orang (Bisnis Indonesia, 24/7).
Masuknya kembali investasi asing ke Batam tersebut semoga saja menjadi awal sukses memikat modal asing ke Indonesia, khususnya ke wilayah BBK. Sebagaimana yang terjadi di negara lain hadirnya KEK dapat menjadi magnet bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di negara tersebut.
Belajar dari China
Belajar dari China
China bisa dikatakan sebagai negara yang paling sukses memikat investasi asing dengan KEK. Pada Juli 1979, China melansir kebijakan membentuk kawasan ekspor khusus di Zhuhai, Shantou, dan Shenzhen di Provinsi Guangdong serta Xiamen di Provinsi Fujian. Mei 1980, zona kawasan ini diganti namanya menjadi KEK. Pada April 1988, Hainan yang sebelumnya bagian dari Provinsi Guangdong dimekarkan menjadi provinsi sendiri, dimasukkan ke KEK.
Selanjutnya pada tahun 1984, 14 kota pantai terbuka terhadap dunia luar. Kota-kota terbuka ini tidak diberi status sebagai KEK. Kegiatan dunia usaha dipusatkan pertama-tama
di KEK dan kemudian di kota-kota terbuka.
Di kawasan-kawasan tersebut, pemerintah setempat (pemda) diizinkan untuk mengambil langkah-langkah untuk mendorong pengembangan ekonomi tanpa perlu persetujuan dari pemerintah pusat. Selain itu, kepemilikan swasta dan investasi asing disahkan di kawasan-kawasan ini. KEK dan kota-kota terbuka ini secara efektif menjadi laboratorium bagi investasi asing dan campuran (modal ventura).
Setelah membuat KEK dan kota terbuka, China membuka 54 kawasan pengembangan ekonomi dan teknologi tingkat nasional serta kawasan industri yang menikmati kebijakan khusus. Dari jumlah itu, 27 kawasan berada di kota dan provinsi di sepanjang pantai timur China, sembilan kawasan berlokasi di daerah tengah, dan 13 lainnya di daerah barat China.
Di samping itu, terdapat lima kawasan industri yang menikmati kebijakan khusus tingkat nasional, yaitu Kawasan Pengolahan Ekspor Jinqiao (Shanghai), Kawasan
Pengolahan Ekspor Haichang (Xiamen, Provinsi Fujian), Kawasan Pengembangan Daxie (Ningbo, Provinsi Zhejiang), dan Kawasan Pengembangan Ekonomi Yangpu (Provinsi Hainan), dan Taman Industri Suzhou (Provinsi Jiangsu)
Kebijakan pembangunan kawasan-kawasan ekonomi khusus tentunya ditopang juga oleh stabilitas sosial-politik dan kebijakan-kebijakan lainnya (fiskal dan moneter) yang membuat iklim investasi China tidak hanya kondusif, tetapi unggul bila dibanding negara-negara pesaing.
Selain itu, pemerintah China tak ketinggalan membangun infrastruktur yang memadai. Sebab mereka menyadari seberapa hebat apapun potensi ekonomi suatu wilayah, bila tidak ditunjung infrastruktur yang memadai tidak akan dilirik investor.
Daya Tarik Luar Biasa
Daya Tarik Luar Biasa
Negeri berpenduduk 1,3 miliar orang tersebut memiliki 88.775 km jalan arteri dan 100.000 km jalan tol, atau rasio panjang jalan per sejuta penduduk 1.384 km. Sebagai
perbandingan, Indonesia dengan 220 juta penduduk baru memiliki jalan arteri 26.000 km dan jalan tol 620 km (121 kilometer per sejuta penduduk).
Pelabuhan-pelabuhan di China sudah mampu melayani seperlima volume kontainer dunia dan masih terus membangun jalan-jalan tol dan pelabuhan-pelabuhan baru. Maka, ia memiliki daya tarik luar biasa bagi penanaman modal.
Tahun 2004, China berhasil menarik investasi langsung asing US$ 60,6 miliar dan 500 perusahaan terbesar dunia hampir seluruhnya melakukan investasi di sana. Semenjak tahun 1993, ia merupakan negara berkembang yang paling banyak menarik investasi asing.
Masuknya perusahaan-perusahaan asing ke China juga menstimulus perusahaan-perusahaan domestik untuk berkembang. Perusahaan-perusahaan China, bahkan telah disejajarkan dengan perusahaan-perusahaan papan atas dunia.
Pada tahun 1998, di antara 225 kontraktor internasional top, menurut penilaian Engineering
News Magazine, Amerika Serikat, 30 di antaranya adalah perusahaan-perusahaan China. Menurut catatan Ministry of Foreign Trade and Economic Cooperation (MOFTEC), lebih dari 6.000 usaha investasi China di luar negeri dengan nilai kontrak mencapai US$ 6,95 miliar.
Invetasi tersebut tersebar di lebih 160 negara dan wilayah. Jelaslah, bagi China, KEK yang tersebar di berbagai wilayah dijadikan pemikat bagi kalangan investor asing.
China sangat menyadari sebagai negara berkembang (yang sudah pasti kekurangan modal untuk membangun negaranya) mendatangkan modal asing adalah pilihan terbaik untuk mengoptimalkan potensi negerinya. Namun, China dapat mengarahkan investor asing untuk berinvestasi pada industri-industri yang berorientasi ekspor dan yang dapat melakukan transfer of technology. Dengan demikian, kehadiran modal asing di negeri itu tersebut memberi dampak yang signifikan terhadap peningkatan nilai tambah bagi perekonomian domestik.
China sangat menyadari sebagai negara berkembang (yang sudah pasti kekurangan modal untuk membangun negaranya) mendatangkan modal asing adalah pilihan terbaik untuk mengoptimalkan potensi negerinya. Namun, China dapat mengarahkan investor asing untuk berinvestasi pada industri-industri yang berorientasi ekspor dan yang dapat melakukan transfer of technology. Dengan demikian, kehadiran modal asing di negeri itu tersebut memberi dampak yang signifikan terhadap peningkatan nilai tambah bagi perekonomian domestik.
Akhirnya, semoga saja pembentukan KEK di BBK dapat berhasil sebagaimana pembentukan KEK di China, sehingga investasi mengalir deras ke Indonesia. Bilamana KEK di BBK menuai cerita sukses, akan dengan mudah ditularkan ke kawasan-kawasan lain, sehingga di Indonesia diharapkan nantinya akan memiliki banyak KEK tersebar di berbagai penjuru Tanah Air.
Tapi, jangan lupa, pemerintah harus dapat mengarahkan invetasi kepada industri-industri yang berorientasi ekspor dan yang dapat melakukan transfer of technology, agar kehadiran modal asing di Indonesia memberi dampak yang signifikan terhadap peningkatan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Penulis adalah alumnus FE Unila, tengah studi pada Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MPKP) FEUI.
Penulis adalah alumnus FE Unila, tengah studi pada Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MPKP) FEUI.
Groups are talking. We´re listening. Check out the handy changes to Yahoo! Groups. __._,_.___
Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id
SPONSORED LINKS
| Corporate culture | Business culture of china | Organizational culture |
| Organizational culture change | Organizational culture assessment |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "urangsunda" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
__,_._,___

