Kitu tea atuh...sok bararingung...ari politik tos disakral'keun
alabatan agama...

nu keur baringung,
yana

On 9/1/06, waluya56 < [EMAIL PROTECTED]> wrote:

Kawin alias nikah, cenah kadorong ku asih (cinta). Tapi kumaha lamun
politikus "jatuh cinta" ka politikus lawanna? Ieu aya wartos tina PR
soal anggota DPRD Kota Cirebon ti PDIP kawin ka kader Golkar. Jiga
dongeng "Romeo & Juliet" ieu mah :

Dinikahi "Golkar" Sri Akan Dipecat

NASIB politisi PDIP Marissa Haque dan Wakil Ketua VI DPC PDIP Kota
Cirebon Sri Maryati, serupa tapi tak sama. Dua-duanya kader PDIP.
Jika Marissa terancam dipecat dari PDIP karena "dilamar" PKS untuk
menjadi calon Wakil Gubernur Banten, sementara Sri Maryati terancam
dipecat gara-gara meni-kah dengan kader Partai Golkar.

Bahkan karena menikah dengan Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon H. Dahrin
Syahrir, anggota Komisi A DPRD Kota Cirebon ini selain diancam akan
dipecat dari jabatannya sebagai pejabat struktural PDIP Kota Cirebon,
sekaligus akan di-recall dari keanggotaannya di DPRD Kota Cirebon.
Rapat pleno PDIP Kota Cirebon merekomendasi agar Sri mengundurkan
diri sebagai Wakil Ketua PDIP maupun dari keanggotaan di DPRD.

Rapat pleno DPC PDIP, Senin (28/8), memutuskan Sri harus mundur dari
dua lembaga politik itu. Rapat pleno itu digelar sebagai tindaklanjut
dari surat lima PAC yang meminta pengunduran diri Sri Maryati dari
dua institusi itu. "Dari 11 pengurus, delapan di antaranya setuju
dengan permintaan lima PAC itu, tiga lainnya termasuk Sri Maryati
hanya menyepakati pengunduran diri dari jabatan struktural di
partai," kata sumber "PR" di lingkungan internal PDIP.

Sumber itu mengatakan, Sri memang secara lisan setuju kalau harus
mundur dari jabatannya sebagai Wakil Ketua DPC PDIP. Namun sampai
dengan Kamis kemarin, Sri belum secara resmi mengajukan surat
pengunduran diri dari jabatan wakil ketua. "Kalau tidak segera
mengajukan surat pengunduran diri, kemungkinan pemecatan dan recall
dari keanggotaannya di DPRD sangat besar," kata sumber itu.

Wakil Ketua I DPC PDIP yang juga Sekretaris FPDIP DPRD Kota Cirebon,
Cipto menyatakan, partai lebih menghendaki Sri Maryati mengundurkan
diri ketimbang harus mengambil sikap. Ditanya soal alasannya, Cipto
mengakui karena soal pernikahan dengan orang Golkar. Pernikahan itu,
kata Cipto, memang hak asasi Sri Maryati. Namun pemecatan itu harus
dilakukan, kata dia, sebagai upaya antisipasi partai akan kemungkinan
munculnya konflik kepentingan.

"Pernikahan antarkader dua partai adalah kejadian langka, bukan hanya
di Cirebon, tetapi juga di Jawa Barat, bahkan kemungkinan di seluruh
Indonesia. Tidak ada yang bisa menjamin kalau pernikahan seperti itu
tidak akan menimbulkan konflik kepentingan," kata Cipto.

Diakui Cipto, soal pernikahan kader PDIP dengan kader partai lain
memang tidak diatur, baik oleh partai maupun lembaga dewan. "Itu
sebabnya, dasar kami meminta Sri Maryati mundur, juga karena lebih
kepada fatsun politik saja," ujarnya.

Sri Maryati yang juga Wakil Ketua Koalisi Perempuan Indonesia (KPI)
Cirebon, menolak memberikan keterangan soal ancaman pemecatan dan
pencopotan dirinya dari struktur partai dan keanggotaannya di
dewan. "Saat ini saya tidak akan memberikan keterangan apa pun,"
ujarnya usai rapat paripurna DPRD kemarin.

Ketua DPD Partai Golkar Kota Cirebon H. Ade Anwar Sham, sampai Kamis
sore belum bisa dikonfirmasi. Telefon selulernya selalu bernada tidak
aktif.

Namun seorang pengurus DPD Partai Golkar mengungkapkan, partainya
siap menerima Sri bila ingin bergabung. "Sri Maryati kader partai
terpilih dan berkualitas. Partai Golkar membuka pintu lebar-lebar
kalau Ibu Sri mau bergabung," ujarnya. (Ani Nunung/"PR")***


__._,_.___

Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id





SPONSORED LINKS
Culture change Corporate culture Cell culture
Organization culture Tissue culture


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke